Little Dust of Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 11 January 2015

Desember 2008.
Suasana Natal sudah mulai menghiasi New York. Ornament-ornament khas Natal terpajang rapi di sepanjang toko di pinggiran kota. Stefanie mendesah berat ketika dinginnya udara terasa menusuk kulit. Gadis pirang itu merapatkan mantelnya. Memeluk tubuhnya sendiri untuk mendapatkan sebuah kehangatan.

“Fanie!”
Stefanie berhenti melangkahkan kakinya yang terbalut boots cokelat susu. Kepalanya tertoleh ke belakang. Seorang pria berambut hitam pekat berlari menghampirinya. Dia Fandie. Pacar Stefanie selama setahun ini.
“Maafkan aku.” Fandie berucap penuh penyesalan. Ini bukan kali pertamanya Fandie mengucapkan dua kata itu. Namun ini entah kali keberapa Stefanie mendengar dua kata itu.
“Aku menunggumu. Dua setengah jam berteman udara beku. Aku rasa itu cukup membuatmu sadar. Tapi tidak.”
“Selina memintaku menemaninya menemui neneknya. Aku sungguh minta maaf, Fanie.”
“Selalu Selina. Apakah tak ada alasan lain jika kau terlambat menemuiku? Apakah akan selalu Selina yang menyebabkan kau lupa pada janjimu? Aku rasa kau tidak serius, Fandie.”
Fandie memejamkan matanya selama dua detik. Lantas pria berparas arabic itu menghela nafasnya yang seolah tercekat. “Aku mohon. Jangan seperti ini.”
“Apakah kau juga lupa akan apa yang aku katakan padamu tentang pertemuan kita ini?” Stefanie mengambil nafas dan menghembuskannya dengan pelan. “Ini kesempatan terakhirmu, Fandie.”
“Kau.. pasti tidak serius. Kau hanya bercanda.” Fandie menggeleng tidak percaya. “Ayolah, Fanie. Ini sangat lucu.”
“Tertawalah.” Stefanie mendesak. Ucapannya membuat Fandie terdiam di tempatnya. Stefanie lalu menghela nafasnya dan berangsur kembali melangkah.
“Fanie..” Ucapannya tertahan. Seolah ada gumpalan pahit yang menyangkut di tenggorokannya. Fandie tergugu.
Stefanie berhenti melangkah. Detik selanjutnya, gadis itu berucap dengan suara serak tanpa menoleh, “Cukup, Fan. Aku.. harus melepasmu. Kita berakhir. Hari ini kita.. sudah berakhir.”
Dan entah menit keberapa setelah Stefanie kembali melangkah meninggalkan Fandie. Saat itu pula dunia terasa runtuh. Untuk pertama kalinya, dunia seakan menjatuhi Fanderson Ibrahim. Dan sekali lagi, ucapan Stefanie seolah terulang menegaskan dalam batok kepalanya.
Kita.. sudah berakhir.

Desember 2010.
Stefanie tersenyum tipis mendapati ada beberapa butiran salju yang mendarat di atas kepalanya. New York. Dia telah kembali ke Amerika setelah Dua tahun menjalani hidup di Jerman. Angannya kembali ke masa lalu. Dua tahun silam. Saat dia mengakhiri hubungannya bersama seorang pria. Saat dia harus melepas Fandie meskipun dia tidak mau melakukannya. Dan dia pun bisa. Melepas Fandie, melepas pria itu dari sisinya. Namun nyatanya dia tak pernah bisa melepas Fandie dari hati dan otaknya. Stefanie tau mungkin semua itu terdengar amat melankolis. Namun, itulah yang terjadi. Dia belum mampu melupakan Fandie.

“Selamat malam, Nona. Mau pesan apa?” Seorang pramusaji menyambut dengan ramah ketika Stefanie baru saja menjatuhkan bokongnya di atas salah satu kursi kayu di restoran itu. Stefanie tersenyum dan mengambil buku menu yang tergeletak di atas meja.
“Spaghetti dan Moccalate.”
Pramusaji itu mencatat pesanan Stefanie pada sebuah notes kecil, “Mohon tunggu sebentar.” Ucapnya sebelum berlalu dari hadapan Stefanie.

Kini, hanya gadis itu sendirian di sudut ruang restoran. Dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan jalanan kota New York yang bertabur salju seolah menjadi hiburan tersendiri. Tanpa sadar, seorang pria telah duduk di hadapan Stefanie.
“Rambutmu bagus, Nona.”
Stefanie tersentak dan segera mengarahkan sepasang mata biru cerahnya ke arah suara itu. Sedikit menyipit dan memiringkan kepalanya Stefanie menebak. Siapa gerangan yang ada di balik tudung mantel dan kacamata itu?
“Ini aku. Fandie.” Pria itu membuku kacamata hitam yang tadi bertengger di atas hidung mancungnya dan membuka tudung jaketnya. Lantas Fandie tersenyum untuk Stefanie.
Stefanie tercekat untuk beberapa saat. Namun dia cepat tersadar dan tidak mau Fandie mengetahui rasa kagetnya.
“Kau.. apa kabar?” Sial. Stefanie memaki dalam hati. Kenapa dia jadi salah tingkah begini? Oh Stefanie berani bertaruh, wajahnya pasti merona saat ini.
“Buruk.” Fandie menjawab singkat.
“Apa?”
“Aku melewati Dua tahun terberatku tanpa ada seseorang yang teramat berharga di sisiku.”
Stefanie terdiam. Dia tau akan kemana arah pembicaraan ini bila dilanjutkan. Untuk itu dia mengedarkan pandangan ke arah lain. Dan beruntung, pramusaji datang membawa pesanan Stefanie. Gadis itu tersenyum tipis saat pramusaji itu mempersilakan Stefanie menikmati makanannya dan dia berlalu pergi.
“Bagaimana dengan kau sendiri? Kau bahagia dengan orang lain selama di Jerman?”
Stefanie yang tengah menikmati spaghettinya sontak berhenti dan menatap Fandie. “Aku.. aku punya banyak orang yang menyayangiku disana.”
“Tapi orang yang mencintaimu ada di New York.”
“Fandie, jangan..”
“Aku mohon. Satu.. kesempatan lagi.”

Cerpen Karangan: Tisah Apri A
Facebook: Facebook.com/tyccah

Cerpen Little Dust of Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berat Sahabat

Oleh:
Suara alarm di handphonenya tak mampu kalahkan udara dingin pagi ini. Seharusnya remaja yang baru duduk di bangku 2 SMA ini sudah harus bangun 10 menit yang lalu, tapi

Only Time Will Tell

Oleh:
Kring kring kring suara sepeda baru yang ku alunkan berulang-ulang pagi itu. Haha entah apa yang telah terjadi sebelumnya, hingga semangat sekolahku meningkat 50%. karena sepeda baru? Atau kuciran

Cinta Kartu Kuning

Oleh:
Sore itu menunjukkan pukul 3, akhir pekan yang hanya ada beberapa orang saja di kostan dikarenakan pada pulang kampung sedangkan aku yang sudah mendapat julukan “cewek kost sejati” tidak

Cinta Terakhir Ku

Oleh:
Nama aku yulia. Pada tanggal 01 januari 2013, aku pulang ke tempat orangtua ku yang tinggal di sebuah desa yang bernama desa padang luas, riau. aku yang tinggal berpisah

Surprise Sweet Seventeen

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun. Sesuatu yang kuharapkan yaitu keluargaku mengingat dan merayakan ulang tahun yang hanya terjadi setahun sekali. Aku berharap ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Little Dust of Memories”

  1. Arini says:

    gantung nih?

  2. Lidwina says:

    kok ngegantung sih? sama kayak cerpen shadow?-_-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *