Loker Sekolah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 May 2016

Tap, tap, tap. Terdengar suara derap kaki melewati lorong -lorong sekolah. Angin yang berhembus menerpa rambutnya yang tergerai indah. Krek. Perlahan tangan halusnya membuka sebuah loker yang bertulis Ridho Vebrian. Gadis itu merogoh isi tasnya mengambil sepucuk surat dan bunga mawar. Tak berapa lama terdengar suara langkah kaki menuju ke tempat itu. Diletakkan segera surat beserta mawar ke dalam loker dan ditutupnya dengan rapat. Lalu ia bergegas pergi seiring dengan datangnya seorang laki-laki tampan dan cukup populer di SMA Mutia Jakarta Selatan. Matanya bagai elang. Sangat tajam. Auranya begitu dingin. Namun tidak mengurangi pesonanya. Krek. Ia membuka salah satu loker. Dilihatnya sepucuk surat dan setangkai mawar. Ya, dia pemilik loker Ridho Vebrian.

“Mawar dan surat lagi. Siapa sih orang ini? Sampai detik ini aku gak bisa mengenalinya,” ucap Ridho mengambil dan membuka surat itu. “Selamat pagi. Semoga harimu menyenangkan. Oh iya, hari ini ada pertandingan basket kan. Semangat ya. Aku pasti akan menontonmu. Aku yakin kamu bisa menang,” ucap Ridho membaca surat itu. Tanpa sadar ia mengukir senyum. Mungkin wanita mengejarnya dengan cara aneh, sudah biasa. Namun gadis ini, entahlah dia merasa nyaman akan perhatian itu. Perhatian yang membuatnya terbang. Diam-diam ia menaruh rasa pada gadis yang bahkan tak dikenalnya. Tanpa pikir panjang ia segera mengganti seragamnya dengan baju olah raga.

“Aku harap bisa mengenalinya.” ucap Ridho melangkahkan kakinya pergi. Ia mencoba melihat semua wanita yang hadir. Namun ia bingung siapa gadis itu. Namun di antara mereka semua ia melihat gadis dengan rambut tergerai. Duduk lumayan jauh dari lapangan. Ia nampak fokus pada bukunya yang terdapat corak bunga mawar. “Apa gadis itu ya? Ah masa iya. Dia saja tak melihat ke mari.” pikir Ridho mengalihkan pandangannya. Tak terasa pertandingan telah berakhir. Ia segera kembali ke loker sekolah. Krek. Lagi-lagi bunga dan surat. Namun kali ini sedikit berbeda. Gadis itu juga meninggalkan saputangan dengan corak mawar dan air mineral. Dia lalu mengambil sepucuk surat yang berada di lokernya.

“Kamu pasti cape. Jadi aku kasih sapu tangan dan air. Kamu tadi keren banget. Sudah aku duga kamu pasti menang. Apa tadi kamu mencari aku? Aku melihat kamu menatap setiap cewek. Apa aku benar? Apa kamu ingin tahu siapa aku? Kalau iya balas surat ini dan taruh di lokermu,” ucap Ridho membaca surat itu.
“Dia ada di mana? Dia tahu aku mencarinya? Gadis ini benar-benar membuaku penasaran.” ucap Ridho. Ia segera menyobek secarik kertas. Dan menuliskan sesuatu. Ditaruhnya surat itu ke dalam lokernya dan berlalu pergi. Tap, tap, tap. Gadis itu ke luar dari balik pintu. Krek. Dibukanya loker itu. Tangan halusnya mengambil secarik kertas. Bibirnya menyunggingkan senyum yang indah.

“Ku mohon temui aku. Aku sangat ingin bertemu denganmu. Aku penasaran siapa dirimu. Temui aku di taman sakura pada istirahat pertama.” ucap gadis itu membaca surat yang Ridho tulis. Ia segera berjalan ke taman sakura. Namun, brugh. tubuhnya seketika ambruk. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di sisi lain. Ridho menunggu gadis itu namun tak kunjung datang. Semenjak hari itu tak ada lagi surat ataupun mawar merah. “Sudah sebulan dia gak pernah kirim surat dan mawar. Dia juga tidak datang waktu itu. Apa dia sudah lelah ya?” ucap Ridho yang duduk di taman sakura. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.

“Hei brother, lo ngapain ngelamun di sini? Dari tadi gue nyari lo,” ucap Very Vebrian adik tiri Ridho.
“Gue lagi pengen aja di sini. Kenapa emang?” ucap Ridho.
“Lo kudet atau emang kuper. Kita tuh dikasih tugas buat jenguk anak 11 ipa 2 yang koma sejak sebulan lalu sama Pak Adi,” ucap Very.
“Eh, serius. kok gue baru tahu. Emang siapa yang koma?” tanya Ridho.
“Itu loh si Ai temen sekelas gue waktu kelas 10. Lengkapnya sih Aisyah Syafa Ayuningtias. Yang suka ngegerai rambutnya. Dan suka bawa buku pake corak mawar. Kayaknya dia pengagum Mawar deh. Dari buku, saputangan, jam, tas semuanya corak mawar.” jelas Very.

“Saputangan dengan corak mawar? Apa yang lo maksud saputangan ini?” ucap Ridho mengeluarkan saputangan dari sakunya. “Tunggu, kok saputangan Ai ada di lo?” tanya Very.
“Jadi itu alasannya,” ucap Ridho.
“Alasan apa? lo ngomong apaan sih?” ucap Very keheranan.
“Ah, itu. Ehm maksud gue, kita harus cepat ke rumah sakit,” ucap Ridho berkelit.
“Hmn mencurigakan.” ucap Very mengintimidasi Ridho.

“Yuk, kelamaan kalau lo mikir gini. Mau lo dimarahin Pak Adi. Gue sih enggak ya,” ucap Ridho.
“Iya, iya bawel lo,” ucap Very.
Ridho menggebah sepeda motornya sangat cepat. Bahkan terlampau cepat. Ckitttttt.
“Ah sial hampir saja aku nabrak!” ucap Ridho.
“Dho, lo gak kenapa-kenapa?” tanya Very yang menyusul Ridho.
“Gak kok. Gue baik-baik aja.” ucap Ridho kembali menjalankan sepeda motornya.

Tak berapa lama Ridho sudah memarkirkan motornya di area RSUD Pelita Kasih Jakarta Barat. Dan segera mencari ruang rawat Ai. Krek. Dibukanya kamar rawat nomor 2306. Ai sedikit terkejut sekolah menunjuk Ridho untuk menjenguknya. “Hai, gimana keadaannya Ai?” tanya Ridho.
“U..udah lebih ba…baik.” jawab Ai sedigit gugup. Ridho berusaha mencairkan kegugupan Ai. Lama semakin lama raut wajah Ridho berubah murung.

“Oh iya Ai, gue boleh curhat sedikit gak?” tanya Ridho.
“Boleh kok,” jawab Ai.
“Lo tahu gak gue udah sebulan gak dapet bunga dan surat lagi, apa tuh cewek udah bosen ya sama gue?” ucap Ridho.
“Kata siapa cewek itu lelah?” ucap Ai refleks.
“Maksud lo?” ucap Ridho dengan tatapan mengintimidasi.
“Eeu..” ucap Ai yang tampak bingung apa yang harus dia katakan.
“Lo tahu Ai, kalau gue udah jatuh cinta dengan dia. Iya gue jatuh cinta sama gadis yang gak gue kenal.” ucap Ridho memandang lekat Ai. Ai hanya bisa diam mematung mendengar setiap kata yang Ridho luncurkan.

“Ai gue bener-bener cinta sama lo. Gue jatuh cinta pada setiap kata yang lo tulis. Pada setiap keharuman mawar yang lo taruh. Hari ini gue pengen lo jadi pacar gue,” ucap Ridho mengusap kening ai. Air mata menetes begitu saja dari pelupuk mata Ai. Tangan kekar Ridho hendak mengusapnya namun dicekal oleh Ai.
“Biarin air mata ini terjatuh. Karena air mata ini adalah air mata kebahagiaan,” ucap Ai memeluk Ridho.
“Gue janji bakal jaga cinta kita.” ucap Ridho mengecup puncak kepala Ai.

Sebuah cinta tak harus dipendam. Cobalah terbuka pada perasaan sendiri.

Selesai

Cerpen Karangan: Aisyah Azimah
Facebook: Aisyah Azimah
Nama: Aisyah Azimah
TTL: Tegal 23 juli 2000

Cerpen Loker Sekolah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jealous

Oleh:
Lili diam, tatapannya menekun pada laba-laba yang kerap merangkai jejaring di depannya. Tarian bunga juga tak luput dari sesekali lirikannya. Banyak yang ia pikirkan, namun tak satupun ia mengerti.

My Destiny

Oleh:
Pagi ini aku harus cepat-cepat pergi ke sekolah, karena ada ulangan yang dimulai lebih awal. Sesampainya di sekolah, aku segera membuka-buka buku untuk sekedar mengulangi apa yang sudah ku

Promise! Lana

Oleh:
Dengan muka sumringah, ia mengoleskan bedak ke mukanya, tak lupa eyeshadow ke bagian kelopak mata, serta lipstick ke bibirnya. Gadis itu tidak ingin tampil biasa saja, ia pun menambah

Laura, Bidadari Hidupku

Oleh:
Kriiinggg… tanda bel pulang sudah terdengar oleh semua murid. Sakit. Itulah yang dirasakan siswa SMP kelas 7 bernama George ini. Dari tadi ia hanya menangis karena tidak memiliki teman

Hati Untuk Menyimpan

Oleh:
Manusia terlahir mempunyai hati, namun membutuhkan pikiran untuk mengendalikannya. Manusia juga terlahir mempunyai jiwa, namun membutuhkan perasaan untuk mengendalikannya. Dan meskipun hati dan jiwa itu tidak dikendalikan, tetap saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *