Lookin’ For Ya (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 1 January 2016

“Tidak ada yang lebih indah dari dua orang yang bertemu karena saling menemukan. Sama-sama berhenti karena telah selesai mencari.”

Hari ini. Kutukan kembali terjadi pada tanggal yang sama setelah setahun lalu juga terjadi di tanggal yang sama. Lagi-lagi gadis yang bodoh dan jauh dari kata sempurna sepertiku memiliki nasib yang miris. Ia kembali menjadi milik orang lain. Mimpi buruk? Tidak juga. Hanya saja.. Aku terlalu naïf dan bodoh. Dia juga terlihat sangat mencintai gadis itu. Dan aku tersenyum. Biarkan takdir Tuhan yang bermain.

Tegak berdiri
Di depanmu kini
Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri
Tak selamanya, berhasil
Pabila, kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi ..

Penonton riuh bertepuk tangan, bernyanyi di depan 39 orang plus satu guru yang berarti ada 40 orang tidak terlalu membuatku gentar. Hanya saja air mata. Air mata yang entah karena apa jatuh ketika perlahan lirik ini terus saja menusuki jantung, menusuki hati kecil di dalam relung dada dan pikiran. Teman-temanku bahkan ada yang ikut menangis karena emosiku terlalu kuat pada lagu ini.

“Lagu ini terlalu kasar buat kamu.” ucap sang guru, dan aku sibuk menghapus air mataku yang terus saja menetes.
“Sayang sekali, kamu salah memilih lagu. Dan kamu terlalu emosi.” sang guru menandatangani kertas yang berisi lirik lagu itu, nilaiku turun dari penampilan sebelumnya namun setidaknya aku sudah melakukan yang terbaik. Aku kembali ke tempat dudukku, guru seni budayaku yang bernama Bu Rinda itu memandangku, dan tersenyum tipis.
“Melihat dari lirik lagu ini, kamu harus tahu bahwa cinta itu datang dengan sendirinya. Mati satu dan tumbuh seribu, bukan hanya laki-laki yang bisa seperti itu. Perempuan pun bisa. Kamu harus berhenti, dan melihat ke depan. Ratusan laki-laki menunggu kamu.” ucapnya.

Lumayan. Sedikit mengobati hatiku yang patah. Bahkan setelah 2 bulan. Satu hal yang harus kalian tahu, kali ini aku memang benar-benar terlihat seperti orang gila. Satu sisi, aku bisa terlihat seperti orang depresi. Namun di sisi lain, aku juga bisa berakting seperti semua seolah baik-baik saja. Hati ini sudah mulai menerima segalanya, but I haven’t forgotten my feeling. Expecting a thing that probably impossible. And how dumb I am.

“And give it up for the highest score in English Language National Examination’s receiver. Anna Syifa!”

Anna melangkahkan kakinya perlahan menuju podium, memegang piala penghargaan yang diterima olehnya karena meraih nilai Ujian Nasional Bahasa Inggris tertinggi. Ia tak bisa berbicara apa pun, semua yang diinginkannya kini tercapai dan di hadapannya ada sekitar 200 murid dan salah satunya adalah dia. Alva Ar-Rafis. 33 bulan atau tepatnya hampir 3 tahun, dan perasaan Anna belum juga hilang terhadap Alva. Alva si bodoh yang mengetahuinya, dan selalu menepis hal itu. Alva baru saja putus dari pacarnya beberapa hari yang lalu, menghapus segala rasa penyesalan yang mencakar dinding hatinya, melihat gadis yang menyukainya kini berdiri kokoh di atasnya, telah melupakannya. Alva tidak tahu betul tentang perasaannya, tapi sebenarnya, dia hanya tidak mengerti.

Anna mulai membuka mulutnya, mencoba berbicara, “Terima kasih atas penghargaan ini..” Ia mulai menyampaikan rasa gembira dan bangga, bangga telah berdiri sejauh ini, dengan hati yang hancur dan topeng berwajah manis yang palsu. Selama ini ia bertingkah seperti aktris. Namun setelah ini ia akan memulai segalanya dari awal, hanya dirinya dan mimpi-mimpinya.

“Hey, An! Selamat ya!” aku mendengar seseorang memanggil namaku, berucap sesuatu, aku menoleh.
Dan tersenyum. “Hei, Gilang. Makasih banyak.” Dia Gilang sahabatku, kami bersahabat sejak baru pertama kali masuk SMP, dia konyol dan bodoh. Gilang bersama temanku Daisy.
“Kamu hebat An. Gimana bisa sih kamu ngerjain soal-soal Bahasa alien itu?” tanyanya keheranan sekaligus memujiku.

Aku tersipu dan tak lama kemudian tertawa ringan, “Itu bukan Bahasa Alien, Daisy. Entahlah, aku.. ya kamu tahu, aku mempelajari Bahasa Inggris demi mimpiku.”
Daisy mencubit pipiku yang sedikit gembul ini, “Iya iya, calon ratu inggris!”ucapnya gemas.
“Ih, sakit Daisy!” aku meronta, diikuti suara gelak tawa Gilang dan Daisy.

Aku membawa mataku melihat ke arah yang lain sementara Gilang dan Daisy entah sedang berbicara apa. Dan menoleh, dalam beberapa detik seperti terbawa angin, dia dan aku, matanya dan mataku bertemu. Saling bertatap dari kejauhan, kejadian ini aneh sejak beberapa bulan ini aku sadari. Aku tahu dia tahu. Aku tahu betul bahwa ia mengetahuiku. Hanya saja aku tidak terlalu mengerti dengan jelasnya. Yang jelas. Ia tak mungkin menyadari dan pada akhirnya mencintaiku balik. Tidak mungkin.

“Setelah ini kamu mau melanjutkan ke mana?” tanya Gilang.
“Entahlah, aku belum tahu.” jawabku bohong.
Ia mengangkat alisnya, “Kok gak tahu?”
Aku pun mencubit pipinya yang tirus itu, “lihat aja nanti, bawel! Hahaha..” tawaku sedangkan dia hanya mengaduh kesakitan. Daisy hanya tersenyum, mungkin ini kali terakhir aku akan melihat senyumnya lagi. Aku akan benar-benar merindukan mereka berdua.

“Oh iya, aku ada titipan, karena aku pulang sebentar lagi jadi aku mau nitip ini ke kalian.” ujarku, kemudian aku mengeluarkan beberapa surat untuk Daisy, Gilang, dan dia.
“Surat? Untuk apa?” tanya Gilang heran.
“Nanti baca aja ya.”
“Terus yang satu ini untuk siapa, An?” tanya Daisy.
Aku tersenyum, menatap Alva dari kejauhan, “Untuk dia.” tunjukku.

“Alva?”
“Kasih ke dia setelah aku pergi ya, aku pergi dulu. Nanti kalian akan tahu kok.” ujarku lalu tersenyum, air mata menggenang di pelupuk mataku.
“I’ll miss you so much.” ucap Daisy dengan lirih padaku.
“Me too, Daisy.” aku pun memeluknya, Gilang hanya tersenyum kemudian aku menjabat tangannya.
“Nice to meet you, aku bakal kangen banget sama kamu, Lang. Take care of yourself. Semoga kita ketemu lagi nanti.” ujarku dengan air mata yang mulai membasahi pipiku.

Wajah Gilang dan Daisy berubah menjadi sendu, “Kamu berkata seperti kita tak akan pernah bertemu lagi.”
Air mata semakin membasahi pipi dan wajahku, membuatku memeluk Daisy semakin erat, “Kita pasti akan bertemu lagi.” kemudian aku melepaskan pelukannya dan memegang tangannya.
“Jangan lupa sampaikan surat itu ya.”

Daisy dan Gilang mengangguk, aku pun berjalan meninggalkan sekolah. Hari terakhir di sekolah, pengumuman kelulusan yang mengesankan. Dan mulai esok aku akan mengubah segala hal, memulai semuanya dari awal dengan yang baru. Menutup lembaran kelam itu dan membuangnya hingga tenggelam ke dasar laut sejarah. Selamat tinggal, Alva.

Dear Alva,
“Ini mungkin yang pertama dan yang terakhir aku menulis surat untukmu. Kamu yang baru saja menyadari bahwa selama hampir 3 tahun, ada seseorang yang mencintaimu, yang harus merelakanmu bersama orang lain dan berharap bahwa kelak dirinya akan memiliki kamu. Namun aku tahu itu tidak mungkin, aku mulai belajar realistis dan berhenti berkhayal. Aku tahu bahwa khayalan berbeda dengan mimpi. Aku gak bisa menjadikan kamu sebagai salah satu dari mimpiku karena cinta itu realistis bukan mimpi.”

“Maaf, mungkin selama ini kamu merasa risih atau mungkin semacamnya, kamu pantas bahagia dengan seseorang. Dan aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seseorang yang mencintaimu namun tak dicintai olehmu. Kenapa aku menulis surat ini? Mungkin karena kita tak akan pernah bertemu lagi. Ya, aku tidak berharap seperti itu. Aku berharap kita mungkin bertemu di situasi yang berbeda, dimana aku dapat mengangkat wajahku dan melihatmu dengan senyuman, bukan air mata.”

“Selama berbulan-bulan aku melukai diriku sendiri dengan gagal dalam melupakanmu, aku payah sekali dalam hal itu. Aku berharap kesuksesanmu kelak, dan kamu bisa menjadi seseorang yang berguna di masa depan. Aku mencintaimu, maaf. Berpura-pura tak lagi memiliki perasaan padamu, itu melelahkan, namun kali ini tak ada lagi yang harus ku lakukan selain jujur padamu.
Regards, Anna.” Alva menatap nanar surat itu. Ada sedikit perasaan sakit di hatinya. Kenapa ia terlambat menyadarinya?

“Sial..”

6 tahun kemudian.
LONDON, INGGRIS

Bersambung

Cerpen Karangan: Annisa Putri Nindya
Facebook: Annisa Phoetree
Namaku Annisa Putri Nindya, kalian bisa memanggilku apa saja tapi aku lebih akrab dipanggil Nindy. Seorang murid dari Mts Negeri di jakarta. Aku sekarang berada di kelas 9 dan sebentar lagi lulus. Hobiku atau bisa dibilang bakat sejak SD, adalah menulis. Dari sini aku menuangkan seluruh imajinasiku. Berteman? Tentu, Follow twitterku @AnnisaPN_1207, Kalian juga bisa add facebook-ku atau mengunjungi blog-ku annisaputrinindya.blogspot.com,di sana terdapat email yang bisa dihubungi.
Salam kenal. ^_^

Cerpen Lookin’ For Ya (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan yang Kurindukan

Oleh:
Hujan di awal masuk sekolah di sma di semarang, pagi itu setelah sarapan aku berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Aku menuju sekolah menggunakan payung berwarna abu-abu dan jaket hitam.

Perjalanan Hidup Dalam Cinta

Oleh:
Perkenalkan nama saya Angga. Mahasiswa aktif UAD semester 2, prodi PBSI. Aku akan bercerita singkat tentang perjalanan cinta dalam kehidupanku. Pada awalnya aku mengenal jatuh cinta pada masuk Sekolah

Karena Aku Tak Ingin Pacaran

Oleh:
Wanita itu duduk di taman sekolah, ia sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian seorang wanita menghampirinya. “Kamu dari mana aja Zah?” tanya Hasanah. “Maaf. Tadi aku dipanggil penjaga perpus,”

Kau lah Imamku

Oleh:
Bersama angin malam yang berdesir kutitipkan segenap rindu ini untukmu, rindu yang kini kutuang bersama kopi yang kusajikan untukmu. Manis semanis wajahmu, namun tak sepahit kisahku, teman. “Riko ini

Fairy of My Life

Oleh:
Pagi itu begitu membuatku semangat bertamasya ke gunung bersama keluargaku, aku sangat senang berada di gunung, karena pemandangannya indah, lalu banyak binatang-binatang lucu, dan perpohonan yang indah dan lebat,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *