Lost

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 May 2017

Ini bukan kisah cinta yang penuh drama atau kisah action yang penuh laga. Tetapi ini hanyalah sepenggal kenangan yang dapat dibagikan sebagai sejarah. Dimana sejarah itu menyadarkan Thomas akan hadirnya seseorang yang sebenarnya sangat ia cintai namun terhempas karena kegengsiannya. Mereka dipertemukan karena takdir dan berpisah akibat kesalahan.

Pagi itu, suasana ibu kota kurang bersahabat. Siapapun orang yang akan berkegiatan di pagi hari akan menarik lagi selimutnya. Angin-angin berhembus dengan kasar menelusup ke dalam helai-helai rambut seorang gadis yang berjalan melewati koridor kelas XI. Gadis itu atau sapa saja dia, Millane, sangat sibuk dengan urusan di gadgetnya. Ia sedang dihukum akibat datang terlambat ke sekolah karena faktor cuaca hari ini yang baginya sangat bersahabat, untuk tidur.

Namun, tak disadari, dari balik tembok seseorang dengan langkah tergesa-gesa berbelok. Mereka bertabrakan. Hampir saja akan jatuh, namun Thomas dengan seimbang dapat tetap berdiri dan dengan sigap menangkap Millane agar tidak terjatuh. Untuk sesaat mereka saling bertukar pandang, dan tenggelam dalam lamunan mereka. Bel tanda pergantian jam kemudian berbunyi, membuyarkan lamunan yang mereka ciptakan 1 menit yang lalu.

“Kalau jalan itu matanya dipake.” Hardik Millane. Thomas hanya menatap manik mata gadis itu yang berwarna kecokelatan. Ia kemudian memunguti buku-bukunya yang terjatuh.
Millane mendecak kesal ucapannya tak ditanggapi, “Gue ini lagi ngomong sama lo. Denger gak sih?”
Kembali tak ada respon dari laki-laki itu.
Selesai memberesi, Thomas berdiri. Ia lalu memberikan buku bersampul merah milik Millane.
Millane mendesis. Bisa-bisanya, laki-laki di depannya tetap santai dan tanpa rasa bersalah meski sudah menabraknya dan menghiraukan ucapan-ucapannya. “Gue tau ya lo itu terkenal dingin. Tapi jangan sampe kayak es di kutub juga. Gue juga yakin, hidup lo pasti gak asik karena terbatas berekspresi. Coba deh bersosialisasi dan bertem-”
Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Thomas berlalu meninggalkannya sendirian.
‘Dasar manusia kurang stabil.’ umpat Millane dalam hati.

Cuaca siang ini seakan melanjuti suasana pagi yang dingin dengan turunnya butiran-butiran air dari langit. Millane suka hujan. ia begitu menikmati air-air itu mengguyurnya di taman bunga. Tangannya ia rentangkan berusaha merasakan air-air itu juga akan jatuh di tangannya. Ia merentangkan tangannya semakin lebar. Ada sesuatu yang aneh menurutnya. Apakah akan secepat ini hujan yang deras akan berhenti?

Ia membuka matanya menengadahkan kepalanya mendapati sebuah payung berwarna putih melindunginya. Ia berbalik dan tercengang melihat laki-laki yang menabraknya telah ada di hadapannya.

“Mau ngapain kamu?” Tanya Millane. Ia lalu mengusap wajahnya yang basah.
Thomas hanya diam. Ia menarik tangan Millane untuk meneduh.
“Ada perlu apa, sih? Apa lo mau minta maaf?” Tanya Millane penasaran.
Laki-laki itu mengulurkan sebuah buku bersampul merah. “buku kita ketuker” ucapnya singkat.
Millane kontan menyipitkan matanya. Ia lantas tertawa mengingat kejadian tadi pagi, dimana dengan gaya yang sok cool laki-laki itu memberikan buku bersampul merah padanya. “Bisa-bisanya lo gak inget sama buku lo sendiri dan ngasih itu buku ke gue.”
Laki-laki itu menaikkan sebelah alisnya melihat tawa Millane yang seolah mengejeknya. “Saya minta buku saya kembali.” ucapnya ketus.
Millane masih tertawa. Ia lalu menepuk bahu laki-laki itu. “ikut gue ke kelas gue ambilin buku lo.”
Laki-laki itu mengangguk.

Malam itu, suasana ibu kota masih dilanda cuaca dingin setelah hujan dari siang menjelang sore. Thomas berencana untuk mengerjakan semua pr-prnya agar besok malam ia free. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya. Entah perasaan apa itu, Thomas ingin sekali membuka buku bersampul merah yang menurutnya tak ada yang spesial. Apalagi kejadian di sekolah yang cukup membuatnya jengkel. Tapi rasa inginnya semakin besar, ia kemudian membuka lembar demi lembar buku bersampul merah itu. Hingga ia membulatkan matanya melihat halaman-halaman terakhir bukunya yang penuh gambar komik dengan cerita kejadian ia tabrakan dengan perempuan itu. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tetapi ada suatu hal yang menarik dari sudut halaman terakhir itu. Thomas langsung mengambil handphone dan menekan-nekan sebuah rangkaian nomor telpon dan menghubunginya.

“halo” ucap seseorang dari seberang telepon setelah tersambung.
“dengan nulis nomor telepon di buku saya, kamu minta saya telepon?” Tanya Thomas sekaligus sindiran.
Orang yang di telepon Thomas terdiam. Ia kemudian tertawa. “Kepedean banget sih lo. Tadi gue nulis itu karena gue kira itu buku gue.”
Thomas pun mendengus. “Kamu sengaja nulis itu supaya saya bisa menghubungi kamu kan?”
Terdengar helaan nafas panjang dari sudut telepon. “Ya kalo lo gak mau nelpon gue, ya gak usah ditelepon juga kali,”
“lagian ya, kok kalo ditelepon lo lebih banyak bicara daripada secara real? Beraninya di belakang huu”
Thomas tersulut emosi. Baru sekali itu Thomas diremehkan perempuan.
“Lama-lama ngobrol sama kamu itu membosankan.” setelah itu Thomas mematikan sambungan telepon.

Lewat pertemuan tak biasa itu mereka semakin hari, semakin dekat. Hingga tumbuh benih-benih perasaan nyaman di antara mereka. Namun, sebuah gosip-gosip negatif pun menghinggapi. Sampai-sampai Thomas ditegur teman-temannya karena dekat dengan Millane. Dan melarangnya bergaul dengan Millane.
Ini sungguh berlebihan. Millane memang terkenal nakal tetapi dia tidak membawa pengaruh negatif pada seseorang apalagi untuk orang yang dia cintai. Mulai sejak itu, Thomas setiap ditemui selalu menjauh. Ia berusaha tak terlihat di mata Millane.

“Thomas!” teriak Millane. Ia menghadang Thomas yang sedang berjalan menuju perpustakaan.
Thomas menghiraukan teriakan Millane. Ia mengubah arah jalannya. Dan lagi-lagi Millane menarik tangannya. Thomas lalu menghempaskannya dengan kasar.
“Tolong menjauh dari saya.” Ucap Thomas memandang tajam gadis di depannya.
“kenapa? Apa gue punya salah ke lo?” Tanya Millane khawatir. Kini perasaan Millane campur aduk. Antara takut, sedih dan kecewa. Ia bahkan ingin menangis namun ditahannya.
“Saya mohon, kamu jangan kenal saya lagi. Kamu itu membuat pandangan buruk tentang saya” pernyataan itu kontan membuat Millane membulatkan matanya.
“pandangan buruk? Gue tau, gue nakal. Sering bolos, dan suka buat onar. Tapi gue gak pernah kan buat nilai sekolah lo turun?” Ucap Millane berapi-api. Kini, perempuan itu tak dapat membendung air matanya yang sukses mengalir melewati kedua pipinya.
“apakah menurut lo pertemanan diukur dari pandangan orang lain?” tambah Millane.
“Harusnya gue gak terlalu jauh kenal lo. Maaf selama ini gue telah ganggu lo, membuang waktu lo, dan menimbulkan pandangan buruk terhadap lo. Maaf ya. gue janji gue akan menjauh dari lo, jadi lo gak perlu lagi ngumpet-ngumpet gini” Ucap Millane lirih. Ia bahkan sulit untuk berkata-kata. Tenggorokannya tercekat. Pikirannya melayang-layang. Perempuan itu merasakan jatuh untuk kedua kalinya. Ketika ia rasa ia akan bahagia, ternyata justru itu akan membuatnya dilanda kekecewaan.
Gadis itu lalu tersenyum sambil mengusap kedua matanya yang saat ini memerah.
“Gue berterimakasih. Setidaknya lo pernah ada buat gue walau cuma bentar. Dan sekali lagi gue minta maaf.” Ucap Millane. Millane kemudian berlari sekencang mungkin.

Thomas merasa sangat bersalah. Ia telah melukai hati seorang perempuan yang memang tulus ingin berteman dengannya. Yang selama ini ia menganggap bahwa orang yang ingin berteman dengannya pasti ada maunya saja. Tetapi Millane berbeda.

Suasana pagi itu sebelum bel tanda masuk memang cerah. Sangat cerah. Tak ada mendung apalagi hujan. Semangat Thomas pun secerah pagi ini, ia bersiap menemui Millane di kelasnya dengan membawa sekotak bekal roti bakar isi keju kesukaan Millane. Ia ingin meminta maaf atas perkataannya yang kasar kemarin.

“Di-” Panggil Thomas yang terpotong karena Farash dan Sakieb menghampirinya.
“Cari Millane?” Tanya Farash dengan ketus.
Thomas menganggukkan kepala.
“Mulai detik ini, lo gak usah cari-cari Millane ke sini. Millane udah gak ada di kelas ini.” jelas Sakieb.
Thomas menggaruk-garuk tengkuknya. “maksudnya?” tanya thomas tidak mengerti.
“Millane udah pindah. Karena poinnya udah banyak. Dan karena lo dia pindah.” Pekik Farash.
Kotak bekal yang dibawa Thomas pun terjatuh. Mulutnya menganga, matanya membulat, dan hatinya seakan behenti berdetak. Ia bertanya-tanya dalam dirinya sendiri apakah ini tipuan? Atau ini kenyataan.

“Jangan sok kaget lo. Ini kan yang lo pengen. Lo minta Millane buat menjauh dari lo dan Millane sekarang melakukannya.” celetuk Farash
“Kita kemarin denger lo ngomong hal yang seharusnya gak lo ucapin. Lo buat dia drop.” Ucap Sakieb.
“Lo tau? Mau seapapun orang menghina dia, dia gak perduli sob. Dia bakal tetap bertahan. Tapi liat dia putus asa kayak kemarin. Lo berarti udah buat suatu kesalahan yang fatal.” Tambah Farash
“mending lo pergi deh. Ntar pandangan orang terhadap lo makin tambah buruk.” Sindir Sakieb.
Farash dan Sakieb lalu pergi meninggalkan Thomas yang diam mematung. Ia masih tak percaya jika Millane pindah. Ia meruntukki kebodohannya dengan menyakiti Millane yang jelas-jelas tulus berteman dengannya.

Laki-laki itu merasa sangat kehilangan. Ia tak seharusnya melakukan hal yang sangat menyakitkan pada Millane. Perempuan itu memang nakal. Tapi, Thomas sadar bahwa Millane lah yang membuatnya menjadi individu yang lebih terbuka. Millane mengajarkan padanya untuk tidak bernegatif thinking pada seseorang.

Kini, itu semua hanya sebuah kenangan. Thomas hanya bisa mengingat kenangan-kenangannya bersama Millane tempo dulu, mengenang semuanya lewat buku bersampul merah yang menjadi awal pertemuan mereka dimana di buku itu terdapat komik mini buatan Millane yang bercerita tentang ia bertabrakan dengan Millane. Nomor handphone Millane yang tertera di buku itu pun sudah tidak aktif lagi. Perempuan itu benar-benar menepati ucapannya untuk tidak muncul lagi di hadapan Thomas.

Kini, masa SMA itu telah berlalu begitu cepat. Thomas hingga saat ini belum bisa melupakan kejadian-kejadian masa lalu yang menyedihkan. Dimana ia pernah dekat dengan seorang perempuan yang tulus ingin bersamanya.
Dan inilah Thomas sekarang dengan kesendiriannya. Setelah 5 tahun berlalu, Thomas masih sering mengunjungi area sekitar sekolah. Dan di sinilah dia. Di kafe mawar depan sekolahnya.
Sejujurnya, ia juga bingung kenapa setiap waktu ia ingin ke tempat ini. Mungkinkah ia akan bertemu lagi dengan Millane?

Laki-laki itu menatap sendu suasan kafe yang saat itu sedang ramai pengunjung. Ia meneliti satu per satu pengunjung seolah Millane berada di salah satunya.
Tebakan Thomas kini benar. Laki-laki itu menemukan perempuan yang mirip seperti Millane. Perempuan itu duduk di meja nomor 8 sendrian. Namun, Millane yang dilihat Thomas sekarang, berbeda jauh dengan Millane dulu ketika SMA. Perempuan itu sekarang telah bertransformasi menjadi perempuan yang baik dan santun. Ini terlihat dari penampilan Millane yang kini telah berhijab.
Dengan semangat menggebu-gebu seperti tak ada kesempatan lagi, Thomas menghampiri perempuan yang dilihatnya mirip Millane.

“Millane” ucap Thomas di depan perempuan itu.
Perempuan itu menoleh. “Ya?”
“Kamu inget sama saya, kan?” tanya Thomas.
Perempuan itu mengerutkan keningnya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya. “Maaf, sepertinya saya lupa,”
“Saya-” Thomas tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
Ia melihat sesuatu yang membuat hatinya teriris kala itu. Sebuah cincin emas bertahtakan berlian melingkar di jari manis Millane. Perempuan itu sekarang telah menikah. Dan tidak ada lagi kesempatan untuk Thomas kembali dengan Millane.

“Lupain aja. Mungkin saya salah orang, maaf mengganggu sebelumnya.” Thomas kemudian berbalik menuju mejanya.
“Tunggu,” teriak Millane membuat Thomas berhenti. “Kamu Thomas ya?” tanya Millane.
Thomas hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia tidak kembali menghampiri Millane. “Maaf untuk kesalahan saya dulu, Millane” pekik Thomas.
Millane berlari menghampiri Thomas.
“Iya gak apa. Saya juga udah lupa kok,” tiba-tiba alarm dari jam yang dikenakan Millane berbunyi. “Saya duluan ya. Mau jemput anak pulang sekolah. See you.”

Millane meninggalkan Thomas di dalam kafe. Perempuan itu benar-benar telah melupakan Thomas. Ia bahkan sudah berkeluarga. Thomas sekarang hanya berharap bahwa Millane akan selalu bahagia bersama keluarganya.

Cerpen Karangan: Nurvia Putri Harini
Facebook: Nurvia Putri Harini
Menulis itu Hobi. Dan harap dimaklumi karena saya masih amatiran, ckck. Saya ingin menghibur dan mencoba memberikan bacaan yang menarik. Semoga banyak yang suka

Cerpen Lost merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dan Buaya

Oleh:
Ujian Nasional telah selesai. Perasaanku bercampur aduk antara senang dan gelisah, namun biarkanlah pengumuman dua bulan lagi, masih ada waktu untuk bersenang-senang. Teman-temanku, Aldi, Sarah, Fitri, dan Kamal mengajakku

Cerita Dara

Oleh:
“Dara…, tunggu!” suara cempreng milik Faya menghentikan langkah kakiku yang tergesa-gesa. Aku berbalik menanti Faya yang berlari-lari kecil ke arahku. Saat Faya sampai tepat di belakang ku, aku kembali

Tentang Aku dan Senpai

Oleh:
Minggu, 25 Agustus 2013 “iya aku berangkat, tunggu sebentar” Hari ini aku tidak mengikuti acara di sekolah karena jarak rumahku dengan sekolah sangat jauh. Tetapi aku masih mengikuti acara

Love and Deary

Oleh:
09-12 tepat dmn hari aku dilahirkan, mungkin seharusnya hari ini menjadi hari yg spesial di hidupku, namun tidak untuk ku.. Bahkan aku sangat membenci hari ini, karena bnyak menyimpan

Getar Kenangan Dinda

Oleh:
Suatu hari sahabatku Dinda divonis sakit oleh dokter. Memang bagi kami tak begitu kaget ketika mengetahui bahwa dia telah divonis karena sebelumnya dia memang sering sakit. Dinda adalah anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *