Love 1 Month (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 2 May 2014

Hari ini, sama seperti hari-hari kemarin. Tak ada yang istimewa buatku. Kecuali, datang ke sekolah pagi-pagi hanya untuk melihat seorang adik kelas yang ku sukai. Namanya Nano. “Kepagian nih kayaknya.” Ucapku sambil memarkir motorku di urutan ke-4. Ku langkahkan kakiku segera mungkin. Dan setelah sampai di lapangan basket, pandanganku seakan otomatis melihat ke kelas atas. Ya kelas X-4 pastinya. Seulas senyum selalu ada di raut wajahku, ketika ku dapati sesosok orang yang ku kagumi.

Setelah puas melihat adik kelas itu, dengan cepat pandanganku ku alihkan ke segala arah. Agar dia tidak mencurigaiku. Karena aku sudah melihatnya secara berlebihan. Pandanganku terhenti, ketika ku dapati wajah seorang cowok yang hampir setiap hari membuatku jengkel dengan sikapnya. “hh.. dia lagi? Dia lagi?” keluhku sambil menghembuskan nafas berat.

Ku abaikan dia, dan langsung pergi menuju gazebo, yang kebetulan masih sepi. Aku pun langsung duduk di pinggiran gazebo. “Rajin amat dia. Datang pagi-pagi.” Gerutuku sambil melihat dia dengan teman-temannya di tangga kantin sekolah. Tak lama kemudian, seorang temanku datang menghampiriku. “cie.. cie.. serius amat. Lagi ngeliatin siapa sih?” Ucap Nia. “Enggak kok.” Jawabku singkat dengan pandangan lurus ke tangga kantin sekolah. “Oh ya ya. Aku tau! Kamu lagi ngeliatin Rizky ya?” Ucapnya dengan suara pelan, hampir sebuah bisikan. Setelah mendengar kalimat yang keluar dari mulut Nia, aku pun langsung mengalihkan pandanganku ke arah Nia. “Heh! Enggak.” Ucapku setengah berteriak. “Hahaha.. woles aja din” Ucap Nia seraya duduk di sebelahku. Sambil menunggu bel masuk kelas, aku pun membicarakan semua hal kepada nia. Tanpa ku sadari arah pandangku sesekali mencari keberadaaan Rizky.

Ketika semua murid masuk ke kelas masing-masing. Aku, Nia, dan yang lainnya pun juga masuk ke dalam kelas. Pelajaran Pertama pagi ini adalah pelajaran yang sangat sederhana yaitu MATEMATIKA. Iyalah, gimana nggak sederhana. Kalau tiap buka buku, Cuma bisa ngelihat angka berbaris berantakan yang dikalikan sama kalimat. Setelah berdoa selesai. Ada seseorang yang memanggil namaku dari arah sebelah kanan. “din.. dinda.” Ucapnya. “Hmmh.. apa?” jawabku sambil mengeluarkan buku MAT dari tasku. “Ada pensil nggak? Aku pinjem.” Ucapnya. Ku arahkan pandanganku ke sebelah kiri sambil menyodorkan sebuah pensil berwarna merah. “ah.. kamu ini, hobbynya minjem mulu.” Ucapku pada Rizky. Rizky pun Cuma tersenyum setelah mendengarkan celotehku dan langsung kembali ke bangkunya. “Udah minjeman, jail, rese’, nyebelin. Banyak dosa tuh anak.” Gerutuku sambil memandang Rizky dengan tatapan sinis.

BEL PULANG SEKOLAH
Semua anak membereskan buku-bukunya. Sedangkan aku? Aku hanya terdiam dengan pandangan lurus ke arah lapangan. Menunggu adik kelas itu lewat. “He.. cepet beres-beresnya. Ntar langsung latihan drama Bahasa Inggris di gazebo.” Ucap Lia teman sebangku ku. “Nanti?” Ucapku. “Iya, nanti” jawabnya. Aku pun langsung membereskan buku-buku yang ada di mejaku. Ketika aku sibuk memasukkan buku ke ke dalam tasku. Ada suara yang sangat amat ku kenal. Bahkan, suara yang tak ingin ku dengar. “Heh. Jadi latihan nggak?” Tanya Rizky. “Hah. heh.. hah.. heh.. Aku juga punya nama kali” Gerutuku dalam hati. “jadi” jawabku singkat. Lalu Rizky pun langsung pergi keluar kelas dan langsung menyusul teman-temannya bermain basket di lapangan.

Ketika semua sudah berkumpul di gazebo, latihan drama pun dimulai. Tak ada yang menyadari, kalau Rizky nggak ada di gazebo. Percakapan drama pun mulai berlangsung, saat peran pangeran, semuanya terdiam. Dan Nikma pun langsung berteriak. “Loh pangerannya mana? Rizky mana, Rizky?” Ucapnya setengah berteriak. Eka pun langsung memotong pembicaraan Nikma. “Tadi udah kamu kasih tau kan?” Tanya nya ke arahku. “Kenapa harus aku, coba?” batinku. Aku pun langsung menjawab menjawab. “Udah, tadi itu udah aku kasih tau. Tuh orangnya lagi maen basket di lapangan.” Ucapku sambil menunjuk seseorang yang berada di tengah lapangan. “Nyusahin orang aja” Gerutuku. Seorang temanku. Nuruz, berteriak ke arah lapangan “Rizky” teriaknya. Ema pun juga berteriak ke ara lapangan “Rizky, latihan” Teriaknya. Setelah mendengar teriakan Nuruz dan Ema, Rizky pun langsung lari pergi ke gazebo. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan “tak kira’in nggak jadi.” Ucapnya sambil nyengir ke arahku. Aku pun hanya menatapnya tajam. Setelah semuanya ngomel-ngomel, latihan drama pun kembali di mulai.

Di tengah-tengah latihan drama, sambil menunggu giliran. Aku duduk di pinggiran gazebo dan menghadap ke lapangan. Mataku seakan berbinar-binar ketika di tengah lapangan basket, ada Nano yang sedang main basket. “Lah. Sejak kapan dia di situ. Pulang agak sore nggak papa deh.” Batinku. Ketika pandanganku fokus ke lapangan basket. Tiba-tiba Rizky duduk di sebelahku dan berkata. “hadeh, ribet” Ucapnya. “huwaa.. kenapa dia ganggu sih” batinku. “Apa?” tanyaku ke Rizky. Jarak pandangku pun hampir sama, ketika aku duduk di gazebo sama Nano. Deket banget!. “itu ribet” jawabnya sambil memainkan Ponsel nya. “Oh.” Jawabku cuek. Pandanganku langsung beralih ke lapangan lagi. Tak lama kemudian Rizky mencolek tanganku. “apa Rizky?” tanyaku dengan nada sinis. “Nano, rumahnya di zipur juga ya?” Tanya nya. “Sok tau amat nih orang” batinku. “Iya a” Ucapnya sambil memandangku. “Bukan.” Uacapku singkat. “Ayahnya Tentara juga ya?” Tanya nya lagi. “Mau tau aja” gerutuku. “Enggak, tapi Om-nya yang tentara.” Tambahku sambil memandangnya. “Oh” Ucapnya sambil kembali memainkan ponselnya. “hh Sabar din.” Batinku.

Jam menunjukkan pukul 16.10.
“selesai” ucapku dengan wajah ceria. “Pulang, makan tidur” batinku. Nuruz, Ema, Lia, Nika, Eka dan Rizky pulang duluan. Karena aku masih menunggu temanku putri. Akhirnya aku masih stay di gazebo, sambil melihat Nano yang masih main basket di lapangan. Tak lama kemudian Putri menghampiriku “Ayo pulang’ Ucapnya. “Ayoo” jawabku sambil mencari kunci motor di dalam tasku. “Lhoh, kok gak ada” batinku seraya mencari ke semua bagian tasku. Setelah beberapa menit kemudian, kunci itu nggak ku temukan. “Kenapa din?” Tanya putri. “Kunci ku gak ada.” Ucapku panik. “Lhah, kok bisa? Tadi kamu taruh mana? Tanyanya panik. “di tas. Tapi gak ada.” Ucapku. Akhirnya putri ikut mencari kunci motorku di sekitar gazebo. Aku langsung duduk lemas di gazebo, sambil mengingat-ingat dimana meletakkannya. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. “ini pasti kerjaannya Riky. Dasar tangan jail” Gerutuku. Tanpa menunggu lama, aku pun langsung mengambil ponsel. Dan ku search nama Rizky di phonebook lalu ku tekan tombol hijau. Nada sambung pun terdengar tuuttt.. tuttt.. tuttt..
“Hallo. Assalamualaikum” Ucapnya. “Wa’alaikusalam. He, kunci motorku mana loh?” Ucapku sedikit emosi. “Nggak tau” Ucapnya singkat. “Serius? Ini udah sore ky, nggak usah bercanda. Kunci motorku kamu taruh di mana?” tanyaku sedikit berteriak. “haha.. woles aja din. Dibawa Nikma kunci motormu.” Jawabnya santai. “Hah! Serius? Kamu tau! Nikma udah pulang dari tadi. Terus gimana ky.” Ucapku panik. “Telfon Nikma aja, ntar suruh nganter kunci mu ke sekolah. Beres kan.” Jawabnya. “hh? Enak banget kamu ngomongnya” batinku. “Rizky, Jailmu nggak lucu” Ucapku dengan nada tinggi. “Kamu ambil sekarang, tak tunggu di sekolah. Aku serius ky.” Ucapku sinis. Lalu ku tekan tombol merah.

Setengah Jam kemudian Rizky menghampiriku dengan sebuah cengiran. Emosiku langsung meluap-luap ketika melihat wajah Rizky dengan cengiran konyol. “Nih, gitu aja mau nangis” Ucapnya sambil memberikan kunci. “Nggak lucu” Ucapku singkat sambil memandangnya dengan tatapan tajam. “Ya udah, aku pulang dulu. Jangan nangis ya!” Ucapnya. Lalu Rizky pun langsung pergi dari sekolah. “hzzhhh, Rizky…!!!” batinku sambil menghembuskan nafas berat untuk kedua kalinya gara-gara sikapnya.

Sampai rumah, aku langsung rebahan di kamar ku. Capek, jengkel semua campur jadi satu. “Rizky, ampun deh. Sifat jail-mu kenapa nggak abis-abis sih.” Keluhku.
Nggak hanya hari ini aja, Mungkin hampir setiap hari. Aku jadi korban kejailannya. Mulai dari:
1. Ponsel ku disembunyi’in di kotak P3K.
2. Kunci motorku disembunyi’in, dan itu hampir setiap hari. Tapi yang paling parah hari ini.
3. Habis selesai sholat. Pasti sepatu ku disembunyi’in di laci meja.
4. Semua buku plus barang-barang yang ada di tasku di keluarin semua, terus di sembunyi’in di tiap laci meja. Jadi aku harus repot-repot mencari barang-barang ku ke setiap laci meja.
5. Dompetku dibuka, semua isi yang ada di dompet dikeluarin terus di bagi’in ke teman-teman. Akhirnya sampai detik ini juga. Aku nggak pernah bawa dompet ke sekolah.
6. Tasku diikat di kursi ku sendiri..
Nggak bisa disebutin satu-satu deh, terlalu banyak kejailannya. Itu pun masih beberapa kejailannya yang ku ingat.

Tiap hari, hampir berantem terus sama yang namanya Rizky. Mulai dari jam istirahat sampai jam pulang sekolah. Sampai suatu ketika aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan semua teman-teman dekat ku mendukungku, jika aku jadian dengannya. Tapi aku nggak bisa bayangin, kalau aku jadian sama orang yang super jail kayak Rizky. Hari demi hari aku pun semakin dekat dengannya. Rizky rajin sms aku, entah itu iseng, atau menanyakan PR. Tapi lebih sering isengnya sih. Dan Rizky paling rajin ngucapin “Have a nice dream dinda” waktu aku bilang, kalau aku mau tidur duluan. Aku nggak tau, kenapa aku selalu tersenyum ketika membaca pesan darinya. Bahkan Sejak saat itu, dia rela mendengarkan keluh kesahku sampai larut malam, dan dia lah yang selalu menenangkan ku jika aku merasa terpuruk karena masalahku, Dia mencoba mengerti keadaan, dan perasaanku, dan aku pun merasa nyaman jika berada di dekatnya. “Kadang, kalimat sederhana pun. Bisa menjadi istimewa jika yang mengucapkan kalimat itu adalah orang istimewa”

Mungkin, aku sudah jadian sama Rizky beberapa bulan yang lalu. Sebelum Dia jadian sama Via. Tapi karena aku masih berfikir berkali-kali untuk keputusan ini. Nikma selalu bertanya, “Kenapa nggak jadian sama Rizky?” dan aku selalu berkata “Enggak enak, sama si silvi.” Jawabku. “Kan dia mantannya. Cepet jadian sana. Aku seneng kalau kalian jadian.” Ucapnya. Dan aku pun hanya bisa tersenyum mendengar jawaban Nikma. Kadang Retno pun juga sering bertanya. “Rizky, itu kurang apa sih? Baik? iya, perhatian? juga iya. Tapi masih kamu cuekin terus. Kasian dia” Ucapnya. Kadang, mataku mulai berkaca-kaca setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Retno. “Jujur, aku mulai dulu juga suka sama Rizky, tapi nggak tau kenapa. Aku susah nerima dia.” Jawabku. Tapi jauh dari lubuk hatiku aku ingin menjawab “Kadang aku merasa DIA terlalu sempurna untuk ku miliki, tapi apapun alasannya, aku berterimakasih, karena dia sudah menerima aku apa adanya”. Kadang aku merasa bersalah ketika semua teman-temanku berkata seperti itu. Sejahat itukah aku? Aku bingung sama perasaanku yang sekarang.

Tanggal 17 desember 2012
Malam yang membosankan, akhirnya ku putuskan untuk membuka fb, sekedar nyari teman buat ngobrol. Tak lama kemudian ada pesan masuk dari Rizky. “cewek” tak menunggu lama aku langsung membalas pesan itu “cowok”. “cewek cantik, boleh kenalan nggak?” setelah membaca pesan dari Rizky, tanpa ku sadari aku tertawa ringan. Dan langsung membalas pesan darinya “kamu lagi amnesia ya ky?”. Obrolan-obrolan itu lama-lama hampir seperti lelucuon bodoh. Tapi lama-kelamaan, obrolan itu berubah menjadi perbincangan serius. Seperti halnya from heart to heart.
“kamu nggak ada rencana mau move on ky dari dia. Kamu nggak bisa ya?” tanyaku ragu-ragu. Dengan santainya Rizky menjawab pertanyaanku “aku bisa kok din” jawabnya. “Terus?” Ucapku. “ya kalau kamu mau move on ke aku, aku bantu kok” Ucapnya. Aku hanya tersenyum melihat pesannya. “Serius ini?” Ucap Rizky. “Iya, ntar kamu kasih jalan nya ya. biar nggak nyasar.” Ucapku. “Iya, nanti aku juga ya.” Ucapnya.

Mungkin obrolan itu, terlalu ku anggap serius. Dan mungkin Rizky Cuma bercanda dengan obrolan itu. Buktinya nggak lama kemudian Rizky jadian sama Via. Dan mungkin aku biasa aja. Tapi sebenarnya aku kecewa dengan nya. Sebisa mungkin aku bersikap biasa. Dan menganggap itu semua hanya iklan sesaat.

Diam, dengan rasa yang sangat amat nggak karuan, Duduk termangu, dan menatap sebuah cahaya lampu kecil di sudut kamarku. Mengingat nama itu, membuat dadaku terasa sesak, air mata pun menetes dari ujung mataku. Mencoba tenang, dan menghapus semua tentang-nya “Andai kamu tau, rasanya berharap pada sesuatu yang sebenarnya tak dapat di miliki” Ucapku.

Bulan Maret 2013
Tanggal 11-18 maret kelas XI sama kelas X libur, karena kelas XII ada UAS. Dengan Senang hati, kelas X dan kelas XI tidak masuk sekolah selama seminggu. Itulah moment-moment yang ditunggu sama mereka semua. Begitu juga denganku.
Hari senin, pagi-pagi aku udah siap-siap. Karena hari ini aku mau main ke pantai. Seperti biasa, aku minta ijin ke kedua orangtua ku pada hari itu juga. Ntar biar diijinin. Itu pun, harus mohon-mohon dulu, terus pakai acara ngambek dulu. Baru deh diijinin. Dan 1 kalimat yang sering aku ucapkan kalau mau minta ijin “Cuma sekali ini aja, please”. 1 kalimat yang sederhana, tapi excellent.

Jum’at,
Waktu buka fb, nggak tau kenapa orang super jail yang ku cari lagi OL juga. Tanpa menunggu lama, aku langsung mengirim pesan ke Rizky. “Dandang”. 1 menit.. 2 menit.. 3 menit.. 4 menit.. pesan ku belum dibalas juga sama Rizky. Akhirnya kursor ku arahkan ke akun lalu langsung ku log out. Malam-nya ku cek, log in lagi di fb. Dan ternyata ada pesan dari Rizky. “Iya Dendeng, maaf ya baru bales. Tadi aku sibuk banget nyebarin brosur buat acara parade Band. Tadi abis muter-muter sama Aldino, maaf ya Dendeng.” jawabnya . “Oh, lagi sibuk ya? Iya Dandang nggak papa kok.” jawabku. “eh, aku kangen kamu loh deng!” Ucapnya. Deggg!!! Tersenyum itulah yang ku lakukan setelah membaca pesan dari Rizky. “Emang kamu kangen aku ya dang?” tanyaku iseng. “Iyalah. Kan udah nggak ketemu semingguan deng”. “aku kok enggak ya dang” Jawabku. Sambil nunggu pesan dari Rizky, aku langsung beranjak dari pesan lalu menuju ke Beranda. Dan di baris pertama ada sebuah status yang baru ditulis sama Rizky “Aku kangen sama wajahnya, senyumnya, suaranya, ketawanya, semuanya wes”. “Aku nggak tau dari mana kebahagiaan itu berasal, dan kapan itu dimulai, dan bagaimana prosesnya. Yang jelas, hari ini aku bahagia” ucapku. dan “aku suka saat-saat kita bisa meluangkan waktu sekadar untuk bercerita, tentang aku dan kamu yang mungkin tidak akan pernah menjadi KITA”

Sabtu, 16 maret 2013. Entah gimana awalnya, dan gimana kejadiannya. Siangnya aku jadian sama Rizky.
Di sms tiap pagi, siang, sore, malam. Bahkan tiap malam nya Rizky nggak pernah absen ngucapin “Have a nice dream.” Sejak saat itu, aku merasa Rizky bisa melupakan masa lalunya, walau kadang sesaat tanpa dia sadari dia mengungkit masa lalunya di depanku. Hari demi hari, ku lewati dengannya. Ada satu hal yang membuatku kagum. Dia nggak pernah marah sedikitpun walau aku yang salah. Dia selalu mengingatkanku apapun yang ku lakukan. Dia tetap ada buatku. Walau kadang aku tak pernah memperdulikannya. Tapi dengan sikapnya seperti itu, hari demi hari aku mulai nyaman dengannya. Aku semakin yakin dengan nya.

Hari minggu, Aku ada rencana belajar kelompok di rumah Elita. Aku nggak tau, kalau Rizky ternyata juga ikut belajar kelompok. Di saat semua fokus pada buku masing-masing. Rizky datang. Dia langsung menghampiriku dan berkata “Kenapa nggak bilang, kalau ikut belajar kelompok” Tanyanya. Aku hanya bisa menghela nafas dan mencoba menjawabnya dengan benar. Dan saat itu, aku takut kalau dia marah padaku. “Aku nggak punya pulsa ky” Jawabku singkat. “Oh, kira’in” Ucapnya santai lalu tersenyum ke arahku. Aku pun lega mendengar jawabannya, dan ku torehkan senyum juga ke arah Rizky.

Pukul 12.30, waktunya Shalat Dzuhur. Aku dan teman-teman yang lain memutuskan untuk sholah berjama’ah di masjid dekat rumah Elita. Setelah semuanya mengambil Wudhu, Aku langsung memakai Mukena ku. Setelah selesai memakai mukenaku, pandanganku lurus ke arah tempat imam untuk mecari tau siapa yang menjadi imam. “Degg” jantungku seakan berhenti sejenak, saat melihat tempat imam. Seorang Rizky sudah berdiri menghadap kiblat di tempat itu. “Rizky” Ucapku pelan. Ada rasa kagum yang sangat amat mendalam. “Dia berubah, dia semakin baik” Batinku.

Dan sejak saat itu, Rizky sering menjadi Imam di sekolah saat shalat Dzuhur berjama’ah. Hanya sedikit perubahan dari Rizky membuatku bahagia. Bahkan aku tak pernah menyuruhnya, Yang ku lakukan hanyalah mengingatkannya Waktu Shalat di setiap waktunya. Aku tau, Sebenarnya Rizky adalah anak yang baik. Hanya saja dia nggak tau caranya, dan dimana dia menunjukkan Sifat baik nya. Yang dia lakukan sampai saat ini hanyalah mencari perhatian pada setiap orang dari sifaf jailnya.
“Kamu itu beda sama yang lain, Hingga aku tak pernah bosan jika bersamamu”

Suatu hari, Rizky pernah menanyakan hal yang membuatku bingung untuk menjawabnya. “Ada hal yang nggak kamu suka dari aku? Kalau ada. Bilang aja ya. Ntar biar aku bisa berubah jadi lebih baik lagi”. “Nggak ada kok” Jawabku Singkat. Entah kenapa saat hari itu juga aku lagi males sama dia. Walau aku tau Maksud dia itu baik. “Beneran?” Tanya Rizky sambil memandangku. “Iya Rizky. Gini ya. Aku nggak mau ngerubah kamu jadi orang lain. Aku suka kamu apa adanya. Dan kalau kamu pengen berubah jadi lebih baik lagi. Iu jangan karena aku. Tapi karena dirimu sendiri” Ucapku sambil memandangnya. What? Apa yang barusan aku bilang. Tapi jujur itu bukan jawaban yang ku siapkan jauh-jauh hari. Itu jawaban kilat yang nggak pernah aku siapkan.

“Mungkin suatu saat nanti, aku akan bilang ke Rizky yang sejujurnya. Kenapa dulu, aku tak pernah memperdulikannya? Jawabannya, Karena aku takut. Semua perhatianmu ternyata bukan untukku. Aku takut, di saat aku benar-benar menyayangimu kamu akan kembali dengan-nya. Aku takut untuk menyayangimu. Itulah alasanku, kenapa aku bersikap cuek terhadapmu.” Batinku. “Karena aku tau, masih ada 1 ruang yang kamu biarkan kosong untuknya”.
Aku heran dengan cewek yang ada di masa lalu nya. Kenapa dia menyia-nyiakan Rizky. Kenapa dia nggak bisa menerima Rizky apa adanya. Kenapa dia selalu menuntut ini-itu. Dan aku akan benar-benar kecewa jika dia hanya memanfaatkan Orang yang ku sayangi. “aku bukan dia, aku ya aku. Dan aku nggak akan pernah bisa menjadi dirinya, menggantikan posisi dia. Tapi aku yakin, Dengan menjadi diriku sendiri, aku bisa membuatmu lupa akan masa lalu mu. Dan kamu akan menganggap aku adalah aku. Bukan dia lagi.”

Cerpen Karangan: Wigi Tya
Facebook: Wigiandi Satya Putri

Cerpen Love 1 Month (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Malam ini teman Marsha ulangtahun Vita namanya, Disana seluruh siswa SMA BANGSA MULYA hadir di pesta ulangtahun Vita, termasuk Riko anak kelas XI IPA, dia mantan Marsha setelah putus

Je T’aime (Part 2)

Oleh:
“Hai Chika… Dari tadi lo diem aja? Kenapa? Ada masalah ya? Cerita dong.. Gak biasanya lo kaya gini.. Hmm, lo lagi jatuh cinta ya? Cieeee.. buru cerita!!” .. Chika

Marshmallow (Part 2)

Oleh:
Pagi ini cuaca memang sedang tidak berdamai dengan suasana hatiku. Entah apa penyebabnya aku jadi senang begini, hatiku seperti ada yang menggenggam dan rasanya nyaman sekali. Hatiku dan pikiranku

Cinta Ku Milik Sahabat Ku (Part 1)

Oleh:
Hari ini cuaca mendung, sudah sejak tadi aku menatap ke luar jendela memandangi hujan pagi yang gerimis. Halaman pun penuh dengan genangan air, ku lihat air masih mengucur dari

Hanya Untuknya

Oleh:
Satu-satunya, tak akan ada yang lain. Hanya dia seorang. Cinta pertamaku. Kak R. Setiap hari, aku hanya bisa memandang Kak R. Kenapa hanya dia? Karena semua debaran ini, semua

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Love 1 Month (Part 1)”

  1. ahyani as says:

    it’s good story but like mine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *