Love in A Matter of Time (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 22 April 2019

Aku mencoba melupakannya, aku akan beranjak pergi. Mungkin kirei benar benar lupa padaku..

“Kurasa, kau tak mengenalku. Maaf aku sudah menganggu waktumu aku pergi”

Aku beranjak dari tempat dudukku tetapi panggilan lembut itu, menghentikan langkahku untuk pergi. Ia memanggil namaku?
“Davino?”
“Kau kah itu? Benar kau davino?”

Kurasakan tatapan kirei masih menatapku, meski posisiku dan kirei tak saling berhadapan. Aku membelakangi kirei tetapi aku tahu bahwa gadis itu kini sedang menatapku, aku bisa merasakannya.

“Davino?” Suara lembut itu memanggilku kembali, seperti pertanda bahwa panggilan itu menyuruhku untuk kembali duduk di sampingnya. Meski nyatanya ia tak mengatakannya padaku.

“Kau darimana, aku menunggumu sejak tadi?”

Ia menungguku? Ia menungguku sejak tadi, tetapi mengapa ia tidak mengenalku tadi. Apakah itu hanya lelucon darinya untukku? Berpura pura tidak mengenalku, dan menanyakan siapa padaku? Entah, aku tidak tahu pasti tetapi suara lembut itu membuatku mengurungkan niatku, untuk pergi.

Aku kembali duduk dan menatapnya, kini gadis itu menatapku dengan senyumannya. Aku rasakan wajah senang itu ketika ia tahu bahwa, aku sudah berada di sini.

“Davino, akhirnya kau datang. Aku menunggumu sejak tadi di sini aku sangat senang kau sudah datang”

Senyum itu meluluhkanku, rasa amarahku hilang saat aku melihat senyumannya. Lagi lagi wanita itu mampu, membuatku tenang hanya dengan senyumannya.

“Kirei, maaf membuatmu menunggu. Bahkan, aku tidak tahu jika sebenarnya kau sedang menungguku di sini..”
“Bahkan aku sempat berpikir aku tidak akan menemukanmu di sini kirei”
“Tetapi ternyata kau menungguku di sini, dan aku sangat senang kirei kau menungguku”
Aku mengatakan padanya betapa bahagianya aku ketika, bertemu dengannya. Aku berpikir aku tidak akan menemukan gadis ini. Tetapi waktu lain ia berkata bahwa aku dapat bertemu dengannya bahkan ia menungguku di sini.

“Aku menunggumu vino, aku pun berpikir kau tidak akan menemuiku sore ini.”
“Tetapi maafkan aku karena, aku sempat tidak mengenalmu tadi. Aku benar benar minta maaf”

Ada apa dengannya? Mengapa meminta maaf berulang kali padaku. Bahkan ia menangis kirei menangis hanya karena hal ini? Hanya karena ia sempat lupa padaku tadi? Mengapa hal ini begitu sedih untuknya? Ada apa kirei.
Air mata itu menghalangi, wajah cantiknya. Dan aku tidak tega harus melihatnya menangis karena hal ini. Ia tidak bersalah dan untuk apa ia menangis begitu menyesak?

“Kirei,” Aku mendekatkan diriku padanya, membawa gadis itu ke dalam pelukanku. Aku mencoba menenangkannya, entah mengapa rasanya tidak tega melihatnya seperti itu. Aku merasa terluka ketika melihatnya menangis.

“Maafkan aku vino”
“Kirei, apa yang kau sesali apa yang membuatmu menangis?”
“Maafkan aku, begitu bodohnya aku ketika aku tak mampu mengenalimu dan justru malah bertanya siapa padamu”
“Kirei, calm down baby. This isn’t a big deal. I’m here kirei”

Kirei hanya terus menangis dalam pelukanku, entah apa yang membuat gadis itu sangat menyesal hingga menangis hanya karena ia tak mengenaliku tadi? Dan ia menangis seperti itu.

Kirei terlarut dalam tangisannya, pelukanku semakin erat pada gadis itu. Wajah gadis itu begitu sangat sedih saat kupandang. Kirei jika ini, masalah karena kau tidak mengenaliku lupakan. Ini bukan sesuatu yang menyakitkan bagiku. Berhentilah menangis kirei.

“Vino?” panggilan lembut itu menyadarkanku
Kirei kini sudah tenang, aku melepaskan pelukanku darinya. Tetapi entah mengapa wajah sedih itu masih terukir padanya. Apa yang masih terpikirkan dalam benaknya? Hingga gadis itu masih sangat bersedih.

“Vino”
“Ada apa kirei?”
“Kirei jika kau masih bersedih karena, kau lupa padaku tadi lupakan saja. Aku tak apa lagi pula itu bukan masalah besar untukku”
“Bukan itu hanya saja…”
Kirei tertunduk dan terdiam, seperti ada yang ingin ia katakan tetapi mengapa rasanya sangat sulit dilontarkan oleh gadis itu. Ia seperti mempersiapkan waktu untuk berbicara padaku, lagi lagi air mata terjatuh, hingga akhirnya tangisan itu terpecah ketika kirei mengatakan..

“Vino, aku buta!…”

Pernyataan apa ini? Kirei mengatakan bahwa dirinya buta? Tak sedikitpun tatapanku lepas darinya. Aku terus menatapnya dan menatapnya.

“Sebab itu aku, tak mengenalmu tadi”
“Aku tidak bisa melihat bagaimana dirimu vino”
“Bagaimana senyummu”
“Bagaimana wajahmu”
“Aku tak bisa melihatmu vino”

Kalimat kalimat itu membuatku tercengang, sekaligus tak percaya. Ternyata gadis yang kemarin ia temui dan gadis yang saat ini tepat berada di depannya adalah gadis buta yang tak mampu melihatnya. Tak mampu melihat apapun di sekelilingnya? Dan sebab itu, saat kemarin aku menemui dia untuk pertama kalinya. Tatapan ia tak pernah lepas dari satu titik dan hanya terfokus, pada satu arah. Sebab itu ia tak mengenalku, dan memastikan bahwa aku vino atau bukan. Sebab itu ia bertanya aku siapa?

Gadis itu kini menangis histeris, menganggap bahwa kekurangan dirinya adalah sesuatu yang benar benar membuatnya kehilangan segalanya. Hingga ia, tak mampu melihat apapun bahkan, orang yang ia sukai sekalipun.

“Aku tidak berguna vino,”
“Aku tidak mampu melihat sekelilingku”
“Bahkan aku tak mampu melihatmu vino”

Lalu bagaimana ia bisa mengetahui aku, saat aku hendak pergi tadi. Vino berpikir itu dalam benaknya dan tepat sekali, kirei menjawab pertanyaan yang berada dalam benaknya itu.

“Awalnya aku ragu itu adalah kamu vino, saat kau duduk di sampingku. Aku mulai takut kau adalah orang jahat yang akan menggangguku. Aku memastikan hingga aku bertanya siapa padamu. Hingga akhirnya kau ingin pergi meninggalkanku ketika kau tahu bahwa aku malah bertanya pertanyaan bodoh itu padamu. Andai saja penglihatanku sempurna, aku rasa aku tak perlu bertanya terlebih dahulu itu kau atau bukan. Kekurangan ini membuatku sulit untuk mengenali keadaan sekitarku bahkan sulit mengenali seseorang yang aku sukai vino…”

Tangisan itu semakin pecah, ia terus menangis karena menyesal akan kekurangan yang ia miliki.. Hingga kalimat terakhir yang ia katakan cukup membuatku terluka dan ingin rasanya menangis karena harus mendengarnya bicara seperti itu padaku..

“I’m not perfect! Forgive me, now you can go vino…”
Seperti kalimat perpisahan, kalimat macam apa itu? Mengapa menyakitkan sekali, dan membuatku terasa menusuk.

“What happened dear?” batinku berbicara berulang kali. Memastikan apa yang kirei katakan hanya kalimat kebohongan semata, ternyata tidak kirei kembali lagi berbicara padaku dan menyuruhku pergi.

“Go I don’t want you here vino! You already know, that I’m blind so go away from me! Get out of my life davino…”
Apa yang dikatakannya? Kirei mengapa seperti ini. Apa kau takut aku akan menghinamu atau bahkan menyakitimu karena aku sudah tau kenyataannya bahwa kau buta? Kirei,

Tangisku mulai pecah rasa menyesak akibat ucapan kirei tak dapat kutahan, meski hanya baru 2 hari kita bertemu entah mengapa hati ini sudah jatuh, kepadamu kirei.

Aku mencoba menenangkan hatiku, dan meyakini kirei bahwa aku takkan pergi sekalipun aku tahu ia buta. Aku tak peduli akan hal ini, aku tak peduli.

“Honey, listen to me I don’t care about your shortcomings, I don’t care even though you are blind! Which I know I want to, take care of you now kirei, I love you.”
“Memang ini singkat untuk dikatakan, pertemuan kita yang baru saja 2 hari tidak mampu menguatkan alasanku jika aku mencintaimu, menyayangimu. Tetapi tolong beri aku waktu, beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku menyangimu kirei. Aku ingin menjagamu, aku ingin kau ada dalam kehidupanku kirei,”
Tangisku semakin pecah, air mata semakin mengalir. Aku terus menatap gadis itu dengan air mata yang bersimpah, aku tak peduli dengan apa yang sekarang sudah kuketahui tentang kirei, yang aku tahu aku menyayanginya dan ingin menjaganya.

“Kirei izinkan aku menjagamu..”
“Aku tidak peduli, akan kebutaanmu kekuranganmu dan segala hal kekurangan milikmu. Aku hanya ingin menjagamu kirei aku hanya ingin berada di dekatmu kirei…”
Pria itu kini, memohon padanya berharap kirei akan mengizinkan vino untuk tetap tinggal bersamanya.
Kirei hanya diam dan diam, tangisnya masih terdengar meski tak begitu menyesak..

“Kirei?” Panggilan lembut itu, berulang kali memanggil gadis itu. Tetapi kirei tetap dalam lamunannya entah apa yang ada di dalam, benak gadis itu. Vino hanya mampu menunggu dan menunggu berharap kirei akan segera menjawab pertanyaannya.

“Vino…” Gadis itu kini berbicara setelah sejak tadi terdiam dan terdiam.
“Vino, apa kau akan tetap menerimaku? Meski kau tahu aku buta dan tak akan pernah bisa melihat bagaimana wajahmu vino?”
“Kirei sudah kukatakan, aku akan tetap menerimamu apapun kekurangan yang ada dalam pada dirimu kirei”
“Bagaimana aku bisa yakin kau tidak akan meninggalkan aku vino?” Suara yang tadi terdengar lembut, kini terdengar sedikit meninggi. Aku mampu memahami keraguan pada diri kirei. Hingga ia mengatakan hal itu dengan nada yang tinggi seperti itu padaku.
“Kirei, jika aku menyakitimu. Aku mungkin akan pergi ketika kau mengatakan bahwa kau buta aku akan menjauhimu. Entah bagaimana aku membuktikannya kirei… Aku takut kau akan tetap ragu padaku meski sudah kubuktikan”

Vino tak tahu apa yang akan ia lakukan saat ini, ia tahu gadis yang ada di hadapannya saat ini, pasti akan tetap ragu padanya meski, bukti apapun yang akan ia tunjukan pada kirei.

“Kau inginkan aku membuktikan apa padamu kirei”
“Aku bingung apa yang harus lakukan untuk membuktikannya”
Kirei hanya terdiam dan terdiam. Terus terdiam air mata yang mengalir menjadi saksi, kehancurannya saat ini. Kenyataan yang belum mampu ia terima hingga saat ini membuatnya menjadi gadis yang takut untuk membuka hatinya.

Kirei terus menangis, isakan yang begitu kencang saat kudengar membuatku tak tega melihat gadis itu begitu terluka.
Baru saja, vino ingin memeluknya kirei beranjak dari tempat duduknya dan melangkah untuk pergi tetapi, dengan sigap aku langsung mendapati tangannya. Aku menggenggamnya menahannya untuk tidak pergi.

Gadis itu kini membelakangiku, aku yang sejak tadi terduduk akhirnya beranjak dari tempat tidurku, aku tak peduli lagi apa yang akan ia lakukan nanti tetapi aku mencoba perlahan memeluknya. Aku melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya, ya aku memeluknya dari belakang. Menenangkannya, kirei mencoba untuk melepasnya tetapi aku menahannya. Entah mengapa aku tak ingin gadis itu pergi dariku. Aku menahannya sebisaku hingga akhirnya kirei terdiam dan membiarkan pelukanku padanya.

Cerpen Karangan: Mutya Zulmi
Blog / Facebook: MutyaaZulmi
lebih tau tentang keseharian saya cek di:
ig: mutzlmy_
fb: mutyaazulmi
yang mau tanya tanya bisa kirim e-mail ke saya di :
mutyaazulmyy21[-at-]gmail.com

Cerpen Love in A Matter of Time (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Yang Tersakiti

Oleh:
Cinta yang tak pernah kumengerti terkadang mengajariku arti memahami segalanya, memahami sebuah rasa, tanggung jawab bahkan arti saling menerima satu sama lain. Aku yang masih berada di sini, kembali

Mawar Untuk Sarah

Oleh:
Sarah duduk bersandar di kursi goyang, menikmati guguran daun kering yang jatuh di halaman rumahnya sambil sesekali mengayun kursi goyangnya yang terhenti. Wanita tua itu mengamati anak–anak berseragam sekolah

My Special Night

Oleh:
Namaku Rafalver Faradica. Aku biasa dipanggil Rafa. Gadis berumur 18 tahun yang bisa dibilang “super badung”. Tapi kalau dilihat lagi aku juga remaja yang cukup pandai dan berprestasi baik

Akhir yang Bahagia (Part 2)

Oleh:
Enam bulan sudah aku meninggalkan rumah itu. Aku tak tahu keadaan Raka sekarang. Aku hanya bisa menangis bila mengingat tentang dirinya. Sekarang aku tinggal di sebuah masjid yang jauh

Bertepuk Sebelah Tangan (Part 2)

Oleh:
“Sudahlah bray, aku nggak mau kawanku ini sedih terus, lama-lama aku takut kau bunuh diri pula, besok kan hari minggu, gimana kalau ku ajak kau jalan-jalan ke puncak, hitung-hitung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *