Love in Popmie

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 5 December 2016

Hari ini dingin sekali karena semalam hujan lebat sampai sekarang belum berhenti. Di bangku paling pojok belakang aku dengan lahap memakan popmie kesukaanku sendirian. Meski aku sering dimarahi oleh orangtua di rumah, aku tidak menghiraukannya sama sekali. Aku tak tahu sejak kapan aku mulai suka makan popmie dan sampai sekarang kebiasaanku disaat turun hujan itu tak pernah aku hentikan. Yang terpenting bagiku makan popmie selalu mengingatkanku pada seseorang yang spesial yang penah menemani hari-hariku dulu. Sampai sekarang aku tak tahu ia akan balik lagi kesini atau tidak. Itulah alasanku mengapa aku suka makan popmie disaat hujan turun atau kapanpun, walau resikonya sangat berbahaya bagi kesehatanku.

1 tahun yang lalu.
Seminggu setelah masuk SMK, aku belum merasa nyaman dengan teman-teman baru yang aku kenal. Aku merasa tidak terbuka dan selalu menyendiri apabila ada yang mengajak ke kantin saat jam istirahat tiba. Bahkan aku selalu merasa bosan apabila hujan turun karena kebiasaanku ke perpustakaan batal. Dan disaat seperti itu aku hanya berdiam diri di dalam kelas mencoret-coret apa saja yang ada di depanku. Disaat seperti itu ada teman sekelasku yang tidak pernah aku suka mulai awal masuk sekolah karena gayanya yang sok pintar dan sombong itu masuk ke dalam kelas membawa dua popmie. Dalam hati aku mengeluh kenapa dia lagi dan dia lagi yang aku lihat.
Aku tersentak kaget ketika ia menyodorkan popmienya yang menyebalkan itu ke aku. Lantas aku kembali memalingkan wajahku dan berlagak sok tidak mau. Padahal dari tadi perut aku sudah keroncongan sekali ditambah menghirup aroma nikmat dari popmienya itu. Melihat ia asyik makan aku jadi ngileran dan aku sudah tidak tahan.

“hey, kamu ngapain kasih popmie ini ke aku? Aku tidak selera melihat popmiemu itu!” kataku sok jual mahal.
“itu bukan urusanku! Yang penting kamu harus makan, kalau kamu sakit aku yang repot bawa kamu ke UKS!” kata ia kembali membentakku.
“memangnya kamu peduli kenapa sama aku, lagian siapa suruh kamu repot hah?”
“kalau kamu tidak mau ya sudah, biar aku saja yang menghabiskan keduanya”
Aku terpaksa menerima pemberiannya itu karena perut aku sudah tidak tahan lagi.
“iya deh iya, aku mau” kataku langsung melahap popmie itu bersamanya.

Hari-hari berikutnya aku selalu makan popmie bersamanya. Di sekolah, di rumah, di taman, bahkan saat belajar bersama dengannya popmie tidak pernah ketinggalan ikut. Saat itu kami sedang mengerjakan tugas sekolah di rumahnya. Setelah tugas sekolah selesai ia mengajakku memasak popmie kesukaannnya ke dapur. Ia menarik tanganku.
“kita mau kemana?”
“sudah ikut aku saja, ayo!”

Kami tiba di dapurnya dan wow aku benar-benar tidak menyangka di dalam lemari dapurnya itu banyak sekali popmie yang belum tersentuh mulut (alias belum dimakan). Cup demi cup popmie tersusun rapi bagaikan siswa-siswi yang berbaris di sekolahku saat upacara.
“waaaaah banyak banget…” kataku memuji.
“tentu, aku selalu makan ini setiap hari, saat aku lagi nggak mood bukan berarti aku harus galau, aku mengambil tindakan seperti ini, makan popmie” jelasnya padaku.
“kamu nggak bosan apa makan ini setiap hari?” tanyaku.
“tentu saja tidak, mana ada orang yang bosan dengan kebiasaannya sendiri, iya kan?”
“hmm, iya he-eh. Tapi kalau aku lagi nggak mood gitu aku biasanya baca buku atau palingan dengerin musik”
“kita kan beda! Masa kebiasaan aku sama kamu sama” ia tertawa.
“hmm iya juga sih” aku manggut-manggut memahami kata-katanya.

Lima menit kemudian popmie kami sudah siap untuk dinikmati. Ia mengajakku ke taman belakang rumahnya. Disana terdapat berbagai macam bunga dan juga ada satu buah ayunan muat untuk dua orang. Melihat ayunan itu aku langsung duduk di atasnya sambil mengayunkannya sedikit-sedikit takut kalau kuah popmieku tumpah. Ia juga langsung duduk di sebelahku. Aku menatap ke depan sambil mengunyah popmieku. Sesekali ia memperhatikaanku aku yang sedang makan dan sesekali juga aku jadi malu dan salah tingkah.

“kamu ngapain sih lihatin aku terus, aku jadi malu nih” kataku terang-terangan.
“kamu lucu kalau lagi makan” katanya tersenyum padaku.
“kamu juga lucu dengan gaya sombongmu itu”
Ia berhenti sejenak seperti memikirkan sesuatu.
“hey, kok melamun? Nanti keburu dingin popmienya ayo makan!” ajakku membuyarkan lamunannya.
Ia hanya mengangguk.
“akhir-akhir ini aku takut nggak bisa lagi bersama kamu, makan popmie sama kamu, belajar bareng sama kamu” katanya mulai bicara.
“kamu kok bilangnya gitu sih, aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan selalu makan popmie kayak sekarang sama kamu, belajar bareng, iya kan?” aku membujuk kekhawatirannya.
Ia terus memkirkan sesuatu yang tak bisa aku tebak dan sangat misteri. Aku berpikir apakah ia akan meninggalkanku? Aku tak mau itu terjadi karena selama ini hanya dialah yang menjadi sahabat terbaik aku.

Tiga hari semenjak itu ia tidak pernah lagi datang ke sekolah. Kekhawatiranku mulai menjadi-jadi apakah benar ia akan meninggalkan aku sahabatnya. Aku benar-benar menyesal kenapa diwaktu itu aku tidak bertanya apa maksud sebenarnya dari perkatannyya itu. Tiba suatu sore aku mendatangi rumahnya untuk memastikan ia baik-baik saja. Tetapi apa yang kudapat? Berita buruk mengenainya sehingga jantung ini terasa tak berdetak.

“tok, tok, tok” pintu rumahnya kuketuk.
“mau cari siapa ya dek?” tanya orang itu ke aku yang aku kira dia adalah kakaknya Ade sahabatku.
“hmm, mau cari Ade, ada nggak kak?”
“maaf sebelumnya, kamu siapanya Ade ya kalau kakak boleh tau?”
“aku teman satu kelasnya kak, iya temannya, sudah tiga hari ia tidak masuk sekolah. Apa dia baik-baik saja?”
“ooh jadi kamu yang namanya Sisil, yang selalu ada buat adik kakak. Makasih ya selama ini kamu sudah buat dia bahagia”
“kok kakak ngomong kayak gitu, memangnya Ade kenapa kak?” aku mendesaknya memberitahu yang sebenarnya.

Gibran kakaknya Ade membawaku ke suatu tempat yang serba putih semuanya. Aku jadi bertambah heran sekaligus bingung mengapa kak Gibran membawaku ke rumah sakit ini. Apa sampai begitu parahnya sakit Ade sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit. Itulah pertanyaan besar yang ada di benakku. Aku memasuki ruangan di situ terdapat seorang laki-laki seumuranku terbaring lemas tak berdaya. Pergelangan tangan kirinya dipasang infus, dan juga hidungnya dipasang selang oksigen. Hatiku benar-benar pilu melihat keadaan sahabatku itu. Aku mendekati Ade, air mataku menetes yang tak bisa kubendung lagi. Kak Gibran memegang bahuku berusaha membuatku tegar dengan apa yang aku lihat.

“Sisil, kamu harus sabar ya, doakan Ade semoga cepat sembuh”
“baik kak, aku akan selalu mendoakan yang terbaik buat Ade, dan makasih sudah memberitahu aku yang sebenarnya” kataku sambil menyeka air mata.
“kamu temani Ade disini sebentar ya, kakak mau beli makanan buat kamu”
“makasih kak” kataku lalu kak Gibran pergi berlalu.

Aku menatap wajah Ade yang lesu tak bergairah, dulu wajahnya selalu dihiasi dengan senyuman, canda dan tawa kini semuanya telah hilang. Semakin lama aku menatapnya semakin banyak deras air mataku mengalir hingga jatuh di tangan pucat Ade. Tak lama Ade bangun dari tidurnya dan menatapku heran plus senang.

“Ade, kamu sudah bangun? Gimana keadaan kamu?”
Ade hanya menggangguk dan tersenyum kecil.
“kamu ngapain nangis, kamu harus tegar Sil”
“Ade… kamu kenapa nggak bilang sih kalau kamu punya penyakit kayak gini?”
“aku cuma takut kalau kamu khawatir dan melarang aku makan popmie kesukaanku” senyumnya menggodaku.
“harusnya dari dulu aku melarang kamu, kalau aku tahu aku nggak bakalan mau kamu makan popmie sialan itu”
“semuanya sudah terlanjur Sisil, aku sudah dapat getahnya”
“aku heran sama kamu, disaat sakit seperti ini kamu masih bisa tersenyum, aku kagum sama kamu De”
“aku tidak mau terlihat sakit di depan siapa pun, termasuk kamu sahabat aku”
“De, aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi. Aku janji. Kamu istirahat ya jangan lupa minum obatnya” kataku mengingatkan sebelum aku pergi.
“hati-hati ya Sil” katanya sambil melempar senyum padaku.

Besoknya aku datang lagi ke rumah sakit menjenguk Ade. Aku kembali sedih karena kehilangan sahabat terbaikku. Ade dibawa ke Singapura tadi pagi karena tidak ada perubahan kondisinya. Ia dibawa untuk pengobatan lebih intensif. Tinggallah aku meratap sedih mengenang masa-masa indah bersama Ade. Tanpa tahu akankah Ade kembali lagi atau ia akan menetap disana setelah ia sembuh.

1 tahun berakhir tanpa Ade, bagiku rasanya membosankan. Tak ada lagi yang memberiku popmie saat di kelas. Aku harus makan popmie sendiri sambil berharap Ade akan datang lagi. Tuhan mendengar doaku, saat aku sedang makan popmie tiba-tiba ada orang yang berdiri di hadapanku. Aku mendongak ke atas melihat siapa orang itu dan ternyata dugaanku benar itu dia yang selama ini aku rindukan berdoa setiap malam ia akan datang kembali. Ia tersenyum padaku, aku membalas senyumannya.

“bagi dong popmienya”
“nggak, nggak boleh, kamu nggak boleh makan ini, nanti kamu sakit lagi terus ninggalin aku lagi, aku nggak mau!”
“boleh dong Sil, dikit saja satu suap”
“nggak boleh Ade!”
“hmm, pasti kamu kangen ya sama aku selama ini?”
“nggak ah biasa aja, kamu kali yang kangen pengen makan popmie bareng sama aku, iya kan?”
“aku punya sesuatu buat kamu”
“sesuatu? Buat aku?”
“Iya buat kamu, nanti sore aku tunggu kamu di taman belakang rumah aku, aku tunggu ya”
Setelah mengucapkan kalimat itu ia pergi meninggalkanku dengan seribu tanda tanya.

Sore ini aku datang ke rumahnya menepati janjiku. Aku melihatnya duduk di atas ayunan, lantas aku juga duduk di sampingnya. Sebelum itu aku mengejutkan Ade dengan menepuk bahunya.
“hey, lama ya nugguinnya?” tanyaku memulai pembicaraan.
“nggak, seberapa lama pun aku akan tetap nungguin kamu”
“eh, hmm ya ya”
Ade merogoh saku baju kemejanya dan mengeluarkan kotak kecil.
“itu apaan De?” tanyaku semakin penasaran.
“coba kamu buka”
Ade memberikan kotak itu padaku lalu aku membukanya dan wow dua kalung berbentuk setengah hati dan apabila digabungkan akan membentuk satu bentuk hati yang utuh.
“ini buat aku ya De?”
“iya, satu buat kamu dan satunya lagi buat aku”
“oh jadi kalung persahabatan kita ya?” tanyaku polos.
“bukan”
“terus?”
Ade menatap serius mataku, aku jadi salting. Perlahan ia berkata.
“aku mau kita lebih dari sahabat”
Deg! Jantung berdebar hebat seketika kalimat itu terucap di bibirnya.
“kamu mau kan jadi pacar aku?”
Sejenak aku berpikir.

“iya aku mau”
“dan ini kalung bukti kasih sayang di antara kita, aku beli kalung ini setelah aku sembuh di Singapura”
“makasih ya De, kamu sudah nyempatin perasaan cinta kamu ke aku”
“itu alasannya mengapa aku bilang kalau aku takut nggak bisa bersama kamu karena aku sayang sama kamu”
Aku hanya terdiam mendengar penuturannya.
“makasih ya De untuk sembuh buat aku”
“hmm”
Ade mengenakan kalung itu ke aku dan juga sebaliknya aku juga mengenakan kalung itu ke Ade

Itulah akhirnya kisah persahabatanku berujung dengan cinta. Semakin lama kita saling menyayangi satu sama lain maka perasaan cinta akan mudah tumbuh. Dan jangan pernah sia-siakan perasaan seseorang padamu.

Cerpen Karangan: Sisi Aulia Putri
Facebook: Sisi Aulia Putri

Cerpen Love in Popmie merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Terakhir

Oleh:
Aku baskoro… salam kenal bagi pembaca semua. Setiap malam aku selalu mengingat sosok yang selalu memberiku perhatian kurang lebih seperti ibu sendiri. kenangan yang tiada habisnya bila dapat ku

Gila Ramalan

Oleh:
Menurut kalian salah gak sih kalau gue itu tergila-gila sama ramalan? Ehm engga kan ya? Perkenalkan gue cika si ratu ramalan. Temen-temen gue ngasih julukan tersebut ke gue karena

Love Street (Part 1)

Oleh:
Kenalkan nama gue Teresia putri, Pagi ini aku baru saja masuk smp. Pagi ini aku segaja berangkat cepat supaya tidak telambat. “Ma tere berangkat sekolah dulu ya?” ucapku. “Iya

Sosok yang Hilang

Oleh:
Aku melihatnya lagi di sana, sendirian di samping gedung tua bersama buku lusuhnya. Membaca dengan wajah serius dan tatapannya yang setajam mata elang. Entah apa yang dibacanya, hingga membuatnya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *