Love Is Pending

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 August 2018

Pagi ini aku sudah berada di sekolah, aku tak seperti cewek yang lain suka bergaul aku lebih memilih duduk diam dan menatap suatu benda atau objek.

“Hei!!” panggil seseorang sambil menepuk bahuku.
“Apa?” tanyaku datar tampa menolehkan wajahku.
“Udah deh stop cuek sama dinginnya, sebenarnya banyak cowok yang suka sama lo. ayolah stop di-”
“Udah deh mar, cukup masalah itu lagi bosan.” ucapku.
“Siela lo tau hari ini bagi rapor lo.” ucap marsela.
“So?” ucapku.

“Hei!!” panggil seseorang.
“Baru datang ya jen?” tanya marsela.
“Sorry.” ucap jenny.
“Ya tuhan kenapa ku harus terjebak dengan kedua sahabatku yang cerewet.” ucapku menimbulkan gelak tawa mereka.
“Aku takut kali lo terima rapornya.” ucap jenny.

Tiba tiba wali kelas kami masuk dengan membawa tumpukan kertas tebal warna hijau.
“Pagi anak sana.” sapa wali kelasku, buk merry.
“Pagi buk.”
“Kalian tau hari ini pembagian rapor mid kan terjadi sedikit perubahan pada 5 besar.” ucap ibu merry. Aku masih cuek dan diam entah apa yang kupikirkan. Aku terpaku akan pikiran itu.

“Hei!! siela lo dipanggil kedepan sama ibu merry.” panggil jenny yang duduk di depanku.
“Siela pikiran kamu kemana masa ibu panggil kamu gak dengar?” tanya ibu merry.
“Lagi melayang buk.” jawabku sambil berjalan kemeja guru.
“Selamat ya kamu kembali memegang peringkat satu, Selamat ya grasiela.” ucap ibu merry.
“Makasih buk.” ucapku sambil mengambil rapor mid dan kembali duduk.
Lalu pembagian rapor itu terus berlanjut..

Ternyata setelah membagikan rapor langsung pulang, Aku mengeluarkan hp.
‘Banyak kali miscall dan satu pesan: cepat pulang.’
“Guys aku pulang dulu ya.” ucapku.
“Ok. jangan lupa kita masuk kembali minggu depan.” ucap jenny.
“I know.” jawabku datar sambil sedikit berlari pulang.

Aku membuka pintu pagar dan masuk menemukan mobil putih dan ada 3 pasang alas kaki. Aku duduk di luar melepas sepatu dan masuk.
“Ma.. siela pulang.” ucapku.
“Hai.” sapa seseorang cowok. Aku hanya diam saja menatapnya bingung.
“Siela masih ingat?” tanya mamaku sambil menunjuk cowok itu.
“Enggak.” jawabku sambil meraih tas di punggungku dan mengeluarkan rapor.
“Ma rapornya dilihat ditanda tangan baru dikomen oke, siela masuk kamar dulu.” ucapku.

Aku mengganti baju lalu mengambil kertas A3 dan cat air. Yah ini adalah hobiku melukis, Aku selalu mengabadikannya dengan mengfoto dimana tempat tempat yang bagus baru setelah pulang atau jika ada waktu luang aku pasti melukisnya.
‘Aku belum ada ide.’ Aku berjalan ke arah kasur dan berbaring di atasnya sambil memejamkan mata.
“Hobi lukis ya?” tanya seseorang. Aku tak menjawabnya, aku mengubah posisi menjadi duduk. Aku melirik jam diding di kamarku. Lalu berdiri mengambil jam tangan di meja dan memakainya. Juga mengambil jaket dan mengikatnya di pinggang dan berjalan ke luar kamar.

“Ma siela pergi bentar ke taman ya?” ucapku.
“Pergi sama siapa?” tanya mamaku
“Sendiri.”
“Kamu tunggu bentar, Nak devin kawanin anak tante mau kan?” ucap mamaku. Aku mengambil tas kecil dan memasukan sepasang sepatu.
“Ok tante.” balas cowok yang bernama devin itu. Aku berjalan ke luar dan memakai sepatu roda. Dia berjalan ke mobil dan selang beberapa lama kemudian dia keluar dengan sambil sebuah tas hitam di punggung dan telah memakai sepatu roda.
“Yuk.” ucapnya.

Sesampainya di taman.
“Tak ada yang lebih baik dari menikmati waktu di taman.” ucap cowok itu. Aku tak menjawab. “Siela kamu kok berubah jadi cuek gitu padahal dulu kamu itu cerewet banget.”
“So?” tanyaku. Dia tak membalas, Lalu tak ada pembicaraan lagi di antara kami.

“Siela pulang yuk? udah mau sore.” ajak cowok itu.
“Ok.” balasku, lalu kami pun pulang.

“Ma siela pulang.” ucapku memnghentikan pembicaraanku dengan dua orang tua yang kuyakini adalah orangtua cowok itu.
“Udah pulang?” tanya mamaku.
“Kalau belum pulang siela gak akan di sini. Kalau gitu siela ke kamar dulu.” ucapku langsung berjalan ke kamar.
Aku langsung duduk di meja belajarku.

‘Ya, aku udah punya ide..’ Aku mencencerkan cat, lalu menguasnya di atas kertas A3. Sekitar 1 jam 50 menit.
‘Akhirnya selesai.’ Aku langsung menggangkat karya itu.
“Hei!! apa itu udah selesai?” tanya seseorang membuatku membalikkan badan.
“Bagus.” ucapnya, cowok itu.
“Thanks.” balasku sambil menatap lukisanku.
“Dua pasang sepatu roda? tanpa menampakan wajah pemainnya?” ucapnya.
“Ya.” balasku.
“Singkat sekali balasnya.” ucapnya.
“Lalu?” ucapku.
“Berapa temanmu di sekolah dan sahabat?” tanyanya membuatkuku terbelak kaget.
“Ehmm… mungkin bisa dihitung dengan jari tangan kananmu.” balasku sambil memikirkan tempat yang pas untuk menggantung lukisanku. Ya memang semua dinding kamarku hampir penuh dengan karya lukisku. Ehmm.. kira kira ada sekitar 20 lebih.
“Sedikit sekali.” balasnya sambil merebut lukusan dari tanganku.
“Mau sedikit kek, mau tidak sedikit kek, yang penting punya.” balasku.

“Di sini sepertinya cocok bagus.” balasnya sambil mengambil lem dari mejaku dan menggantungnya. tanpa menunggu jawaban dariku.
‘Ya kuakui aku ini pendek darinya bahkan aku cuma sedagunya. Eh aku megigat sesuatu, cowok bertubuh jangkung, dengan pemain sepatu roda, akrab sama mamaku cuma devin.’ pikirku melayang.

“Hei!! aku mau menanyakan sesuatu.” ucapku.
“Apa?”
“Apa namamu devin?” ucapku.
“Kamu akhirnya mengingatku.” balasnya sambil berjalan mendekatiku.
“Hal apa yang membuatmu megigatku?” tanya sambil menatapku.
“Entah.” balasku.
“Dulu kamu gak secuek ini biarpun kamu dulu itu cuek.”
“Benarkah?”
“Bahkan rambutmu dulu gak berponi.”
“It’s my new style.” Balasku sambil berjalan ke kasur.
“Aku rindu sama kamu yang dulu.” ucapnya sambil menatapku tajam. Aku hanya bisa diam tercengah.
“Aku rindu sama kamu yang gak secuek ini, tak berponi menutup sebelah mata, Dan gampang bergaul. Tapi aku senang bisa ketemu sama kamu dan kamu sekarang sudah ingat siapa aku.” sambungnya sambil duduk di kasur tepatnya di sebelahku. Aku terdiam.

‘Aku masih bingung harus balas apa tapi jujur aku juga rindu sama kamu dev, tapi kamu muncul terlambat setelah hati ini hancur kamu datang setelah aku mengunci rapat pintu hati ini setelah seseorang menyakitinya dan aku tak mau merasakan rasa sakit yang sama seperti yang pernah kurasakan dulu, mencoba jatuh cinta tapi setelah aku jatuh cinta malah cinta itu pergi, andai dev kamu dulu tak menghilang begitu saja sudah 3 setengah tahun kamu hilang tampa sebab dan waktu itu kita masih kelas 7 dan kamu pada suatu hari menghilang tampa kabar aku berusaha mencari namun hal hasil nihil aku malah mendapat suatu hal yang mengubahku menjadi dingin dan sangat cuek dan juga banyak cowok yang menyukai ku namun gak aku tak akan membuka hati ini kepada siapapun, Semoga kedatangan kamu dapat mengubah keputusanku ini.’

“Hei!!!”
“Heii!!”
“Hhh apa?” tanyaku terkejut.
“Kok bengong?”
“Gak kok.”
“Bohong kamu mikirin apa? Apa tadi aku bicara salah?”
“Engak kok cuma sikap dan hati ini yang gak bisa bohong.” balasku sambil menundukkan kepala.
“Maksudnya?”
“Ya hati ini dulunya perbah sakit hacur dan sekarang tidak akan ada yang menghancurkan hati ini ketika hati ini dikunci rapat dan tak ada bisa yang merubahnya.” ucapku.
“Emang ada yang menghancurkan hati kamu? Sebutkan biar aku hajar orangnya. siapa? Siapa?” tanyanya sambil menatapku lekat dan tajam. Aku tak menjawab hanya menatapnya.
‘Cukup dengan tatapan ini aku senang, Tatapan yang pernah hilang yang setelah begitu saja.’
“Siapa?” tanyanya.
“Orangnya dulu sangat dekat denganku bahkan aku hatuh cinta padanya dan pada saat itu dia pergi dan aku berusaha mencintai yang lain namun ketika cinta itu ada dia pergi dengan cinta yang lain.” ucapku sambil menetaskan air mata ini yang padahal aku tak mau menetaskannya di depan laki laki yang pertama kali kucintai mungkin sekarang masih.
“Maksudnya?” tanya devin.
“Ya laki laki yang pertama kusukai dia itu dekat aku pernah melupakannya namun sekarang aku mengigat semua masa lalu ketika dia pergi dan hilang dari hadapanku tetap pada hari spesialku.” ucapku. kenapa air mata ini semakin deras mengalir? Apa ini?

“Siapa?” tanyanya sambil membawa kepalaku bersandar didadanya dan menghapus air mataku dengan tangannya.
“Dia ada di dekatku, Sangat dekat.” ucapku sambil menatapnya.
“Maksudnya? Siapa? Akukah orang itu?” tanyanya sambil membalas tatapan. Aku hanya mengangguk.
“Aku?” ucapnya sambil melepas dekapan hangat itu dan berjalan meninggalkanku, Ya dia keluar dari kamar ini.
‘Aku menyesal mengucap kannya dan mengigat semua hal itu kembali aku benci ini terjadi lagi. benci benci..!!!’ Aku menutup pintu kamarku menguncinya dari dan memasaknya dari bawah dan mengunci jendela yang biasa terbuka membawa udata sejuk namun itu gak berarti dan menutup rapat gordennya. Aku berjalan ke arah lukisan yang tadi dia gantung ya itu adalah hayalanku setelah sepati rodaku dan sepatu rodanya bermain bersama.
‘khayalan yang jelek.’ pikiranku kacau, aku melepas gambar itu dan menggulungnya dan membuang ke tong sampah.
‘Aku benci dengan apa yang terjadi hari ini!!, Hari ini terasa begitu hampa tak ada kebidupan dan begitu panjang.’ Aku berjalan ke arah lemari baju megeluarkan semua baju yang berwarna cerah memasukannya ke dalam kardus dan meninggalkan baju yang berwarna gelap mungkin cuma ada warna hitam hitam dan hitam. Aku duduk di atas kasur yang tadi begitu hangat dengan dekapannya yang sekarang hanya mata nyisakan kesedihan mendalam. Aku terpuruk dalam cinta yang gak mungkin aku dapatkan biarpun kami dulu dekat namun itu gak ada hasil hanya kebohongan dan kebohongan.

Entah sudah berapa lama aku berada di kamar ini dengan isak tagis yang mendengung di setiap sudut ruangan yang ada di kamar ini, Entah sufah berapa kali aku menatapnya dengan panggilan dari mamaku bahkan ketokan pintu yang semuanya aku hiraukan. Aku berjalan dan duduk di meja belajarku dan mengambil semua peralatan mengecat dan kertas A3, Aku Melarutkan cat hitam dengan air dan melukisnya di atas kertas, Ya dulu memang aku sangat membenci cat air berwarna hitam namun lain dengan sekarang aku menyukainya. Sekarang kembali lagi ku dengan panggilan namaku dan beberapa kali ketukan pintu. Namun aku masih melakukan hal yang sama yaitu menghiraukannya.

Sekarang lukisan hitam itu sudah selesai aku menempelnya di tempat lukisan sepatu tadi, Aku memandangnya sebentar lalu berjalan ke wc dan kembali terlentang di kasur.

Ya ini adalah hari keduaku tak keluar dari kamar ini. Dan Ya memang hari ini aku memutuskan untuk tegar dan menghapus semua rasa ini padanya dan kembali menutup hati ini. Aku memakai pakaian serba hitam dan rambut tergerai dan juga poni yang menutupi sebelah mata kembali nampak rapi. Aku kembali membuka pasak pintu dan kunci pintu. Aku berjalan ke luar kamar.

“Siela kamu kenapa?” tanya mamaku, aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala lalu berjalan ke teras depan.
“Eh nak siela keluar kamar gak makan dua hari belum makan nanti sakit.” ucap wanita, ya mamanya devin. Aku hanya menggeleng dengan raut wajah yang datar duduk di kursi luar memakai sepatu roda. Aku melihat ko devin lagi duduk di taman rumahku namun aku menghiraukannya dan langsung pergi. Aku pergi ketaman tempat dimana dulu aku dan dia pernah bertemu dan dekat namun enggak untuk sekarang aku membencinya jauh sebelum rasa benci ini muncul ada rasa cinta yang terdampar di hatiku namun aku telah berjuang meng hapusnya. Entah apa yang menyambar pikiranku sampai aku tak sadar akan waktu.
‘Astaga jam enam lewat.’ Aku langsung kembali ke rumah.

Aku duduk di kursi luat melepas sepatu roda dan berjalan masuk.
“Siela devin akan pindah ke sekolahmu.” ucap mamaku. Aku hanya tersenyum kecut lalu berjalan ke kamar.
“Siela mama boleh masuk?”
“Masuk aja.” balasku datar tampa menoleh ke arahnya.

“Siela sejak kapan lukisan siela berwarna hitam?”
“Sejak dua hari yang lalu.” balasku.
“Kamu ada masalah ya sama dengan devin?”
“Enggak ada.” balasku.
“Jangan bohong sebab kamu gak ada bicara sama dia.” ucap mamaku.
“Please ma, Don’t worry.” balasku.
“Kalau gitu mama keluar dulu.” ucap mamaku. Aku duduk di kasur dan Mataku menatap kosong pada benda yang ada.

“Hei!! Apa yang terjadi denganmu?” tanya seseorang ya aku mengenal suara ini ya devin.
“Entah.” balasku.
“Hei!! jawab dengan jujur.” ucapnya sambil memengan kedua bahuku dan menatapku tajam. Aku memalingkan mataku dari tatapannya.
“Siela!!” panggilnya sambil mengguncang tubuhku.
“Udah cukup, udah sandiwaranya!!” bentakku sambil menepis kedua tangannya dari bahuku.
“Aku gak bersandiwara.” balasnya.
“Aku tau aku tak secantik cewek dan sesupel dulu namun aku tau rasanya jatuh cinta dan aku juga punya hati.” jawabku sambil berdiri.
“Hei!! apa yang kamu bilang?”
“Aku gak suka ini.” ucapku sambil berjalan keluar dari kamar, namun dia menahan tanganku dia menggenggam tanganku lalu menarikku mendekat dengannya hingga 10 cm akan beradu.
“Apa yang kau mau lakukan?” tanyaku terbatah batah.
“Aku tak akan membiarkan kamu pergi!!” bentaknya sambil menatapku tajam.
“lepas!!” bentakku sambil berusaha lepas dari dekapan devin.
“Enggak akan!! dua hari yang lalu kamu bilang dulu 3 setengah yang lalu kau menyukaiku dan sekarang aku yang menyukaimu.” ucapnya tegas.
“Engak aku tidak menyukaimu.” balasku.
“Bohong!!” bentaknya sambil mepererat dekapannya padaku.
“Lepas!!” balasku.
“Jujur baru aku lepasin.” ucapnya.
“Ya aku menyukaimu, aku sangat menyukaimu.” ucapku sambil menagis
“Kenapa menangis?” tanyanya, aku hanya menggeleng.
“Mau kah kau menjadi pacarku.” ucapnya membuatku tercengah rasanya gak percaya akan apa yang ia katakan namun aku senang ternyata cinta berbalas.
“Aku mau.” balasku.
“I love you. Sorry has made you wait for you.” bisiknya.
“I love you too.” bisikku.

The End

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia

Cerpen Love Is Pending merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Happiness

Oleh:
Namaku Zidane Rizqy Ramadhan. Dan cewek yang ada sebelahku ini namanya Adeeva Afsheen Myesha. Deeva ini adalah sahabatku dari TK hingga kelas 3 SMA sekarang ini. Sebernanya aku menyukainya

Menjemput Senja Dalam Hujan

Oleh:
Aku rindu senja, aku pun rindu hujan. Biasanya aku menjemput senja dalam hujan. Tak pernah terbayang, jika harus menjemput senja sendirian-Tanpa dia. Tanpanya senja bahkan tak lagi berarti sama,

Mencintaimu Lewat Doa

Oleh:
Satu persatu kenangan bersamamu mulai hadir lagi dalam benakku, kau menyapa dalam mimpiku. Dan seuntai senyuman menentramkan yang masih sama seperti dulu. Aku mungakin bisa menahan rasa rinduku yang

Perjuanganku Terbalas (Part 2)

Oleh:
“Fan mau nyanyiin lagu apa?” Tanyaku menatap refan. “Terserah kamu aja” “Jamrud judulnya pelangi di matamu, gimana?” Tanyaku lagi. “Boleh, kebetulan aku juga hafal kunci gitarnya” balasnya balik menatapku.

Pelangi Arka dan Rain (Part 1)

Oleh:
Hal yang paling romantis dari hujan ialah dia selalu mau kembali meski tahu rasanya jatuh berkali-kali. Seperti hujan di malam hari, yang tetap jatuh ke bumi meski tidak menjanjikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *