Love Is Simple

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 February 2018

“Cinta… aku suka kamu, kamu suka aku, kita jadian”.
Dari kejauhan terlihat para siswa tengah berkumpul dan bersorak di koridor sekolah. Ternyata mereka sedang melihat Shifa dan Fahri bertengkar. Yah, mereka berdua memang sangat terkenal di sekolah. Terkenal karena sering bertengkar dan tidak pernah akur di manapun mereka berada. Jika mereka sedang bertengkar lebih parah dari anjing dan kucing dan lebih menakutkan dari perang dunia yang terjadi.

“Kenapa sih setiap ketemu, lo selalu aja cari masalah sama gua?” Shifa memulai.
“Nggak salah tuh? Lo kali yang sering cari masalah sama gua. Dasar tembem!” ejek Fahri.
“Apa lo bilang? Tembem? Lo tuh jelek!” balas Shifa dengan mata melotot.
“Eh kenapa tuh mata? Biasa aja kali!!” jawab Fahri dengan nada santai.

“Whoaaaaaaaa….” para siswa bersorak seakan pertandingan segera dimulai.

Entah kenapa Shifa dan Fahri selalu bertengkar. Padahal mereka berteman sejak kecil bahkan rumahnya berdampingan. Orangtuanya pun bersahabat dengan baik.

“Lagi-lagi kalian berdua Shifa dan Fahri. Bisa tidak kalian akur sehari saja! Sekolah selalu dibuat heboh karena ulah kalian berdua.” Pak guru datang.

“Wah jangan-jangan mereka saling suka lagi. Hati-hati lo berdua benci bisa jadi cinta” ucap salah satu siswa.
“Diem lo!!” Shifa dan Fahri menjawab dengan serentak.
“Cieeeeee.. ” para siswa kembali bersorak.

“Sudah diam! sekarang semua kembali kekelas masing-masing” perintah pak guru.

Krriiiinggggg!!! bel pulang sekolah berbunyi. Semua siswa beranjak meniggalkan sekolah.
“Fahri jelek, Fahri nyebelin, gua benci sama lo fahri!!!” teriak Shifa meluapkan kekesalannya.

Keesokan harinya para siswa berkumpul di lapangan basket. Kali ini bukan untuk melihat Shifa dan Fahri bertengkar, melainkan melihat pertandingan basket antar sekolah.

“Semangat Fahri!!!” sorak para siswa.
Fahri memang sangat diidolakan di sekolah utamanya para siswi. Selain tampan Fahri juga pandai bermain basket bahkan ia menjadi kapten tim basket di sekolah. Begitupun dengan Shifa. Selain karena kecantikannya Shifa juga terkenal karena kecerdasannya.

“Apaan sih tuh cewek lebay banget. Liat si jelek fahri aja udah kaya liat aktor korea.” Ucap Shifa kesal.
“Emang lo nggak ngfans sama Fahri? Hati-hati sama ucapan lo. Benci bisa jadi cinta lho fa. Mungkin bisa dibilang benci sama dengan cinta” sahut Eriska sahabat Shifa.
“Kaya nggak ada cowok lain aja deh. Cowok songong kaya gitu diidolain” jawab Shifa sambil beranjak pergi.

Tiba-tiba “Bruugghhh!!” kepala Shifa terkena bola basket. Langkah Shifa terhenti, perlahan tatapan matanya mulai kabur. Shifa pun pingsan. Para siswa berlari menghampiri Shifa tidak terkecuali Fahri. Ada pemandangan aneh saat itu. Fahri yang biasanya tidak pernah peduli dan tidak pernah akur dengan Shifa ketika melihat Shifa tergeletak di pinggir lapangan ia langsung membawa Shifa ke UKS dengan wajah khawatir.

Sudah 3 jam Shifa belum sadar. Fahri semakin cemas dengan keaadaan Shifa.
“Gua tau lo khawatir sama keadaan Shifa. Karena lo sebenarnya sayang sama Shifa iya kan?” Tanya Andi sahabatnya.
“Apaan sih lo. Nggak mungkin gua suka sama cewek rese kaya gitu. Gua kaya gini karena gua ngrasa bersalah gak sengaja nglempar bola kena kepalanya” jawab Fahri.

Karena belum sadar juga Fahri masuk ke UKS melihat keadaan Shifa.
“Emang bener kata orang. Lo itu cantik Fa, cantik banget malah. Cepet sembuh ya tembem gua sayang sama lo”
Kata-kata itu benar-benar keluar dari mulut Fahri. Memang tidak disangka, Fahri yang biasanya cuek dan selalu bersikap sadis ternyata memendam rasa terhadap Shifa.

Fahri modar-mandir di kamarnya. Yang terlintas di pikirannya saat ini hanya Shifa, Shifa, dan Shifa. Akhirnya Fahri memberanikan diri datang ke rumah Shifa.

“Ngapain lo ke sini? Lo pasti mau ketawa kan karena udah berhasil buat gua sakit kaya gini! Selamat lo berhasil” ucap Shifa kesal.
“Gua ke sini mau minta maaf sama lo. Gua bener-bener nggak sengaja. Gua juga nggak bakalan tega nyakitin lo” jawab Fahri.
Nampaknya Shifa tidak mengetahui maksud tersirat dari ucapan Fahri. Tanpa berfikir panjang Shifa mengusir Fahri dari rumahnya.

Fahri dan Shifa kembali betatap muka di sekolah. Kali ini Shifa pergi meniggalkan Fahri tanpa sepatah kata pun. Fahri berusaha meminta maaf kepada Shifa, tetapi Shifa masih memberikan respon yang sama.

Beberapa hari berlalu, Shifa masih bersikap dingin kepada Fahri dan tidak mau mengeluarkan sepatah katapun untuk Fahri.

“Gue tunggu lo di taman ntar malem Fa. Ada yang mau gua omongin..” ucap Fahri.
Seperti biasa Shifa pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk Fahri.

Malam harinya Fahri duduk di taman menunggu Shifa. Sudah satu jam lebih tetapi Shifa belum datang juga. Langit terlihat mendung menandakan hujan akan segera turun.

“Udah mau hujan. Fahri beneran ke taman nggak ya? Alah palingan di mau ngerjain aku aja” batin Shifa. Hujan pun turun dengan lebat Fahri masih duduk ditaman.

“Gua bakal nunggu lo sampai lo dateng Fa. Gua nggak mau nunda lagi ngungkapin perasaan gua ke elo”. Ucap Fahri yang sudah mulai menggigil kedinginan. Hari sudah mulai larut malam tetapi Shifa tidak datang. Dengan basah kuyup Fahri meninggalkan taman.

Keesokan harinya Fahri pergi kesekolah dengan wajah pucat, mungkin karena kehujanan semalam.
“Lo sakit Ri? Kok muka lo pucet banget sih?” Tanya Andi.
“Gua nggak papa kok” jawab Fahri dengan nada lemas.

Saat berjalan di koridor sekolah Fahri bertemu dengan Shifa yang sedang asik bercerita dengan Eriska.
“Kenapa lo kemarin nggak dateng?” Tanya Fahri.
“Karena gua tau lo Cuma mau ngerjain gue lagi. Iya kan? Waktu itu lo lempar bola ke kepala gua terus lo mau apalagi. Belum puas lo?” Jawab Shifa sinis.
Tanpa menjawab, Fahri pergi meninggalkan Shifa.

“Fahri sakit yak kok mukanya pucet gitu?” Tanya Eriska.
“Mau dia sakit gua nggak peduli” jawab Shifa.
Tanpa sengaja Fahri mendengar ucapan Shifa itu.

“Lo jangan gitu Fa, waktu lo pingsan Fahri yang bawa lo ke UKS. Dia keliatan khawatir banget sama lo bahkan dia nungguin lo sampai lo sadar” sambung Eriska.
Mendengar ucapan Eriska, Shifa pun terdiam. Entah apa yang ada di pikiran Shifa sekarang.

Shifa mulai cemas dengan keadaan Fahri. Shifa pun pergi ke rumah Fahri.
“Fahrinya ada tante?” Ucap Shifa.
“Ada Fa di kamar dari kemarin nggak mau makan” jawab mamanya Fahri.

Tanpa berpikir panjang Shifa berlari menemui Fahri yang tengah tidur. Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
“Maafin gua Ri, harusnya gua dateng malam itu. Bener kata orang-orang lo emang ganteng. Ganteng banget malah. Cepet sembuh ya jelek gua sayang sama lo” ucap Shifa sambil memegang tangan Fahri.

Kata-kata yang sama persis diucapkan Fahri saat Shifa pingsan kini keluar dari mulut Shifa. Mereka benar-benar saling menyukai.

Shifa beranjak pergi dari kamar Fahri karena tidak mau mengganggu Fahri yang sedang istirahat. Tiba-tiba Fahri terbangun dan menarik tangan Shifa hingga jatuh ke pelukannya.

“Gua sayang sama lo Fa, Lo mau nggak jadi pacar gua?” ucap Fahri.
Mendengar ucapan Fahri, Shifa terdiam. Mulutnya kaku, jantungnya pun berdetak kencang.
“Lo kok to the point banget sih. ngomong apa dulu gitu masak tiba-tiba nembak gua”.
“Karena buat gua cinta itu simple. Gua suka sama lo, lo suka sama gua, kita jadian.” Sahut Fahri.

“Lo tuh ya udah sakit masih aja bilang kaya gitu. Gua juga suka sama lo Jelek. Tapi kita nggak bisa pacaran dulu. Karena habis lulusan nanti gua bakal pindah ke London buat nerusin kuliah di sana.” sambung Shifa.
“Gua bakal nunggu lo balik ke sini Fa. Gua janji nggak bakalan bikin lo kecewa” jawab Fahri.
Shifa tersenyum mendengar perkataan Fahri.

The End

Cerpen Karangan: Dina Utari
Blog / Facebook: dinaemon12.blogspot.com / Dina Utari

Cerpen Love Is Simple merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Tak Pernah Diduga

Oleh:
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagiku di saat diriku terpilih menjadi kandidat calon ketua OSIS tahun ini. Semua teman-temanku juga mendukungku. Tapi saat aku tahu bahwa sainganku

Ketiban Cinta Cowok Misterius

Oleh:
Di sudut ruang kelas xi ipa 1 ada sosok misterius yang duduk di bangku belakang pojok kelas. Suasana kelas menjadi sunyi karena kelas yang masih sepi dari keramaian. Sinar

End of Love Story (Part 3)

Oleh:
Hampir seminggu berlalu, gak terasa sudah mau 2 minggu aja off-nya dan bentar lagi harus ke lokasi kerja lagi. Waktu itu Deniz bilang kalau dia akan pindah tugas ke

Hanya Ragaku Yang Mendua

Oleh:
Di bawah tangga jembatan layang aku duduk bersamanya. Di gelaran tikar usang yang sudah menipis dimakan waktu. Rasanya aku sekarang tidak duduk di atas tikar, tapi lebih tepatnya di

Pertemuan Tertunda

Oleh:
Seperti biasa tepatnya malam minggu, aku menghabiskan waktu bermain di layar monitor, sebagian para remaja menghabiskan waktu malam minggunya dengan mengupdate status di jejaringan sosial seperti facebook dan twitter,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *