Love or Not?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kisah Nyata, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Langit siang ini begitu menampakkan kegelapannya. Mungkin langit sudah tidak mampu membendung air hujan. Mungkin langit sudah tidak bisa lagi membendung kekesalannya. Dan mungkin juga matahari sudah lelah menyinari dunia ini. Begitupun denganku yang kala itu tidak bisa membendung air mataku. Untuk pertama kalinya aku menangis hanya karena seorang lelaki.

Dia. Ya dialah orang yang membuatku menangis saat ini. Orang yang selama 2 tahun selalu kubanggakan, selalu kupuji karena ketaatannya pada agama, selalu kupuji karena ketampanannya, selalu kupuji karena sangat menyayangi orangtuanya, dan masih banyak hal baik lainnya.

Aku menunggunya selama 2 tahun. Aku memang tidak pernah berani untuk menyatakan perasaanku ini padanya. Sebenarnya aku tau jika dia menyukaiku juga, maka dari itu aku akan menunggu sampai dia mau menyatakannya secara langsung.

Aku menunggu hari demi hari, serta detik demi detik. Aku tidak pernah berani berbicara padanya. Bahkan, jika sedang membicarakannya dengan temanku aku hanya memanggil namanya dengan sebutan “dia”. Dia pun tidak berani untuk memanggil dengan namaku dan hanya berani memanggilku dengan sebutan “kamu”. Selucu itulah kisah kita. Hingga akhirnya kelucuan itu berakhir ketika dia memutuskan untuk memilih orang lain. Orang lain yang juga lebih cantik, lebih lemah lembut, lebih terkenal di kalangan sekolahku, dan juga lebihnya lagi ia juga salah satu anggota dari organisasi yang diikuti juga oleh Danar. Ya, namanya Danar. Danarlah nama dari orang yang sudah kutunggu selama itu dan ternyata memilih orang lain.

Sejak ia telah memilih Arina, aku tidak pernah mau melihat wajahnya. Sedikitpun tidak. Tak sebersit pun keinginanku untuk melihat wajahnya, lebih lagi menyapanya. Dan pada suatu saat, ia sedang mengobrol dengan teman dekatku, Reena. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku pun tak peduli dan tak ingin tau apa yang sedang mereka bicarakan.

Bel istirahat berbunyi, dan seperti biasa Reena mendekatiku. Ia ingin menceritakan apa saja yang sedang ia bicarakan tadi dengan Danar.
“Lea, tadi dia ngelihatin kamu terus”
“Siapa Reen?”
“Si Danar. Aku tadi kan cerita ke dia kalau gara-gara perbuatannya, kamu sampai nangis”.
“Masa dia ngelihati aku?”
“Iya dia tadi itu raut wajahnya kayak raut wajah menyesal gitu”.
“Ya udahlah. Lagipula mana mau dia minta maaf. Selama 2 tahun itu aja dia baru sekali minta maaf ke aku. Udah biar aja”.
Sebenarnya bukan itu yang mau kukatakan. Sebenarnya aku ingin mengatakan “Jika memang ia mau meminta untuk kembali, aku masih bisa menerimanya”. Itulah yang sebenarnya ingin aku katakan.

Hari demi hari berlalu. Pedih lama-kelamaan berubah menjadi kebahagiaan yang kembali melekat pada senyum lamaku. Aku telah melupakannya dan menganggapnya sebagai sahabat karibku, tak lebih. Ia pun mulai menganggapku juga sebagai teman biasa. Kita ngobrol, ketawa bareng, dan ya hal-hal lainnya yang biasa dilakukan dalam persahabatan. Hingga pada suatu hari, aku memberanikan diri untuk mengirimkan video yang hanya berdurasi 1 menit dan isinya pun menyindir dirinya. Aku hanya berpikir bahwa dia akan hanya menjawab di WA dengan frasa “Ya”. Tapi, kali ini berbeda. Ia menjawabnya dengan frasa “Maaf”. Aku cukup kaget. Tapi, ya sudahlah itu juga sudah masa lalu.

Hari itu hari Jum’at. Ya waktunya mata pelajaran olahraga. Ia mengajakku bercanda dengan mengatakan “Lololo ngapain itu” pada saat aku sedang bermain hp di depan pintu kelas karena pada saat itu aku sedang bad mood dan tak ingin olahraga. Pada saat itu juga guru olahraga tak bisa hadir karena ada urusan mendadak. Bukannya terlena, tapi aku hanya menganggap bercandaan itu sebagai arti persahabatan yang sudah kembali seperti semula.

Waktu pelajaran olahraga berakhir setelah 3 jam, dan sekarang adalah waktunya untuk mata pelajaran IPS. Ya, salah satu mata pelajaran yang tak kusukai karena isinya hanya hafalan dan hafalan. Kulihat Reena dan Danar sedang mengobrol pada saat guru sedang mengajar. Entah apa yang sedang mereka bicarakan lagi. Tapi sepertinya mereka sedang membicarakanku. Aku tidak ingin menghiraukannya dan tiba-tiba saja Danar memanggilku.
“Lea, dicariin Reena!” teriak Danar kepadaku ketika guru IPS sedang keluar kelas.
“Bukan aku yang nyariin, tapi Danar!” tambah Reena.
Aku tak mengerti sebenarnya apa yang mereka katakan ini. Inilah itulah, ah ya sudahlah untuk apa dipikirkan lagi. Lagipula tak ada gunanya.

Bel pulang berbunyi, aku pun segera keluar kelas bersama Reena. Karena penasaran, aku pun menanyakan apa yang sedang mereka bicarakan tadi saat pelajaran IPS.
“Reen, apa sih yang kamu bicarakan sama Danar tadi?”
“Sini, aku ceritain”.
“Tadi itu, Danar bilang gini. Dia pengen aku bilang ke Arina semua hal buruk tentang Danar. Danar pengen dia diputusin sama Arina. Dia nggak pengen mutusin Arina soalnya dia takut sama grupnya Arina yang suka ngegosip itu. Dia pengen sama kamu lagi”.
“Hah?!”
“Iya, dia bilang gitu”.

Entah antara senang ataupun bingung. Dilema rasanya, jika harus mengingat masa-masa pahit bersamanya. Hati yang sudah remuk tak akan kembali seperti semula, layaknya kaca yang sudah pecah. Aku pun sekarang hanya menganggapnya sebagai teman biasa, dan tak lebih. Tapi, bagaimana jika aku menyiakan kesempatan ini?

Waktu terus berlalu. Terus, dan terus menggerus zaman. Hingga saatnya aku kembali pada masa-masaku dekat dengannya. Ya, bukan apa-apa. Bukan juga ada kemauan untuk mengkhianati Arina. Bukan juga kemauanku untuk dekat dengannya lagi. Tapi, ya inilah adanya. Kujalani hidupku seperti biasa.

Hari ini bertepatan dengan tanggal 1 Desember. Hari ini juga bertepatan dengan hari ulang tahun temanku yang bernama Rino. Ia juga salah satu teman yang dekat denganku. Sedekat apakah itu, aku tak tau. Tapi aku hanya menganggapnya sebagai teman sekelas biasa yang juga ikut dalam lomba cerdas cermat PPKN bersamaku. Ia merayakan hari ulang tahunnya di sebuah tempat yang hanya bisa disewa oleh orang-orang ber-uang. Ia mengundang seluruh teman sekelasnya, termasuk aku. Ya, dengan senang hati aku ikut dalam acara itu.

“Leaa ayo dong maju nyanyiin sesuatu buat hadiahnya Rino!” teriak teman-teman sekelasku yang membuatku tersipu malu. Aku hanya bisa menjawabnya dengan kalimat “Nanti saja”. Di pesta itu, aku selalu dijodoh-jodohkan dengan Rino. Bukan berarti apa, tapi aku lihat dari ekspresi wajah Danar ia merasa sedih. Mungkin cemburu, ya kemungkinan saja sih.

Setelah pesta berjalan cukup lama, aku memberanikan diri untuk mengajak Danar foto bersama. Aku sebenarnya takut jika ia tidak mau. Tapi apa daya, ternyata ia menerima ajakanku. Setelah foto, ia berkata, “Janjinya sudah kutepati kan?”. Aku kaget, kenapa ia masih mengingat janji itu setelah 2 tahun berlalu? Itulah janji yang ia ucapkan 2 tahun lalu saat kita masih dekat-dekatnya. Bukan apa, tapi aku saja sudah melupakan janji itu.

Waktu terus berlalu, dan ada sedikit perubahan dari Danar. Ya, ia kembali seperti Danar yang dulu. Danar yang kembali memilih Arina. Danar yang kembali menjadi labil. Dan ya, itulah Danar yang sesungguhnya.

Cerpen Karangan: Fajrina NI
Facebook: Fajrina NI
Cuma penulis awal yang masih bingung mau nulis cerita apa, tapi cerita ini kenyataan hidupku :v btw penulisnya masih 14 tahun :v

Cerpen Love or Not? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ada Cinta Di OSPEK Itu

Oleh:
Malam ini hujan begitu derasnya seakan-akan menambah kesunyian di rumahku. Ya kedua orangtuaku sudah lama berpisah aku tinggal bersama ibuku sedangkan ayahku kini tinggal bersama istri barunya. “Non Kiki

Time From Global

Oleh:
Angin berlarian menyapa dengan lembut. Merayu tuk dapat terlihat meski tak dapat terlihat. Dengan rasa belaian manja angin, ia berharap untuk mendengar suaranya. Suara yang selama ini selalu ia

Love Cokelat

Oleh:
Pukul 06:00 wib aku sudah berangkat ke sekolah sebelum berangkat aku terlebih dahulu membeli sebuah cokelat untuk seseorang yang aku sukai, terlihat sekolah masih tampak sepi pagi ini, aku

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Oleh:
Pagi yang cerah sambut jiwa yang penuh semangat hari ini hari pertamaku masuk ke sekolah baruku, sebenarnya aku sudah beberapa kali pindah sekolah maklum karena terkadang orangtuaku diberi dinas

Hening Yang Indah

Oleh:
Aku larut dalam lamunan heningku yang indah. Indah dalam hening itulah yang aku lamunkan. “Ayo pergi” ucap seseorang yang membuyarkan lamunan indahku. “Kau melamun lagi baisotei-chan?” Tanya yamashita-chan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *