Lukisan Dalam Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 April 2016

“Ada apa Dik? Tak biasanya kau seserius ini?” lelaki berambut panjang yang diikat kuda itu menatap gadis di depannya. “Harusnya kau sudah tahu Mas,” gadis itu menatap tajam mata lelaki di hadapannya.

Suasana kafe menjadi tegang dalam sekejap. Di senja itu, kata-kata yang diucap sang gadis semakin memperjelas. Seorang gadis bermata bulat dengan kulit putih itu terus berbicara, laki-laki di depannya hanya dapat terdiam kaku. Kepalanya menunduk. Sedang sang gadis yang berada di depannya itu tersenyum manis. Dengan jilbab panjang yang melambai-lambai karena tertiup angin yang masuk dari celah-celah jendela kafe.

Seperti biasa, jeda kuliah hari ini Arum menghabiskan waktu perpustakaan kampus. Mahasiswa semester awal ini memang suka membaca, kacamatanya semakin menebal tiap tahun. Sembari membenahi kacamatanya dengan jari telunjuk ia masih fokus membaca buku. Kali ini masih buku karangan Raditya Dika. Memang, buku ini tak akan dijumpai di perpustakaan kampus. Gadis itu membawa sendiri buku tersebut. Buku bacaan ringan dan tak begitu berat. Arum memang suka membaca, namun hanya buku bacaan saja yang ia baca. Buku penunjang mata kuliah tak pernah sama sekali ia baca. Ia lebih suka mendengarkan, alhasil ia menyuruh temannya membaca buku keras-keras dan ia rekam dalam ponselnya. Bahkan memory cardnya penuh dengan rekaman suara teman-temannya. Tak ada lagu.

“Dug!” suara benturan memecahkan keheningan di perpustakaan kampus. Arum refleks menolong lelaki yang terbentur rak buku di perpustakaan. Mereka saling menatap dalam sekejap. Kemudian laki-laki itu bangkit dan lari ke luar perpustakaan. Arum menatap punggung laki-laki itu yang semakin lama hilang di balik rak buku. Lelaki itu tampak lusuh, bajunya kumal penuh noda cat minyak. “Sepertinya anak seni,” gumam Arum dalam hati. Ia merasa ada yang aneh saat mereka bertemu, seperti sudah kenal. Laki-laki itu pun seperti sudah tak asing baginya. Padahal jelas-jelas mereka baru bertemu.

“Aku minta maaf Mas,” sekarang giliran gadis itu yang tertunduk. Sembari meremas-remas roknya dengan kedua tangan.
“Kenapa harus kamu yang minta maaf Dik?” laki-laki itu berkaca-kaca.
“Bila aku bisa lebih pengertian tak akan jadi seperti ini akhirnya Kak, Kakak tak salah.” Pembicaraan keduanya masih belum berujung. Suasana menjadi dingin. Perlahan butir-butir air mata gadis itu ke luar dari ujung mata, membasahi pipinya. Lelaki di depannya tak berani berkata apa pun. Minuman yang mereka pesan sudah mulai tak dingin lagi.

Senja di sore itu terlihat seorang pemuda ditemani kanvas dan dan pensil tengah duduk santai di taman kamus, pensilnya menari-nari di atas kanvas, matanya serius memperhatikan objek di depannya. Sesekali pemuda itu tersenyum manis. Tarian pensilnya semakin cepat. Sebuah sketsa perlahan mulai terlihat, seorang gadis. Di balik pohon besar yang sudah cukup tua, dan di bawah awan senja yang mempesona, akhirnya ia menyelesaikan sketsanya. Seorang mahasiswa semester akhir, yang kini sudah jarang terlihat di kampus. Mahasiswa seni rupa. Entah apa yang membuat pemuda itu kini sering muncul di kampus. Dan kini ia membuat sketsa seorang gadis muda dengan balutan jilbabnya. Gadis bermata bulat dengan buku di tangannya. Ya, gadis yang ditemuinya beberapa hari lalu menarik perhatiannya. Gadis ayu, dan lemah lembut itu sukses membuat hati pemuda itu luluh. Pemuda yang jarang sekali memperhatikan perempuan karena terlalu sibuk melukis.

Senja mulai memudar, petang sudah mulai menyelinap. Pemuda dengan rambut diikat kuda itu segera membereskan barang-barangnya. Tiba-tiba seseorang berkata dari belakang. “Maaf, Kak boleh tanya sesuatu? Seorang gadis menghampirinya. Pemuda itu menoleh dan terkejut dengan apa yang ia lihat di depannya. Kegagahan pemuda itu tiba-tiba menghilang. Ia gugup dalam seketika dan segera membereskan barang-barangnya lalu pergi tanpa berkata sepatah apa pun. Gadis itu terdiam, seperti pernah bertemu dengan lelaki itu. Dan lagi-lagi ia merasakan, bahwa ia merasa seperti telah mengenal lama dengan pemuda itu. Pemuda yang ia temui beberapa hari yang lalu di perpustakaan kampus.

Semenjak pertemuan di taman kampus kemarin, ia selalu melihat pemuda itu di taman tiap senja, dengan ditemani kanvas dan pensil. Namun, ketika ia mendekatinya, laki-laki itu pasti bergegas pergi. “Apa aku seperti hantu dalam senja?” gumam gadis itu dalam hati. Pasalnya, mereka selalu bertemu dalam senja, di bulan juli itu. Namun, beberapa bulan setelah diadakan acara wisuda kampus, gadis itu tak melihat pria yang ditemuinya di bulan juli itu. Hatinya gelisah, padahal mereka tak saling mengenal satu sama lain, bahkan namanya pun ia tak tahu.

“Terima kasih telah merubahku menjadi pribadi yang baik Dik,”
“Jadi Mas Andry serius?” gadis itu menguatkan diri.
“Arum,” lirih pemuda di depannya.
“Sejak kapan Mas?” Arum menatap kekasihnya lekat. Awan senja masih menemani keduanya. Angin sore menyegarkan suasana kafe.
“Apa maksudmu Dik?” Andry balik bertanya dengan wajah polos.
“2 bulan? Atau sudah 3 bulan? Tak apa, jika Mas mengakui. Aku bisa terima Mas.”
“Mengaku untuk apa Dik?”

“Aku tak akan bisa memaksakan cinta Mas,” Arum membuang muka, tangannya masih meremas rok.
“Aku tahu ada gadis lain, itukah sebabnya Mas tak pernah menjawab panggilan telepon dariku?” lanjut Arum.
“Tidak seperti itu Dik, aku hanya,” suara Andry tertahan, lalu ia menunduk.
“Kalau memang Mas mencintainya, silahkan Mas.” Arum memaksakan senyuman.
“Bukan, bukan seperti itu Dik…”
“Aku memang salah Mas, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Aku minta maaf, maaf Mas. Tak ku sangka akan seperti ini jadinya. Maaf.” Arum tersedu-tersedu.

Keduanya kini mulai jadi pusat perhatian, Andry semakin gelisah melihat perempuan di depannya. Perempuan yang ditemuinya beberapa tahun lalu. Perempuan yang sering ia lukis tiap senja di bulan juli itu. Perempuan yang selama 3 tahun belakangan ini mengisi relung hatinya. Dan tahun depan keduanya sudah merencanakan untuk menikah, namun sepertinya rencana itu akan gagal karena kesalahan pemuda itu. Tangisan Arum seolah menjadi belati tajam yang menyayat-nyayat hatinya. “Aku tak mau egois, bila Mas sudah tak mencintaiku, aku bisa berbuat apa? Aku tak bisa memaksakan kehendakku sendiri.” gadis itu masih sama, ia selalu mengerti Andry. Ia selalu memaklumi kesalahan kekasihnya itu. Tiba-tiba Andry teringat saat ia bertemu dengan Arum di bus antar kota.

Suatu sore di bulan juli itu adalah saat yang tak akan terlupa oleh keduanya. Saat dimana untuk pertama kalinya dua insan muda itu saling bercakap. Takdir yang mempertemukan keduanya, sama-sama berencana pergi ke Bandung dan secara tak sengaja bertemu dalam satu bus bahkan satu kursi. Arumlah yang mengawali pembicaraan, awalnya Andry canggung berbicara dengan perempuan yang dikaguminya itu. Perempuan yang mencuri hatinya di tahun pertama Arum masuk universitas. Perempuan yang selalu dilukisnya dalam senja. Perempuan yang secara tidak langsung mengantarkan Andry dalam kesusuksesan.

Ya, tujuannya ke Bandung adalah untuk mengadakan sebuah pameran lukisan termasuk lukisan perempuan yang berada di sampingnya saat itu. Takdir ataukah apa, yang pasti Arum juga ingin melihat pameran lukisan di bandung. Di sepanjang perjalanan mereka terus berbicara seakan sudah mengenal lama satu sama lain. Bahkan pengamen yang saat itu sedang mengais rezeki di bus mengatakan bahwa wajah mereka mirip. Awal yang indah untuk memulai sebuah hubungan. Namun tak disangka pertemuan yang dipikirnya akan berlabuh ke pelaminan kandas di tengah jalan. Karena kesalahan keduanya.

“Mengapa Mas bawa lukisan itu?” Arum melihat ke bawah, lukisan yang disandarkan di samping meja itu membuatnya larut dalam nostalgia.
“Kita butuh waktu lagi Arum,” Pemuda itu coba meraih tangan Arum di atas meja, namun gadis itu menghindar.
“Waktu untuk apa lagi?”
“Aku sudah tak ada hubungan lagi dengan perempuan itu Dik,”
“Sudahlah,”

“Aku percaya kamu masih mencintaiku, dan aku pun sama Rum,” pemuda itu masih berusaha mempertahankan hubungan mereka. “Jika kita memang berjodoh kita akan bersama lagi, aku percaya.” kata yang diucap pemuda itu membuat Arum tersenyum simpul, namun ia tak berkata apa-apa lagi, mulutnya sudah ia kunci. “Ku mohon bawa lukisan ini, sebagai tanda cintaku padamu.” Kedua insan itu terdiam, Arum tak dapat berkata apa pun lagi. Takdir yang mempertemukan mereka, lalu apakah takdir pula yang memisahkan mereka? Semuanya seperti mimpi di siang hari. Haruskan pertemuan dalam senja itu juga berakhir dalam senja pula?

Cerpen Karangan: Ria Dwi Anggarawati
Blog: Anggarawati.blogspot.com
Facebook: facebook.com/jasmine.d.anggara
Mahasiswa PG-PAUD Universitas Trunojoyo Madura yang menyukai Sastra

Cerpen Lukisan Dalam Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kation Cinta

Oleh:
Namaku Candy Prawinata, usiaku sekarang 17 tahun. Aku duduk di bangku SMA kelas XII di salah satu sekolah terkenal di Jakarta. Hari itu sekumpulan lelaki datang menghampiriku, kebetulan hari

Kenyataan Buat Tarin

Oleh:
“Sudah lama menungguku?“ tanyaku yang baru saja sampai di halte tempat bus yang akan membawa aku dan Dika ke kampus. “Tidak kok, Tarin. Ayo naik, tuh bisnya sudah hampir

Not Goodbye (Part 4)

Oleh:
Selama di perjalanan perempuan tadi membuka topik karena melihat Dera yang begitu murung dan seperti merasa tidak tenang. “Lagi ada masalah yah?!” “Iya… Sih!” “Yah udah kamu cerita aja…

Akhir Penantianku

Oleh:
Rasa ini tak pernah aku sadari kapan ada dan kapan berakhir. Semua berjalan seperti air yang mengalir, seperti daun yang terbawa angin lalu. Namun, aku juga telah banyak belajar

Cinta Terbungkus Mimpi

Oleh:
Mentari menyapa di ufuk timur pertanda hari baru segera dimulai seperti biasa aku masih malas bangkit dari tempat tidur, masih asik dengan lembutnya bantal guling dan hangatnya selimut. Hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *