Luluh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 March 2016

“Slekk.” Fasha menatap Tami yang berjalan ke arahnya dengan sangat tajam. Hingga Tami hanya diam mematung tanpa kata. Ish! Kenapa sih nih anak ngelihatin gue begitu banget. Gumam Tami dalam hati. “Kamu mau ke mana Tam?” jreng-jreng! Tami sontak kaget mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Fasha.
“Mau ke kantin lah,” Jawab Tami cuek.
“Oh mau ke kantin, kakak bareng boleh gak?” Fasha sangat berharap.
“Enggak ah, males.. Jalan aja sendiri.” Tami meninggalkan Fasha sendiri.
Untuk yang kesekian kalinya Fasha gagal mendapatkan respon baik dari wanita yang juteknya super akut itu. Fasha memang sudah jatuh hati padanya sejak pertama kali ia masuk.

“Woy Fas. Bengong aja lo. Ngopi yuk?” Sandy tiba-tiba aja dateng dan membuat kaget Fasha. Fasha pun lompat dengan spontan. “Ah sialan lo ngagetin gue aja.” gerutu Fasha.
“Lagian lo, jam segini udah bengong aja. Mikirin apaan si emang lo. Mikirin utang?” Sandy nyerocos kayak kenalpot bocor. “Mikirin ema lo!” jawab Fasha asal.
“Loh ko mikirin ema gue.” Sandy tampak tolol kali ini.
“Iya. Gue lagi mikir bahan apa yang dipake ema lo buat bikin anak yang tololnya selangit kayak lo.” tuing! Tangan Fasha mampir di jidat Sandy.
“Aduh sakit Fas.” Sandy nyerengit kesakitan.
“Alah, lemah lo. Udah ayo kita ngopi.”
“Oke deh.”

Teng-teng-teng!! Bel pulang telah berbunyi dan ratusan anak manusia yang udah pusing dari tadi pagi dengerin celoteh guru kini berhamburan menuju parkiran. Celingak-celinguk! Mata Fasha tampak mencari seseorang. Yang gak lain dan gak bukan adalah Tami. “Tami!!” teriak Fasha sambil berlari menuju ke arah Tami. Tami manyun yang kalau ditafsirin ke kalimat verbal artinya “Ngapain si tu orang manggil-manggil gue.” Fasha senyum kearah Tami. “Kamu pulang sama siapa?” tanya Fasha, yang sebetulnya udah tau jawabannya. Kalau Tami bakal pulang bareng ibunya. Secara kan ibunya juga ngajar di situ.

“Ya sama ibu Tami lah. Emang mau sama siapa lagi.” Tami lekas meninggalkan Fasha. Fasha menarik napas, seakan menerima kegagalan yang kesekian kalinya. Mata Fasha masih saja fokus ke arah Tami. Mengikuti langkah demi langkah yang dilalui Tami. “Sleekk.” Tami menengok ke arah Fasha dengan wajah cuek andalannya. Fasha menajamkan pandangannya hingga Tami pun menundukkan pandangan matanya. Jika diperhatikan sepertinya Tami pun memiliki perasaan yang sama dengan Fasha, hanya saja ia masih gengsi.. Huhhh dasarrr wanita.

Wanita senja. Mengenalmu adalah hal yang paling indah dalam hidupku. Memandangmu adalah hal yang paling ku sukai. Senyap, damai terasa jiwaku di kala memandangmu senjaku. Terhempas semua kesepian dan kesunyian dalam hati yang mungil ini. Engkau bagaikan oksigen dan embun pagi yang dapat menyejukkanku. Engkaulah yang dapat menggetarkan hatiku gadisku. For you: Utami.

“Set.” tangan Fasha dengan cepatnya menekan tombol send di hp-nya. Sekali lagi ia mengirimi Tami puisi-puisi romantis. Ya jika dihitung-hitung udah puluhan kali dia ngirim puisi-puisi model itu ke Tami. Tapi Tami tetep cuek-cuek aja. Dengan perasaan sangat berharap Fasha memperhatikan hp-nya detik demi detik. Berharap mendapatkan balasan dari Tami. “Drrrttt.” hp Fasha bergetar. Tangannya sigap membuka pesan masuk di hpnya. “Yesss di bales juga.” Fasha kegirangan setengah gila di dalem kamarnya.

“Bagus kak, buat siapa kak puisinya?” balasan dari Tami yang sedikit aneh.
“Di situ kan ada nama kamunya de.” Fasha sedikit gerutu.
“Yang namanya Tami kan bukan aku doang kak. Takut kegeeran.”
“Itu buat kamu de.”
“Oh. Makasih.” balesnya singkat.
Fasha tampak girang banget cuma gara-gara smsnya dibales. Dan juga puisinya dipuji sama pujaan hatinya. Ya walaupun sikap cueknya masih ada tapi Fasha tetep usaha.

Hari-hari pun berlalu, dan kabar kedekatan antara Fasha dan Tami mulai menyebar di sekolah. Entah siapa yang bikin gosip gak bener itu Fasha gak peduli. Dia malah seneng digosipin deket sama Tami anak XI ipa itu. Tami pun tampak biasa aja mendengar gosip seperti itu.
“Eh lo beneran deket sama si Tami Fas.” tanya Sandy.
“Enggak men, dia masih jutek banget sama gue. Au siapa yang bikin gosip kayak gitu.”
“Tapi kayaknya dia suka juga men sama lo.”
“Alah ngarang aja lo. Udah ah gue mau balik.” (Dibaca juga ya: percakapan lucu, dijamin ngakak abis,)

“Tami, Fasha nih,” Ucap Sandy meledek. Tangan Fasha mampir ke jidat Sandy.
“Apaan si lo.” Tami menghentikan langkahnya.
“Tahu nih apaan si kak Sandy.” Sandy menaikkan bahunya.
“Yah kalian berdua udah pacaran kan!” Fasha dan Tami melotot berbarengan.
“Nembak aja gak berani.” ucap Tami yang membuat perasaan Fasha campur aduk, dari girang sampe ceming juga ada.
“Tuh kode keras Fash.” Sandy setengah menjorok badan Fasha.

“Udah ah, mau salat duha, ayo Fen.” Tami menarik tangan Feni.
“Aduhh Sha, Sha. Kode keras tuh!” Sandy mengepalkan kedua tangannya sambil ngeden-ngeden kayak orang bab.
“Iya keras banget! Saking kerasnya sampe susah buat dipecahin!” Fasha mengernyitkan dahinya. Yang kalau diterjemahin ke dalam bahasa verbal kira-kira.
“Lo enak tinggal ngomong lah gue.” Sandy bengong oon enggak ngerti apa yang dibilang Fasha.

“Maksud lo Sha.” tuing! Toyoran mampir di kepala Sandy.
“Elo kalau bego jangan ngayab apah! Gini nih jadinya. Gue jadi harus jelasin lebih jelas lagi. Maksudnya kode yang dikasih si Tami itu masih ambigu. Dan gue masih sulit mecahin apa yang dimaksud si Tami. Bisa jadi dia bukan pengen ditembak tapi malah ngasih sinyal tolakan. Sekarang paham!” Fasha tampak sedikit geregetan.
“Oh gituh. Paham-paham.”

“Ka Fasha!” tiba-tiba Tami muncul kembali dan sontak mengagetkan Fasha. Fasha salah tingkah, kalau lagi salting Fasha persis kayak kucing abis kawin. Guling-gulingan gak jelas. “E, eh Tami, kenapa de?” dengan bibir sedikit gemeter nahan grogi. Tami sedikit mendekat ke arah Fasha. Sandy tampak menyenggol-nyenggolkan bahunya ke bahu Fasha. “Kaka mau ga anter aku pulang, soalnya Ibu masih ada acara lagi di sekolah kak.”

Duarrr!!! Hati Fasha seakan meledak kegirangan. Dia pengen jingkrak-jingkrakkan dan terbang saat itu. Untung aja ada Sandy yang megangin tangan dia. “Jangan terbang di sini lo Sha.” ucap Sandy meledek. Fasha cuma tertawa kecil. Dan tatapan matanya masih memandangi Tami.
“Bisa kok de, ya udah nanti sms aja ya kalau kamu udah ke luar kelas.” Tami tersenyum manis. Darrr!! Sekali lagi Fasha meledak kegirangan. Pasalnya baru kali ini dia dapet senyum dari Tami. “Ya udah aku mau ke kelas dulu ya kak.” Tami pamit.
“Girang nih ye.” Sandy meledek.
“Apa lo!” Fasha nyengir kegirangan.

Tingnong!!! Bel pulang sekolah berbunyi. Hati Fasha berbunga-bunga pasalnya hari ini ia akan pulang bareng wanita senjanya. Fasha bergegas ke arah parkiran. Ia berjalan setengah berlari tanpa menghiraukan apa pun di depannya dan gubrakk!!! Kepala Fasha menabrak tiang bendera. Aduh dasar lelaki. Kalau udah cinta suka jadi buta. Hehehe. Mata Fasha celingak-celinguk persis kayak maling yang ngamatin keadaan. Sesekali ia melihat hpnya. Barang kali ada sms dari Tami. Sambil mengusap-usap jidatnya ia fokus memandangi hpnya.

“Ka Fasha!” Fasha terdiam sejenak mendengar suara yang ia cari sedari tadi. Kemudian ia menoleh perlahan.
“Eh Tami, kakak tungguin dari tadi.” Tami tampak melengkungkan bibirnya ke arah bawah alias murung.
“Kak, maaf ya kak. Aku gak bisa pulang bareng kakak, aku udah dijemput sama Doni, tuh orangnya di depan.” sambil menunjuk ke arah lelaki tampan dengan motor sportnya yang ngejreng. Fasha mendadak struk ringan saat itu juga. Bibirnya kaku tanpa kata. Kedua lututnya lemas, dan perutnya sakit sesakit-sakitnya. Gara-gara nahan bab untuk nungguin Tami.

Dan yang lebih lagi adalah hatinya yang tadi sempat berbunga-berbunga kini kembali gersang segersang gurun sahara. Pasalnya Doni adalah teman SMP Tami yang katanya Tami, Doni itu suka, dan masih sangat suka sama dia. Fasha merasakan badai yang menyambar hatinya. Ah, hilang sudah bunga-bungaku yang baru saja tumbuh yang lekas dinjak-injak lagi. Ucap Fasha dalam hati. Meski demikian Fasha tetap memasang muka ceria di depan Tami. “Iyah gak apa-apa de.” gak apa-apa, gak apa-apa, mulut doang bilang gak apa-apa, hatinya mah menangis dan keki besar!! Tami pun meninggalkan Fasha dan berjalan ke arah Doni. Seperti biasa Tami sempat menengok ke arah Fasha dengan senyum yang lesu seakan tidak enak hati dengan Fasha. Fasha pun membalas senyuman itu dengan senyum palsunya.

Fasha tampak nyender dengan wajah ke arah jendela menikmati dinginnya angin malam dan kesakitan hatinya dengan diiringi lagu all of me nya john legend. Baru aja dia pengen nembak atau menyatakan isi hatinya kepada Tami. Tapi melihat hal tadi rasanya ia ingin mengurungkan niatnya kembali. Dasar cinta, kadang membangkitkan semangat, kadang bisa menghancurkannya. Fasha pun menulis puisi-puisi di atas secarik kertas, tangannya asyik melenggak-lenggok di atas kertas. Telilit!! Tiba-tiba dering hp Fasha berbunyi. Fasha melepaskan pensilnya, dan melihat hpnya. Set! Matanya terbelalak ketika ia melihat nama yang timbul di hpnya adalah nama Tami. Dengan perasaan setengah-setengah ia mengangkat teleponnya.

“Halo, assalamualaikum kak.” suara yang begitu lembut terdengar dari seberang sana.
“Waalaikum salam, kenapa de?”
“Kaka, maaf ya tadi aku bikin kakak kecewa.” dari nada suaranya bisa ditebak Tami tampak memelas. Fasha sempat diam beberapa second mendengar kalimat yang keluar dari mulut wanita jutek kayak Tami.
“Kenapa harus minta maaf de, kamu gak salah kok.” jawab Fasha lembut, padahal mah itu hati pengennya maki-maki si wanita ngeselin itu. “Iya kak, aku gak enak banget, padahal udah aku bilang sama dia. Kalau aku pulang sama kakak. Eh dia malah tiba-tiba sms katanya udah di depan gerbang. Aku mau gimana lagi.”

“Hm, Doni itu pacar kamu ya?” Fasha memainkan pensil dengan tangan kirinya.
“Ih, bukan, dulu emang iya, sekarang aku tuh udah gak ada perasaan apa-apa sama dia.” Tami setengah teriak dari seberang sana.
“Oh gitu, kalau sekarang kamu lagi suka sama siapa?”
“Hmm siapa ya, sama orang songong yang sikapnya aneh dan suka gak jelas.” nada suara Tami mulai stabil.
“Hmm, satu sekolah de?” tanya Fasha memastikan. Soalnya ciri-ciri yang disebutin Tami itu ya dia banget.
“Dia kakak kelas aku kak,”
“Hmm, menurut kamu dia itu gimana sih. Sampe kamu bisa suka sama dia.” rasa GR Fasha makin membesar.

“Dia itu songong, aneh, nyeremin, tapi walaupun gitu dia itu cerdas dan juga pengecut.”
Tuh kan, ini mah gue bangettttt.. Teriak Fasha dalam hatinya.
“Kalau dia nyeremin, kok kamu bisa suka sama dia dan kenapa kamu bilang dia pengecut?”
“Perasaan itu datang tiba-tiba, dan bukan karena rupa. Dia pengecut dalam hal mengakui isi hatinya.”
“Maksudnya?” tuuuuutttt! Teleponnya mati. Padahal masih penasaran banget apa maksudnya Tami ngomong kayak gitu.
Dan jika tadi ia mengurungkan niatnya untuk menyatakan isi hatinya. Kali ini ia kembali bersemangat untuk menyatakan isi hatinya kepada Tami.

Hari sabtu tanggal 30 agustus ini Fasha berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Tami. Lewat sms ia mengajak Tami untuk menemuinya di aula sekolah. Fasha pun berjalan menuju aula sekolah. Fasha!! Tiba-tiba guru bp meneriakinya. “Fasha, kamu ini gak bosen-bosennya bikin masalah!” Fasha kaget bukan kepalang, dia gak ngerasa bikin kesalahan apa-apa kok. Fasha menaikkan alisnya.

“Masalah apalagi si Pak, saya gak telat hari ini.” guru bp memegang seragam Fasha yang gak dimasukkin ke dalem celana. “Ini apa. Kamu Bapak hukum bersihin kamar mandi, berdua tuh sama si Sandy. Emang samanya kamu berdua!” Fasha menarik napas dalam-dalam. Dasar guru edan, udah kayak polisi tukang tilang aja. Pinter banget nyari kesalahan. “Ada-ada aja noh si sableng, gak tahu apa ya gue lagi ada urusan.” Fasha gerutu.
“Sabar men, kan ada gue jadi cepet.” Sementara Fasha dan Sandy mengerjakan hukuman yang diberikan guru bp sableng itu. Tami dan dua orang temannya udah stand by di aula sekolah. Ibarat udah mau finish kesandung batu. Itulah yang Fasha rasakan. Akhirnya dengan kekuatan ekstra ia bisa menyelesaikan hukuman dengan cepat. Dan ia pun bergegas ke arah aula dengan buru-buru.

“Oh iya San, ambil gitar dulu. Gue kan mau baca puisi nembaknya.”
“Oke siap bos,” Sandy lari buru-buru ngambil gitar yang emang udah disiapin.
Akhirnya Fasha dan Sandy tiba di aula sekolah. Fasha menatap tajam ke arah Tami. Begitu pun sebaliknya. Perasaan Fasha mulai grogi. Gemeter gak jelas. Dan dengan kekuatan penuh ia memberanikan diri menghampiri Tami. Sementara Sandy dan beberapa orang teman Fasha udah stand by maenin gitar. Dan.. Set!! Petikan gitar nan merdu mulai terdengar. Fasha mengambil posisi menghadap Tami. Dengan gaya meniru Rendra ia mulai berpuisi.

Gadisku…
Engkau bukanlah rembulan yang dapat menghilang di waktu siang
Bukan bintang yang dapat sembunyi di balik awan
Juga bukan mentari yang tenggelam di waktu malam
Bagiku engkau adalah butiran atom oksigen yang melebur bersama udara
Melesat masuk menyejukkan jiwa.
Oh gadisku, sudikah engkau memadu kasih bersamaku.
Mengubah cerita menyatukan cinta.
Aku cinta akan dikau Shilah Nuzula Utami.

“Aku harap kamu mau menerima cintaku.” Tami tampak diam, membisu antara kagum dan jijik melihat Fasha berpuitis ria. Perlahan bibir Tami mulai bergerak.
“Bulan februari gak ada tanggal 30.” Tami setengah berbisik.
“Ciyeee berarti mau diterima nih.” ucap Feni temannya Tami. Fasha masih menunggu jawaban pasti Tami. Tami tampak tersipu dipandang tajam oleh Fasha. Dan dengan setengah berbisik ia berkata, “Satu hal yang paling tidak bisa aku utarakan. Pandanganmu meluluhkan hati dan keegoisanku. Iya aku mau.”
Ciyeee!! Teriak semua orang yang ada di situ.

Tamat

Cerpen Karangan: Ilham Pasawa
Blog: pasawailham.blogspot.com
Facebook: Ilham Pasawa

Cerpen Luluh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Sih Cinta? (Part 4)

Oleh:
“Cinta itu butuh pengungkapan, karena kita bukan Tuhan yang tahu semuanya, jadi bagaimana kita tau perasaan seseorang tanpa pernyataan.” Driana segera menyuruh Chika untuk ke rumah sakit, tempat Bayu

Senja Di Mata Zahrani

Oleh:
Selamanya aku hanya ingin selalu di sini, menyatu dengan alam. Menikmati senja. Senja yang seakan memunculkan harapan-harapan baru. Memberikan seluruh keindahan yang dimilikinya kepada jutaan pasang mata. Lukisan tangan

Metamorfosis Sempurna

Oleh:
Aku memiliki seorang sahabat, kami bersahabat sejak kelas 1 SD dan kebetulan kami tinggal di satu kampung yang sama. Di situlah kami tumbuh bersama hingga saat ini. Kami sekarang

Pangeran 15 Menit

Oleh:
“Tidak ku sangka 15 menit yang cukup singkat menjadi detik – detik terakhir orang itu. orang yang ku tempatkan di tempat khusus di hatiku. Dialah Pangeran 15 Menit…” Namaku

Setia Sih, Tapi…?

Oleh:
“Hey”, kaget Icha teman sekelasku saat aku dan Kiran, gebetan baruku sedang duduk bersama di depan halaman sekolah, namaku Prily, aku dan Icha bersahabat sejak kami SD sampai sekarang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *