Maaf

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 August 2016

Suara burung menyapa paginya. Dengan bersemangat Asha bergegas bersiap diri untuk hari pertamanya di sekolah barunya. Sambil berlari kecil ia memasuki gerbang. Saking bersemangatnya ia tidak melihat jalan sehingga ia menabrak seseorang.
“Gubraakk” mereka bertabrakan.
“Maaf” kata Asha sembari membersihkan tangannya yang berpasir.
Wajah lelaki itu terhalang topi yang dikenakannya. Namun yang sempat dilihat Asha adalah nametagnya sebelum lelaki itu pergi tanpa sepatah kata pun. Namanya DANA PRAYUDHA.

Bel masuk bebunyi, Asha duduk di pojok kanan barisan kedua dari belakang. 5 menit berlalu namun tidak ada guru yang masuk. Nampak seorang lelaki masuk dan langsung duduk di samping Asha. Kelas nampak riuh tetapi lelaki itu tak berkutip sedikit pun hanya mengenakan earphone sambil memejamkan matanya.
“Hai” kata seorang perempuan berambut sebahu yang duduk di depan Asha.
“Hai juga” jawabnya sambil tersenyum
“Kenalin aku Larasati Putri, panggi aku Lara. Salam kenal. Nama kamu siapa?” katanya sambil menodongakan tangannya.
“Aku Asha Shafira. Panggil aku Asha” Asha menjabat tangan Lara.
“Kamu pindahan dari mana?”
“Dari semarang”
“Ohh.. Dan, enggak kenalan?” Kata Lara sambil menarik satu sumbatan earphone lelaki di sebelah Asha.
“gak” lelaki itu kembali memasang earphone nya.
“Jangan masukin di hati, Dana memang gitu orangnya” jelas lara.
“Dana? Namanya dana. Jadu dia orang yang kutabrak tadi.” gumam Asha dalam hati.

“tet.. tet.. tett.” bel tanda istirahat berbunyi lelaki di sebelah Asha langsung bangakit dan ke luar. Asha mengikutinya. Dana langsung memilih buku di perpustakan dan duduk sendirian di pojokan.
“Dana” sembari menepuk bahu Dana.
“Kenapa?” jawabnya dingin.
“Boleh aku duduk?” tutur Asha lembut.
“Iya”
“Maaf ya kejadian tadi pagi aku gak liat jalan jadi aku nambrak kamu. Ini tanda permintaan maafku” asha menodongakan sekaleng minuman bersoda.
“Makasih. Taruh saja di situ” ucap dana tanpa menengok ke arah asha sedikit pun.
“Aku pergi ya”
“Iya”

Sudah seminggu asha di sekolah itu. Sekarang Lara menjadi sahabatnya. Namun sikap Dana masih saja misterius.
Pagi masih sepi. Asha sengaja datang pagi untuk bertugas piket. Ia memeriksa laci-laci untuk mengecek apakah ada sampah atau tidak. Ia mengecek lacinya dan laci dana. Asha menemukan sesuatu di laci Dana, sekaleng minuman bersoda bertuliskan maaf.
“Kok bisa sama persis sama yang aku belikan ya?” Gumamnya.
Tiba-tiba Dana datang dan merebut kaleng itu.
“Jangan lancang dong. Ambil barang orang tanpa izin” ucap Dana kasar.
Tangan asha terluka karena penutup kaleng yang tajam.
“Maaf aku hanya mau ngecek sampah” kata asha sambil berusaha menahan aliran darah yang terus keluar. Dana mendorong asha ke bangaku dan mencari-cari sesuatu di tas.
Darah asha berdesir kencang rasa yang tidak biasa perasaan yang susah ditebak. apa ini yang namanya cinta?
“Mana tangan kamu”
Asha menurut saja dan mengancungakan tangannya. Dana mengusap luka asha dengan kapas. Asha memandangi Dana.
“Kalo diliat-liat dana ganteng juga. Iihhhh. Apaan sih” kata asha dalam hati sambil tersenyum.
“Kenapa senyum-senyum?” Kata dana.
“Eh.. gak apa.”
“Sudah selesai”
“Makasih dan” belum asha selesai bicara dana sudah pergi. Dan Lara pun datang.

“Sha, dana kenapa?”
“Ehmm.. tadi dia obatin luka aku.” Katanya malu.
“Iihhh so sweet. Gak pernah lho dana sebaik itu sama cewek. Kalaupun ada cewek jatuh depan dia, dia hanya lalu aja. Atau jangan-jangan dia suka kamu?”
“Apaan sih? Dia itu yang bikin tangan aku luka.” Asha menceritakan kejadian tadi.
“Tapi itu gak biasa, dia itu dingin banget”
“Jangan baper deh”
“Ra? Aku mau bilang sesuatu yang pribadi tapi kamu jangan bilang siapa-siapa?” Lanjut asha.
“Apa?” Lara mendekat.
“Aku bingung sama perasaan aku ke Dana. Satu sisi aku kesel karena sikapnya. Tapi disisi lain aku deg-degan kalo dia dekat aku.”
“Sha.. denger ya. Kamu itu lagi jatuh cinta sama dia dulu aku juga gitu sama pacar aku tapi aku berjuang untuk dapatin dia. Aku yakin 99.99% dia suka sama kamu.”
“Makasih ra aku akan berusaha aku nyusul dia dulu ya?”
“Da. Semangat ya”

Dana sedang duduk di bawah pohon sambil mengenakan earphone dan membaca komik.
“Makasih ya Dana” asha memberanikan diri.
“Buat apa?” Jawabnya dengan dingin.
“Dengan pelester ini”
“Oh itu sisa luka yang waktu itu kamu tabrak aku” cerita Dana.
“Oh.. aduh aku utang maaf banget sama kamu”
Dana memasukan earphone dan komiknya dalam tas dan beranjak pergi.
“Dan kamu kenapa sih? Kita gak pernah ngobrol lama. Kamu masih marah sama aku?”
“Iya aku marah. Lepas tangan aku” asha melepaskan tangannya dan dana pergi entah kemana.

Pelajaran sudah dimulai. Sikap dana masih seperti biasa. Membuat asha semakin gereget. Di sobeknya secarik kertas dan ditulisnya ‘aku salah apa sih dan? Sampe kamu gak maafin aku? Fatal banget ya luka waktu itu?’.
Diberikan kertas itu pada Dana. Dana hanya menatap asha dengan sinis lalu dibuangnya kertas itu di dalam lacinya. Lalu kembali mencatat.

Pulangnya asha masih mencari kesalahan yang ia perbuat hingga dana marah padanya. Diikuti dana waktu ia berjalan menuju rumah. Setelah berapa lama berjalan dana membalikan badannya dan menarik asha menuju jalan setapak nan sepi. Dan menyandarkannya ke tembok.
“Mau ngapain kamu dan?” Nafas asha terengah-engah karena gugup.
“Kamu yang kenapa ngikutin aku?”
“A.a. aku” kata asha terbata-bata.
“Sekarang aku tau kamu itu gak pantas dimaafin.” Dana hendak pergi tapi langakahnya di tahan oleh asha yang memegang tanganya.
“Lepas” pintah Dana.
“Aku gak akan lepas sampai kamu maafin aku.
Dana menoleh.
“Kamu gak nyadar salah kamu hah?” Bentak Dana sedikit keras
“Kamu buat aku berfikir keras untuk itu sha” lanjutnya.
“Kalau kamu gak bilang aku gak akan tau Lagi pula aku sudah minta maaf” kata asha lembut.
“Kamu memang gak peka. Aku marah sama kamu karena kamu bikin aku jatuh cinta sama kamu. Aku berusaha untuk jauhin kamu biar rasa ini gak usah ada tapi kamu masih saja di dekat aku. Aku suka kamu sejak kita tabrakan dan soal minunan itu, itu punya kamu. Aku simpan karena aku sayang aku gak akan buang atau pun minum. Intinya aku sayang kamu.” Lalu Dana pergi.
“Dana..” asha tercengang dengan pernyataan dana.

Besoknya di sekolah..
“Dan?” Sapa asha di perpustakaan.
“Udah deh sha aku capek lari terus” kata dana memohon.
“Aku juga capek ngejar kamu dan. Kamu gak usah lari dari aku lagi. Aku pingin dekat kamu. Aku juga suka sama kamu Dan.” Asha berusaha sekuat tenaga memberanikan diri.
Baru pertama kali asha melihat senyum di wajah dana. “Itu yang aku gak suka sama kamu, kamu bikin aku terkesan” kata dana.
“Oh ya? Jadi maafin aku?” Kata asha hati-hati.
“Iya lah sayang…” ucap dana. Asha mencubit perut dana. Sontak dana menjerit kesakitan.
“AW” teriaknya
“Shuuutt” kata murid di salah satu meja. Mereka berdua tertawa kecil.
Dana menggandeng tangan asha keluar dari perpustakaan. Dan asha pun membalas gandengan itu ditambah dengan bersandar di bahu dana.

Hari-hari mereka berubah. Dana tak lagi pendiam. Terkadang saat jam pelajaran dana sempat-sempatnya menggandeng tangan pacarnya. Hubungan mereka berjalan lancar. Mereka adalah sepasang kekasih yang sempurna.

THE END

Cerpen Karangan: Annida Fathya
Facebook: Annida Fathya
Nama: Annida Fathya
asal: Manokwari, papua barat
umur: 15th
ini cerpen pertama ku

Cerpen Maaf merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kegelisahan Cici

Oleh:
Entah kenapa hari ini terasa lain dari hari kemarin-kemarin. Padahal tidak ada satupun hal yang lain yang dialami oleh Cici. Aktivitasnya hari ini dimulai dengan sholat subuh sama seperti

Rahwana dan Shinta

Oleh:
Dibalik keindahan dari senyumnya, menyimpan airmata yang mampu membasahi hati ini. Tak dapat dan mungkin tak pernah aku lupakan apa yang telah aku lihat hari ini. Cinta yang amat

Mematung Sepi

Oleh:
“Masih terngiang akan suara manjanya, kepintarannya, kecantikannya, dan semua hal yang istimewa itu aku sia-siakan ketika aku memilikinya, kini aku hanya mematung sepi, ditemani penyesalan yang teramat dalam, akankah

Friend 2 Friend

Oleh:
Dua hari telah kulalui dengan perasaan berbunga, ahh rasanya menyenangkan ketika melihat dia tertawa meskipun dia tidak menyadari bahwa mataku terus tertuju padanya. Menurutku itu cukup, karena jika aku

Nyopet is My Job (Part 1)

Oleh:
“Gue dapat 5 dompet hari ini,” “Wih hebat lo, gue cuma 3 dompet, isinya juga nggak seberapa,” Kata Pian. “Gue mau shopping, makan makanan enak, aaaah serasa di surga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *