Maaf Ayah Aku Tak Bisa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 October 2013

Tidak terbayang olehku, sejak aku menikahi gadis madura lima belas tahun silam. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, yang terlintas hanyalah sebuah paksaan dari orang tuaku yang ngotot ingin menjodohkanku dengan anak seorang makelar tanah terkaya di Madura yang kebetulan adalah partner kerja ayahku. Permainan cinta yang dilakoni olehku dan Dini istriku adalah selayaknya permainan wayang yang didalangi oleh ayahku sendiri. Bagaimana aku harus bertindak, bagaimana aku harus melangkah. semuanya itu seperti takdir yang menjelma sebagai mimpi buruk bagiku. Walau saat ini, aku dan Dini telah dikaruniai seorang putra yang kuberi nama “Galih Pratama Dinisti” yang kini telah beranjak remaja, tapi diriku masih saja belum bisa mencintai Dini setulus hati dan rasanya seperti ombak yang berkecamuk dalam firasat ini jika aku memaksakan diri tuk mencoba memberi cinta selayaknya seorang suami pada umumnya. Rasanya Dini bukanlah sosok wanita yang kuharapkan untuk menjadi pelabuhan mahligai cinta dalam hidupku. Tapi yang saya kagumi dari sosok Dini adalah kebesaran hatinya menerima perjodohan ini hingga dia harus melayani seorang suami yang belum bisa mencintainya setulus hati.

Dan suatu saat ketika Galih menanyakan padaku, seperti apa kehidupan aku sewaktu masih seumuran dengannya. maka, seketika itu pula badanku beranjak terpaku seperti sebuah patung. Dan seperti biasa, yang menjadi penyelamat patung itu adalah Dini, secara panjang lebar Dini bercerita tentang masa lalu kita semasa remaja, walaupun aku tau Dini hanyalah merangkai kalimat-kalimat kebohongan terhadap Galih. Itulah yang selalu Dini perbuat pada Galih untuk menutup-nutupi masa lalu kita khususnya masa lalu ku yang sangat menyedihkan. Dalam canda yang lumayan hangat itu, tiba-tiba dering telephon memecahkan candaku dengan Dini dan Galih. Tak lama setelah itu, Dini berteriak histeris sambil memanggil-manggil Aba dengan logat maduranya yang masih kental di ujung lidahnya, Galih yang terkejut mengahmpiri ibunya dan aku pun juga merasakan hal yang serupa dengan Galih… setelah kutenangkan Dini yang pingsan sejenak dan tersadar dalam dekapanku saat itu dan dengan terisak Dini mengatakan bahwa Abanya dan sekaligus telah menjadi mertuaku meninggal dunia.

Tanpa basa-basi, kami berbenah diri untuk meluncur dari Surabaya tempat kami tinggal sebagai keluarga kecil menuju Madura tepatnya adalah daerah Arosbaya, tiga jam perjalanan kami tempuh menggunakan mobil avanza hitam pemberian Aba pada kita saat usia pernikahan kita telah genap sepuluh tahun. Mungkin bagi diriku, ini adalah untuk pertama kalinya, bagaimana ku melihat cara hidup bersosial masyarakat di daerah ini masih sangat kental. Dengan sigap, cekatan, dan saling bahu membahu membantu keluarga Kami yang sedang berduka tanpa pamrih sedikitpun. Dengan logat madura yang khas mereka saling berbincang entah tentang apa yang sedang mereka bincangkan itu, yang aku tangkap hanyalah satu dua kata yang telah terbiasa kudengar dari mulut Dini seperti kata “pora’ alla, adinggel omor, neser, ngocak”. keadaan Dini yang diliputi rasa sedih yang amat teramat mengajak sajak kesedihanku pula. Di atas pusara Aba Daus yang telah dihiasi bunga kebisuan itu, kami berdua dan sanak saudara terus saja menitikkan air mata.

Dalam benak sadarku, terlintas perasaan bersalah pada Aba karena diriku telah menyia-nyiakan cinta anaknya padaku. Aku pun terbesit pikiran untuk mulai intropeksi diri dan mulai mencoba mencintai Dini walau itu sulit rasanya. Dini dan Galih adalah hidupku saat ini, mereka adalah tenaga bagiku dan hidupku. Semalaman, dini terus saja memanggil nama Aba, dan ketika tepat tengah malam ketika Dini telah terlelap dalam sedihnya. Pikiranku terbang jauh untuk flasback ke masa dimana aku masih remaja. Dimana dunia remajaku saat itu adalah masa paling kelam dalam hidupku. Aku terpuruk dalam ketidak berdayaan melawan takdir yang memisahkan kedua orang tuaku. Pertinkaian yang terjadi di antara keduanya dimulai saat ibuku ternyata terbukti selingkuh dengan adik ayahku sendiri dan diakhiri dengan pertengkaran hebat dan ujung-ujungnya adalah perceraian, saat itu mungkin seandainya aku tak tergugah untuk terus bertahan hidup mungkin aku sudah mati di jerat tali. Sungguh kejam pamanku saat itu, sepintas dia sangat baik padaku, tapi ternyata busuk hatinya. Ibuku menangis di depan hakim seakan ibu menyesali perpisahan dengan ayah, dengan acuh ayah meniggalkan ibu sendiri di batas kota dan menarik lenganku agar aku meninggalkan ibu pula. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku hanya menangis dan menangis. Dan dalam lamunan itu aku tersentak kaget mendengar Galih memanggil aku yang sedang melamun sendiri di teras rumah Aba… ternyata Galih hanya mengigau semata dalam mimpinya yang entah sedang bermimpi apa. Karena hari telah larut dan berteman dengan hujan yang rintik-rintik membawa mata ini kembali kepada peraduan mimpi. Dan aku pun tertidur dekat Galih anak semata wayangku.

Keesokan harinya, aku dan Dini disapa oleh orang tua paruh baya yang entah dia siapa, saat aku diajak Dini berbelanja buat keperluan tahlilan almarhum Aba. Dengan logat maduranya beliau mengatakan “pessabber hedeh nak” sambil menepuk pundakku, dengan segera ku menoleh kepada muka Dini. Dan Dini pun segera membalas dengan kata sopan terhadap orang tua itu “Enggi pak, mator sakalangkong”… entah apa yang bisa kupikirkan dan kumaknai dari percakapan itu, aku sedikit canggung dan hanya bisa menjadi pendengar yang baik saja sambil membalas senyuman dengan, penuh wibawa dan sopan.

Setelah tujuh hari kepergian Aba, kami semua berkemas untuk kembali lagi ke Surabaya, tuntutan pekerjaan yang telah lama kutinggalkan telah menunggu, serta Galih yang harus kembali lagi untuk menuntut ilmu di sekolahnya setelah 7 hari mengambil cuti. Hari pertama masuk kerja, pikiranku belum sepenuhnya untuk bekerja karena masih saja terngiang-ngiang tentang masa remajaku yang kelam, juga kegelisahan tentang kisah percintaanku dengan Dini istriku yang tak kunjung bisa kucintai setulus hati… karena kegelisahan yang mendera terus menerus selama ini. Maka itulah, aku lebih memilih pulang sebelum waktu pulang kantor tiba. Dalam perjalanan pulang, aku memilih berhenti di taman kota untuk sekedar menyendiri dan menelaah seorang diri pikiran yang berkecamuk dalam otak yang tak kunjung rutuh.

Entah mengapa, Semakin umurku bertambah, maka semakin pula membatu kegelisahan pikiran ini dalam otakku. Nada-nada kebisuan selalu memanggil jeritan hati kecilku, aku ingin sekali berontak tapi ku tak sanggup. Sebenarnya, ku benci kalau mengingat masa remajaku yang tinggal dalam ketidakharmonisan keluarga. Apalagi jika aku harus mengingat kembali sosok ibu yang telah menjerat nadi cinta ayahku padanya, meninggalkan aku bersama ayah seorang hingga aku dewasa hanya demi seorang paman yang durjana.

Sebelum aku menikahi Dini, aku sudah mengerti permintaan ayah, dan akulah yang dijadikan batu sandungan oleh ayah agar aku bisa meluluhkan hati gadis madura dan mampu menyakiti gadis itu, sebagaimana ayah telah disakiti oleh ibuku sendiri yang asli keturunan orang madura juga. Itulah permintaan Ayah padaku dan alasan ayah menjodohkanku dengan Dini gadis madura anak dari temannya itu. Dendam ayah terhadap wanita madura ternyata tidak semudah itu lekang dalam cerita hidupnya, apalah daya Itulah sebabnya, Tapi… agrhhh, aku membecimu bu. Gara-gara kamu bu, aku harus mencoba menelan racun kehidupan. tapi aku anak yang telah meminum air susumu selama dua tahun, pantaskah aku membencimu…?, akankah aku akan jadi anak durhaka…?, aku terlalu lelah dan tua untuk belajar mencintai. Cukup aku yang merasakan nasib ini, Jangan Galih anakku tuhan. Aku tidak akan membuat lubang seperti yang telah dibuat oleh orang tuaku dulu. Mungkin cintaku pada Dini tidak sempurna, tapi akan kucoba dan terus kucoba untuk menjadi seorang suami dan ayah yang baik sekaligus menjadi teman untuk mereka.
Apa yang harus kulakukan tuhan, aku tidak ingin menceraikan Dini bukan karena diriku tidak bisa mencintainya hingga saat ini, tapi yang kutakutkan hanyalah nasib Galih…!
Tapi, bagaimanapun juga aku yakin, aku bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh ayah kandugku sendiri yakni, mempertahankan mahligai ikatan suci pernikahannya. Mungkin bagi ayah mustahil untuk bisa memaafkan kesalahan ibu yang sudah membakar kebencian, kecemburuan dan kepedihannya. Tapi aku hanyalah seorang anak yang telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi kehidupanku. Dan untuk hal ini, jika aku sampai benar-benar menceraikan Dini maka aku adalah ayah paling durjana di dunia ini. Dan di sisi lain, Dini sangat tidak pantas untuk diceraikan, kerena dia adalah sosok gadis keibuan yang setia padaku, setia merawat dan mengasuh Galih anak semata wayang hasil dari buah cinta kita. Dini tidak pernah sekalipun bermain serong di belakangku, dia amat begitu menyayangiku walau dia tau aku belum bisa menyayanginya sepenuh hati. Tapi apa yang dikatakan Dini malam itu sungguh membuat hatiku semakin kokoh pendirian, Dini yakin seyakin-yakinnya, suatu saat nanti ketika garis takdir telah sampai padaku, aku akan sanggup mencintainya sepenuh hati dan aku diharapkan agar selalu pilih jalan yang terbaik, sesulit dan sekeras apapun jalan itu jalani dengan penuh hati lapang niscaya semuanya akan lancar dan ramah… dan itulah yang mengakhiri lamunanku di taman kota yang sudah hampir gelap itu.

Aku pulang dangan ditemani bayangan semu senja merah di ufuk barat yang sangat indah dipandang tapi sangat sulit diterka tentang makna dari warna merahnya, sepanjang perjalanan ku berdoa dengan harapan setibanya di rumah aku akan disambut oleh senyuman dua orang yang telah mengisi rongga-rongga kehidupanku selama ini. Dan ternyata benar, Galih serta Dini telah menanti kepulanganku di teras rumah dengan setoples biskuit kesukaan Galih yang menemani mereka berdua berbisik-bisik dalam canda dan tawa manis yang terpancar dari keduanya yang menyegarkan semangatku kembali setelah seharian aku hidup dalam dunia temaram dan kekhawatiran atas segala kegelisahanku yang bersajakkan kata-kata setan yang terus saja mengikuti langkah-langkahku kini di usiaku yang belum genap mencapai 35 tahun. Aku pun segera bergegas mandi dan bercengkrama dengan anak istriku… inilah moment-moment yang tidak ingin aku musnahkan sampai aku kembali ke pangkuan sang maha esa.

Pagi itu, siulan burung mungil di dahan pohon seakan memanggil dan menggugah jiwaku yang mulai bisa sedikit demi sedikit mencintai Dini, apalagi setelah ku tau tanpa ku sadari sebelumnya ternyata Dini tengah mengandung jabang bayi dalam rahimnya yang sudah menginjak minggu ke-4, antara sadar dan tak sadar ku tersenyum bahagia sesaat setelah Dini mengabarkan kabar bahagia itu, ternyata aku tambah yakin bahwa tuhan benar-benar adil. Bagaimanapun juga ini adalah kado terindah buat ulang tahunku, meski ulang tahunku masih satu minggu lagi. Lambat laun, rasa cintaku pada Dini istriku semakin bersemi elok.

Di sisi lain, saat ayah mendengar kabar kehamilan Dini, ayah tidak bahagia sedikit pun, bagi dirinya ini adalah sebuah buah yang sama sekali diharapkan kematangannya. Ayah datang menemuiku dengan amarah dan meminta agar aku segera menceraikan Dini. Ayahku memang sudah kuanggap gila dan buta. Bagaimana mungkin aku sanggup menceraikan Dini yang tengah hamil muda dan meninggalkan Galih seorang putra yang aku sayangi… dalam pembicaraan yang penuh amarah itu antara aku dan ayahku, ternyata Dini mendengar dari balik pintu kamar. Apa yang harus kuperbuat saat itu, ayah marah lantaran Dini hamil, sumpah aku tak mengerti dengan alur pemikiran ayah. Parahnya lagi, Dini pergi tanpa sepengatahuanku dan hanya meninggalkan sepucuk surat di atas kasur.

“Mas… Ceraikan Dini jika ayah memang ingin melihat dirimu bahagia”
Dini istrimu.

Surat singkat itu membuka kembali kesedihan dan kegelisahan yang telah aku simpan dan terkunci rapat dalam hati dan pikiran ini, yang aku takutkan hanyalah Galih. Aku takut dia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan saat aku remaja. Karena ketakutan itulah, saya terus menerus menghubungi Dini walaupun hasilnya tetap sama, Dini tidak mengangkat panggilanku, entah Dini sekarang pegi membawa Galih kemana, tapi yang terbesit dalam benak ini bahwa aku yakin saat ini Dini sedang berada di rumah Aba Daus. Tak perlu membuang waktu, dengan tangisan yang tertahan di dada dan kekhawatiranku terhadap nasib istri, anak dan calon bayiku, diriku lantas segera pergi menyusul Dini ke Arosbaya.

Jalanan kutelusuri walaupun aku tau saat itu, hari sudah mulai gelap dan hujan turun cukup deras, tapi tekadku sungguh sangat bulat. Aku ingin merangkul kembali anak istriku agar menemani hari-hariku. Lima belas tahun bukan waktu yang singkat untuk aku dan Dini mengarungi mahligai rumah tangga dan aku tak kan segila itu memusnahkan kenangan yang telah ku ukir bersama Dini hanya karena Ayahku yang sudah gelap pemikirannya tertutup oleh dendam…

Sesampainya di rumah Aba, ternyata feelingku benar Dini dan Galih memang benar-benar pergi ke rumah ini, karena sejak awal aku yakin Dini tidak akanlari ke tempat lain selain rumah Aba… kelopak Mata ini sekarang sudah benar-benar tak kuasa untuk membendung air mataku. Di depan pintu tepat yang dibuka oleh Dini, ku membentangkan lengan dengan selebar-lebarnya untuk kemudian memeluk tubuh Dini. Dalam dekapanku Dini menangis dan menyesal telah meninggalkan rumah tanpa seizinku, aku pun demikian secara terus terang aku tak ingin kehilangan cinta istri yang sudah benar-benar bisa kucintai setulus hati.
Tak bisa kubayangkan, jika Dini tidak akan memaafkan semua kesalahanku padanya, apa yang terjadi pada Galih anakku…
Hari semakin larut dan hujan tampaknya sudah mulai mengurangi debit airnya serta jangkrik mulai bernyanyi bagaikan diva di tengah malam di desa Arosbaya saat itu yang dengan cepat menuntunku untuk menutup mata malam ini dalam pelukan Dini istriku.

Pagi menjelang
Mentari menyapa tanah Arosbaya dengan kehangatan yang menyelimuti, tak sengaja aku melihat Dini sedang melamun seorang diri di teras rumah sambil mengelus-ngelus perutnya yang sudah nampak buncit. Kucoba tuk menemani kesendiriannya dalam lamunan di pagi yang tidak terlalu dingin itu. Ternyata dalam lamunannya, Dini berharap agar aku benar-benar mencintainya, Dini tidak ingin anak-anak kita merasakan pil pahit kehidupan dengan ketidakharmonisan kita sebagai pasangan orang tua untuk Galih dan calon adiknya… harapan Dini sungguh ku aminin, dunia seakan menarik dan mengajak diriku untuk terus tetap mencintai Dini sampai akhir hayat memisahkan raga kita. Sampai kapanpun tetap ku pertahankan walau ku tau ayah akan terus meradang amarah padaku. Aku yakin, pernikahan yang semula berdasarkan dengan keterpaksaan ini akan berakhir bahagia… walau untuk mencapai titik kebahagiaan itu harus mencapai rajaman siksaan entah yang secara lansung timbul dari ayahku sendiri atau bahkan dari semua orang yang tidak menyukai pernikahan kami.
Bulan-bulan kehamilan Dini, adalah bulan dimana kami terus diterpa badai angkara murka dari ayahku, tapi itu semua tak menggoyahkan hati kita untuk sselalu tegar dan semakin erat memeluk satu sama lain…

Bulan juli, tepatnya tanggal 16… dengan keringat surga seorang Ibu, Dini melahirkan seorang bayi laki-laki kembali. Sempurnalah hidup kami akan anugrah ini… Dwi Cahya Anugrah Dinisti, itulah nama anak kedua kami… namun sebulan kemudian, kabar kesedihan menerpaku kembali, Ayah kandungku meninggal dunia membawa kebencian yang tak kunjung mereda pada dua gadis madura, ibu dan Dini… betapa sedihnya aku, salam sedih dan duka terus mengundang jatuhnya air mata ini dan aku hanya bisa berharap saat jasad ayah terbujur kaku memasuki alamnya yang baru agar bisa memaafkan semua kesalahanku dan istriku…

Mendung mulai menyulam tanah pemakaman, hanya seuntai kalimat yang aku haturkan di atas pusara ayah yang berhias bunga kebisuan dan nisan yang menancap sedih itu… “MAAF AYAH… AKU TAK BISA MELAKUKAN APA YANG AYAH MAU, SELAMAT JALAN AYAH… DO’A KU MENYERTAIMU”.

Mulai saat itulah, ku mulai menata kembali kehidupan keluarga kecilku. Membuka mata dan melapangkan dada menyambut mentari pagi yang membawa kabar pembaharuan dalam hidupku dan istriku tanpa orang tua yang kami sayang dalam hidup ini… dengan semangat baru, kami bertekad membesarkan kedua anak-anak kami dalam keluarga yang harmonis dan menyenangkan hingga anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang berjiwa sosial tinggi, cerdas, aktif dan bijksana dengan psikologis mereka yang tak terganggu sedikit pun…

TAMAT

Cerpen Karangan: Teguh
Facebook: Adi Putra David Homsin

Cerpen Maaf Ayah Aku Tak Bisa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terpisahkan

Oleh:
Namaku Keyla. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Meyla. Dia adalah kembaranku. Dari di perut ibuku aku sudah berteman dengannya. Dialah satu-satunya sahabatku di

Salah Pikir

Oleh:
“two two four four yeah! six go!” Suara-suara itulah yang kudengar ketika aku sampai di rumah usai pulang sekolah. Aku melihat sesosok orang duduk di kursi depan komputer. Terkadang,

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Pagi yang cerah. Dimana terdapat burung-burung yang berkicau dengan merdunya. Ku terbangun dari tidur lelapku semalam dan mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Setelah mandi dan memakai seragam SMA-ku,

12th Secret

Oleh:
Suasana pemakaman yang ramai dan sumpek membuat Wanda ingin kabur dari keramaian walaupun sebenarnya merasa cukup tega dengan almarhumah temannya yang telah di alam sana. Wanda duduk di sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *