Maaf Karena Aku Lebih Pendek Darimu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 June 2013

PTI (Pasukan Terlarang Indonesia) adalah sebuah pasukan rahasia Negara yang menyelidiki berbagai macam persoalan Negara, mengatasnamakan POLISI, TENTARA, ataupun KPK jika mereka dapat menguak sebuah kasus.

Anisa berjalan dengan ragu saat ia memasuki tempat yang aneh itu, begitupun dengan beberapa orang yang datang bersamaan dengannya, mereka semua tampak kebingungan mendapat panggilan kerja tanpa pernah melamar sebelumnya. “apa itu PTI, apakah mereka teroris” menjadi pertanyaan beberapa orang yang tiba-tiba di panggil kesana. “Oh tidak kami pasukan resmi Negara, kami menjalankan perintah-perintah dari Presiden, kami sengaja dirahasiakan, dan kami mengerti diri kalian masing-masing karena kalian orang-orang terbaik di Indonesia, kami yakin kalian tidak akan membocorkan kerahasiaan team ini kecuali jika kalian berubah pikiran namun kami punya cara agar kalian tidak akan pernah membocorkannya” ujar seorang laki-laki menjelaskan di atas mimbar dan sebuah mikropon di depannya.
Laki-laki pendek berbadan sedikit gemuk dan kerkulit hitam berdiri dengan kedua temannya di sebelah kiri stage, mereka tersenyum mengerti saat rekannya berbicara, namun laki-laki pendek itu terus-menerus melirik Anisa, Anisa merasa heran dan sedikit risih diperhatikan seperti itu.

Setelah penjelasan begitu panjang dengan beberapa kali pertemuan Anisapun mulai mempercayai dan mengerti, ia sendiri tidak menyangka menjadi orang pilihan untuk misi rahasia Negara.

Kini tiba saatnya Anisa meniti karir di PTI ia harus memasuki asrama yang telah disediakan, namun masalah terbesarnya adalah susah beradaptasi dan laki-laki pendek itu selalu membantunya saat ia merasa kesulitan mendapatkan teman.

Anisa memasuki Asrama 701 beserta ketiga rekannya, mereka bertiga terlihat akrab namun Anisa tidak dapat bergabung dengan mereka seperti ada tembok beton yang menghalangi saat ia ingin menyapa, Anisa memang pemalu ia tidak pandai bergaul dengan siapapun. Saat memasuki asrama ia berjalan sendiri dengan tas besarnya sedangkan ketiga temannya telah berjalan jauh didepannya, “jangan biasakan sendirian usahakan selalu bersama teman-temanmu” laki-laki pendek itu merebut tasnya dan mengantarkan Anisa ke asramanya, Anisa hanya tertunduk dan sedikit merasa tersanjung, “makasi ka Rio” teriak Anisa saat Rio mulai menjauh darinya

Saat malam tiba Anisa berjalan-jalan di depan Asramanya. Ia melihat Rio bersama kedua temannya berlalu-lalang tak jelas, Rio yang selalu memperhatikannya kini tampak tidak memperdulikannya, tidak lama kemudian Riopun menyadari Anisa ada disana “Anisa sedang apa disini” Tanya Rio tampak cemas “cari angin Ka” Jawab Anisa tampak malu-malu ternyata Rio masih tetap memperhatikannya, “kamu cepat kembali ke dalam dan jangan sendirian, ini perintah dan cepat lakukan”. Melihat Rio seserius itu Anisa merasa takut, siapa dia sebenanya dan apa jabatannya di sini terus ada apa dengan malam ini sebenanya, Anisa merasa cemas dan katakutan sendiri, ia kembali keasramanya namun tidak ada siapa-siapa karena ketiga temannya sedang pergi keluar, ia beranikan diri pergi ke asrama 702 namun di situ dia merasa seperti mahluk tanpa raga, dia merasa dibiarkan sendiri oleh teman-temannya yang punya kesibukan masing-masing. Anisa lantas kembali ke Asramanya ia hanya hilir-mudik di ruang tengah dengan rasa ketakutan, teringat nada peringatan dari Rio yang semakin membuatnya gelisah.

Dalam kegelisahannya Anisa merasa kagum terhadap sosok Rio, ia baru menyadari Rio mempunyai wibawa juga, tapi dia terlalu pendek untuknya, dia juga hitam Anisa akan merasa minder jika bersama Rio.
Teriakan dan suara gemuruh di depan tiba-tiba menyadarkannya dari hayalan, tidak selang beberapa detik suara yang memecahkan gendang telinga membawa getaran yang sangat besar. Api menerbangkan atap asrama, getaranya merontokan kaca dan semua barang-barang seperti tertiup angin yang tak tentu arah,
Anisa hanya bisa serentak menundukan badannya dan ia tersungkur seperti barang-barang yang ada di sekitarnya, ia sempat teriak namun semuanya begitu singkat dan kejadian itu berlalu tanpa berujung di matanya.

Anisa membuka matanya dan menyadari dia ada di Rumah Sakit, Rio tertidur di sampingnya dan tidak ada orang lain lagi disitu, Anisa merasa sehat tanpa sedikitpun rasa sakit di tubuhnya, Anisa segera melepaskan selang oksigen dan infusannya dan ia segera beranjak bangun. Pargerakannya disadari Rio dan Rio langsung terbangun. “Anisa kamu sudah sadar” ujar Rio tampak shock “aku tidak apa-apa kak, aku mau bangun” anisa bergegas namun kakinya tidak mengikuti perherakan tubuhnya, Anisa merasa heran, ia melakukan gerakan mundur namun tidak tampak dari atas selimut pergerakan pada kakinya, serentak ia membuka selimut namun kedua kakinya tidak ada lutunya terbalut kain kasa tebal dan darahnya masih terlihat segar, Anisa teriak lalu tidak sadarkan diri.
“Maafkan aku Anisa aku telah membawamu kesini” ujar Rio dibarengi dengan dalamnya tangisan. “Aku telah egois membawamu kesini, dan tidak bisa menjagamu, maafkan aku Anisa” tangisan Rio semakin dalam menandakan semakin dalam penyesalannya. “kakiku, kakiku” Anisa mengigo dan menambah rasa penyesalan Rio.

Keesokan harinya Anisa terbangun dan melihat Rio hilir-mudik di dekat kaca jendela Rumah Sakit. Ketiga teman asramanya duduk di sofa Rumah sakit dengan raut muka cemas “Kkkaaaaa” sapa Anisa lemas ia merasakan badannya sakit semua. “Anisa kamu sudah bangun” menyadari anisa telah sadar Rio segera menghampirinya.

“kak apa yang terjadi?”
“Anisa,” ujar Rio lemas “belakangan ini PTI telah bocor keberadannya, awalnya kami tidak merekrut karyawan baru periode ini namun kami sudah menyiapkan kalian sejak 8 tahun lalu, dan berdasarkan kesepakatan kami akan tetap mempersiapkan kalian untuk menambah kekuatan kami tahun ini, namun dengan adanya aktivitas yang sering terjadi belakangan ini memjadikan posisi kita sekarang semakin tercium oleh musuh dan mereka menghancurkan kita sebelum kita bertambah kuat, kejadian ini selain telah mencelakakan beberapa orang PTI juga terancam keberadaannya, dan aku salah satunya orang yang dengan antusias mendukung perekrutan karyawan baru tahun ini, maafkan aku Anisa”
“kakak semalam aku mimpi kakiku diaprutasi, itu mimpi kan kak”
“seandainya terjadi hal buruk, aku mohon salahkanlah aku Anisa, aku tidak dapat menjagamu. Bom itu tepat di samping asramamu keberadaannya, selain kamu Tia anak Asrama 702 ia kehilangan tangannya, dan kita juga kehilangan Nicko”
“apa Ka Nicko?”
“dia tepat di tempat kejadian saat bom itu meledak”
“dan kakiku?” ujar Anisa yang dilanjutkan dengan tangisannya.

Anisa diperlakukan seperti ratu oleh rekan-rekannya, Anisa baru meyadari ternyata mereka sangat peduli, mungin ada pengaruh perannya Rio tetapi teman memang sudah seharusnya begitu. Farah mengantar Anisa jalan-jalan ke halaman rumah sakit, di kursi rodanya ia tampak senang dan berkali-kali mencubit Farah sambil bercanda, di ujung lorong terlihat Rio tengah menunggunya ia membalikan badan saat mereka menghampiri dengan raut muka bahagianya Rio hanya menundukan kepalanya dan mencium kening Anisa. “Pak tempat umum nih” ujar Farah dan diiringi tawa mereka. Anisa hanya menatap Rio ia sekarang 30 cm lebih tinggi darinya, dan Rio menerima Anisa dengan segala kekurangannya.

Cerpen Karangan: Neni Indriani
Facebook: Nendia supriadi

Cerpen Maaf Karena Aku Lebih Pendek Darimu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan

Oleh:
Seorang gadis yang nampak acuh terhadap keaadaan sekitar. Ia hanya menatap lurus ke arah jendela sekolah. Alunan nada melow dipadukan dengan suara bariton yang khas, dan kini tengah mengalun

Putus Cinta 6 Jam

Oleh:
Risky dan Olivia adalah sepasang kekasih yang baru jadian 2 minggu yang lalu. Olivia adalah seorang gadis manis dan cerdas yang telah jatuh cinta kepada seorang laki-laki tampan. Mereka

Derita Annamarie

Oleh:
Mentari pagi yang telah membangunkan tidurku, segera aku bergegas menuju kamar mandi dan bersiap menginggat Hari ini hari kedua ku melaksanakan MOS di SMA Tunas Bangsa yang dilaksanakan selama

Senja Yang Tak Sempurna

Oleh:
Aku tercenung menatap ke luar. Di luar sana hujan tercurah dari langit, bersamaan dengan saat datangnya senja. Aku berpikir, terlalu banyak yang ku pikirkan. Tentang senja, tentang gerimis, tentang

Balada Pipit Muda

Oleh:
Pagi ini memang begitu sepi untuk dinikmati sendiri. Aku hanya bisa melontarkan pandangan jauh dari atas pohon mangga teringat akan kepedihan yang membuat hama sepertiku membangkang kepada Tuhan. Ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *