Maaf (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 1 August 2016

Dear Fatih…
Assalamulaikum, mungkin ketika kamu baca surat ini aku udah gak disini. Besok pagi-pagi aku berangkat ke luar kota dan akan menetap disana. Aku diterima bekerja, senang banget banget deh. Maaf ya, aku gak pernah cerita soal ini ke kamu. Karena semenjak kamu bekerja, kita udah gak punya waktu lagi seperti dulu. Kamu sekarang sibuk dengan kerjaan dan weekend kamu sibuk dengan teman-temanmu. Sepertinya udah gak ada waktu lagi buat aku untuk sama-sama kamu, walaupun hanya sekadar ngobrol santai. Oh iya, sabtu malam kemarin kamu kok gak datang sih. Aku lama nungguin kamu di tempat favorit kita, aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Chatan aku gak dibales, hanya dibaca aja. Tetapi gak papa kok, mungkin kamu lagi sibuk.

Fatih.. aku senang banget liat kamu sukses seperti sekarang, semoga karirmu selalu cemerlang ya, Aamiin.. Aku selalu doain yang terbaik buat kamu. Secarik kertas yang aku kirim ini, hanya ingin mengungkapkan apa yang harus aku ungkapkan. Walaupun hanya lewat goresan-goresan pena. Terima kasih karena kamu udah hadir di hidupku selama dua tahun ini, kamu udah warnain hidupku. Terima Kasih untuk cinta yang pernah kamu kasih ke aku dan terima kasih untuk segalanya. Maaf, apabila selama kita bersama aku pernah membuat kamu kesel, marah dengan sifat kekanakanku. Maaf kalo aku selalu protes apabila kamu jalan sama teman perempuanmu, aku bersikap seperti itu karena aku cemburu. Tetapi, sekarang kamu bebas kok gak ada lagi yang ngelarang-larang kamu buat jalan sama siapapun.

Aku pamit ya, kamu sehat-sehat disini. Kalo sibuk kerja janganan lupa makan dan istirahat, jangan capek-capek. Ok Fatih? 😀 Semoga Allah selalu melindungi dimanapun kamu berada.
Wassalam

By ~ Ulya

Fatih terenyuh membaca surat dari Ulya. Ia terduduk lesu di bangku taman tempat dimana ia dan Ulya biasa menghabiskan waktu bersama. Matanya terasa panas dan kepalanya terasa berat. “Maaf, aku udah buat kamu tersiksa dengan sikapku akhir-akhir ini. Aku udah mengabaikanmu, aku udah buat kamu sakit. Aku pernah janji ke kamu, gak akan pernah nyakiti kamu. Tetapi, aku sadar aku udah buat kamu terluka. Aku memang tak pantas untuk dimaafkan,” Ucapnya pelan sambil mengepalkan tangannya. Ia sangat menyesal atas apa yang dilakukannya terhadap gadis lembut itu.

Sementara dari kejauhan Ulya memandangi Fatih dengan mata berkaca-kaca. “Maaf”, ucapnya lirih. “Maaf aku gak nemuin kamu langsung untuk pamit. Karena aku tahu, aku gak akan pernah sanggup untuk berpisah dengannmu. Sampai ketemu, diwaktu yang takkan pernah aku tahu kapan”, Ulya mencoba menahan tangisnya, seraya meninggalkan Fatih.

Satu bulan berlalu, Ulya benar-benar menghilang bak ditelan bumi. Fatih mencoba menghubungi Ulya, tetapi tidak bisa. Komunikasinya dengan Ulya benar-benar terputus. “Ul, sebenarnya kamu kemana sih?”, tanyanya dalam hati. “jangan hukum aku dengan cara seperti ini, aku gak sanggup.”

Malam semakin larut, Fatih masih saja betah di kantornya. Padahal pekerjaannya sudah selesai, tetapi ia enggan untuk beranjak pulang. Semenjak kepergian Ulya, Fatih lebih senang menghabiskan waktu di kantor menyibukkan diri. Rinai hujan dan sunyinya malam menemani Fatih yang sedang merasakan kebimbangan. Fatih memandangi foto yang ada handphonenya. “Ul, aku kangen banget sama kamu”, Fatih tersenyum getir. Cukup lama Fatih melihat foto kebersamaannya dengan Ulya, tiba-tiba… handphonenya berdering. Panggilan masuk dari Erlita, seorang gadis yang selalu membuat Ulya cemburu. Erlita adalah teman perempuan yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Fatih. Fatih enggan untuk mengangkat teleponnya, ia hanya memandangi handphonenya. Dan untuk panggilan keduanya Fatih baru mengangkat teleponnya. “Halo Er, ada apa ya?” Tanya Fatih agak dingin. “Temenin aku keluar ya malam ini”, dengan nada manja. “Sorry Er, aku gak bisa masih ada kerjaan”, Fatih mencari-cari alasan. “Masa sih udah jam segini pekerjaan kamu belum selesai juga? Ayolah Tih sebentar aja”, Erlita terus merengek. “Maaf Er, aku benar-benar gak bisa”, Fatih menutup teleponnya. Ini kali pertama Fatih menolak ajakan Erlita, sebelumnya Fatih selalu menuruti apa yang Erlita ingini. Wajar saja apabila Ulya cemburu dengan Erlita. Kekasih mana yang tak cemburu melihat pacarnya lebih senang menghabiskan waktu dengan perempuan lain. Tetapi, Fatih menganggap ini hal biasa, karena Ia selalu mengatakan bahwa Erlita adalah sahabatnya. Fatih tidak sedikitpun mempedulikan perasaan Ulya. “Kita baru menyadari seseorang itu begitu berharga, ketika ia sudah tidak ada di samping kita lagi. Maafkan aku Ulya, udah meggoreskan luka di hatimu. Maaf”, ucapnya lirih.

Setahun kemudian…
Setelah sholat subuh Ulya keluar menuju balkon kamar. Ia ingin menikmati suasana subuh hari yang masih sepi dari lalu lalang kendaraan. Lantunan ayat suci terdengar begitu syahdu tak jauh dari kamarnya, membuat hati Ulya terenyuh mendengarnya. Matanya menerawang ke langit, bintang-bintang masih bertaburan dengan sinarnya. Tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipinya. Ulya teringat seseorang yang pernah singgah di hatinya yaitu Muhmmad Fatih. “Entah kenapa akhir-akhir ini aku sangat merindukannya?”, tanyanya dalam hati. “Udah setahun gak barengan tetapi kamu enggan pergi dari hati dan pikiranku”, ucap Ulya lirih. “Kenapa kamu selalu mengangguku dari dulu hingga sekarang Fatih”, Ulya tak dapat menahan tangisnya. Ia larut dalam kesedihan dengan rindu yang membuncah di hati.

Pagi-pagi sekali Ulya sudah rapi mengenakan longdress siffon berwarna peach dengan hijab birunya. Ia akan menghadiri akad nikah sahabatnya Aisyah. Ia dipercaya menjadi mc. Ulya sangat senang karena terlibat dalam peristiwa yang paling bersejarah bagi sahabatnya itu. “Ok udah rapi saatnya berangkat”, senyumnya mengembang. Ulya menyalakan motor bebek kesayangannya. “Bismillahirrahmaanirrahiim.. Bismillahi Tawakaltu Alallah Laa Hawla Walaa Quwwata Illabillahi”, Ulya siap meluncur. Sesampainya di rumah Aisyah, Ia disambut dengan ramah oleh keluarga besar Aisyah. “Assalamualaikum..”, Sapa Ulya lembut. Semua yang ada disana menjawab serentak salam dari Ulya. Mata Ulya mengitari di sekitarnya, Ia mencari orang yang dikenalnya. Terlihat wanita separuh baya keluar dari kamar depan, Ulya segera menghampirinya. “Assalamualaikum Bu”, Salam Ulya lembut dengan seutas senyuman sambil menyalami. “Eh Nak Ulya Wa’alaikumsalam”, tersenyum ramah. “Sini duduk Nak”, Ibu Aisyah mempersilahkan duduk. “Iya terima kasih Bu”, Ulya tersenyum. “Ini kenalkan Ibu Siti dan Ibu Eri, mereka adalah tante-tantenya Aisyah”, Ibu Aisyah memperkenalkan satu persatu yang ada di dekatnya. “yang ini namannya Fira, Erika, dan Putri mereka saudara sepupunya Aisyah”, Ibu Aisyah melanjutkan. Ulya tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya. Semua kelurga Aisyah sangat ramah kepadanya. “Ini Ulya sahabat Aisyah dan sudah saya anggap seperti anak sendiri”, memegang pundak Ulya. Ulya membalas memegang tangan Ibu Aisyah. “Iya Ibu ini sudah seperti Ibu sendiri, karena semanjak tinggal jauh dari orangtua dan keluarga saya tidak ada keluarga disini. Aisyah dan Ibu ini adalah keluarga saya”, Ulya memeluk erat Ibu Aisyah. “Selamat datang di keluarga kami ya Ulya”, Tante Siti tersenyum ramah. “Keluarga Kak Aisyah, berarti keluarga kami juga.” “Terima Kasih ya Tante”, Ulya tersenyum dengan mata sedikit berkaca. Ia terharu dengan kata-kata Tante Siti. “Kapan-kapan Ulya main ke rumah ya.” “Insya Allah.. Ulya akan main ke rumah Tante.”

Akad nikah telah selesai dilaksanakan, acaranya berjalan lancar dan hikmat. Mulai hari ini Aisyah sudah resmi menjadi seorang istri. “Selamat ya Aisyahku sayang, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dan semoga kelak dianugerahkan anak-anak yang sholeh dan sholehah”, sambil memeluk Aisyah. “Aamiin.. Terima kasih ya Ulyaku sayang, semoga cepat menyusul”, Aisyah menggoda sahabatnya. Ulya hanya tersenyum. “Kok hanya tersenyum, diamini dong”, Aisyah terus menggoda Ulya. “Iya Aisyah aamiin”, Ulya mengiyakan perkataan Aisyah. “Gitu dong, kan enak dengernya”, Aisyah tertawa kecil. Ulya asyik mengobrol dengan Tante Siti. Tante Siti orangnya ramah, Ulya langsung bisa akrab dengan beliau. Tante Siti menceritakan putra ketiganya yang sampai sekarang belum juga mau menikah. “Tante bingung dengan anak ketiga Tante yang sampai sekarang juga belum menikah, padahal ia udah mapan loh Nak. Tante coba memperkenalkan dengan anak teman Tante, tetapi ia selalu menolak”, jelas Tante Siti. Ulya serius mendengarkan cerita Tante Siti. “Hmm.. mungkin anak Tante sudah punya seseorang yang spesial jadi ia tidak mau kalau harus dijodohkan”, Ulya tersenyum. “Tetapi kenapa ia tidak mau memperkanalkan dengan keluarga. Tante tidak pernah menentukan kriteria untuk calon mantu Tante, yang penting ia gadis yang sholehah”, Tante Siti penuh pengharapan. “Mungkin anak Tante menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, sabar aja ya Te”, Ulya meyakinkan Tante Siti. “Aamiin.. semoga aja ya Nak Ulya”, beliau mengaminkan. “Maaf Nak Ulya, boleh Tante bertanya?” “Tentu boleh Tante, mau tanya apa ya?”
“Nak Ulya sudah bekeluarga?” “Hehe.. belum Tante”, Ulya nyengir gak jelas. “Tante doain semoga Nak Ulya menemukan suami yang sholeh”, Tante Siti tersenyum lembut sambil mengelus pundak Ulya. “Aamiin.. Terima Kasih Tante”, Ulya balas terseyum. Cukup lama Ulya dan Tante Siti mengobrol, tiba-tiba terdengar suara yang memberi salam. Saat bersamaan Ulya beranjak dari duduknya karena dipanggil Aisyah untuk berfoto. “Assalamulaikum Mi”, sambil mencium tangan Tante Siti. “Maaf telat, tadi ada kerjaan mendadadak”, jelasnya singkat. “Wa’alaikumsalam.. Iya gak papa Bang. Kamu itu hari libur aja masih ada kerjaan”, Tante Siti menggelengkan kepalanya. “Sorry ya Ummiku Sayang, gak lagi deh”, nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Sudah duduk sini di samping Ummi.” “Ok Boss”, Fatih menyipitkan sebelah matanya.

Setelah berfoto, Ulya kembali menghampiri Tante Siti. Tetapi tinggal selangkah lagi menuju Tante Siti, langkahnya terhenti. Fatih beranjak dari tempat duduknya melihat sosok yang setahun ini dicarinya. “Nak Ulya sini, kok diam aja sih disitu”, Tante mengajak Ulya. “Iya Tante”, Ia tersenyum getir. Ulya menundukkan pandangannya, sementara Fatih terus menatapnya. “Nak Ulya ini anak Tante Muhammad Fatih”, Tante Siti menggandeng tangan Fatih. “Abang, ini Ulya sahabat adikmu Aisyah.” Fatih dan Ulya terdiam membisu tak bergeming sedikitpun.

Seseorang yang sangat Ia rindukan, kini berada tepat di hadapannya. Ulya benar-benar tidak percaya. Ulya mendekapkan kedua tangannya di dada, begitu juga dengan Fatih. “Assalamualaikum Ukhti, apa kabar?” Fatih memecah keheningan. “Alhamdulillah aku sehat kok Tih,” Ulya tersenyum getir. “Kalian udah saling kenal?” Tanya Bu Siti. Ulya mengangguk pelan. “Ya sudah kalian ngobrol dulu Ummi mau ke Aisyah sebentar,” seraya meninggalkan Fatih dan Ulya.

Fatih dan Ulya benar-benar bingung, satu lebih tidak bertemu membuat mereka merasa canggung. “Kamu sekarang sudah berhijab ya?” Fatih tersenyum. “Alhamdulillah,” jawab Ulya singkat dengan senyuman. “Kamu apa kabar?” Ulya sesekali melihat ke arah Fatih. “Alhamdulillah aku juga baik,” Fatih menatap Ulya dalam. “Maaf,” Fatih dan Ulya bersamaan. Ulya memandang ke arah Fatih, seketika itu pandangan mereka bertemu, tetapi Ulya buru-buru menundukkan pandangannya begitu juga dengan Fatih. “Ya udah kamu duluan aja,” Fatih mempersilahkan Ulya untuk meneruskan ucapannya terlebih dahulu. Ulya menghela nafas panjang, mengendalikan perasaannya yang tidak menentu. “Maaf waktu itu aku gak pamitan langsung sama kamu, hanya lewat surat. Sekali lagi maaf ya, “Ulya tersenyum lembut. “Gak apa-apa kok Ul, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu,” Fatih membalas senyuman Ulya. “Maaf untuk apa?” Ulya mengernyitkan dahinya. “Maaf, karena aku gak bisa jaga perasaan kamu, aku sudah buat kamu terluka dengan sikapku dan tentang Erlita aku gak ada hubungan apa-apa kok sama dia kita hanya temenan,” Fatih mencoba meyakinkan Ulya. “Fatih kamu gak perlu menjelaskan ini, kamu berhak dengan dirimu sendiri. Kamu berhak berteman dengan siapapun, kamu berhak menjalani hidupmu seperti apapun menurut kemauanmu. Kamu gak bersalah Fatih, aku yang salah karena udah biarin kamu hadir di hidupku. Seandainya saja dulu aku bisa bersikap lebih tegas, pasti gak kan begini jadinya,” Ulya tersenyum. Fatih tersentak dengan kata-kata yang diucapkan Ulya. “Jadi kamu nyesel aku hadir di hidup kamu?” Fatih merasa bersalah. Ulya hanya diam tidak langsung menjawab, ia memandang Fatih tergurat kecemasan di wajahnya. “Kamu kok serius banget sih, hihihi..” Ulya cekikikan. Membuat Fatih merasa heran. “Tadi itu hanya kata-kata di cerpen yang pernah aku baca. Kamu tau gak, pertemuan atau pun sesuatu yang terjadi dihidup kita tidak ada yang kebetulan semuanya sudah diatur Allah, jadi mana mungkin aku menyesal dengan sesuatu yang sudah Allah takdirkan.” “Makasih ya Ul,” Fatih tersenyum lega. “Jadi permintaan maaf aku, diterima gak?” Fatih menaikkan alisnya. “Iya iya aku terima permintaan maaf kamu,” dengan melemparkan seutas senyuman. “Makasih ya Ul,” senyum Fatih merekah. Ulya menganggukkan kepalanya. “Ya Allah, terima kasih akhirnya kau izinkan aku untuk melihat senyumannya lagi,” Ucapnya dalam hati.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ummi Khairunnisa
Facebook: Ummi Khairunnisa

Cerpen Maaf (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ruang Kehampaan

Oleh:
Hidup bagai ruangan yang hampa. Tanpa seseorang yang kita sayang. Hidup bagai ruangan yang hampa. Penuh tekanan, kekangan, paksaan. Selasa pagi, gerimis masih saja datang dan terpaksa aku harus

I’m Lucky

Oleh:
Aku mengendarai sepeda motor kesayanganku dengan kecepatan penuh. Bagai kendaraan tempur bertenanga turbo, aku melaju membelah jalanan kota kelahiranku ini. Aku memasuki pelataran parkir yang sudah penuh dengan motor

Miracle

Oleh:
Putih… Balutan putih tenang Bergeming, Terpaan angin menggoda Bergeming, Tangan rengkuh menggapai haru Bergeming, Langkah kakinya kian mereda, jauh dari kata cepat. Kaki jenjang itu menghentak tanah dengan keras.

Permusuhan Itu Terulang Kembali

Oleh:
Anjani terdiam. Termangu menatap sahabatnya Mulyani yang sudah meninggalkanya. Tiba-tiba air mata Anjani menetes. Tiba-tiba ia teringat oleh masa lalunya ketika dia bermusuhan dengan Mulyani karena suatu hal lagi-lagi

Nyata di Hatiku

Oleh:
“Stella…” Suara itu membangunkanku dari mimpiku yang begitu indah. Aku meregangkan tubuhku sejenak dan kulihat orang yang sedang memanggilku. Astaga betapa kagetnya aku setelah melihat orang yang ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *