Mahkota Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Mobilku berjalan membelah gelapnya malam, jikapun bulan dan bintang keluar, pasti akan kembali membetulkan selimutnya dan berbaring di peraduannya, hujan lebat disertai angin kencang, akan membentuk dingin yang bisa menusuk siapapun yang keluar rumahnya. Semua terlihat gelap hanya sebagian yang menggunakan lilin, mungkin ada aliran listrik yang putus, disebabkan cuaca yang begitu ganas.

Terlihat samar di sana seorang melangkah gontai, rambutnya basah kuyup, begitu juga kaos hitam dan celana jeans yang ia kenakan. Sepertinya aku mengenalnya? wajahnya terkena sinar lampu mobil, dia sedikit memenutup mata dengan tangannya. tak salah lagi dia sahabatku, ferdi. Kubuka pintu mobil, untuk mengantarnya pulang.

“Tak perlu, aku bisa pulang sendiri. Apa lagi tubuhku basah.” Dia menolak dengan suara parau.
“Dari pada nanti kamu sakit, ayo cepat masuk apalagi sudah malam begini.” Ujarku berusaha meyakinkan.

Ahirnya dia mau, walau sedikit ragu ketika duduk dengan tubuhnya yang basah kuyup. Badannya gemetar, tanganya merangkul tubuhnya sendiri, nafasnya seperti orang tersedu-sedu. kuberikan jaket untuk membantu mengurangi dingin.

“Dari mana?” tanyaku mencoba menghidupkan suasana.
“D.. dari ru..mahnya paman.” jawabnya gugup sembari menghembuskan nafas. Mungkin dia kedinginan. Aku tidak bertanya lagi setelah itu, kuputar arah mobil, menuju rumah Ferdi. Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda, terakadang cahaya putih sekedip mata mencambuk malam, seakan ada petir yang akan menyambar, menambah suasana menjadi makin ganas.

Mobilku berhenti di halaman rumahnya, tanpa mengucap sepatah kata pun, Ferdi keluar dan meninggalkan jaket di jok mobil, dia berjalan sedikit pincang memasuki rumah bak istana, seakan tak mempedulikan hujan melumuri tubuhnya. Cuaca semakin dingin. Jaketku sedikit basah, jadi, aku hanya menghirup nafas dalam dan menghembuskannya dengan mulut, sekedar mengurangi tusukan angin malam. Cepat-cepat kuputar arah mobil, untuk pulang, agar bisa bersembunyi di bawah selimut hangatku.

Sedikit ke utara dari tempa Ferdi tadi, ada rumah tua. konon, rumah seperti gubuk itu sudah ada sejak zaman belanda, dan menjadi markas bagi para koloni untuk memuaskan nafsunya. Bagaimana tidak membuatku merinding? di depan rumah itu ada seorang wanita berambut lurus, kerudung putihnya ia kalungkan di leher, seluruh tubuhnya basah kuyup, dan ada bercak darah di sebagian bajunya. Tapi syukurlah dia berlari ke belakang gubuk itu setelah melihat mobilku. Kuinjak gasnya sedikit agak cepat. ingin segera sampai di rumah dan bercerita dalam mimpiku.

Satpam membukakan pintu gerbang dan menyediakan payung untukku, terkadang aku kasihan melihatnya diguyur hujan, dan payungnya tak pernah ia pakai sendiri. ya, sekali-kali kuajak satpam itu bersamaku, berteduh di bawah payung berukuran sedang. Berlari kecil bersama satpam itu hingga sampai di teras rumah, kuserahkan payung itu, sembari memerintahnya mengganti pakaian dan segera tidur, jangan lupa kunci rapat gerbangnya.

Di kamar kurebahkan tubuh, menghembuskan nafas perlahan, tiba-tiba aku teringat lagi pada Putri, aku bangkit namun bingung mau ke mana, kucoba menghubunginya lagi, hmz.. handphonnya masih mati, hatiku semakin gelisah. Sebenarnya aku barusan dari rumahnya, dia tidak ada di rumah. “Putri sedang ada di rumah temannya” begitu kata ibunda Putri, calon mertuaku. Tadi Putri hanya membalas pesanku dengan singkat. “tunggu sebentar” setelah itu handphonnya mati, karena cuaca mau hujan aku pamit pulang pada ibunya dan hanya nitip salam.

Kucoba menghubungi orangtuanya mungkin saja dia sudah di rumah.
“Tut… tut… tut…” nada semantara dari hpku. “kleks…” diujung sana sudah terangkat.
“assalamualaikum?” aku memulai pembicaraan.
“waalaikum salam.”
“apa Putri sudah pulang bu?”
“Iya, ini baru datang.”
“hm.. syukurlah, bolehkah…” suaraku terpotong. “tuuuuuts” pasti pulsanya sudah habis. Seketika wajahku memerah, malu pada calon mertua. Tapi tak apa lah, jikapun ditanya, nanti jawab saja sejujurnya. Paling beliau Cuma tersenyum.
P
utri. Matanya yang coklat bening, kulitnya putih bersih. ah, dia begitu indah tuk kuungkapkan, dan dua hari lagi kita akan menikah, aku tak bisa membayangkan bagaimana senyumnya nanti dengan gaun pengantin. entah apa saja yang kubayangkan, hingga aku tertidur di pangkuan mimpi.

Lagu cinta masih mendayu-dayu dari salon didepan rumah. Tamu-tamu sudah mulai berkurang. Aku melangkah santai menuju kamar, dada berdegup kencang, aku berhenti sebentar di depan pintu mencoba mengatur nafas, yang kubayangkan iyalah kamar dengan hiasan bunga nan indah, disertai wangi parfum yang mewah, dan Putri sudah menunggu dengan senyumnya.

Perlahan kubuka pintu. Seketika wajah ceriaku berubah menjadi kusam, kulihat Putri tengah tertunduk, airmatanya meleleh. Aku masuk dengan sedikit penasaran, ketika menutup pintu dia mendongakkan kepala, matanya yang basah tertuju padaku. Dia bangkit dari duduknya lalu berlari memeluku. Kubiarkan dia menumpahkan seluruh kesedihannya.

”Maaf.” Ucap Putri disela isak tangisnya.
“apa maksudmu? memangnya kamu kenapa? apa salahmu sehingga harus minta maaf?”
“Aku. Aku tidak bisa menjadi istri seperti yang kamu inginkan. Aku tidak bisa menjaga kesucianku.”
Aku terkejut, kulepaskan pelukannya. Air mataku juga ingin menetes namun kutahan.
“siapa yang melakukannya Put? kenapa kamu baru bilang sekarang?” ucapku sedikit kecewa.
Tangisannya semakin menjadi, bibirnya gemetar seakan tidak bisa menjawab. Aku duduk di ranjang, meninggalkannya yang masih tertunduk menangis di depan pintu. Lalu dia bangkit dan duduk di sampingku sambil menatapku dengan linangan air matanya.

“kamu boleh memarahiku, kamu boleh memukulku. tapi tolong, jangan bilang sama ibu.” suaranya sambil terisak. Aku hanya diam, jika kuambil keputusan sekarang pastilah bernada amarah, dan akan berujung penyesalan.

“malam itu, aku pulang dari rumah temanku. Kuhentikan sepeda Tepat di depan bangunan tua, sejenak untuk membalas sms-mu. Tiba-tiba seseorang menyeretku ke dalam bangunan itu dengan paksa. Aku tak berdaya melawan, jeritanku sia-sia tidak ada seorangpun di sana. aku pasrah. Mulutku diikat dengan kerudung, aku semakin tidak berdaya. Aku sudah berfikir untuk mati saja dari pada hidup dalam kehinaan.”
“namun beruntung Ferdi datang dan menghajar pria bertopeng itu. Aku merasa tenang karna ada yang menolong. Tapi tidak lama, setelah pria bertopeng itu tergeletak, Ferdi mendekatiku dengan wajah buas, aku beringsut mundur. Aku memohon agar tidak melakukannya, tapi jiwanya sudah dikuasai oleh nafsu binatang. Ketika aku hendak berteriak dia cepat-cepat menutup mulutku hingga aku tidak sadarkan diri.”

Air mataku meleleh seakan-akan aku merasakan ketakutannya saat itu.
“maaf. maafkan aku, aku telah mengabaikan nasehatmu, agar tidak keluar rumah sepuluh hari sebelum pernikahan kita. Aku sudah melanggarnya. Sekarang aku menanggung akibatnya. Malam itu ketika aku bangun sudah tidak mengenakan busana. Terkejut. Segera kukenakan baju dan berlari keluar, kubersihkan darah yang melumuri tubuh dan pakaianku di bawah hujan sangat deras.”
“sudahlah, ini bukan salahmu.” Kupeluk Putri sambil berkata lirih ditelinganya. “kita pastikan dulu, apakah kesucianmu sudah direnggut Ferdi atau tidak? jika memang iya. Kemas bajumu aku akan mengantarmu pulang. Dan nikahilah Ferdi. Karena aku tidak mau anak yang lahir dari rahimmu adalah anak zina. Ini juga karena kamu tidak mengindahkan nasehatku. jangan keluar rumah sendiri, apalagi pulang sampai larut malam.”

Ponselku berdenyit, kulepaskan pelukanku. Aku mengisyaratkan pada Putri agar tidak menampakkan isak tangisnya. Kulihat layar ponsel, dari nomor tidak dikenal. Aku mencoba tenang dulu lalu menerimanya.

“iya.”
“iya.”
“apa?”
“tuuts.” Di ujung sana telah ditutup. Kulihat Putri raut wajahnya tampak penasaran.

“ada apa?” tanya Putri sembari mengusap air matanya.
“Ferdi. Dia… dia bunuh diri.” Ucapku lirih. “Kamu tetap di sini, aku akan pergi ke rumah ferdi.” Putri hanya mengangguk.

Kulihat jam tanganku, jam sebelas malam. Orang-orang mengerumuni rumah Ferdi, beberapa polisi mengurus mayatnya, sebagian yang lain juga dibantu warga menenangkan ibunya yang histeris. Aku di antara kerumunan masa yang hanya melihat dari jauh, di luar garis polisi. Selang beberapa saat ada yang menepuk pundakku. Aku menoleh, seorang perempuan bercadar hitam. Dia mengisyaratkan agar ikut dengannya. Dia berjalan menjauhi khalayak ramai. Aku mengikuti di belakangnya. Di tepi jembatan suasana memang sepi hanya kita berdua.

“malam itu, aku meminta Putri datang ke rumahku. Aku memintanya menemani memecahkan masalah yang kualami. Karena sudah tiga hari suamiku pergi tanpa kabar. Aku sudah tidak sanggup menahannya sendiri.” Dia bercerita sambil menghadap ke hulu sungai. Aku hanya diam mendengarkan.
“setelah Putri pulang kak Ferdi juga datang ke rumah, dia menanyakan suamiku, emosinya tak terkendali setelah tau suamiku tidak pulang semenjak tiga hari. Aku sempat mendengar bahwa dia akan membunuh suamiku kalau sampai ketemu, yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri. Dia menutup dengan keras lalu pergi membawa emosi singa, yang akan menerkam apa saja di hadapannya.” Dia berhenti, tangisnya pecah. Kutatap matanya.

“Indri?” dia mendongakkan kepala melihatku, Perlahan melepas cadarnya. Kutatap untuk meyakinkan lalu berhambur memeluknya. “ke mana saja kamu selama ini? sudah dua tahun kamu tidak memberi kabar. Waktu itu kamu bilang sudah bahagia dengan suamimu, jadi aku tidak menghawatirkanmu.”
“maafkan aku kak.” Tangisnya semakin menjadi-jadi. “maafkan aku kak, aku dilarang oleh suamiku untuk menghubungi kakak.” Pelukannya semakin erat.
“Sekarang di mana suamimu?” kulepaskan pelukannya.
Indri hanya menggeleng. Lalu dia mengeluarkan surat dari sakunya. “dari kak Ferdi. Tadi siang dia nitip untuk diberikan pada kakak.” Dia menyerahkan surat itu. Kuletakkan dalam saku untuk kubaca di rumah nanti. “bolehkah aku sekarang tinggal di rumah kakak?”
“tentu saja rumahku selalu terbuka lebar untukmu Dri.” Ucapku sembari tersenyum. “insya allah besok aku temani mencari suamimu.” Dia menggeleng. “Atau, kamu ingin mem-fasakh tali pernikahan dan menunggu iddah-mu selesai?”
“tidak perlu.” Jawab Indri tersenyum. “selama dua tahun aku tidak pernah diperlakukan selayaknya istri, dia selalu membanding-bandingkanku dengan mantan pacarnya. bahkan suamiku selalu mengurungku dalam kamar. Aku bagaikan tahanan rumah.”
“Alangkah menderitanya hidupmu Indri. Andai kakak tau pasti akan menjemput adik cantik satu-satunya ini untuk pulang.” Aku membalas senyumnya. “sebaiknya kita pulang sekarang.” Lalu aku menelepon sopirku yang masih menunggu di halaman rumah Ferdi.

Mobilku berjalan perlahan menyusuri jalanan sepi, kulihat Indri sudah tertidur di kursi belakang, mungkin dia kecapean. Kuraih surat tadi dalam saku. Kubaca dengan teliti, Terkadang aku terkejut, terkadang aku tersenyum. Ketika sampai di bangunan tua itu aku memerintahkan sopirku berhenti sejenak. Kulihat sumur di depannya sudah tertimbun barang rongsokan, batu dan tanah. Aku masuk ke dalam melihat setiap sudut bangunan itu. Masih tercium bau anyir darah yang melekat di bagian dinding dan lantainya. Tak lama aku kembali ke mobil, mengambil persediaan bensin di bagasi. Aku siramkan mengelilingi bangunan kayu itu. Dan langsung aku bakar. Agar kejadian itu tidak terulang lagi pada siapapun. dan kubiarkan api itu melahap mentah beserta semua peristiwa dan kenangan atau apapun yang melekat di rumah itu.

Kulihat jam tangan Sudah jam satu dinihari, aku meminta sopirku untuk segera meluncur pulang. Kulihat wajahnya juga sudah mengantuk.

Sesampainya di rumah aku bangunkan Idri, dan memberitahu kamarnya di dekat tangga. Aku sendiri ke lantai dua menuju kamarku yang sudah dihias oleh bunga. Kulihat Putri sudah tertidur dan masih mengenakan baju pengantin, bukankah ini yang aku bayangkan dulu. Kulepas kerudungnya dan membelai rambutnya sembari berdoa. Kucium keningnya dengan penuh cinta. Inikah cinta yang sesungguhnya? Mencintai seseorang yang sudah halal untukku.

Aku kembali membuka surat itu, ingin membacanya lagi serta meyakinkan. Sedang hatiku terus berdzikir menyebut keagungan allah.

Untuk sahabat lamaku
Jika lembaran ini sudah di genggamanmu, maka kamu tak perlu takut lagi. Maafkan aku, dulu aku telah dikuasai oleh jiwa binatang, hingga lupa pada mutiara temanku sendiri. Dan malam itu pula aku telah melakukan beberapa dosa besar, disaksikan oleh derasnya hujan di dalam gubuk tua itu. Aku telah membunuh orang yang hendak melukai Putri, yang tak lain adalah mantan pacarnya, dia suami Indri, adik kandungku sendiri. Dan aku melempar mayatnya ke dalam sumur lalu menimbun dengan barang seadanya.

Namun aku sendiri terpikat oleh keaanggunan Putri. Ketika hendak melukainya, aku teringat akan kebaikanmu, aku teringat jasa-jasamu terhadap keluargaku, kalau bukan karenamu mungkin aku tidak pernah duduk di bangku SMP, dan kau terus membiayai hidupku hingga aku lulus S2. Dan kamu pula yang telah mencarikanku kerja, hingga aku dan keluargaku bisa hidup dengan layak. aku teringat bahwa Putri adalah tunanganmu. Aku merasa sangat berdosa sekali. Saat itu aku bangkit dan segera pulang menembus derasnya hujan. Dan kembali hatiku merasa sangat bersalah, karena kamu masih mengantarku pulang, padahal aku sudah menyentuh mutiaramu. Tapi aku masih bersyukur tidak sampai menodai mahkota cintamu.

Cerpen Karangan: Miftahul Anam
Facebook: Zauhirl Aqrof

Cerpen Mahkota Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


5 meter

Oleh:
Sak.. kau mulai lagi menatapku, masih menatap dengan tatapan yang sama. Tatapan yang terus menyakitiku. Sekian lama aku mencoba melupakan tatapan itu, kini kau hadir kembali masih dengan tatapan

Aku dan Ceritaku

Oleh:
Namaku Aditya Prahasta, hobiku menggambar. Saat menggambar aku hampir sering lupa waktu. Itu membuatku jarang bersosialisasi dan membuatku hanya punya sedikit teman atau sering kusebut sahabat. Aku seorang pemalu

My Last Star

Oleh:
“ahh… capek” kuhempaskan tubuhku di atas kasur kesayanganku. Hari ini Sungguh hari yang sangat melelahkan buatku, bukan hanya secara fisik. Tapi juga secara emosionlku benar-benar terkuras di pesta tadi.

Rinduku

Oleh:
Kerinduan ini membuat detik, menit, jam dan hari menjadi bisu rasanya. Aku bangun tapi tak tahu ini pagi, siang, sore atau malam. Seperti ditelan oleh kebisuan yang luar biasa.

Viko!, Come Back Please

Oleh:
Pagi ini pagi yang kutunggu tunggu setelah berlibur selama 2 minggu, akhirnya aku pun kembali ke sekolah. Ingin sekali aku bertemu dengan sahabatku di sekolah Viko. Dia murid pindahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *