Malam di Ujung Lombok

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Budaya, Cerpen Cinta, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 29 November 2018

Dari dek kapal kulihat birunya laut tak terbatas, sedang burung-burung terlihat berterbangan hilir mudik berpasang-pasangan. Mentari setia dengan selalu terangi keindahan siang. Angin berlomba untuk mengitari setiap lekuk yang ada di permukaan bumi. Semua terlihat sempurna, nikmat Tuhan yang tak dapat dielak oleh mata.

Ah, memandang indahnya alam buatku jadi teringat dengan keindahan gadis yang bertemu denganku di forum diskusi nasional sebulan lalu. Matanya selalu berbinar, seakan berkata aku selalu bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan kepadaku hari ini. Dari rona pipinya tergambarkan iman yang melekat di hatinya. Bibirnya merah semenarik setiap kata yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya yang dibalut gamis hijau yang longgar namun serasi, itu semua buatku terpukau dan menyimpan ketertarikan padanya.

Hanya tinggal beberapa jengkal lagi, mimpiku terwujud. Kalau tak kareda adat yang harus dilaksanakan mungkin kali ini aku sedang bersama orangtua dan seperangkat hantaran dari Jawa. Yah adat Lombok, dimana seorang pemuda harus menculik dahulu gadis yang ingin dipinangnya. Penculikan tersebut haruslah sepenuhnya layaknya penculikan. Bedanya hanyalah si gadis yang akan diculik sudah tahu tentang hal tersebut karena sudah dihubungi pemudanya.
Namun yang masih menjadi ganjalan, aku merasa tak etis saja jika aku harus masuk ke kamar seorang gadis yang belum ada ikatan apapun denganku, lalu membawa pergi tanpa sepengetahuan walinya. Padahal di dalam agama itu dilarang. Tetapi di sisi lain pula, Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budayanya. Sehingga tak dapat dipungkiri banyak terjadi perpaduan antara agama dan budaya di negeri ini.

“Ahhh” kuhentikan lamunanku tentang semua itu.
Teeet, teeet, teeet! Peluit berbunyi tanda kapal sudah sampai di pelabuhan.
“Ki, ayo turun!” ajak Farid kepadaku.
“Ayuh” jawabku singkat.
“Subki, kamu pasti sedang bingung ya, gimana caranya untuk menculik gadis itu?”
“Ah sok tahu saja sampean ini.” jawabku mengelak
“Lah itu buktinya kamu aneh dari tadi diam saja. Tak seperti biasanya selalu ada diskusi tentang agama.” bela Farid.
Aku meringis kikuk tanpa jawaban, sambil melangkah dan tertawa dalam hati “Halo Lombok, kan kujemput tulang rusukku.”

Waktu telah menunjukkan jam 12 malam. Nampaknya semua insan sudah asyik bermain di dalam mimpinya. Hanya lampu-lampu jalan dengan sinar temaram yang masih setia terjaga. Jantungku berdegup tak karuan ketika sudah menginjakkan kaki di emperan rumahnya. Serasa habis lari marathon, atau bahkan lebih dari itu. Kuabaikan.

Dengan langkah pelan kususuri pekarangan rumahnya, ke samping lalu ke belakang. Sebisa mungkin tanpa suara ketukan atau geseran apapun itu. Tubuhku mengendap-endap takut kalau ada yang melihat aksiku. Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada jendela bertirai merah, aku tersenyum bahagia. Dunia akhiratku akan kutemui hanya dengan selangkah lagi.

Kree..tt jendela yang kubuka dengan pelan ternyata masih menimbulkan suara. Sekejap aku panik, setelah memastikam semua baik saja lalu aku melanjutkan membuka gorden merah itu. Kulihat seorang gadis tertidur, sangat manis. Lekas-lekas aku masuk ke kamar itu, Kamar dengan dinding di bawah jendela yang hanya berukuran sekitar setengah meter, tentu semua orang bisa dengan mudah melompatinya.

Pelan-pelan kudekati dia, lalu kududuk di tepi ranjangnya. Kutatap dalam-dalam wajahnya dari dekat, dan sangat dekat. Dalam keadaan tidur pun cantik parasnya tak berkurang. Ingin sekali rasanya aku membelainya. Agar dia merasa hadirku saat ini.
Atau malah sebenarnya dia lupa, bahwa malam ini seharusnya merupakan awal sejarah hidupnya yang baru? Buktinya dia sudah terlelap seolah tak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Tetapi mana mungkin dia lupa, sedang jendela dapat kubuka dengan mudahnya. Tinggal kutarik sisinya langsung terbuka.
Aku kikuk, aku takut dia terbangun dan berubah pikiran. Dan mungkin tak mau pergi bersamaku.

“Subki!” tiba-tiba kudengar suaranya menyebut namaku. Namun suara yang merdu melebihi nyanyian bidadari itu tetap tidak mengurangi keterkejutanku.
“Laila.” balasku.
Benar ia merasakan kehadiranku. Ah, tiba-tiba saja aku ragu untuk mengajaknya pergi. Dengan cepat ku berdiri dari ranjangnya, keluar dari kamar itu dan berlari. Jauh, jauh, dan jauh. Jauh dari mimpiku, jauh dari cintaku.

“Kamu ini bagaimana? Bunga yang selama ini kau harapkan untuk menghiasi ruang hatimu sudah di pelupuk mata. Lantas kau siakan begitu saja.” tegur Farid padaku.
“Aku takut tak dapat membuat kuntumnya selalu bermekaran.”
“Lalu untuk apa jauh-jauh kau seberangi pulau jika akhirnya mimpimu kau tanggalkan?”
“Aku juga tak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan, begitu bodohnya aku.” jawabku dalam hati

Bunyi telepon genggam dengan nada petir menandakan ada pesan yang masuk. Kupencet keypad yang sudah hilang simbol-simbolnya itu karena termakan waktu. Aku tersenyum ketika membaca nama pengirim pesan itu. Namun seketika tulang-tulangku seperti terlepas dari tempatnya ketika mulai kubaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.

Dari: Laila
Assalamu’alaikum
Kakak, maaf tadi malam ari tertidur. Begitu ari bangun, ari sebenarnya kaget karena kakak sudah duduk di sisi ranjang ari. Namun, begitu ari bahagia ketika karena kakak sudah datang. Namun ari bingung kenapa kakak lari begitu saja.
Ah sudahlah, ari hanya mau mengabarkan kalau tadi sebelum subuh ada seorang pria yang menelepon ari. Ari dan orang tua ari telah lama mengenalnya. Ia bilang kalau malam ini akan menculik ari. Ari tak dapat menolaknya karena beberapa pertimbangan. Jika kakak benar-benar ingin menjadikan ari teman hidup kakak, ari harap kakak nanti malam untuk kembali ke rumah ari. Demi ari, demi kita. Dan ari harap pria itu tak mendahului kakak.
wassalam

Mendung seketika tampakkan diri pagi ini, bersama lidah-lidah petir yang mampu patahkan hati, patahkan diri. Mendadak ada segumpal perih yang mengganjal di dada ini. Membuat semua terasa sesak, suram dan muram.

Kuberanjak untuk mengambil sebasuh wudhu, kusujudkan akalku, egoku, hatiku. Kuserahkan semua di pangkuanNya. Kutumpahkan segala apa yang kualami kepadaNya. Lalu dengan sepenuhnya pengharapan ku berdo’a “Yaa Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Jika sekiranya ia baik untukku, untuk kehidupanku, dan untuk agamaku maka dekatkanlah, jika sebaliknya maka jauhkanlah! Yaa Allah ku serahkan segalanya padaMu.”

Seperti malam sebelumnya, jam 12 malam aku sudah berada di depan rumahnya. Suasananya masih sama, sudah tak ada orang yang berlalu lalang, jalanan kosong dan hanya lampu-lampu penerangan yang terjaga. Namun malam ini salah satu di antaranya selalu berkedip tak pasti, indikasi korsleting listrik, atau pertanda buruk? Ah tak mungkin. Kali ini tekadku sudah bulat. Ku mulai mengendap-endap di balik dinding rumahnya yang dingin. Sesekali kutengok kanan kiri, sampai akhirnya aku sampai di depan jendela kamarnya.

Sebelum beranjak memasuki kamarnya, tak sengaja kulihat ada dua bayangan dari pantulan lampu jalan yang bergerak menjauh, bersamaan dengan turunnya hujan yang tiba-tiba, dan lampu yang semula berkedip seketika itu mati.
“Biarlah, itu tak penting.” pikirku

Aku melompati jendela itu kembali, di atas ranjang terlihat seperti ada sesosok tubuh yang sedang tidur. Ah apakah ia tertidur lagi? Haruskah aku sekarang membangunkanmu? Ah tentu, pilihanku sudah ada padamu dan aku tak akan melewatkan kesempatan seperti kemarin. Kudekati ranjangnya. Perlahan kubuka selimut dengan motif bunga warna pink yang menunjukkan aura kegadisan itu.

Tiba-tiba saja saat kubuka selimut itu, kuteringat akan pesan orangtua tadi siang lewat telepon “Le, nek kowe yakin marang pilihanmu iku, yo jejegno tekatmu. Jangan sampai yang ke dua kalinya menyesal karena ulah sendiri.”
Lalu ucapan Farid, sahabat yang rela jauh-jauh menemaniku. “Ki, ingat kali ini harus berhasil, jangan sampai terdahului yang lain.”

Lalu dalam istikharahku, yang membimbingku sampai sini. Semua itu terus menyelusup dinding-dinding hatiku.
“Maaf Laila, aku harus membangunkanmu.” Begitu kulihat di balik selimut itu ternyata ada yang asing di mataku. Sebuah bantal guling yang berada di sana.

Cerpen Karangan: Siti Nur Aiysyah
Blog / Facebook: ay aisyah (siti nur aiysyah)

Cerpen Malam di Ujung Lombok merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setitik Harapan Gadis Lorong Kota

Oleh:
Hai perkenalkan namaku nana, aku adalah seorang gadis yang tinggal di desa terpencil dari sebuah kota. Perbedaan yang sangat mencolok di masyarakat. Dimana yang kaya diperlakukan bak seorang raja,

Cemburu Merindu

Oleh:
Bilamana terakhir kali kulihat kau tersenyum padaku? Bilamana terakhir kali kau sambut hangat teguranku? Bilamana terakhir kali kau mencegatku hanya untuk mengajakku berbicara? Bilamana terakhir kali situasi masih sama

Antara Cinta dan Kebohongan

Oleh:
Cinta adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Cinta pulalah yang melengkapi hidup manusia. Dengan cinta kita bisa merasakan rasa sakit dan juga rasa senang. Aku adalah Eni Saraswati,

Semoga Engkau Bukan Hantu

Oleh:
Banyak orang bilang kalau cowok gendut itu identik dengan kesan lucu, dan inilah yang terjadi padaku. Namaku Enggar Tri Widagdo, 2 IPA 1 adalah kelasku. Dalam suatu kelas percaya

First Love

Oleh:
Aku adaalah seorang mahasisiwi semester pertama dari salah satu Universitas yang ada di Indonesia. Aku adalah anak yang dibesarkan di keluarga yang sangat disiplin, ayah dan ibuku sangat extra

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Malam di Ujung Lombok”

  1. Muha says:

    tutur bahasanya asyik….

    endingnya terlalu cepat ketebak…

    tapi overall; cerita yang keren… mirip pengalaman dukaku 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *