Manzilah Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 18 October 2021

Dengan menumpang mikrolet jurusan Paiton aku berangkat ke Wangkal. Pagi ini aku hendak pergi ke rumah seseorang. Seorang gadis yang sudah sejak lama menghuni di dalam petala jiwaku. Jauh-jauh aku dari pulau seberang Sumatera datang ke kota kelahiranku hanya untuk menemui dirinya. Dan seperti yang telah kukatakan kepada ibuku bahwa aku akan datang ke rumahnya untuk meminang dirinya. Sejak SMP aku sudah jatuh cinta padanya. Dan aku yakin bahwa dirinya hingga saat ini tidak akan menikah dengan orang lain.

Aku duduk di bangku dekat dengan jendela. Setelah menunggu penumpang, akhirnya minibus tersebut melaju dengan anggun meninggalkan simpang empat Randu Pangger. Angin yang masuk ke dalam mobil menampar mukaku dengan keras. Lalu, aku menutup sebagian kaca kabin jendela dan menyembunyikan wajahku di balik gorden. Dalam perjalanan aku membayangkan bahwa gadis itu pasti akan menerima lamaranku. Apalagi saat ini aku sudah mempunyai pekerjaan tetap. Pekerjaan tetap adalah modal utama sebelum melamar anak gadis orang. Sebab, orangtua gadis pasti akan menanyakan pekerjaan calon mantunya terlebih dahulu. Dan aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh. Dengan mempunyai pekerjaan tetap maka aku akan mampu menghidupi anak orang yang kupisahkan dari keluarganya. Lalu, pikiranku semakin jauh mengembara ke negeri entah-berantah. Setelah melamarnya, aku akan meminangnya secara resmi dengan membelikannya sebuah cincin putih bermata safir. Setelah itu, kami baru merencanakan tentang persiapan pernikahan. Mulai dari kartu undangan, pelaminan, katering dan lainnya. Untuk kartu undangan, aku sudah berancang-ancang akan mengundang teman-teman kami di SMP. Terutama teman-teman yang pernah mengejekku biar mereka kecele. Pasti mereka akan malu atas kesuksesanku yang berhasil mempersunting gadis paling cantik di sekolah. Wah, ini pasti seru.

Sesampainya di simpang tiga Kraksaan, aku turun dari bus mikrolet. Aku menyeberang jalan. Kali ini aku harus menyambung perjalanan dengan menumpang angkot pedesaan. Maka, aku mencegat angkot pedesaan yang biasa mangkal di depan pasar. Akhirnya aku dapat. Setelah naik, angkot tersebut langsung berangkat. Dalam perjalanan, hatiku menggebu-gebu. Kebahagiaanku membuncah karena akan segera bertemu dengan sang belahan jiwa. Saat itu aku berkhayal sedang menari sambil melantunkan lagu India bersamanya di sawah yang ditumbuhi dengan hamparan padi yang telah menguning bak taburan emas. Pegunungan nan hijau di selatan sana. Burung-burung yang beterbangan di angkasa biru. Dan sungai besar yang meliuk di antara pematang sawah.

Sebelumnya, aku dulu pernah sampai di desa ini. Aku masih ingat jalannya meski sudah lewat sepuluh tahun yang silam. Kala itu, aku tidak menumpang angkot maupun bus mikrolet melainkan mengayuh sepeda. Dari kota ke sini aku mengayuh sepeda gunung dengan menempuh perjalanan 34 km atau 2,5 jam. Hanya demi gadis yang aku cinta, aku rela menempuh perjalanan sejauh itu. Bahkan selain itu aku juga pernah ketemu dengan ibunya. Tapi sayangnya, aku tidak mampir di rumahnya.

“Mau ke mana, Le?” tanya seorang bapak-bapak paro baya yang duduk di sebelahku.
“Saya mau ke Wangkal, Pak.”
“Ke Wangkal?” bapak-bapak itu mengernyitkan dahinya.
Aku menganggukkan kepala.
“Ke rumahnya siapa?”
“Ke rumah teman saya,” jawabku.
“Rumahnya siapa ya?”
“Farida.”
“Farida?”
“Apakah bapak kenal?”
“Farida putrinya Pak Jamil?”
“Kok bapak kenal? Apakah bapak tetangganya Pak Jamil?”
“Saya kenal betul dengan Pak Jamil, Le. Farida kan lulusan sarjana. Sampeyan temannya apa pacarnya Farida?”
“Saya teman SMP-nya Farida, Pak.”
“Farida anaknya Mbak Maryati, Lek?” tanya si sopir angkot ikutan nimbrung.
“Bah. Ternyata si sopir angkot juga kenal dengan orangtuanya Farida?” aku heran.

“Iya. Saya dengar-dengar Farida mau dijodohkan dengan putranya Bindereh Maksum, Cong!”
“Bindereh Maksum? Sama Fauzi?”
“Fauzi namanya? Itu lho yang nyantri di Paiton sana!”
“Iya, Lek. Namanya Fauzi. Lha adik ini siapanya Farida?”
“Saya temannya Farida, Pak.”

Dari pembicaraan kedua lelaki itu aku mendapat informasi bahwa Farida mau dijodohkan dengan seorang pemuda yang bernama Fauzi. Dan Fauzi adalah putranya seorang ustadz yang saat ini masih nyantri di sebuah pesantren yang ada di Paiton. Apakah semua yang kudengar memang benar bahwa Farida akan menikah dengan orang lain? Jika informasi itu memang benar, berarti semua rencanaku yang ingin melamar dan menikahi Farida akan berantakan semua. Tapi, sebaiknya aku harus mendatangi rumah Farida dan menemui ibunya untuk menanyakan tentang kebenaran dari informasi yang kudapat. Tapi semoga saja tidak dan hanya sebagai pemantik yang hanya mengompori telingaku saja.

Sampai di pasar aku turun dari angkot. Untuk sampai di rumah Farida yang berada di lereng bukit aku harus berjalan dengan merangkak punggung bukit. Untungnya sudah ada jalan yang diaspal bukan berupa gundukan bukit yang curam dan berbatu cadas. Selama di dalam perjalanan, bibirku tiada henti untuk bertasbih memuji nama Allah. Sebab saat itu aku memang benar-benar dirundung rasa cemas dan khawatir.

“Assalamualaikum!” aku menguluk salam di luar rumah Farida.
“Waalaikumsalam!” seorang perempuan paro baya menjawab salam dari dalam rumah.
Kemudian, seorang perempuan paro baya berkerudung muncul dari dalam rumah.
“Assalamualaikum!” aku mengulang salam.
“Waalaikumsalam! Mau menemui Farida, Le?”
“Iya, Bu.”
“Silakan masuk!”

Aku dipersilakan duduk di kursi ruang tamu. Lalu, perempuan paro baya itu juga duduk di kursi yang menghadap ke teras. Jantungku berdegup kencang saat itu karena hari ini aku duduk berhadapan dengan calon ibu mertua. Ini adalah keduanya kalinya aku duduk berhadapan dengan ibunya Farida.

“Faridanya ada, Bu?”
“Farida belum pulang dari Surabaya, Le. Masih menyusun skripsi,” jawab ibunya Farida.
“Ooo begitu, Bu.”
“Apakah kamu sudah lulus kuliah?”
“Saya tidak kuliah, Bu. Tapi, alhamdulillah saya sudah bekerja. Kerja tetap.”
“Kerja tetap? Bekerja apa itu? PNS? Guru? Pegawai bank? Karyawan toko? Petani?”
“Penulis novel, Bu.”
“Wah, hebat! Jadi, sampeyan bisa menulis cerita-cerita begitu?”
“Betul sekali, Bu.”
“Sudah berapa buku yang sudah terbit?”
“Alhamdulillah. Buku saya yang sudah terbit baru dua buku, Bu.”
“Tapi, sampeyan dapat honor ‘kan?”
“Benar, Bu. Dari penjualan buku, saya dapat penghasilan.”
“Apakah kamu sudah menikah?”
“Belum, Bu. Saya belum menikah.”

Kemudian tanpa kubertanya, ibunya Farida bercerita tentang Farida yang mau dilamar oleh anak seorang kiai kampung. Nama pemuda itu adalah Ahmad Fauzi. Ahmad Fauzi tidak lain adalah anak dari sahabat ayahnya Farida yang sudah almarhum. Aku sudah tahu kalau ayahnya Farida sudah almarhum saat kelas tujuh SMP dulu. Fauzi adalah sosok pemuda yang baik dan saleh. Selain itu, Fauzi saat ini tengah menyelesaikan kuliahnya di Paiton sambil mengabdi di ndalem kiai. Sebenarnya, Farida tidak pernah mencintai Fauzi namun yang namanya wasiat dari bapak maka harus dilaksanakan. Siapa tahu kelak setelah menikah cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Saat itu aku yang mendengarkan cerita dari ibunya Farida hanya bisa menelan ludah. Aku benar-benar kecewa. Dan airmataku hendak runtuh dari mendung yang menggantung di kelopak mataku.

“Astaghrifullahalazhim! Ibu lupa tidak membuatkan teh buat sampeyan!”
“Sudah, Bu. Saya tidak haus kok. Lagi pula, saya hendak pamitan untuk pulang.”
“Kok cepat sekali. Padahal baru saja sampeyan sampai?”
“Iya, Bu. Saya musti melanjutkan pekerjaan saya yang belum rampung.”

Kemudian aku bangkit dan berpamitan dari ibunya Farida. Saat itu, aku pulang dengan airmata meleleh. Rencanaku untuk menikah dengan Farida pupus sudah. Aku benar-benar merasa kecewa. Aku marah kepada Tuhan. Sebab Tuhan telah tidak berbuat adil padaku.

Sejak pulang dari rumah Farida, sedikit demi sedikit uang tabunganku habis untuk dibuat membeli makan dan kebutuhan lain. Naskah tulisanku yang kukirim ke penerbit ditolak dengan alasan kurang menarik dan tidak seperti naskah sebelumnya. Semakin lama aku semakin kesulitan uang. Akhirnya aku hanya bisa berpuasa. Untungnya aku tinggal bersama omku. Tapi, hidup menumpang membuatku tidak nyaman. Aku malu dengan hidup berpangku tangan. Saat itu, aku benar-benar marah terhadap Farida. Sebab dialah orang pertama yang merusak hidup dan cita-citaku. Dia lebih memilih menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Keesokan harinya, seorang teman akrabku sejak SMP datang menemuiku. Dia sudah menikah. Lalu, dia mengajakku keluar dengan sepeda motor. Dalam perjalanan aku bercerita banyak bahwa kemarin aku sudah berkunjung ke rumahnya Farida. Termasuk juga menceritakan tentang rencana lamaran dan pernikahanku. Dia meresponsku dengan positif. Di akhir cerita aku mengatakan kalau Farida hendak menikah dengan orang lain.

“Semua benda yang ada di alam raya ini ada manzilahnya masing-masing. Ada tempatnya masing-masing. Ada jodohnya masing-masing. Bulan ada manzilahnya. Bintang ada manzilahnya. Matahari ada manzilahnya. Bumi dan para planet lain ada manzilahnya. Meteor dan galaksi ada manzilahnya. Begitu juga dengan kita ada manzilahnya. Dan manzilahmu bukan Farida,” katanya setelah aku mengakhiri ceritaku. “Yus, apakah selama ini kamu pernah berpikir bahwa Farida pernah mencintaimu sedikit saja?”
Aku menggelengkan kepala.
“Lalu jika Farida tidak pernah mencintaimu, kenapa kamu mau melamarnya sampai menikahinya segala sehingga kamu harus datang jauh-jauh dari Sumatera? Lebih baik kamu fokus berkarya. Kamu harus menghasilkan novel yang bisa sampai dibaca oleh semua orang termasuk Farida.”

“Aku kecewa, Yan,” jawabku.
“Ya itu pasti, Yus. Dan semuanya bukan gara-gara Farida karena sudah jelas dia tidak pernah mencintaimu. Tapi, semuanya karena kamu terlalu mengikuti hawa nafsumu. Bila sudah begini, uang tabunganmu habis untuk dibuat biaya sehari-hari, siapa yang disalahkan?”

Kata-kata yang meluncur dari bibir Yanto benar-benar menohok hatiku. Aku memang terlalu menuruti hawa nafsu sampai berangan-angan melamar dan menikahi Farida. Padahal, sejak dulu dia tidak pernah mencintaiku. Justru akulah yang berkhayal mencintainya.

Seminggu kemudian, Yanto datang bersama Fahrudin menemuiku. Lalu, dia menunjukkan sebuah kartu undangan pernikahan yang tertulis atas namanya. Kuraih surat undangan tersebut dan kubuka lebar-lebar. Di dalam sana kedua mataku terbelalak saat membaca sebuah nama. Ya, di surat undangan tersebut bibirku bergetar saat membaca sebuah nama. Nama Farida bersanding dengan nama seorang pemuda yang selama ini kukenal baik yaitu sahabatku sendiri, Fahrudin. Lantas, aku memandang ke arah Fahrudin dan pemuda itu mengulum senyum. Kuremukkan surat undangan pernikahan itu sambil berdiri.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” aku kaget bercampur heran. Apakah aku sedang bermimpi? Apakah aku sedang berakting sebuah film? Katanya yang kudengar kemarin, Farida sudah dilamar oleh seorang pemuda bernama Ahmad Fauzi? Tapi kenapa di dalam undangan yang terpampang adalah nama Fahrudin, temanku sendiri?
“Kenapa kau tega lakukan ini, Din?” aku bertanya sambil merobek-robek kertas itu lalu kulemparkan ke muka pengkhianat itu.
Fahrudin justru mengulum senyum penuh arti.

Aku baru sadar, bahwa Fahrudin pernah menyimpan perasaan cinta pada Afifah. Dan begitu juga sebaliknya. Sejak pernikahan Afifah dan Fahrudin, aku menetap di Ibukota dan selama ini sudah menghasilkan karya yang mengisahkan tentang rasa cintaku kepada yang kurindukan, Tuhan. Namaku mulai terpandang sebagai penulis novel. Prestasi demi prestasi tulisanku telah kuraih. Selain itu, aku juga mendapatkan royalti. Terima kasih Tuhan, terima kasih ibu.
Malam itu, aku bersujud kepada Allah untuk memohon ampunan dari-Nya. Sebab, hanya Allah yang bisa mempertemukan aku dengan manzilah cintaku. Entah siapa dan di mana dia, hanya Allah yang Mahatahu.

Probolinggo, Maret 2021

Cerpen Karangan: Khairul A.El Maliky
Blog / Facebook: @khairulazzamelmaliky
Novelis. Novelnya yang telah terbit antara
lain Metamorfosa (Galaxystar Publisher, 2021),
Sang Kiai (Ae Publishing, 2021),
Sang Nabi (Liezer Publisher, 2021),
dan Mahar Cinta Untuk Afifah (Pena Baswara Publisher,
2021). 30 novel online di Kwikku.com

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 18 Oktober 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Manzilah Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Membawa Takdirku

Oleh:
Di ruangan yang minimalis dengan susunan ranjang, lemari dan cermin hias yang tertata rapi, membuat suasana kamar ini indah di malam hari. Kupandangi wajah suami yang sangat aku cintai.

Lentera Bintang (Part 1)

Oleh:
“Reeeeennndy, bangun sayang udah siang!!!” “Bentaran napa mi, masih pagi,” kata gue sambil meluk guling membelakangi mami gue. “Bangun gak sekarang, kamu jangan bikin mama kesel kenapa sih Ren?”

Apa Salah Aku?

Oleh:
5 Desember 2016, tepat 6 bulan aku tidak bisa melupakan dia. Sering sekali aku menyakiti lelaki yang tulus mencintaiku dan menyayangiku. Tapi berbeda dengan lelaki satu ini, ia bernama

Hati Munafik yang Berbicara

Oleh:
Ketika hati berlabuh pada suatu penantian panjang, akan ada peperangan yang terjadi antara jiwa dan fikiran. Rani masih memikirkan kata-kata tersebut, tiba-tiba ia tersentak dikagetkan Aya sahabatnya. “Siang Bolong

Manusia Setengah Dewa

Oleh:
“Mama, berangkat dulu ya. Sudah kesiangan ni, assalamu’alaikum”, pamitku lalu berlari karena jarum panjang arlojiku sudah mengarah ke angka 9. “Walaikumsalam, hati-hati, Chan”, sayup-sayup terdengar ucapan Mama saat aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *