Marshmallow (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Pagi ini cuaca memang sedang tidak berdamai dengan suasana hatiku. Entah apa penyebabnya aku jadi senang begini, hatiku seperti ada yang menggenggam dan rasanya nyaman sekali. Hatiku dan pikiranku terus saja berdebat sampai hampir semalaman ini aku tak bisa tidur. Tak mungkin aku menyukai orang asing yang belum pernah kukenal sebelumnya, lagipula dia siapa, dan kenapa aku harus memikirkannya. Ini pasti karena aku terlalu lama menjomblo, malah jadi membuatku mengkhayal. Siapa sebenarnya dia, dan mau apa dia. Mencari nenek yang hilang, sepertinya tak masuk akal. Lihat dari penampilannya saja dia orang mampu, kenapa tak melaporkannya saja pada polisi, toh lebih praktis kan. Atau memang ada alasan lain, emh entahlah …

“Kukira kau orang yang jujur dan patuh, tapi aku salah. Kenapa kau mencoba diam?, apa kau tak mau aku tau siapa kau sebenarnya?, apa kau ini seorang mata-mata?” dia datang membuyarkan lamunanku tentang dirinya.
“Kau mabuk ya? Datang berkata begitu, seolah kau tau yang sebenarnya”
“Kau gadis yang menolongku saat tergigit ular waktu itu kan, kenapa kau tak bilang langsung kalau itu kau, dan malah kau menyembunyikannya. Apa aku tak boleh tau siapa gadis itu?, walau hanya sekedar mengucapkan terima kasih padanya”
“Terima kasih? Apa aku tak salah dengar? Hah, orang macam kau berterima kasih”
“Karena gadis itu aku belajar, bagaimana bertahan dari bahaya, menghargai apa yang dia miliki, mencari jalan keluar dari masalah, dan sedikit jual mahal” sedikit senyum kecil darinya mengembang, membuatku terasa geli.
“Apa kau sedang memata-mataiku? Kau tau apa tentangku. Kau ini berbahaya ternyata, seharusnya aku tak mengiyakan untuk membantumu?” apa-apaan kau ini, aku tak mau dalam bahaya, aku tak ingin lagi menyusahkan ayahku, aku tak mau lagi berurusan dengan hukum. Dulu aku pernah bertemu dengan orang sepertimu, dia memanfaatkanku dengan uang, dia terus mengancam keluargaku, dia menyakitiku berkali-kali. Meninggalkanku dengan luka yang cukup dalam, bahkan menghancurkan mimpiku yang sudah susah payah kuperjuangkan”.
“Kau salah, orang itu tidak sepertiku. Aku hanya ingin mencari nenekku.”
“Kau pasti bukan orang yang berpendidikan bukan, lihat saja caramu bergaul dengan orang lain, seakan tak menghormatinya.”
Dia menggenggam pergelangan tanganku dengan erat, membuatku sedikit condong kedepan kearahnya, pandanganku sejajar kearahnya, bahkan serasa kakiku tak bisa menyeimbangkan posisi tubuhku.
“Aku tamat SMA, dan aku lulus kuliah, aku pernah merasakan menjadi bos di perusahaan milik keluargaku, apa itu tak cukup menjelaskanmu?, demi karir ini aku mati-matian meraihnya, dan tiba-tiba seorang gadis tak tau apa-apa meremehkanku”. Suaranya yang tegas ditambah cengkeraman tangannya, membuatku takut.
“Lepas, tanganku sakit.” Aku lalu menarik tanganku lepas dari cengkeramannya, dan ya, aku terbebas. Langkah cepatku diiringi isakan tangis lirih, aku marah mendengarnya seperti itu. Namun dia tak diam saja, diraihnya tanganku dipegang kedua tanganku dengan lembut, perlahan gerakannya mendekap tubuhku, raut mukanya yang berubah merendah, dan aku hanya bisa diam dalam momen ini.
“Maafkan aku, tak sepantasnya gadis baik yang menolongku kuteriaki barusan. Aku ingin berterimakasih padanya, menjadi superheronya saat dia dalam kesulitan, dan memulai hubungan baik dengannya.”
Aku terus memandanginya, aku tak percaya, dia sebenarnya seperti ini. Tapi kenapa baru sekarang dia perlihatkan sisi malaikatnya ini.

“Ayahmu bercerita banyak akan dirimu, masa lalumu, impianmu, dan sisi lain yang harus aku tau lebih dalam tentangmu”
Malam itu aku sedikit dibuat bingung dengan sikap ayah yang tiba-tiba mengajakku keluar ke sebuah taman, sebuah tempat yang jadi saksi bisu kisah cinta ibu dengan ayah. Mungkin ayah memang benar-benar rindu pada ibu. Aku tak mungkin bisa menolaknya, barangkali dengan ini bisa mengembalikan senyum ayah yang hilang sejak kami hanya tinggal berdua. Seketika saja ayah menghilang. Tak kusadari sedari tadi aku mnyusuri jalanan ini sendirian, bukankah ayah tadi berjalan di belakangku, namun sekarang?. Terdengar suara langkah kaki di belakangku, dan ini bukan suara langkah kaki ayah yang kukenal. Aku semakin merinding, ditambah udara dingin dimalam itu. Aku mulai linglung, apa yang harus kulakukan saat ini. Haruskah aku berbalik dan setelah itu aku tertangkap dan mungkin saja aku diculik. Atau aku harus lari, dan meminta pertologan. “jangan-jangan orang inilah yang menculik ayahku”, gumamku dalam hati. Aku mulai ancang-ancang daann…

“Kau mau lari ke mana?” suaranya berat. Dia berjaket kulit cokelat, celana jeans panjan sobek-sobek, dan sepatu kulit berwarna gelap. Tapi tunggu, aku kenal mata ini, pandangan ini, dan dekapan ini. Dia membuka tudung jaketnya yang menutupi kepalanya. Sekarang aku tau siapa dia.
“Apa yang kau lakukan, setelah kau menculik ayahku, apa yang akan kau lakukan padaku?”
“Ayahmu sedang menonton tayangan komedi favoritnya sambil menyeruput teh panas”
“Dari mana kau yakin yang kau lihat itu ayahku?”
“Tadi sewaktu aku berpapasan dengan beliau, ayahmu memintaku menjemputmu, karena di sini bukanlah tempat yang baik untuk peri manis yang telah setia bersamanya sepuluh tahun ini”
“Peri manis?, siapa maksudmu”
“Tentu saja gadis manis dihadapanku ini, peri yang selalu muncul ketika aku sedang sedih, kau seolah memberiku kekuatan dan gairah untuk terus menjalani hidup”
“Tapi aku tak pernah datang saat kau sedih”
“Bukan kau, tapi ilusi dirimu. Aku anggap dirimu yang lain ini adalah peri. Aku tau banyak tentangmu, kisah hidupmu memberikanku arti bahwa kehidupan ini adalah milikku, dan inilah yang paling berharga dari apapun. Aku yang mengendalikan arah kemana aku harus melangkah. Mengajarkanku tentang kasih sayang, memaafkan, dan terus melangkah”
“Sepertinya aku kenal maksud perkataanmu?”
“Kau meninggalkannya saat kita terakhir bertemu, tak sengaja aku baca dan aku mulai melihat cahaya dari masa depanku dari tulisanmu”
“Lancang sekali kau baca diaryku”
“Teruslah menulis!, ceritakan apa saja yang ingin kau curahkan, dan jangan takut, aku akan melindungimu selalu. Apa kita bisa memulai hubungan baik dari sekarang?”. Marshall memberikan diaryku dalam bentuk yang lain, lebih menarik tentunya. Bahkan menandakan kalau ini memang milikku, ada fotoku dibalik covernya, fotoku saat akan memasukkan marshmallow ke mulutku, dan ini benar-benar keren. “Sejak kapan orang ini jadi romantis begini” gumamku dalam hati.

Aku tak membalas ucapannya. Sebungkus marshmallow yang kutaruh di telapak tangannya dan seringai senyum kecil dariku mungkin cukup untuk mewakili uacapan terima kasih kepadanya. Dia membalas dengan kedipan mata, aku yakin tak ada gadis yang meleleh melihat kedipannya barusan. “thanks my superhero” ya, kudengar bisikannya lirih. Itulah yang aku tuliskan di balik bungkus marshmallow di tangannya.

Kemunculannya menggangguku. Kini bukanlah langit yang kupandangi setiap malam. Tapi peri yang menyapaku dikegelisahanku. Kau memang hanya fantasiku semata, tapi hadirmu berarti bagiku. Aku telah masuk ke duniamu, menjelajahi masa lalumu dan menyusuri tiap sudut perjalananmu. Aku siap berada di dekatmu, menjagamu, dan menuntunmu mewujudkan kebahagiaanmu. Apa aku sudah terhipnotis keanggunanmu wahai peri? Kurasa dekat denganmu bukan sesuatu yang mudah. Hanya satu hal itulah yang aku tak mampu. Karena peri hanya pantas di samping peri.
Sepenggal kata-kata dengan gaya tulisan yang asing terukir dengan tinta biru di halaman kosong setelah tulisan terakhirku.

“Marsh, apa kita harus memanjat pohon ini untuk mendapatkan view yang cantik dari tempat itu?”
“Tapi aku tak janji akan menangkapku kalau kau jatuh”
“Apa kau tega melihat perimu ini terluka, kecantikanku akan berkurang dan aku tak lagi manis di matamu”
Candaanku dengan dirinya mengiringi 3 tahun kami bersama sejak dia mengembalikan diaryku malam itu, dan tak lama dia menembakku, lagi-lagi dengan marshmallow, haha. Memang belum pernah ada kan yang menembak dengan marshmallow. Itulah kenapa dia kuterima, keunikan dan kesederhanaan dialah yang meluluhkan hatiku. Tertawa bareng, galau bareng, bahkan menghadapi masalah kami bersama-sama membuat hubungan kami layaknya kakak dan adik. Aku belajar banyak tentang fotografi dari dia, kami punya hobi yang sama. Sampai-sampai kami bermimpi akan menerbitkan sebuah buku dengan nama kami berdua di sampulnya. Sungguh tak bisa kubayangkan sampai seorang tiba-tiba datang dan menunjukkan padaku kalau superheroku ini adalah saudara kandungku, lebih tepatnya kakak kandungku yang telah lama hilang.

Sore itu, aku dan ayah mendatangi salah satu rumah sakit terkenal di kota ini, melakukan tes DNA. Aku bisa menebak raut wajah ayah keluar dari ruangan dengan amplop di tangan kirinya. Benar, kali ini aku tak bisa menyangkal. Dengan diketemukan bukti lain kenanganku bersama Kak Alfa, barang kesayangannya, bekas luka di pundaknya, dan foto kami berdua 10 tahun lalu. Tapi kenapa selama ini aku tak menyadarinya. Sekarang sayapku patah, sang peri tidak lagi bisa terbang bebas. Aku hanya menyesali kebenaran ini. Apa Tuhan tak senang kami bersama. Atau memang benar, sang peri tak pantas disamping superhero. Hubungan kami hancur, bahkan sebagai adik dan kakak kandung yang tak pernah tinggal serumah. Dia pergi entah kemana, hanya berpesan untuk menjaga ayah. Peri tak lagi punya superhero yang menjaganya.

Tak luputnya ayah menyapaku untuk menghilangkan kantung mataku tiap harinya. Karena kenyataan ini menyiksaku dan memaksaku meneteskan air mata kecewaku. Kami hidup dengan dunia masing-masing, aku bekerja disuatu perusahaan majalah dan mewujudkan mimpiku menjadi penulis, sedang dia, mungkin lebih beruntung dariku saat ini. Hingga kami dipertemukan di suatu kafe. Aku yang tengah disana menikmati istirahat makan siangku. Marshall dengan teman-temannya sedang asik mengobrol. Aku tak punya cukup mental untuk menyapanya. Kubiarkan saja begitu, toh hanya melihatnya sudah membuatku merasa senang. Dia tak kelihatan sedih, ini membuatku lega karena dia juga beruntung sepertiku.

“Candy, kaukah di sana?”
“Ee kak, eh Marsh, emm apa yang harus kuucapkan?, aku belum pernah memanggilnya sejak saat itu”
“Candy ayo kita jalan-jalan, tak butuh waktu lamaa kok, jadi sebagai karyawan perusahaan ini mungkin sebagai refreshing saja”. “Candy, kenapa kau beri aku marshmallow saat aku tergigit ular, dan hal yang sama kau lakukan untuk mengucapkan sesuatu padaku?”.
“Teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis bisa menenangkanmu disaat kau merasa takut ataupun sedih. Benda itu juga bisa menggantikan ucapan seseorang”.
“Saat aku mencarimu, itulah petunjukku, identitas seorang candy adalah perempuan yang selalu membawa marshmallow kemana-mana”. Kata-katanya kali ini sangatlah menunjukkan kalau dia belum lupa tentang diriku. Jelas aku tak akan pernah menolak ajakannya, rindu ini hanya terus tertahan tanpa terlampiaskan, saat ini rinduku hilang, terimakasih lima menit yang berharga ini, kau buat tawa dan senyuman kembali terkembang.

Keesokan harinya superhero datang dengan wanita paruh baya bertas merah muda ditentengnya. Tas merah muda kado ulang tahunku untuk ibu.
“Apa ini? Kejutan atau kenyataan pahit lain?”
“Selama ini aku tinggal dekat rumah ibumu, aku ingin kalian mengenal seperti dulu lagi” jawabnya tegas, ciri khas gaya bicaranya.

Dua hari sejak bertemu dengannya, hatiku selalu berbunga, dia dan ibulah penyebabnya. Malam ini Kak Marshall mengajakku ke suatu tempat, suatu taman bermain anak-anak. Hm, dia sungguh misterius.
“Aku ingin kita main tebak-tebakkan, aku pasang lima titik yang setiap titik ada satu benda, dan jika kelimanya kau susun akan menjadi rangkaian arti, dan itu adalah yang ingin aku katakan padamu. Kau harus mengumpulkannya dan deskripsikan apa yang ingin aku katakan padamu. Di setiap benda yang harus kau kumpilkan terhantung pita pink”

Aku menuruti permainannya, aku cari sampai ke semak-semak, di jari seorang wanita penjual es krim, tertempel di batang pohon, dan tempat lain yang tak bisa terbayangkan sebelumnya. Kini lima benda ini ada padaku, saatnya menyusun candy!. Cincin, foto ayah dan ibu, desain jas dan gaun pengantin, foto kenangan aku dan Kak Marshal, dan marshmallow berbentuk hati. Apa ini? Apa dia ingin minta maaf, ingin sesuatu, atau ingin mengajakku ke suatu tempat. Menebak ini seperti membuatku merasa galau, sudah setengah jam, tapi aku belum mampu memecahkannya. Ouch! come on candy, you can do it ! seraya menyemangati diri sendiri. “Nih marshmallow, buat hati yang lagi melow” aku teringat ucapan itu keluar dari seseorang di masa laluku. Tak perlu kusebut namanya, cukup ucapannya yang kujadikan inspirasiku berkarya. Seolah dia hadir dan memberikanku sebutir marshmallow. Kuambil sebungkus rasa mint dan kukunyah. Dan apa yang terjadi, aku menemukan jawabannya.
“Kalau aku tahu apa yang ingin kau sampaikan padaku, apa hadiahnya untukku?”
“Akan kukabarkan berita baik padamu”
“Semua itu mengatakan, kau ingin kita menikah bukan? Kak kita ini saudara, aku sedih jika kau sampaikan ini padaku, memang cinta ini masih ada, tapi kita ini keluarga. Aku ingin kakak berpikir realistis”
“Kalau begitu sekarang kita sudahi hubungan sedarah kita”
“Apa?”
“kita memang dilahirkan bukan untuk bersaudara. Fakta itu benar, bukti itu memang menunjukkan kakak kandungmu, tapi itu bukan aku, itu Kak Alfa, kakakmu sebenarnya. Dia tinggal bersama ibumu”
“Drama apa yang sedang kalian mainkan?”
“Aku menuruti keinginan kakakmu untuk menjadikanku seolah dirinya di hadapanmu. Dia tak ingin melihat adik tercintanya terus merindukannya. Dia ingin kau tahu kenyataan kakaknya telah kembali, dan kau tak perlu merindukannya lagi. Juga dia pergi meninggalkan rumah dan memilih memilih tinggal bersama ibu, karena dia tak ingin kehilangan seorang ibu”
“Apa ini nyata, sudah berapa lama aku terlelap?”
“Sayang. Candy. dengarkan aku!, ini kenyataan yang sebenarnya. Dan aku melakukan ini karena aku juga ingin kau bahagia seperti yang Kak Alfa harapkan. Kuakui ini adalah kebohongan pertamaku sejak kita dipertemukan, I’m sorry”
“Kau benar. Peri hanya pantas bersanding peri”. Ekspresinya menunjukkan kecewa, ditunjukkan dengan kepalanya yang tertunduk. “tapi kau bukan hanya superhero bagiku, melainkan juga peri. Dua sifat dalam dirimu, kau pantas menuntunku melangkah dimasa depan”
“Apa ini artinya..”
Kuselipkan sesuatu di tangannya dan dia berkata, “apa arti sebuah marshmalow tanpa tulisan?”

Malam ini udara terasa begitu dingin, tiduran di kasur sampil baca novel memang terasa sdikit membosankan. Tapi apa yang bisa kulakukan disaat menunggunya selesai mandi. Hidangan makan malam selesai kubuat lima menit yang lalu. Kuharap dia menyukainya, mengingat aku selalu kalah dengan masakan ibunya.
“Oh rupanya istriku sudah lama menunggu yaa, baiklah kita lakukan sekarang?”
“Tunggu, ucapan itu sedikit ambigu”, aku membatin.

Dia menarikku membuatku berdiri dihadapannya, mendorongku bersandar tembok, memegang kedua pergelangan tanganku. Perlahan, hembusan nafasnya terasa begitu dekat. Aku tak bisa melihatnya sedang melakukan apa. Gelap.

Selesai

Cerpen Karangan: Annisa Larasari
Facebook: Annisa Larasati

Cerpen Marshmallow (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Kamu Innocent

Oleh:
Hari ini mas Adin pulang telat lagi. Sudah hampir jam sebelas malam dia belum sampai rumah. Hal ini terjadi satu minggu termasuk hari ini. Huft. Aku menghembuskan napas. Aku

Tak Lagi Sama

Oleh:
Berjalan perlahan melewati pagar hitam yang tiap pagi harus ku lewati untuk masuk ke sekolahku. Saat ingin melangkah ke kelas, terlihat tak jauh dari kelasku yang hanya dibatasi dengan

Alfian Dalam Kenangan

Oleh:
Kala rindu tak lagi mau mengerti, jauh menusuk relung hati. Malam pun tak peduli, hamparan kegelapan tanpa satu pun bintang menerangi. Merenungi laranya hati, aku rindu kau pencuri hati.

Gara Gara Handphone

Oleh:
Andre. Seorang pria lajang usia matang, memiliki pekerjaan tetap. Andre adalah seorang karyawan di sebuah perusahaan minyak sangat terkenal dan tentu saja multi nasional. Andre adalah seorang pria yang

True Love

Oleh:
Namaku Raina, aku sering dipanggil rain, Aku berumur 17 tahun, saat ini aku sekolah ternama di kota ini. Aku saat ini sudah duduk di bangku 3 Sma. Aku adalah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *