Masalah Adalah Imajinasi Pemiliknya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 May 2016

Bintang malam ini sungguh membuatku nyaman. Aku tak bisa mengacuhkan mereka. Mereka selalu menemaniku. Walaupun saat orang yang aku cintai, yang sangat aku butuhkan. Ia pergi, entah ke mana. Meninggalkanku seperti kerupuk yang tak lagi renyah. Hal itu tak dapat dipungkiri telah membuatku lebih banyak bercerita dengan kegemingan malam.

“Blood, kau belum tidur?” kakakku mendorong engsel pintu itu seakan decitannya hanya mampu didengar oleh koloni semut di rumahku. Aku harap ia tak meminta jawaban yang pertanyaan mungkin menyakitkan. “Kau memikirkan ujian besok?” Ia menyapu mataku dan duduk mendekat ke arahku. Mungkin ia benar untuk kali ini. Aku juga harus jujur padanya, bahwa ujian kali ini sungguh berat bagiku. Mungkin, ada yang melebihinya. Hal yang tak perlu ku akui padanya, setidaknya untuk malam ini.
“Ya, begitulah.” aku menggeleng. Ku tunjukkan kesibukanku dengan merapikan bukuku yang berantakan di atas seprai merah jambu ini. Aku harap kakakku mengerti, aku tak mau pertanyaan yang lebih jauh lagi.

“Kakak mengerti. Dulu kau dan Calum itu sering bertengkar, bukan?” Astaga apakah kakakku tak mengerti? Aku ingin ini mengalir saja. Aku mengangguk, tak menemukan jawaban untuk membungkamnya. Terlebih, tenggorokanku tercekat saat mendengar ucapan kakakku. “Dulu kau sering bercerita dia membuatmu kesal saat di sekolah. Tapi, Kakak tak mengerti saat kau bilang ia juga menawan. Dan, ada lagi saat kau pulang, kau memeluk Kakak dan mengatakan bahwa kau bahagia. Kemudian, kau katakan ia menyatakan isi hatinya padamu.” Kakakku tertawa di ujung kalimatnya. Merasa ia menang karena telah mengingat hal tersebut dengan sempurna.

Ya, aku menyembunyikan senyumku. Peristiwa itu memang geli. Calum menyatakan cintanya dengan sebuah lagu saat aku hampir melemparnya dengan kaus kakiku. Untuk hal itu aku tak salah sepenuhnya. Aku mempunyai pembelaan, hal itu karena ia sering sekali menggangguku. Kakakku dengan sabar menunggu reaksiku atas ucapannya. Aku merasa menang! Ia tak ingat saat aku menulis begitu banyak surat, surat pernyataan bahwa aku menerima Calum. Dan, dari sekian banyak surat itu, hanya satu yang ku pilih. Astaga! Bahkan aku menggunakan amplop merah jambu kala itu. Kakakku mengedikkan bahunya. “Kau tak ingin menjawab?” Ia sungguh antusias. Aku mengangkat kedua alisku dan menarik selimut itu. Agar selimut itu menolongku dari monster jadi-jadian ini.

“Baiklah, sudah larut. Seberapa pun yang Calum lakukan, ia mungkin tak bermaksud menyakitimu,” aku mengangguk pelan dari dalam selimut. Hentakan kakinya yang melangkah ke luar dapat ku dengar dengan jelas. Entahlah, mungkin kakakku sengaja. Mengingat, ia pasti tahu aku terkekang dengan ini. Ku seka air mataku dengan kedua punggung tanganku. Mungkin ada sesuatu padanya. Tapi, dia tak mau aku tahu. Melihat tindakan ia tadi siang, aku sungguh muak. Bak tayangan bioskop yang terus berputar di kepalaku. Dan kemudian, tayangan itu menusuk tiap sel otakku. Terus begitu dan memicu hatiku untuk merasakan lebih dari itu.

“Blood!” Nada tinggi ke luar dari mulutnya. Aku terkejut ia biasanya mengeluarkan kata yang bernada dasar.
Ia seakan kebakaran jenggot! Padahal ya, Calum belum memilikinya. Ia menatapku lekat. Menarik tanganku dengan kuat saat aku berjalan dengan Luke.
“Kau kenapa?” Aku mencari matanya, berharap ia tak sungguhan dengan ini. Ia menarikku di depan teman-temanku seakan aku penuh dosa. Sepenuhnya akulah yang patut marah. Ia terpaku. Raut wajahnya jelas menampakkan kesedihan mendalam, kesedihan melihat ia telah bertingkah kelewatan.

“Dengar, aku tak mengerti apa yang telah kau lakukan pada Kakakku,” ia mencoba mendatarkan suaranya. Bersikap tenang, mungkin. Mataku melotot. Ini kesekian kalinya kami bertengkar karena kakaknya, si Mali Koa. Aku mendengus pelan. “Aku tahu kau mencintainya. Aku juga memiliki Kakak. Tapi, apakah kau tahu apa yang ia telah lakukan?” Mencoba menenangkan keadaan. Yah, mungkin ini berhasil untuk tidak menarik perhatian manusia di sekeliling kami. “Aku kira,” ia menarik napas berat dan mengalihkan pandangannya dariku. Tanpa menyelesaikan omongannya ia pergi begitu saja. Membiarkan aku sendiri yang menyekat ini.

Membiarkan orang sekitar mengganggapku salah, menatapku dengan jijik. Seandainya kau tahu, aku tak pernah mencari gara-gara dengan kakakmu. Tidak, tidak akan jika ia tak menuangkan minumannya itu ke seragamku. Dia melakukannya dan aku yang salah. Cukup sulit untuk dicerna. Ia menyayangimu dan aku juga tak berbeda. Aku hanya merasa ada yang salah. Sungguh aku tak pernah menyalahkan siapa pun. Aku hanya membuang banyak waktu untuk menyeka sesuatu yang berlinang di mataku ini. Hal yang tak seharusnya terjadi itu, terus ku ulangi sepanjang malam. Berharap hal itu hanya akan terperangkap dalam mimpiku.

Ku percepat langkahku melewati penyeberangan. Rasa geli itu seakan tak tahu kapan berhentinya, kejadian yang lebih seperti film komedi. Sayang, aku tak tertarik pada komedi itu. Setidaknya itulah alasanku untuk segera pergi meninggalkan tempat kejadian. “Mali Koa?” Aku menggeleng dan mengedikkan bahu. Mencoba mengintip melalui bahuku, melihat apakah filmnya masih diputar. Aku tak percaya! Ia baru saja ribut dengan seorang wanita. Wanita yang mungkin temannya. Tapi, bukan itu yang membuatku terus mengedik. Kalau aku ceritakan pada Calum, dia tak akan percaya. Lagi pula, aku tak akan menghubunginya dalam waktu dekat. Terlebih, jika hanya membahas hal tentang kakaknya. Bagaimana ia menganggap kakaknya lebih indah dari apa pun.

“Iya, ada apa, Kak?” Suaraku bergetar. Suara itu bahkan tampak lebih buruk dari bergetar.
“Iya, aku segera ke sana,” berusaha tenang, itulah yang ku lakukan. Berpikir positif. Hal yang baik akan terjadi, itulah yang ku harap. Sorotan mobilku menabrak ke sebuah rumah sakit. Ya, akhirnya aku sampai ke tempat yang diminta kakakku. Ketenangan yang telah ku rakit dari awal menaiki mobil, kini telah lenyap. Ketergesahan menerpa sekujur tubuhku. Seakan harapanku telah ditolak.

“Mungkin, ini masalah yang sangat sulit bagi remaja seperti kalian.” Dokter itu menggeleng ketika ia menyapu tatapanku. Mungkin, ia berpikir tentang aku, aku yang keras kepala. Ia baru saja menyaksikanku bersikeras untuk mendengar ucapannya, saat kakakku melarangku untuk ikut mendengarkan. Tapi, apa bisa? Aku tak akan bisa duduk terpaku di luar, selagi menduga-duga penyakit ibu. “Bersabarlah, kami tengah mencari tahu penyakitnya. Menurut diagnosa kami, ini penyakit langkah. Hanya satu persen penduduk di dunia ini yang mungkin terjangkit. Dengar! Kalian anak baik, teruslah berdoa,” ia tersenyum kecut pada kakakku dan berbalik ke arahku dengan tatapan prihatin.

Aku terkulai lemas. Tenagaku tak dapat ku rasakan. Ungkapan yang baru aku dengar membuatku menyesal. Menyesal sekali. Seharusnya, aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya. Waktu dimana ia sehat. Waktu dia masih bisa mengurusi kami. Semua waktu yang ku sesali saat aku sering menolak untuk makan bersama. Menolak saat ia memintaku bercerita padanya. Sungguh, aku ingin mengatakan ini pada Ibu, aku menyesal. Aku salah. Memang terlambat, mengetahui ia kini terkulai lemas di dalam. “Benar apa kataku, sebaiknya kau tak ikut mendengarkan.” Kakakku sungguh berusaha menenangkanku, ia memelukku erat. Memelukku erat saat kami hanya dapat memandangi ibu dari sebuah kaca.

Huft, bahkan saat ujian, aku tak dapat berhenti melakukannya. Ku seka air mataku lagi dan lagi. Aku cukup beruntung, atau anggap saja demikian. Semua orang tampaknya tak memperhatikan satu sama lain kala ujian. Hanya fokus pada lembarnya. Bagus, jadi mereka tak perlu melihatku dalam keadaan ini dan aku percaya, ini akan berakhir. Matahari itu pasti kembali. Bulan itu akan menghilang. Aku tersenyum, walaupun kelihatan sekali itu dipaksakan. Mencoba menitikberatkan pikiranku pada lembaran ini. Sehingga, aku bisa membanggakan keluarga kecilku yang manis. Yang nyatanya ini tak sedikit pun mengusikku. Tersenyum puas atau sekedar tersenyum penutup luka. Itulah yang kini aku lakukan. Menapakkan alas sepatuku menampar pelan jalan yang tengah ku lewati. Sesekali, aku menahan napas dan membuangnya lagi.

“Kak Mali!” Aku memicingkan mataku. Aku harap aku salah. Karena, jika itu benar Mali Koa, apa yang ia lakukan malam hari begini? Di jembatan? Aku harap pikiranku tak sepenuhnya benar. Ia tak seharusnya dalam masalah.
“Kak?” Ku sentuh pundaknya. Pelan, penuh kehati-hatian. Kalau saja aku salah orang.
“Blood?” Ia terperanga menyapu mataku.

Matanya berair dan memerah. Mukanya tampak kusut. Ingin sekali aku bertanya di mana Calum? Mengingat Calum selalu berada di sampingnya pada saat sulit. Akan tetapi, segera ku hapuskan pertanyaan yang hanya akan menyakitinya itu. Entah angin apa yang menerpaku. Aku hanya ingin membuatnya tenang. Tanpa sengaja, ku tarik ia mendekat ke arahku. Memeluknya erat, pelukan yang berarti aku siap mengangkat beban apa pun itu, bersama dengannya. Entah, ia menyukainya atau tidak. “Blood..” ia memicingkan mata birunya. Menarikku melepaskan pelukan itu dengan lembut.

“Maafkan aku, aku egois padamu. Aku seharusnya melihat ketulusanmu dari awal.” Ia menggeleng dan menghindari sapuan mataku. “Tak apa, Kak. Semua orang akan menyesal. Dan maaf itu akan selalu ada. Masa sulit akan terasa berbeda di setiap sudut pandang manusia. Ya, semua tergantung pada cara kita menatapnya,” aku bahkan tak percaya, aku mengatakan itu. Dalam keadaan sulit ini, aku bisa menenangkan orang lain yang berada dalam kekacauan. Aku bangga dan senang. Masalah ini, semua ini membuatku menjadi lebih dewasa. Terlebih, Kak Mali kini menyapa kehadiranku dengan hangat. Kehangatan yang tak pernah ku bayangkan. Tak pernah terbayangkan akan begini alurnya.

“Kakak bisa bercerita,” ucapku lembut seraya memandang lurus perumahan yang jauh dari jembatan ini.
“Mungkin, aku baru saja bertengkar dengan sahabatku. Hal itu karena, seorang lelaki. Jangan pernah berpikir aku datang ke mari untuk menangisi itu. Jujur Blood, aku menangisi temanku. Sahabat, ia adalah kepingan hidupku dan mungkin, bahkan Calum tak dapat membantuku kali ini. Tapi kau bisa, Blood!” Akhir kalimatnya, membuatku bahagia. Bahagia karena aku mendapatkan panen yang manis dari benih yang baru saja ku tanam. Aku berhasil mencabuti beberapa atau sebagian semak belukar yang telah mengusik ruang hatinya.

Kakiku sungguh terasa ringan ketika melangkah ke dalam rumah kecilku. Sungguh tak sabar untuk melihat hasil dari doaku. Doa yang telah dikabulkan. Buah penantian dari kesabaranku. “Kakak!” Kepalaku melongo ke sekeliling kamar Ibu. Aku tersenyum. Senyum lebar yang tak perlu ku hapus dari wajahku. Tentunya, aku tak lupa membawakan bingkisan kecil, bingkisan yang sepadan dengan uang yang menetap di kantongku. “Hei, akhirnya kau datang,” kakakku tersenyum balik bersamaan dengan Ibu. Tidak, senyum kakak lebih lebar. Setidaknya, senyuman itulah yang paling aku kagumi darinya. Senyuman lebar tanpa dusta.

“Selamat yah!” Aku memicingkan mata saat kakak dan ibu hampir menyebutkannya secara serentak.
“Huft, selamat untuk kita!” Ku angkat tanganku hingga ia lurus sempurna ke arah langit-langit.
Kakakku tertawa melihat kekonyolanku. Ibu hanya menggeleng dan tersenyum geli.
“Bukankah aku benar?”
Kakakku mengangguk.

Mengangguk sembari meletakkan erat tangannya di perut. Apa pun itu, malam ini aku hanya akan menghabiskan malam bersama mereka. Terlebih, dua minggu ini kami tidur di rumah sakit. Oke, anggap saja hanya aku yang tidur, kakakku hampir tak pernah memejamkan matanya. Oleh karena itu, malam ini bisa ku pastikan ia tertidur pulas. Tanpa beban penyakit Ibu. Kami memang patut bersyukur, bahwa penyakit ibu ternyata bukan penyakit parah. Walaupun, kami dapat bernapas lega sekarang, aku dan kakak telah membuat jadwal piket. Sehingga, Ibu tak perlu merasakan lelah yang sedemikian rupa.

Pagi ini aku bangun pagi sekali. Anggap saja terlalu pagi untuk hari minggu. Kenapa aku begitu rajin? Karena aku seorang gadis. Tidak, aku baru saja mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan kenyataan. Aku hanya ingin menikmati duduk di pohon rindang yang berada di taman, pagi ini. Sepagi yang ku bisa, sebelum para anak kecil mengusainya. Ku pasang earphoneku dan sedikit melakukan lari kecil untuk menuju tempat itu. Tempat yang sering ku datangi sekaligus tempat yang telah ku lupakan belakangan. Udaranya segar, anginnya sejuk. Walaupun berulang kali aku merentangkan tangan dan menarik napas, rasanya tetap seperti itu. Tak berubah. Aku harap begitulah hidup. Mungkin badai dan hujan akan mengganggu pohon ini. Tapi, suasana yang ada akan tetap sama. Pohon ini masih tetap menjadi destinasi para burung, rumah palsu tempat anak-anak bermain, dan tempatku mengenang hal yang ingin ku kenang.

“Ternyata ini yang dilakukan gadis terpintar di sekolah,” suara itu? Mungkinkah itu suaranya? Aku menggeleng, mengedikkan bahu dan menoleh.
“Calum?” ku sapu matanya dan menatap lekat pada bunga yang terlihat sangat cocok berada di tangannya.
“Selamat! Maaf jika aku terlambat,” ia tertawa kecil dan tampak tak percaya diri. Seperti saat kali pertama kami bertemu. Tak perlu membuang banyak waktu. Mengingat banyak yang telah terbuang. Hal yang belakangan baru aku sadari. “Bunganya indah! Tampak seperti asli. Sungguh!”

Senyumanku mengembang menatap bunga ini. Ya, beginilah cara kami. Kado yang kami berikan satu sama lain adalah benda buatan sendiri. Kami telah sepakat jika bahannya adalah barang bekas. Aku senang ia tak merubah adat ini.
“Kau sudah banyak berjuang,” ia menatapku lekat.
“Dan, kau pun demikian,” kembali ku sapu matanya.
“Aku bangga padamu. Aku kira, kau akan mengacaukan ujianmu, tapi lihatlah! Kau menjadi yang terbaik!”

“Cal, aku bahagia. Aku akan terus melantunkan kalimat ini. Awalnya, aku kira mungkin aku akan gila! Ibuku sakit, Kakakku tampak kurusan dan kau pergi. Teman pun aku tak punya, sampai aku sadar. Masalah adalah imajinasi pemiliknya. Aku merasakan hal ini seperti turunnya salju kala matahari bersinar sepanjang tahun. Tentu! Kau akan memandangnya dengan berbeda saat kau tahu persepsinya.” Semua pengalamaku dan pelajaran yang ku dapat ku lontarkan padanya. Saat itu aku seperti menyampaikan pidato pada seorang dosen senior.

Dia menggelengkan kepala. “Kau lupa satu hal,” sandiwara yang terlukis di wajahnya, sungguh hampir sempurna.
“A-apa?” aku terkejut.
“Kau telah merubah Kakakku, merubahnya menjadi lebih baik. Bagaimana caramu melakukannya?”
“Entahlah, aku hanya berbisik, masalah adalah garam dalam sebuah masakan dan sahabat Kakak pasti merasakan hal yang sama,”
“Wah, dan kau juga tak mencampuri urusan pacaran dan sekolah, ya?”
“Iya Cal, sekolah adalah tempat pembelian karcis untuk masa depan. Dan, pacar adalah penyemangatmu untuk menggapainya. Tentu saja, pacar adalah orang yang mendorongmu untuk maju di sekolah, bukan sebaliknya. ”

“Menurutmu aku, begitu?” Ia menaikkan kedua alisnya yang tebal dengan senyuman yang terlukis di wajahnya.
“Aku tahu. Aku membaca surat yang kau berikan padaku. Oh tidak, yang lebih tepat, surat yang aku temukan di lokerku. Itu berasal dari laki-laki di hadapanku ini, kan?”
“Betul, sebuah ucapan semangat, yang ku kira tak akan kau pedulikan.”
“Tidak mungkin begitu. Aku menghargai apa pun. Semua orang harus menghargai yang ia dapat. Karena mungkin, ia akan membutuhkan dan merindukannya nanti.”

Cerpen Karangan: Putri Rahma Arizki
Facebook: Putri Rahma Arizki

Cerpen Masalah Adalah Imajinasi Pemiliknya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Home Way

Oleh:
“Selagi kami masih memakai bahasa yang sama, dan bahasa itu adalah cinta” “Khalil Gibran” Tanda Tanya terlihat jelas melalui kerut alis seorang gadis hijab sebelum sontak menoleh. “maaf, tadi

Mimpi Bisa Nyata

Oleh:
Pada suatu hari Natasha Willona atau Shasa sedang menunggu Pangeran Steven William, anak Raja Kerajaan Macan. Pangeran yang mengajak Shasa untuk bertemu di Taman Bunga jam 7 pagi. Ia

Love in Rain

Oleh:
Tahun 2000 Tik… tik… Bunyi rintikan hujan mulai membasahi permukaan bumi yang panas, terdengar suara cipratan air yang dibuat oleh kedua anak kecil. “Wah! Hujan, hore!!!” Ucap anak kecil

Sebatang Coklat

Oleh:
Setelah usai pembagian kelompok untuk mengikuti kegiatan MPLS SMAN 22 Bandung selama 3 hari kedepan, akhirnya aku mendapat kelompok 3 “Panda”, bergegas aku memasuki ruangan kelas tersebut untuk mendapatkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *