Masih, Kamu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 25 July 2019

Cuaca Malang sedang sendu.
Jalan raya basah.
Taksi yang aku naiki berjalan sangat pelan. Licin.
Dingin udara sudah menusuk hingga ke tulang. Sweater biru langit yang aku kenakan bahkan tidak cukup menghangatkan.

Aku melirik ponsel yang berada dalam genggamanku. Tenang. Tapi hatiku bergemuruh. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Bagaimana tidak? Hari ini, aku akan bertemu sosok yang selama lima tahun terakhir tak pernah kutemui.
Aku tersenyum membayangkannya. Perasaan ini menggebu-gebu. Sedetik kemudian ada pesan masuk yang kuterima.

“Aku mungkin telat karena ada yang aku urus. Nggak apa?”
Senyumku terus memeta sementara aku mengetik balasan pesan.
“Iya, nggak perlu buru-buru. Aku juga masih di jalan.”
Menunggunya dalam waktu yang lama saja aku sanggup, apalagi hanya sebentar? Yang penting, kepastian tentang hari ini berpihak padaku, kan?

“Hati-hati ya. See you.”
Dan aku makin melayang.
“See you.”
Send. Pesan terkirim. Cukup dengan memikirkannya, aku bahagia. Seandainya aku dapat memutar waktu, aku ingin mengulang dari awal, membenarkan setiap kesalahan sekecil apapun, memperbaiki semua salah paham di masa lalu dengannya.
Kini, aku benar-benar berdosa.

“Di sini, mbak.” kata supir taksi tiba-tiba, membuyarkanku.
“Ah? Iya, pak.”

Bangunan yang sederhana namun kelihatan sangat nyaman menyambutku. Kafe Kenangan. Katanya, ini tempat yang cocok untuk kami bertemu. Tempat yang dia suka. Dan mungkin, akan jadi tempat yang juga aku suka.

Aku mengedar pandang ke setiap sudut kafe begitu aku masuk.
Damai dan sangat nyaman. Kesan pertama yang membuatku jatuh hati. Lalu aku tersenyum. Mataku berhenti mencari-cari. Mungkin Mochachino tidak buruk. Tanpa harus berpikir lagi, aku memesannya untuk pria yang sedang aku tunggu itu.

Aku duduk dengan perasaan yang bercampur aduk. Benar-benar sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya. Dia jadi seperti apa, ya?
Jadi gemuk, kah?
Makin tampan?
Atau jangan-jangan masih menyebalkan?

Aku pikir aku seperti orang gila. Aku terus tersenyum. Bahaya, rinduku mau pecah. Aku larut dalam laut pesonanya. Sampai hari ini, rasaku padanya terus menggunung meski aku menahannya. Tapi rasa ini lebih kuat dari yang aku kira. Aku, tidak berhasil menghentikannya. Tepatnya, aku tidak mau menghentikannya. Sejenak aku memejam, apa perasaanku telah salah?

Kubuka dompetku sembari menunggu. Ada fotonya yang masih tersimpan rapi di dalamnya meski hubunganku dengannya sudah berakhir. Boneka yang dia beri padaku sebagai substitusi dirinya saat kami menjalani hubungan jarak jauh pun, masih setia menemani tidur dan sepiku.

Aku melepas nafas. Sampai kapan ya aku berharap padanya? Sedangkan jelas-jelas, aku sudah memiliki kekasih.

“Hai? Shanin?”
Tiba-tiba suara yang tidak pernah ku dengar itu menyapa telingaku. Seperti musik yang menenangkan. Aku mendongak dan mataku menemuinya. Tubuhku rasanya langsung melemah.
“Hai,” balasku. Sungguh canggung.
Dia mengulurkan tangannya dan aku menyambut dengan senang hati. Rinduku jadi pecah. Berhamburan dan kepingannya berlari memeluk sosok itu. Dia duduk di hadapanku, bersamaan dengan pesanan yang datang. Aku tersenyum pada pelayan kafe dan mengucapkan terima kasih.
“Maaf ya. Lama nunggunya?”
Aku menggeleng, sementara menyembunyikan dompet ke dalam tas selempangku. Aku gugup, tapi senyumnya membuatku jadi cukup tenang.

“Mocha. Masih suka, kan?” tanyaku sambil menyodorkan minuman itu padanya. Lagi, aku canggung. Aku tidak tahu harus bicara apa. Yang aku pikirkan hanya perasaan luar biasa ketika kembali bisa melihatnya sedekat ini. Pertanyaanku tadi, tidak aneh, kan?
“Selalu.” jawabnya. Aku bersyukur dan lega. “Apalagi yang pesan, kamu.”

Eh?
Dia bilang apa barusan?
Aku menatapnya penuh tanya. Dia hanya memamerkan senyum membiarkanku dalam kebingungan.

“Kamu, apa kabar?” tanyanya. Suaranya jadi lebih pelan.
“Baik. Gimana sama kamu?”
“Lebih baik setelah tahu kabarmu baik.”
Lalu kami terdiam untuk beberapa saat. Tenggelam dalam pikiran masing-masing tapi aku diam-diam memperhatikannya. Dia terlihat lebih berisi sebab pipinya makin tembam. Rambutnya sedikit dia biarkan panjang dan tubuhnya makin tinggi. Tampan. Dia sudah banyak berubah kecuali tentang senyum yang hangat dan mata yang meneduhkan.

“Sudah lama banget, ya.” Aku menggumam pelan. Melenyapkan sunyi.
“Bahkan kayak mimpi. Aku pikir, kita nggak akan pernah bisa lagi buat ketemu.”
Aku hanya menjawabnya dengan senyum. Hariku sudah cukup berat karena tidak pernah lagi melihatnya secara nyata. Bagaimana caranya aku bisa menahan lebih lama lagi?
Aku sangat benci pada jarak.
Dari dulu jarak menjadi penghambat rinduku untuknya.
Jarak.
Jarak.
Jarak lagi.
Selalu saja jarak.
Tapi pada sisi lain aku tidak bisa membenci jarak, aku tidak akan menampik sebab jarak juga penyatu rinduku dan dia.
Apakah aku harus terus melawan jarak untuk melampiaskan meski hanya secuil rasa rindu?

“Kamu, tuh, menghilang gitu aja.” katanya. “Andai kamu tahu gimana susahnya aku cari kamu.”
Aku membatu, tidak menyangkal sedikitpun. Dia benar. Sejak aku pergi darinya dan menemukan yang lain, aku seperti menutup diri pelan-pelan hingga akhirnya perubahan itu terlalu kentara. Semua sudut jadi berbatas. Salah satu langkah, kemungkinan besar aku sudah berada dalam keadaan bahaya.

Aku takut. Aku sungguh berhati-hati karena aku tidak mampu bertindak apa-apa. Andai saja aku berani meninggalkan kekasihku dari awal dia menyakitiku, tanpa menghiraukannya lagi, mungkin aku tidak akan terjerat sejauh ini. Andai saja aku bisa membaca sikap kasar di balik senyum lebarnya, semua pasti baik-baik saja. Pada akhirnya, aku hanya berandai-andai.

Padahal, pertemuanku dengan dia berawal dari hobi yang sama. Musik.
Aku suka menulis lagu dan menyanyi, dia seorang gitaris. Pertemuan itu seperti madu. Sampai akhirnya aku menyadari ada banyak sekali racun di belakang punggunya. Tentang sayap indah miliknya yang kubayangkan, telah patah.

Aku jadi biasa dengan segala tingkah kerasnya, semua sumpah serapah yang dia lontarkan padaku setiap aku dia nilai salah, serta semua perlakuannya yang menganggapku seperti sampah.
Aku sudah siap lari, tapi ternyata borgol yang dia kunci di kakiku sangat kuat. Aku hanya bisa menangis. Mengikuti semua aturannya yang tanpa memikirkan perasaanku.
Apapun yang terjadi, semua selalu salahku. Aku tidak punya kesempatan menjelaskan sebuah salah paham dan dia tidak punya waktu lagi untuk mendengarku.
Dia benar-benar berubah, sejauh yang tidak pernah aku bayangkan.

“Kak, pinjam buku, dong?” pinta seorang pria bertubuh kurus yang baru saja datang ke arahku. Sekarang waktu istirahat namun aku memilih tidak beranjak. Pria itu mengambil snack milikku di atas meja tanpa izin, dan mengunyahnya dengan lahap.
“Dih, nggak sopan ah! Belum makan berapa tahun, sih? Rakus banget!”
“Jangan marah, nanti cepat tua.” katanya tak peduli. “Tapi memang sudah tua sih, ya.” lanjutnya tanpa menggubris kekesalanku.
“Buku apa?” Aku menutup novel yang aku baca, menatapnya dengan dagu yang aku topang dengan tangan kanan.
“Pengantar Hukum Indonesia.” jawabnya sambil meletakkan kembali snack milikku tadi. Aku melirik. Sudah habis. Lalu membuang nafas. Dasar anak ini…

“Asin banget ini keripik singkong. Nggak begitu enak, ya? Aku sih nggak akan mau lagi makan beginian.” komentarnya. Nada suaranya dibuat seimut mungkin yang dia bisa, ditambah ekspresi lucu yang bagiku gagal total. Matanya berkedip genit.
Aku pura-pura mau muntah. “Tolong jangan pasang tampang kayak gitu. Nggak cocok. Tambah jelek.” ejekku kemudian.
“Snacknya nggak enak, ya?” tanyaku gemas. Dia mengangguk lalu mengerucutkan bibir. Aku tertawa hambar.
“Tapi habis, ya? Lapar banget? Padahal aku baru sempat makan sedikit banget. Bisa bayangin sebanyak apa kamu makan keripik yang nggak begitu enak ini, kan?” kataku gemas. Dia terkekeh pelan.

Namanya Gio.
Sahabatku dari kecil. Rumah kami berdampingan.
Sekarang, dia juniorku di kampus. Umurnya satu tahun di bawahku. Tapi, dia selalu menganggap diriku adik yang tua. Menyebalkan.

“Ngomong-ngomong…” katanya sambil mengambil posisi duduk di depanku. Gantian dia yang menopang dagu sedangkan aku melipat tangan di atas meja, tapi sebelah alisku terangkat.
“Kalau jelek, kenapa banyak yang naksir sama aku, ya? Hayo, bisa jelasin?”
Aku memasang wajah malas, memandangnya dengan sirat mata please-deh-jangan-sok-keren.
“Matamu pasti sudah rabun. Maklum sih, faktor usia. Padalah sedetikpun aku nggak pernah jelek.” jelasnya lalu menggembungkan pipi.
Aku langsung memukul lengannya dengan novelku. Dia tertawa puas.
“Sialan.” umpatku kemudian.

Ponselnya berdering. Matanya beralih focus ke layar ponsel. Dia menatapku sebentar dan aku hanya mengangguk.
“Halo, honey.” sapanya membuka pembicaraan. Senyumnya merekah.
Aku membulatkan mulut. Sudah pasti itu dari Gretha, kekasih Gio sejak dua tahun yang lalu. Wajah Gio yang semula riang berubah muram. Apa percakapan mereka begitu serius, ya?
Gio berdiri kemudian tangannya memberiku isyarat. Dia melangkah ke luar kelas. Mereka, tidak biasanya. Ada apa?

Tidak berapa lama, Gio balik masuk ke kelasku. Dia kembali duduk di depanku. Ekspresinya datar. Keningku mengernyit bingung. Tuh, kan? Sesuatu pasti telah terjadi. Gio selalu seperti itu kalau ada masalah. Dia menenggelamkan wajah di antara dua tangannya yang dilipat.

“Ada apa?” tanyaku khawatir. Dia tidak menjawab. Aku panik.
“Gio, kenapa?” Aku mengulang.
“Gretha.” Suaranya serak. Aku makin cemas. Dia… menangis?
“Gretha. Aku. Putus.” ucapnya terbata. Aku tersentak.

Putus?
Penasaranku makin meluas.
Selama ini aku tidak pernah tahu mereka pernah bertengkar. Tapi, sekarang, putus?
Apa hubungan mereka sebenarnya separah itu?

Dia menarik tanganku yang mengusap kepalanya dan memeluknya. Baru kali ini aku melihat Gio begitu rapuh. Aku jadi tidak tega.

“Gretha, adalah yang selalu kuperjuangkan. Kenapa, dia jadi menyerah?”

Aku terasa luka mendengarnya. Gio, benar-benar patah hati. Sedih menyelimutinya. Dia sulit jatuh cinta. Sikapnya cukup acuh pada orang lain. Namun ketika bertemu dan akhirnya bersama dengan Gretha, dia adalah Gio yang aku kenal.
Aku tidak bisa mengatakan apapun selain mencoba menenangkannya.

Ponsel dalam saku jaketku bergetar. Aku lantas buru-buru meraihnya.
Ada pesan masuk dari Davi, kekasihku.

“Ketemu di gazebo 5 sekarang.”

Ah, berarti Davi sedang ada di kampusku, ya?
Satu-satunya gedung kampus dengan gazebo bernomor adalah kampusku, Fakultas Hukum. Sedangkan Davi kuliah di Fakultas Ekonomi. Kampus kami bersebelahan.

Aku mengangkat bahu. Tidak biasanya. Tapi akhirnya aku tersenyum tipis dan berjalan ke taman gazebo.

“Hai?” sapaku ramah begitu melihat Davi. Dia melepas earphones yang menggantung di telinganya.
“Duduk.”
Aku mengangguk dan duduk di hadapannya. Suasana di taman gazebo cukup sepi sebab berada cukup jauh dari lapangan kampus. Terlebih gazebo 5, letaknya paling ujung daripada yang lain dan dikelilingi pohon rindang. Biasanya hanya anak-anak yang ingin fokus serta serius mengerjakan tugas dan suka ketenangan yang akan betah di tempat ini.

“Kamu udah lama di sini, ya? Aku tadi di kelas aja. Ngobrol sama Gio.”
“Nggak juga.” katanya. “Nggak ada kelas? Kok bisa ngobrol sama Gio?” tanyanya. Aku meraih sebotol air mineral yang dia beri padaku dan meminumnya.
“Segar banget.” gumamku lalu meletakkannya ke atas meja kecil. “Nggak ada. Tugas doang. Terus istirahat. Aku santai di kelas terus Gio datang. Awalnya dia mau pinjam buku, terus tiba-tiba ada telpon dari Gretha pas kita lagi ngobrol. Eh, malah cerita kalau dia putus sama Gretha. Aku juga nggak ngerti sih apa masalahnya. Tapi, yah, kasihan aja dia galau gitu. Sayang banget mesti putus. Padahal mereka cocok. Betul, nggak?” kataku panjang lebar pada Davi.
“Iya. Tapi, kayaknya aku bisa tebak alasan Gretha sama Gio bubar.”
Aku terkesiap. Serius?

“Apa memangnya?”
“Gretha cemburu sama kamu.”
Aku merengut sebal. “Loh? Kok aku?”
“Memang apa lagi? Cewek mana yang mau cowoknya dekat sama cewek lain? Kata sahabat bisa aja jadi topeng buat tutupi suatu hubungan yang spesial. Lagian, aku lihat kamu mesra-mesraan sama Gio. Itu yang kamu bilang ngobrol?”

Hah? Davi kenapa, sih?

“Maksud kamu apa?”
Dia tertawa meremehkan. “Kamu mau pura-pura bodoh? Atau memang kamu bodoh?” sindirnya tajam. Aku panas, tapi berusaha menahan. Kenapa dia jadi menyebalkan begini?
“Maaf. Kayaknya kamu salah ngerti.” Mataku ikutan memanas. Aku menahan tangis. Baru kali ini nada suaranya berubah buas.
Dari awal aku sudah menjelaskan kedekatanku dengan Gio sebagai teman dekat bahkan seperti keluarga. Lagipula, aku tidak pernah punya perasaan sayang seperti itu pada Gio. Davi bahkan pernah bilang dia tidak akan pernah cemburu pada Gio.
Lalu apa aku yang salah sementara aku hanya berusaha menghibur Gio?

“Bukannya kamu dari awal nggak pernah permasalahin soal Gio?” kataku. Nafasku naik turun. Rasanya ingin sekali marah sekaligus menangis.
“Kan sekarang beda.” sahutnya santai, sedangkan tanganku mengepal. “Gimana kalau sekarang, aku mau, kamu jauhi Gio? Aku nggak peduli, mau dia teman dekatmu, atau bahkan kamu anggap keluarga?”
Aku menggeleng pelan. Tidak mungkin.

“Kamu nggak bisa gitu.” protesku tidak terima.
“Kenapa? Aku pacarmu. Aku berhak ngatur kamu selama itu buat kebaikan kita. Apa Gio lebih penting? Apa kamu lebih sayang sama Gio?”
“Dav, dengar ya. Aku sayang sama kamu. Tapi aku juga sayang sama Gio. Tapi sayangku ke kamu dan Gio itu beda. Aku sayang kamu, ya karena kamu pacarku. Soal Gio? Ya karena dia aku anggap sebagai adik aku. Harusnya aku yang tanya ke kamu, dengan sikap kamu yang kayak gitu, apa kamu benar-benar sayang sama aku? Apa mungkin kamu sudah nggak mengharga…”

PLAK!!!
Satu pukulan melayang bebas di pipi kiriku. Aku pun membatu sesaat. Kataku terhenti, tak dapat terlanjut lagi.
Barusan, Davi menamparku, ya?
Tidak, ‘kan?
Bukankah itu hanya angin yang terlalu kencang?
Tapi, kenapa rasanya panas? Telingaku mendengung. Air mataku jatuh. Aku memegang pipiku sejenak dan menatapnya dengan senyum tanpa arti.

“Aku se-salah apa?” tanyaku.
“Kalau mau hidupmu aman, cukup ikuti apa yang aku bilang. Ngerti?”
“Aku mau putus.” sahutku cepat. Aku tidak peduli suaraku terdengar sangat bergetar.
“Apa?” tanyanya marah. Tangannya menyentuh kedua pipiku dan menekannya kuat-kuat. Aku menepisnya. Sakit. Setan apa yang sedang merasukinya?
“Putus.”
“Nggak akan.”

Aku siap-siap beranjak pergi tapi tangannya mencengkramku.
“Lepas.” Aku melawan. Dia makin mengeratkannya. Aku meringis. Mengerikan sekali.
“Kamu yang salah, kenapa kamu yang marah? Hah?”
Aku memandang ke sekitar. Kenapa orang-orang jadi pura-pura buta dan tuli?

“Kamu yang salah, kenapa malah minta putus? Jangan-jangan ini memang rencana kamu? Berduaan dengan Gio, bikin aku sakit hati, terus pergi gitu aja?”
“Aku nggak akan pergi kalau cara kamu nggak gini. Aku nggak nyangka kamu bisa jadi sekejam ini, Dav. Apa yang salah sama kamu?”
“Apa yang salah sama aku? Nggak ada. Salahnya itu, di kamu.” katanya angkuh. “Kamu cukup bilang bahwa kamu sayang sama aku. Apa susahnya?” perintahnya lalu berdecak. Aku tidak menurut dan bersikeras menjauhinya.
“Apa kamu mau yang lebih sakit?”
Dan kali ini dia menginjak kakiku. Sakit sekali. Aku menyerah, lalu menggeleng. Pria ini benar-benar kekasihku, kah?

Tangisku tidak juga mereda. Akhirnya, meski sulit bibirku berucap juga. “Aku menyayangimu.”
Tidak. Aku sama sekali tidak sungguhan mengatakannya. Hatiku berontak.
Dia tersenyum puas dan menjauhkan kakinya. “Oh, ya. Bukan cuma Gio. Aku juga risih dengan Ray.”
“Ray?” tanyaku getir. “Ray salah apa? Dia nggak pernah ganggu kamu. Kamu bahkan nggak kenal sama Ray. Jadi, risih apanya?”
Ray adalah mantan kekasihku yang dia benci. Entah kenapa. Aku menyeka air mataku dengan kasar. Davi benar-benar harus sejahat itu ya untuk menegurku karena cemburu?

“Bahkan di saat kayak gini kamu masih bisa bela Ray. Kamu nggak bosan ya, bertindak murahan? Atau memang kamu murahan?”
“Kak Shanin? Kak Davi?”
Aku menoleh ke sumber suara. Gio. Davi membuang nafas dan melepas tanganku kasar. Matanya tetap menyeramkan. Aku menatap tanganku yang merah, beralih ke Gio sebentar, dan pergi tanpa kata. Setidak-tidaknya, Gio datang di saat yang tepat. Menghentikan emosiku.

Cerpen Karangan: Desy

Cerpen Masih, Kamu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Just Keep Being You

Oleh:
Di kala jemarimu mulai membelai jemariku dan berkata, “Aku rindu padamu,” di kala tanganmu menghampiri pundakku dan mulai merangkulku, di kala bibirmu mulai mendekati keningku, kau kecup itu dengan

25 Anak Tangga Pada 35 (Part 3)

Oleh:
Sepertinya dia telah pergi aku kembali memasuki rumahku. Baru ini ada orang menculikku dengen izin. Masih gelap dan tetap gelap hingga masa depan itu datang mendekat aku bisa bernafas

Tak Mau Lagi

Oleh:
Sakit… sakit dan sakit!!! Perih hati tergores sembilu tajam. Mati rasa ini. Ku ingin tenggelamkan segala cerita cinta dengannya di Samudera Pasifik. Ku banting hati dan segala janji manisnya

I Hate U Somad (Part 1)

Oleh:
Kenalin nama aye Somad ramdan, aye sekolah kelas 2 SMA. Aye anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang aye lagi suka banget sama perempuan cantik di kelas, namanya Anggun. Dari

Saat Aku Kembali

Oleh:
Bruumm… Bruumm.. Suara stom kedua kapal mengaum membelah sunyinya malam di kota ini. Pun seperti mengamuk mengalahkan bisingnya keramaian di pelabuhan. Orang-orang hilir mudik, entah apa yang mereka kerjakan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *