Mata Angin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Sastra
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Utara, bawa Timur temui Barat. Selatan bantu Utara untuk bawa Barat pada Timur. Tenggara, jangan ambil Barat dari Timur. Tuhan, sudikah kau pantaskan Timur dengan Barat?
Aku menunggumu, walau kayu sudah jadi abu. Meski aku kini jadi debu. Meski aku diolok-olok jarak antaramu. Dan kini dipecundangi waktu karenamu.

“Dasar bodoh, kau mencintai Barat?” Tanya Utara
“Apa yang salah?” Tanyaku
“Kau ini kenapa? Biarkan saja timur mencintai Barat.” Jawab Selatan
“Barat itu milikku, kau angin bodoh mati saja” Cela Tenggara
“Biarlah Timur mencintai apa yang telah ia pilih. Kau harus pertahankan apa yang pantas dipertahankan. Biarlah mereka mencelamu. Kini kau hanya perlu membuktikannya, kawan” Kata Selatan

Benar kata Selatan, aku harus mencintai apa yang telah aku pilih. Dan sekarang yang harus aku lakukan dalam perihal mencinta adalah tetap menunggu. Menunggu waktu ini cepat berlalu. Agar aku berada dalam suatu waktu dimana aku bisa menemuimu. Berhembus dari Australia ke Asia. Kuharap waktu berbaik hati padaku.

Juli, bulan dimana si sepi akan bergegas pulang dari diri ini. Berhembus dari Australia ke Asia. Menemuimu, melepas segala rindu. Tak akan lagi aku menapaki sepi, karena kau akan ada menemani. Aku akan ke sana, sebentar lagi.

Ketika aku hendak berpamitan kepada Tenggara, Utara dan Selatan. Belum lagi aku menghampiri mereka, aku pun mendengar mereka bicara dengan serius satu sama lain. Aku mendengarkan percakapan mereka dari jauh. Hal yang buat hatiku enggan membaik.
“Tadi aku melewati Nusantara, sungguh indah tempat itu. Kau tahu?” Tanya Utara kepada Selatan
“Ya, tentu aku tahu. Kemarin aku lewat tempat itu. Aku lihat banyak manusia bertopi kerucut sedang membungkuk di sawah. Mereka sedang menanam tumbuhan padi.” Ujar Selatan
“Menanam padi? Bulan ini bulan Juli bukan? Bukankah Timur akan pergi ke Asia? Ke tempat itu. Bagaimana jika Timur ke sana. Ia akan buat kemarau panjang di Nusantara. Bagaimana nasib padi yang ditanam para manusia topi kercuut itu. Mereka pasti akan gagal panen karena kemarau panjang ini.” Kata Tenggara
“Tapi mau bagaimana lagi. Itu sudah tugas Timur untuk pergi ke Asia dan buat kemarau di Nusantara.” Jawab Selatan
“Tapi benar juga kata Tenggara. Jika Timur berhembus ke Asia ia akan buat kemarau panjang di sekitar Nusantara. Aku yakin para manusia bertopi kerucut itu akan bersedih, aku yakin itu.” Ujar Utara
“Benar bukan kataku? Aku punya hati. Maka dari itu aku bicara seperti tadi” Kata Tenggara

Aku hanya bisa diam dengan lisanku. Pura-pura tidak mendengar walau aku tahu, aku mendengar semuanya dengan rinci. Dari awal hingga akhir. Dari penuh hingga habis. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menjadi setan bagi para manusia itu? Menjadi bedebah merugikan bagi jutaan tanaman padi? Atau aku jadi malaikat penolong. Yang paham dan merasa bahwa dirinya adalah sesuatu yang merugikan. Maka mereka menjauh dari tempat itu?

Aku harus kendalikan egoku. Walau berharap aku bisa bertemu Barat pada bulan Juli. Kini aku benar-benar dipecundangi jarak. Rinduku menang, menemimu kalah.
Samudera Hindia, jurang antara kau dan aku. Pembatas tanpa batas yang keras. Memisahkan aku dan Barat dalam dua Benua. Pikiranku melanglang buana.

Tepat ketika Matahari berada di atas kepala para manusia. Dimana matahari sedang semangatnya membakar diri. Aku pun menyapa Matahari.
“Hei, apa aku boleh minta bantuanmu?” Tanyaku
“Siapa? Aku?” Kaget Matahari
“Ya, kau. Aku ada perlu.” Tegasku
“Silahkan” jawab Matahari
“Apa kau pernah lihat angin Barat di Asia? Aku yakin kau pasti dapat melihat Asia dari atas sana. Aku harap jika siang di Asia kau dapat melihat keadaannya.” Ujarku
“Oh, tentu kawan, aku sering melihatnya. Menurutku, dia dalam keadaan baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.” Jawab Matahari
“Terimakasih Matahari, kau buat hati ini sedikit lega.” Jawabku
“Ya tentu, kuharap begitu. Hei, ini sudah bulan Agustus. Kau tidak berhembus ke Asia? Bukankah itu tugasmu dan harus dilaksanakan?” Tanya Matahari
“Ya, kau benar. Aku benar-benar ingin ke Asia untuk temui Barat. Namun, aku tidak tega melihat daerah yang akan kusinggahi menjadi kemarau karena aku” Jawabku
“Semua punya masanya masing-masing. Semua telah tersusun rapi. Musim penghujan, musim pancaroba ataupun musim kemarau. Setiap manusia pasti rela daerahnya berganti musim. Mau tidak mau” Kata Matahari

Apalagi ini? Setelah rindu kini masalah timbul lagi. Apa yang harus aku lakukan? Pergi ke Asia lalu melihat para manusia bertopi kerucut bersedih karena kemarau? Atau melihat para anak-anak kehausan karena sumber mata airnya mengering?

“Kau harus pergi, Timur. Kau tidak bisa terus begini. Tugasmu adalah membuat daerah itu kemarau. Kau tidak bisa mengatas namakan rasa kasihanmu ini pada masalah yang seperti ini.” Ujar Selatan
“Tapi bulan lalu aku mendegar kalian mengatkan bahwa para manusia bertopi kerucut itu sedang menanam padi untuk sumber pangan manusia banyak. Jika aku berhembus kesana dan membawa kemarauku, bagaimana nasib mereka?” Kataku
“Maaf jika kau mendengar perkaaanku bulan lalu, Timur. Itu hanya menurut pendapatku saja. Kau jangan terlalu mencampur adukkannya. Jangan karena aku, kau tidak menjalankan tugasmu. Dan kau juga tidak dapat bertemu Barat” Ujar Tenggara menyesal
“Benar kata Tenggara. Kau pergilah berhembus ke Asia. Jangan sampai penyesalanmu diakhir, kawan.” Kata Selatan
“Jangan memunafikkan diri. Aku tahu kau sangat ingin bertemu Barat. Pergilah, aku tak apa. Sudahi kebodohanmu ini dan pergilah temui Barat.” Ujar Tenggara
“Aku pikir-pikir dulu” Kataku

Sore di Australia, raganya masih jauh di pelupuk mata. Tertabrak angan gilaku yang entah berantah terbang kemana. Hingga wajahnya menggelayut tepat di depan korneaku. Nadinya hingga menyentuh nadiku. Apa ini? Aku butuh pskiater sekarang.

Langit menjingga, matahari berkemas pulang untuk satu malam. Berganti jadwal dengan bulan untuk terangi malam. Dengan tas ranselnya, matahari melambai-lambai sambil tertawa licik padaku.
“Aku harus pergi dulu, kau jaga diri baik-baik.” Kata Matahari
“Ya, kau pun. Jaga diri baik-baik juga. Sampai bertemu esok pagi.” Ujarku
Rasanya, tidak ada warna seromantis jingga. Yang dapat kau puitiskan warna indahnya itu. Ya, seperti puisi. Cintapun kadang dilebih-lebihkan untuk mencapai klimaksnya.
Pikiranku merogoh-rogoh mencarimu. Rindu ini sudah tidak tertahankan. Sepertinya aku memang harus ke sana. Aku tidak bisa menunggu lama-lama.
Malam, saat dimana semua kenangan tertuang. Dimana rindu menduduki puncak paling dahsyat dalam gelap malam. Saat itu sabit sedang menggantung dengan cahayanya. Sendiri, seperti aku. Membuat rindu ini makin lama makin besar dan semakin lama semakin jauh.

“Hei kawan, apa kau tidak kesepian di atas sana” Tanyaku
“Tentu aku kesepian. Aku membutuhkannya” Jawab Sabit
‘Siapa?” Tanyaku lagi
“Matahari” Jawab Sabit
“Kau menyukai Matahari?” Tanyaku
“Ia telah terangi aku setiap malam. Cahayanya yang buatku nampak indah. Jika tidak ada dia, aku hanya gelap. Ia rela menyinariku setiap malam. Siapa yang tidak jatuh cinta jika seperti itu” Jawab Sabit
“Ya, aku mengerti. Kalau begitu bilang saja jika kau mencintainya. Bisa saja diameyukaimu juga bukan? Kenapa tidak dicoba saja” Kataku
“Aku pun ingin mengutarakannya. Namun aku sadar diri. Ia sangat jauh, sulit kurengkuh. Mana mungkin yang jauh bisa bersatu. Mana mungkin yang diciptakan untuk tidak dipersatukan pada hakikatnya bisa bersatu. Tidak akan bisa” Ujar Sabit
“Aku yakin aku bisa bersatu dengan Barat, walau kami jauh.” Kataku
“Kau yakin? Sadar dan bangunlah kawan, kalian berlainan. Kau tak bisa membelokkan takdir yang lurus.” Jawab Sabit
“Setidaknya aku berusaha, tidak seperti kau.” Ujarku kesal
“Usaha? Apa yang telah kau usahakan untuk cintamu itu? Menunggu? Bodoh. Aku pun menunggu Matahari, namun aku tidak ingin tenggelam dalam penantianku ini dan tidak ingin lebih jauh bermimpi.” Kata Sabit

Aku pergi, kesal aku dengannya. Jiwaku tidak akan terpatahkan hanya karenanya. Semangatku tidak akan memudar. Dan sekarang aku tidak akan menunda-nunda lagi pertemuanku itu.

Aku pergi berhembus menuju Asia. Melewati stepa dan sabana yang luas, membawa angin panas kemarau. Menjadi setan bagi para manusia. Pergi menjauh dari Australia.

Aku telah sampai. Kemarau telah aku buat di sini. Tapi, dimana Barat? Aku mencarinya. Terus-terusan mencarinya. Namun tidak ada. Apa-apaan ini? Di mana kau?
“Ia telah pergi” Ujar Gagak
“Pergi?” Tanyaku
“Kau mencari Barat bukan? Ia telah pergi berhembus dari Asia ke Australia.
Menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang. Ia hanya diperolok cinta.” Ujar Gagak
“Mengapa ia pergi?” Tanyaku lagi
“Ya tentu, itu tugasnya. Ia telah membawa uap air untuk meberi hujan.
Musim penghujan. Ia pergi melewati Hindia dan Pasifik. Pergi, menjauh darimu” Katanya

Aku mati. Tubuhku menggigil dicangkoki kemarauku sendiri. Aku ingin hilang. Bodohnya aku menunda-nunda pertemuan ini. Menunggu dan berharap bersatu pada kodrat yang berlawanan. Mencoba membelokkan takdir lurus yang telah dibuat Tuhan.
Kisah macam apa ini? Penantianku bagai kebodohan yang tak berujung. Aku ingin membakar hujannya. Bangunlah Timur, benar kata Sabit. Sedalam-dalamya cinta bulan pada matahari, semesta tidak akan merestui.

Cerpen Karangan: Ridha Kusmawar
Facebook: Ridha Ka
Saya Ridha Kusmawar, bisa follow instagram saya: Ridhakusmawar

Cerpen Mata Angin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suami Baru

Oleh:
Shania, 24 tahun, wanita yang baik dan patuh pada permintaan kedua mertuanya. Dia hanya bisa keluar rumah jika bertemu ibu atau adiknya, Emira. Shania saat ini sedang di rundung

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Waktu itu tepatnya saat masa orientasi SMA aku mengenalmu. Namun aku tak tau kapan rasa ini ada sebab aku tak pernah menyadarinya. Sejak saat perkenalan itu pula ternyata aku

For You

Oleh:
Pagi ini seperti biasa Mila pergi ke sekolahnya. Di kelas ia merasa sedih dan tampak murung. Hari ini adalah hari habis dia diputusin sama pacarnya Edo, tanpa alasan yang

Sudahkah Hamdan Datang?

Oleh:
“Cepat sedikit, nanti keburu siang!” kata wanita setengah baya sambil mengetuk pintu kamar. “Iya.. sebentar lagi…!” terdengar suara yang tak begitu jelas dari dalam kamar itu. “anak ini sungguh

Mystery Of Love (Part 1)

Oleh:
Apakah cinta itu harus seperti alam ghaib yang kita tahu itu ada namun sangat misterius, kenapa sangat misterius karena cinta datang tiba-tiba kemudian pergi tanpa sebab, dia hadir tanpa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *