Matahari Tak Memberi Kabar Gembira

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 May 2018

Siang itu sekitar pukul 13.17 WIB, aku berangkat dari rumah menuju tempat tinggal temanku yang bernama Salmah. Aku sangat merindukannya karena sudah lama tak berjumpa.

Sesampainya aku di sana, dia menyambutku dengan senyum yang indah bertemankan secangkir teh es dan sepiring roti kering yang sudah disediakannya. Lama berbincang dengannya tiba-tiba adiknya menghampiri Kami di ruang tamu ketika itu, adiknya menyalamiku dengan senyuman yang lebih indah. Aku melihat bola matanya nanar seakan selalu menatapku tanpa berkedip. Aku pun melihat ada sebuah cahaya yang terang di matanya.

Matahari kembali menyinari ruang tamu ketika itu hingga terasa gerah ketika kami duduk di ruang tamu yang beralaskan permadani hijau tua. Matahari juga seakan menyinari si dia yang menggunakan baju kaos kuning yang duduk di depan aku, ia dia adalah Lisa, adik temanku sendiri. Hatiku berdebar seakan ada rasa yang tak lagi bisa aku katakan pada siang itu, suasanapun mulai hening. Tak lama kemudian, aku pun pamit pulang.

Sesampainya aku di rumah, hp di dalam saku aku pun berbunyi “kring kring” seperti klakson sepeda saja. Lalu aku membuka inboxnya, aku membaca pesan dari nomor baru 083162856XXX. “Aku senang berjumpa siang ini bersamamu wahai cowok yang rapi dengan baju koko warna maroon”.
Aku pun membalasnya “terimakasih telah menyukaiku wahai snow white yang menggunakan baju kuning”.

Setelah lama komunikasi lewat hp, bbm, fb, messenger ya akhirnya tiba masanya dia mengatakan jatuh cinta padaku, aku pun dengan hati yang riang mengatakan aku juga jatuh hati padamu wahai snow White. Akhirnya kami pun jadian dalam asmara yang menggelora. Ketika berjumpa bersamanya setelah itu aku langsung mengatakan aku cinta kepadamu, dia mengangguk dan serasa bola matanya kian sayup melihat aku di sebuah cafe pada sore itu ditemani dengan minuman favorite kami alpukat juice dan sepiring snack potato pedes.

29 Februari 2011 aku rasa hari yang indah. Hari dimana kami menjalin sebuah hubungan masa cintanya sepasang remaja.
Hari silih berganti, tahun pun kedepannya juga berganti. Aku dan dia selalu bersama, senang dan sedih telah kami lalui, mendaki bukitpun telah kami lewati, sampan di sungai pun telah kami layarkan, ibaratnya kami selalu bersama dalam keadaan apapun “indahnya cinta yang aku rasa bersama dia” ujarku dalam hati kecilku.

Inilah yang aku rasa seindah cerita dalam dongeng, namun cinta yang aku rasa malah sangat jauh berbeda. Si dia terlalu akrab sama teman cewek dan teman cowoknya. Aku selalu jealous dan merasa perhatiannya sudah jauh berubah dari yang dulu.

Pagi datang menjelang ketika itu suara angsa tetangga sebelah seakan membangunkanku pagi yang mendung itu, inilah akhir di tanggal 31 desember 2016, malamnya tahun baru, aku masih sempat berjalan dengan si dia. Setiba di jalan kami sempat berantem kata-kata membahas ada orang ketiga, suasana malam itu seperti jago merah yang memuncak panasnya. Ada masa yang menjenuhkan telah datang menghampiri kami. Endingnya karena selalu berantem di akhir tahun 2016 yang lalu, kami pun mengakhiri hubungan kami. Si dia telah pergi jauh melepaskan dan meninggalkanku sehingga aku pulang sendirian dengan hati yang gundah. Hingga di 2017 sekarang “sudahlah, single aja” ujarku.

Ternyata matahari pada siang awalnya aku berjumpa pertama kali dengan si dia bukan memberi berita gembira kepadaku, namun hanya memberi secercah cahaya pudar seraya menjadi sebagai pengalamanku ketika sudah mengenal yang namanya jatuh cinta.

Cerpen Karangan: Akmal Khairi
Facebook: Akmal Khairi Zein

Cerpen Matahari Tak Memberi Kabar Gembira merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Sahabat jadi Cinta

Oleh:
Dina Bergegas menyetater motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Reno, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SD. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Reno. Belajar bersama

Kembali Dalam Dekapanmu

Oleh:
Pandanganku tak lepas dari air yang menetes ini. Satu jam sudah berlalu dan aku masih memandanginya. Aku tidak merasa bosan sedikitpun. Tentu saja, hujan adalah hal yang paling aku

Ruthie (Part 1)

Oleh:
“Ruth!” Langkahku terhenti demi panggilan itu. Tak terlintas sedikit pun di kepalaku tentang siapa yang meneriaki namaku di tengah jalan yang telah sesepi kuburan ini. Angkringan di dekat kampus

Jodoh Di Tangan Tuhan

Oleh:
Semua berawal tahun 2007 ketika kami masuk di sekolah menengah pertama, tidak ada yang terlalu spesial saat itu, tapi semua mulai berbeda saat aku kenal dengan seorang perempuan, Vanny

Yang Bukan Segalanya

Oleh:
Bagaimana rasanya membenci sesuatu yang dicintai hampir semua orang? Dipuja mayoritas manusia? Bahkan sebagian orang dibutakan olehnya, rela mengorbankan segalanya. Sendiri melawan arus bukanlah hal yang mudah. Kau bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *