Matamu Mengingatkanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 16 September 2016

“Apakah ada yang ditanyakan?,” tanya Felly tegas dengan meandang seluruh General Manager.
“Kalau tidak ada, kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Kalaupun ada masalah hari ini, kalian bisa menghubungi saya.”
“Baik, Bu!,” ucap seluruh General Manager dengan tegas.
Felly pun merapikan map-map yang berserakan di bawah microfon ruangan meeting. Setelah itu ia ke luar ruangan.

“Pak Arka gimana, sih ya? Dia kan seharusnya datang untuk meeting hari ini.”
“Maklum lah, CEO kan bisa ngelakuin apa aja? Apa gunanya punya bawahan?,” jawab salah satu pegawai yang tengah ngerumpi di depan lift sambil menunggu lift terbuka.
Felly yang mendengarnya berpura-pura untuk tidak mendengarkan perbincangan mereka. Hingga akhirnya, Felly menghampiri mereka dan hendak turun ke lantai satu untuk membeli kopi. Mengingat, sekarang adalah jam istirahat di kantor ini.

“Felly! Lu dicariin kemana aja, hah?!,” panggil Bram dengan nafas terengah.
“Ada apa emangnya?”
“Nih laporan saham untuk Pak Arka!”
“Oh, iya. Makasih ya, Bram.”
“Ok. Tapi, Fel! Gue bukannya apa, bukannya terlalu bahaya kalau lo nanganin kasus perusahaan hari ini?,” tanya Bram.
“Kasus?”
“Coba deh, lo buka dokumen itu! Gue sama Billy, udah konfirmasi untuk kebenaran dokumen itu.”
Felly pun membuka map hitam itu. Ia membaca seluruh kesimpulan yang tertuliskan. Seketika dahinya mengerut. Ia menatap Bram dengan tajam. Tanpa berkata apapun, Felly berlari ke luar kantor. Kemudian, ia menghentikan taksi dan memberikan alamat tujuannya.

Selama di perjalanan, Felly merasa cemas setelah membaca laporan yang diberikan kepada Felly. Bagaimana tidak? Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Laki-laki itu, lari dari tanggung jawabnya. Felly yakin, Arka tidak masuk ntuk memimpin rapat hari ini karena ia telah kehilangan keyakinan dirinya untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Sekalipun, Arka telah memiliki otak yang jenius.

Dengan langkah tergesa, Felly menaiki tangga apartement Arka. Banyak orang yang melihatnya seperti orang kesetanan saat memencet tombol lift yang masih tidak terbuka. Keringatnya, telah terkalahkan dengan rasa khawatirnya.

“Arka!,” panggil Felly dengan nafas terengah saat pintu apartement Arka terbuka.
“Tch! Kau masih ingat sandi apartement ini?”
“Arka… Arka! Kau sudah berapa banyak minum alkohol hah?,” tanya Felly dengan membopong Arka yang hendak menghampirinya, tapi tidak bisa karena efek alkohol yang terlalu banyak.
“Felly…. Sayang… Tch! Hahahaha!,” jawab Arka dengan suara mabuknya.
“Oh my god!,” desis Felly dengan melepaskan sepatu Arka setelah membaringkan laki-laki itu.
“Felly…,” panggil Arka lemas dengan suara mabuknya.
“Ka, badan kamu panas banget! Udah tahu gini masih aja mabok!,” gerutu Felly dengan berjalan ke arah dapur untuk mengambil panci yang berisi air panas untuk mengompres badan Arka.

Tak lama dari itu, Arka tertidur dengan nafas teraturnya. Felly menghembuskan nafas beratnya saat ia melihat orang keparat tertidur di ranjang dengan pulas. Felly memutar bola matanya untuk melihat lingkungan sekitar setelah ia melihat pemdangan perkotaan. Matanya tertuju pada meja kerja Arka.

“Kenapa kau masih menyimpan foto-foto ini di sini? Bukankah kau sangat membenciku, hah?! Kau begitu menyebalkan! Sangat menyebalkan!,” gumam Felly dengan menyentuh-nyentuh foto Arka yang tersenyum. Tepat di sampingnya.
Setelah itu, Felly kembali melihat kondisi Arka.
“Kenapa kau mau melakukan semua ini jika dirimu sendiri tersiksa dengan kehidupanmu? Hingga kau rela kehilangan aku. Kau tahu, aku membencimu! Sangat membencimu! Tapi, aku tidak melihat kau sakit seperti ini! Jika memang kau pergi, pergilah dengan sehat agar aku tenang!,” gumam Felly dengan menatap Arka yang terbaring tidur.
“Tapi, aku masih mencintaimu!,” jawab Arka tanpa membuka matanya.
Felly terkejut. Di tambah, saat Arka berusaha bangun dari tidurnya. Dan menegakkan badannya untuk bersandar di sandaran tempat tidur.
“Terimakasih karena sudah mau membantuku untuk memimpin rapat hari ini. Tapi, kau tidak perlu repot-repot ke sini.”
“Tidak bisakah mulutmu itu diam dan cukup dengan berterimakasih, hah?! Apakah kau ingin aku menguncir mulutmu agar kau tidak berkicau? Atau jika perlu, aku memotong bibirmu saja, hah?”
“Tch! Baiklah, aku akan menuurut saja padamu. Aku bahagia sekarang. Karena mantan kekasihku masih mau perhatian denganku. Hehehehe.”
“Lu jelek banget kalau gitu! Arka! Tidak bisakah kau melepas kekuasaan ini? Ini terlalu berat untukmu. Kau harus memikul kehidupan banyak orang jika kau terus menjadi pemimpin perusahaan itu.”
“Kemarilah!”
Felly menatap Arka heran dan ragu. Kemudian, Arka menarik tangan Felly untuk mendekat ke arahya. Lalu, mengusap kepala Felly dengan belaian lembut.
“Aku sudah memutuskan semua ini. Sekalipun aku harus meti demi mereka, aku sudah berjanji kepada almarhum Ayahku untuk meneruskan semua ini. Felly, maafkanlah aku karena membuatmu kawatir. Hingga kau menyetujui perpisahan kita. Aku tahu, kau masih mencintaiku. Begitu pula dengan diriku. Tapi, aku terlalu takut untuk kembali padamu. Sekalipun aku telah memiliki segalanya. Maafkanlah aku.”
“Kau takut dengan permintaan maaf tapi kau emiarkan dirimu rusak dengan alkohol?! Kenapa kau tidak sekalian memintaku untuk membunuhmu, hah? Apakah kau pikir aku tidak bisa melakukan itu? Arka, kau masih memiliki Allah. Kau masih bisa bersujud pada-Nya. Kau masih bisa bersandar pada-Nya dan mengeluarkan keluh kesahmu! Kau tidak perlu membeli minuman biadab ini! Ini semua hanya bisa menghancurkanmu!”
Arka tersenyum setelah mendengar amarah Felly. Dan, hal itu semakin membuat Felly kesal dengan tingkah Arka.

“Sini! Ikut aku!,” ucap Felly dengan menyingkap selimut Arka dan menarik tangannya untuk mengikuti langkah Felly yang hendak memasuki kamar mandi.
“Ambil wuhdu! Aku akan menyiapkan alat-alat sholat untukmu! Kau bisa kan melakukan hal itu?! Jangan bilang, alkohol telah membuatmu lupa dengan cara mengambil wudhu dan membaca doa!”
Arka hanya tersenyum mendengar dan melihat amarah Felly. Kemudian, ia menuruti ucapan Felly. Setelah menghampiri Felly dengan kemeja dan sedikit baah karena cipratan air wudhu.

“Sekarang, giliran aku yang ke kamar mandi. Kamu, pakai itu baju koko sama sarungnya! Terus pakai juga kopyanya! Jangan lupa, lepas kemejamu! Baju kotor itu!”

“Felly! Ayo kita menikah!”
“Hah?,” tanya Felly bingung.
“Ayo kita menikah!”
Felly tercengang dengan ucapan Arka, tapi nyatanya, setelah Arka mengimami sholat zuhur berjamaah mereka, Arka meluncurkan mobilnya ke rumah Felly untuk melamarnya. Dan, mereka pun merajut rumah tangga setelah perpisahan mereka karena sebuah tuntuan tanggung jawab.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Matamu Mengingatkanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Singgasana Melodi

Oleh:
“Felly, lo masih inget kan dengan undangan untuk manggung hari ini?,” tanya Bram mengingatkan. Felly hanya terdiam. Tetap fokus dengan partitur musik yang ada di depannya. “Fel, jawab kenapa

Perempuan Kutukan

Oleh:
Suasana alam di pedesaan memang selalu memanjakan mata manusia yang mulai lelah. Berbeda dengan kota-kota besar. Setiap hari selalu disuguhi suara amukan klakson yang terdengar mengerikan saat jalanan mulai

Kita Bersatu Dalam Perbedaan

Oleh:
Namanya adalah Fahri Rahman, dia adalah salah satu siswa yang jenius, tampan, pintar menggambar, dan berbakat, tetapi sayangnya dia dijauhi oleh teman-temannya karena dia adalah seorang kidal alias dia

Pelangi Sederhana (Part 2)

Oleh:
Happy b’day mom.. besok adalah ulang tahun ibuku yang ke40. “terima kasih Tuhan, Engkau masih memberiku kesempatan untuk hidup bersama orang yang aku cintai. Semoga ibu, panjang umur, di

Cinta Indah Yang Kau Berikan

Oleh:
Adit, itu namaku, aku aku dikenal sebagai anak yang pendiam di kelas tapi kata teman teman ku aku mempunyai wajah yang cukup ganteng, tapi sampai saat ini aku ngak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *