Matematisnya Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 April 2018

Cinta, seolah menyita sepertiga urusan dunia. Meskipun sebenarnya cukup memilih satu dari ratusan juta jiwa, tapi ternyata lebih rumit dari memilih model celana. Banyak buku tentang cinta, banyak lagu tentang cinta, dan banyak waktu tersita oleh cinta.

Malam ini, sebenarnya tak perlu ada yang aku risaukan, jika aku masih muda. Lebih dari lima tahun aku lulus dari masa remaja, artinya 23 tahun umurku. Sulit aku jatuh cinta, sudah 10 buku mengabadikan kerisauan hatiku selama dua tahun terakhir ini. Tepatnya setelah aku memilih sendiri dari pacarku karena dia kebetulan menemukan yang lebih baik dari aku saat perasaanku benar-benar dekat dengan dia.

Kenapa cinta yang sudah sangat manis ternyata tidak bisa diartikan sebagai cinta sejati? dari manakah aku bisa menilai kebenaran rasa cinta?. Ini adalah lembaran pertama di buku harianku yang ke 11, dan malam sudah semakin larut akupun bergegas tidur.

Pagi harinya aku terbangun seperti biasa, dan mulai mempersiapkan aktifitasku. Aku adalah buguru di SMP N 5 Boyolali. Murid-muridku memanggil aku dengan panggilan “bu dewi” karena memang namaku dewi rahmawati s. pd. Aku terbilang baru menjadi guru, kebetulan aku lulus kuliah dan langsung diterima menjadi pegawai negeri sipil sesuai disiplin ilmuku.
Perjalanan cintaku memang tidak semulus karir pekerjaanku. Terlebih sejak aku putus dari pacarku, aku seperti menganggap dia tak tergantikan di hatiku. Entah apa penyebabnya? sebuah perasaan yang tetap sayang walaupun dia sudah berpaling.

Pagi itu, di ruangan kantor guru sering terjadi percakapan antar guru karena ada 3 guru muda di situ, selain aku ada bu siska dan pak sigit.
“Bu dewi, nanti pulang sekolah kita makan sore bersama ya dengan bu siska di warung makan depan alun-alun” pak sigit menawariku makan bersama.
“Oke, kalian duluan ke sana, nanti aku nyusul karena aku harus fotocopy beberapa berkas murid” jawabku.

Setelah pulang sekolah, pak sigit dan bu siska langsung meluncur ke warung ayam penyet yang sudah direncanakan tadi. Sementara aku mampir ke tempat fotocopy dekat SMA 1 boyolali yang kebetulan di jaga teman SMA ku. Temanku itu bernama arifin, dia laki-laki sederhana yang dengan tekun menjaga kios fotocopy dan sambil kuliah di universitas terbuka di boyolali.

“Eh, bu dewi, ada yang bisa saya bantu?” arifin menyapaku.
“Tolong copy ini jadi 40 lembar ya” jawabku dengan menyodorkan kertas yang akan dicopy.
“Oh ya, gimana kuliahmu fin?”
“Alhamdulillah lancar bu dewi” jawab arifin dengan tersenyum.
Sering aku fotocopy di tempat ini. Selain memang dekat dari sekolahku, aku juga akrab dengan arifin bahkan terkadang aku juga curhat dengannya.

Setelah selesai fotocopy aku pun menyusul bu siska dan pak sigit ke tempat makan tadi. Saat ku datang mereka rupanya sudah mengobrol kesana-kemari.
“Bu dewi, boleh tanya sesuatu gak? tadi saya dan bu siska sedikit membicarakan tentang bu dewi” tanya pak sigit memulai obrolan.
“Boleh, mau tanya tentang apa?” jawabku singkat.
“Akhir-akhir ini kok sangat terlihat sekali bu dewi sulit didekati pria, padahal pria itu sangat tampan dan mapan, contohnya mas ardy polisi satlantas boyolali, bu dewi terlihat sangat cuek sekali, kita kan sudah sangat akrab jadi kita sedikit pengen tahu?”
“Owh itu, ya aku masih belum siap aja menjalin hubungan dengan pria” jawabku.
“Tapi kan bu dewi sudah mapan dan matang, jadi sedikit aneh kalau belum berfikir ke arah situ” saut bu siska dengan nada bergurau.
“Mungkin jiwa ini masih trauma, tahu gak, aku ditinggal pacarku saat aku masih kuliah, dia mendapatkan yang lebih cantik dan mapan, jadi sepertinya cinta itu matematis buat laki-laki” jawabku.
“Wah no coment aku, kalau begitu yasudah mari makan dulu, makanannya sudah datang” sambung pak sigit dengan sedikit menundukan kepala.
Kemudian bu siska melihat wajah aneh pak sigit. Sepertinya bu siska tahu jika pak sigit mendekatiku, jadi dia menanyakan itu untuk mencari kepastian tentang perasaanku yang sepertinya tak mungkin ditembus siapapun.

Setelah makan, kemudian kita pulang. Sesampainya di rumah, aku langsung membuka laptop dan berniat untuk menyelesaikan pekerjaanku. Sesaat kemudian aku nampak resah, pikiran mulai tak karuan, teringat usia matang dan mapan yang disinggung bu siska dan pak sigit. Aku pun bergegas mengambil buku harianku. Buku yang dengan pasti menampung keluh kesahku.

Matematis cinta, jiwa ini sudah benar-benar terluka karena dia yang sepertinya sempurna. Sempurna menuntut sempurna dan akhirnya kecewa, kecewa karena ternyata ku tak sempurna di matanya. Jika masih aku ini sempurna takkan ku bertemu cinta karena si sempurna hanya pembuat luka. Matematis cinta, jika aku ini benar trauma sebaiknya tak kulewati jalan yang sama.

Beberapa minggu kemudian di hari libur, aku bermalas-malasan di rumah. Tak seperti guru yang harus selalu rajin, di rumah aku tak berpredikat itu. Aku si wanita matang dan mapan tapi malang.
“Wik, ada bu siska tu di depan!” teriak ibu memberitahuku.
“Iya buk, bilang tunggu sebentar”
Aku pun bergegas ke ruang tamu menemui bu siska.

“Eh bu siska tumben pagi-pagi udah sampai sini” kataku menyapa bu siska.
“Iya, tadi habis car free day sekalian mampir”
“Owh ya mau minum apa?”
“Air putih saja tapi yang dingin ya, hehe?” saut bu siska menjawab tawaranku.
Kemudian aku mengambilkan air di lemari es dan toples yang berisi camilan.

“Emm, bu dewi, menurutmu aku dengan mas sigit serasi nggak?” tanya bu siska dengan sepontan.
“Ya serasi aja, emang kenapa?”
“Dia mengajakku menikah, akhir bulan dia mau melamarku” jawab bu siska.
Aku sedikit terkaget, bukan karena aku punya perasaan dengan pak sigit, tapi aku kaget karena sebentar lagi aku jadi wanita satu-satunya di kantor yang masih sendiri.

Setelah mengobrol lama bu siska akhirnya pulang. Dia mengundangku di acara lamarannya, aku pun sedikit termenung. jiwa ini seperti ada di antara tiga jarum waktu yang semakin terhimpit, jika aku cuma berdiam diri. Aku harus putuskan langkah disaat tidak ada pilihan sama sekali. Seperti pengembara yang terdampar di gurun pasir yang tak menemukan fatamorgana apapun untuk sedikit menenangkan angannya.

Semakin dekat dengan waktu itu, waktu yang akan menganugrahiku gelar “si lajang yang malang”. Yaitu waktu lamaran bu siska dan pak sigit. Aku pasrah, jika aku menganggap hidupku saat ini hanyut terbawa arus maka aku akan mencari pegangan apapun walau pegangan itu sebenarnya tidak tepat bagiku.

Beberapa hari kemudian, sore itu sehabis mengajar, aku mampir di kios arifin. Tak seperti biasanya, arifin nampak murung, aku mencoba menanyakannya.
“Mas arifin kok sepertinya kehilangan semangat begitu, ada apakah gerangan?” tanyaku dengan sedikit bercanda.
“Masalah pribadi mbak” jawab arifin singkat.
“Halah, biasanya juga aku bercerita masalah pribadiku, tidak sportif dong jika kamu masih menyimpannya” sambungku.
“Wah memang semua guru itu pandai, okelah kalau begitu saatnya saya sombong mentraktir makan bu PNS di warung samping pasar boyolali” jawab arifin sembari menyembunyikan wajah sedihnya.
“Di warung pecel dan jajanan pasar itu, kapan ke sana?”
“Setengah jam lagi, hari ini aku bisa tutup jam 4 sore” sambung arifin.

Sambil menunggu waktu, aku membantu dia melayani pelanggannya. Mungkin saat ini aku memang butuh teman dekat, tapi aku dengan arifin memang sudah dekat. Hanya saja saat ini aku sedikit memberanikan diri lebih dekat karena jiwaku sedikit butuh sandaran agar aku tetap tegar.

Setelah jam 4 sore, arifin menutup kiosnya dan kita pergi ke warung pecel yang direncanakan tadi. Sambil memesan pecel, kami mulai mengobrol.
“Owh ya, tadi kamu mau cerita, tapi tunggu aku mau tanya. Tidak biasanya kamu mengajak aku makan, karena sepertinya pacarmu akan marah jika mengetahuinya?” tanyaku memulai obrolan.
“Sekarang tidak lagi, dia pergi!” .
“Maksudnya kamu berpisah! Karena apa kalau boleh tahu?” sambungku dengan penuh penasaran.
“Aku dan dia sebenarnya masih sangat cinta, tapi ternyata cinta bukan satu-satunya yang menjamin awetnya suatu hubungan”
“Kok bisa begitu?” sambungku singkat.
“Dia menuntutku untuk lebih peduli dan lebih sering mengajak jalan bersama, padahal aku kerja dan kuliah, nyaris tak ada waktu tersisa. Justru disaat seperti ini dia malah mengucapkan kalimat yang membuatku harus mengakhiri hubungan ini” terang arifin.
“Kalimat apa itu?”
“Katanya, banyak orang yang berjuang habis-habisan tuk mendapatkan cinta dan belum tentu dia mendapatkannya, tapi aku dikira cuek dan tak mau berjuang” jawab arifin.
“Lalu kamu jawab apa?”
“Aku jawab saja, carilah laki-laki pejuangmu itu, jika menurutmu laki-laki itu sekarang tidak ada di depanmu” terang arifin.
“Ya sudahlah, masih lebih teragis cerita cintaku kan, hehe. Owh ya minggu depan tak ajak ke tempat lamarannya bu siska ya, aku gak ada teman soale”

Entah kenapa aku jadi semakin dekat dengan arifin. Dia tidaklah laki-laki mapan yang menjadi idola tiap wanita sekarang. Dan aku justru nyaman dengan itu, aku seperti yakin bahwa dia akan lebih menghargaiku daripada laki-laki mapan yang selalu punya sejuta impian baru. Dalam anganku, jika aku berjodoh dengannya aku akan dukung dia sampai dia berhasil dan lebih sempurna dari laki-laki mapan yang pernah aku kenal sebelumnya.

Minggu pagi, tibalah waktu itu, aku sedikit tenang karena aku datang tak sendirian. Arifin mau menemaniku, meskipun nanti mungkin akan banyak pertanyaan terlontar kepadaku.
Saat kita tiba di rumah siska, memang banyak yang bertanya kenapa aku datang dengan arifin. Aku tak banyak komentar, karena luka yang pernah kualami dulu adalah awal terjadinya cerita ini. Bagi mereka yang tidak suka, mungkin mereka sedikit beruntung karena dalam hidupnya belum pernah terluka karena cinta. Aku pun juga merasa lebih beruntung karena hatiku yang sudah hancur, sekarang mulai pulih sejak aku mulai dekat dengan arifin.

Sepanjang acara lamaran aku dan arifin sering digoda tanya oleh guru-guru yang sudah berkeluarga. Saat aku digoda aku hanya bisa meremat pinggang kemeja arifin sampai kucel. Arifin sampai keheranan akan tingkahku, padahal aku memberikan isyarat bahwa aku sebenarnya mengamini ledekan-ledekan nakal itu.

Setelah acara selesai, aku dan arifin pulang. kami pulang berboncengan, karena waktu sudah dhuhur kami memutuskan untuk sholat dhuhur di masjid agung boyolali. Selama perjalanan aku terus meremat remat kemeja arifin sambil aku tersenyum senyum sendiri. Sesampainya di plataran masjid, kemeja arifin sudah sangat kucel, dia pun mulai jengkel dan bertanya kepadaku.

“Kenapa kamu bertingkah sangat aneh hari ini?”
“Kalau aku bertingkah biasa kamu tidak akan tahu maksudku” jawabku dengan senyum.
Kemudian arifin tiba-tiba bermuka tenang dan mulai memandangiku.
“Aku mulai tahu maksudmu, tapi apa kamu sadar aku hanya penjaga kios fotocopy” jawab arifin.
“Tapi kamu kuliah, karena itu aku siap mendukungmu sampai kamu jadi laki-laki yang berhasil!” Jawabku dengan meneteskan air mata.
“Satu lagi pertanyaan, dapat dari mana cara menunjukan perasaan kok dengan meremat-remat kemejaku sambil senyum-senyum begitu?”
“Wanita kalau sudah sampai segitunya tapi kamu belum paham, berarti kamu bukan jodohku” jawabku sambil menangis haru bercampur tertawa.
Kemudian kita bergandeng tangan duduk berdampingan di depan taman masjid itu dan arifin mengatakan sesuatu yang membuatku semakin terbuai dalam kebahagiaan.
“Iya, iya, setelah ini kamu batalkan pesan kartu nama dengan gelar “si lajang yang malang” karena aku akan segera melamarmu, hehe”
Setelah itu arifin benar-benar melamar dewi dan setelah arifin lulus kuliah mereka menikah.

Selesai

Cerpen Karangan: Wakhid hasyim as’ari
Facebook: wakhid hasyim
wakhid hasyim tinggal di boyolali jawa tengah

Cerpen Matematisnya Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Green Tea Latte

Oleh:
Secangkir green tea latte dan dua buah donat dengan topping green tea pun menemani sudut kesendirianku yang mengingatkan aku pada dirimu. Terik cuaca di luar terasa begitu menyengat. Aku

Ketulusan Hati

Oleh:
Hari demi hari terus berlalu yang kian hari semakin menyiksa batinku tersadar aku tentang buaian dunia yang telah membuatku larut dalam khayal cinta. Cinta telah membuatku terluka telah mengusik

Hari Ini Lebih Tenang Dari Sebelumnya

Oleh:
Suara jangkrik-jangkrik bergemerincing di telinga Faiz saat terik matahari Agustus menyelimuti tubuhnya yang sibuk menyirami bunga-bunga mawar di depan rumahnya. Lamunannya tak terpecahkan oleh suara keras dari serangga-serangga berisik

Lost Friends Because Of Love

Oleh:
Hari ini hari yang begitu indah, karena rumah pohon yang aku dan sahabat sahabatku buat telah selesai. Namaku Kayla aku punya 4 sahabat, namanya Tessa, Tina, Andi dan Deran.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *