Mau Tak Mau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 July 2015

Mendung terlihat dari aura wajahku setelah melihat nilai uts di raport yang tidak memuaskan dengan beberapa nilai merah di beberapa mata pelarannya.
“kapan nilai kamu bisa bagus nay?” kata mama dengan nada kecewa setelah memlihat nilai raportku yang tidak memuaskan baginya.
“maafin naya ma” kataku dan menunduk.
“minggu depan kamu harus ikut les bimbingan belajar!” kata mama tegas.
“tapi ma, naya kan udah ada les piano dan les masak?!” kataku menjelaskan, tapi mama pergi menuju kamarnya.

Namaku naya aku siswa kelas 2 sma jurusan ips. Anak satu satunya di keluarga ini. Papa yang selalu sibuk tugas luar kota dan mama yang selalu menuntutku untuk mengikuti berbagai les membuat aku menjadi tertekan. Aku dituntut untuk bisa memasak, bermain musik, cantik dan smart. Seolah aku harus perfect di mata mama.
Air mataku mengalir deras di pipi, aku tak tahu lagi harus bagaimana, karena aku sudah capek, ya benar benar capek menjalani ini semua.

Hari senin dan selasa sepulang sekolah aku harus mengikuti les masak, rabu kamis jadwal les piano, jumat jadwal ke salon dan sabtu minggu jadwal yang seharusnya aku bisa santai di rumah. Tapi malah diisi untuk mengikuti les mata pelajaran minggu depan jika les bimbingan belajar minggu depan maka aku gak akan ada waktu buat santai di rumah atau hanya sekedar bermain bersama teman sepermainanku.

Pagi harinya, “nay, entar sore main yuk?” kata teman sebangkuku sinta.
“kemana sin?” kataku.
“ke cafe biasanya nay” katanya

Sore harinya cuaca mendukungku untuk pergi bersama sinta, ku lihat mama sedang berada dalam kamarnya, dan aku siap keluar perlahan lahan untuk menuju ke cafe itu. Ku lihat sinta sudah menungguku di depan pagar untuk pergi bersama. Cara ini ku lakukan karena sebenarnya aku bosan terus mengikuti aturan mama yang hari ini jadwalnya adalah memasak. Setidaknya bermain dengan sinta aku bisa merefresh fikiran dan kepenatanku selama ini.

Ternyata evan, alsa dan alif telah menunggu aku dan sinta di cafe itu. Mereka semua teman sekolahku. Dan tidak ada yang cinta lokasi di sini karena semua sudah memiliki kekasih yang berbeda sekolah kecuali aku yang jomblo dari dulu.
“tumben lo nay, bisa ikut ngumpul?” kata evan
“ya, van otak gue juga butuh hiburan” kataku apa adanya.
“nurut aja sama kata mama kamu, pasti orangtua itu menginginkan yang terbaik untuk anaknya nay apalagi lu kan anak satu satunya” kata evan menasehati. Sambil mendengarkan alunan musik band yang keren di cafe itu kami tetap melanjutkan obrolan.

Hari sabtu tiba, mama pun mendatangkan guru privat ke rumah. Itu membuat aku semakin tak bisa berkutik kemana mana. Untung saja senin lalu mama tak tahu jika aku tak mengikuti les memasak itu (aman).

Tiba tiba mataku tertuju pada wajah guru les tersebut yang wajahnya tak asing bagiku.
“lo kan irgi, vokalis band yang semalem tampil di cafe itu kan?” kataku langsung nyerocos saat mama sudah menuju dapur.
“iya, gue juga liat lo kok semalem” kata irgi datar.
“lo emang bisa ngajar pelajaran anak sma?” kataku meremehkannya.
“gini gini gue sarjana nay, soal ngeband itu hobi gue”
“kok mama bisa mencarikan guru privat muda seperti irgi ya, padahal guru les masak dan les piano aja gak seperti dia?!” kataku dalam hati bertanya tanya.

Tak lama setelah mama membuatkan minuman, les pun dimulai. Dalam hatiku senang sih, hatiku seperti habis hujan turun pelangi. Karena ku kira guru les yang dicarikan mama orangnya akan buat gue semakin ngerasa bete dan tertekan tapi guru privat ini setidaknya membuat gue sedikit terhibur karena selain cakep dia juga pinter ngelucu.

Dua bulan sudah aku mengikuti les mata pelajaran tersebut dan hasilnya nilai uasku hari ini memuaskan. Aku pun sempat tak percaya nilai matematika dan geografiku mendapatkan a padahal sebelumnya mata pelajaran itu sangat sulit buat aku kuasai. Memang dengan ikut les tersebut ngaruh pada nilai nilaiku walau banyak teman temanku pada ngejudge aku sombonglah, sok pinter lah, anak mama lah, karena gak bisa ikut gabung dengan mereka kalau lagi main.

Aku pun naik kelas 3, dan libur selama sebulan. Dan hari ini papa akan pulang, aku siap menjemput papa di bandara.
“ma, ini masakannya beli ya?” kata papa saat sudah sampai rumah
“enggak, itu yang masak naya pa, gak enak ya?” kata mama sambil melirik aku.
“enak kok, enak banget malah kayak masakan beli di restoran” kata papa
Aku seneng banget asli denger kalimat itu, bikin hati nyeees, apalagi itu masakan kesukaan papa. Gak sia sia gue diikutkan mama les masak selama ini. Gue pun ikut mencicipi makanan yang udah gue buat tadi, ternyata rasanya memang enak.
“tumben naya gak ngecewain mama” kata mama sambil tersenyum puas
“sekarang semua keinginan mama udah terturuti, dan sekarang naya cuman minta diberi izin untuk diperbolehkan memiliki pujaan hati ma” kataku sambil tersipu malu.
“pacar maksud kamu?” kata mama meyakinkan
“iya maksudku itu” kataku malu malu
“boleh, besok anaknya bawa kesini ya. Mama pengen tau” kata mama penasaran.

Di kamar aku merasa bahagia karena aku merasa pengorbanan waktu tak bermain dengan teman temanku, pengorbanan mengikuti kemauan orangtua semua hasilnya ku rasakan gak sia sia.

Besoknya irgi aku ajak untuk ke rumahku dan dia mau, setelah irgi memperkenalkan diri kepada mama, mama malah tersenyum bahagia seolah mama memiliki rahasia besar tentang aku dan irgi. Setelah mama panjang lebar bercerita, ternyata irgi adalah anak teman mama yang memang berniat menjodohkan irgi denganku lewat les privat tersebut. Untung saja irgi dan gue memiliki rasa yang sama jadi perjodohan itu bukan seperti hal kolot buat gue.

SELESAI

Cerpen Karangan: Aditya Novitasari
Facebook: www.facebook.com/aditya Novitasari
twitter: @aditya_vitha

Cerpen Mau Tak Mau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sepenggal Kisah Mira

Oleh:
Aku bingung. Semua orang menatapku sedih. Bahkan tidak sedikit yang menangis. Aku masih termenung. Mama tidak menjawabku. Apakah mama marah padaku? Apakah aku tidak melakukan permintaan mama? Aku rasa

Cinta Tuan Kura Kura

Oleh:
Cinta pertamaku berawal dari sebuah gantungan kura-kura yang begitu lucu. Ya, saat itu aku kelas XI IPA. Namanya Aidil. Sekitar pertengahan semester di kelas XI aku mendapatkan sebuah gantungan

Takbir Terakhir

Oleh:
Jika ini menjadi takbir terakhir, Izinkan aku mengucap permintaan maafku. Yang belum dapat mewujudkan kebahagiaan untuk kalian yang kucintai … Jika ini menjadi takbir terakhir, Ijinkan aku mengucap sampai

Pelampiasan Cinta Mu

Oleh:
Wanita itu kalau sudah sayang sama seseorang jangan ditanya sayangnya seperti apa pasti sangat sayang dan sayang itu sangat tulus. Begitulah yang aku rasakan. Saat aku kenal dengan Aldi

Aku Sendiri Karenamu

Oleh:
“Felly! Ini berkas-berkas surat izin dari Kepala Sekolah sebelum kita berangkat tugas,” ucap Riska dengan senyuman manisnya. “Sejak kapan lo meminta berkas beginian?” “Udah dari kemarin! Tapi, beruhubung gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mau Tak Mau”

  1. Rania Hana says:

    Cerpennya bagus,bisa jadi contoh bahwa seorang anak harus menuruti keinginan orang tua. Karena keinginan orang tua pasti yang terbaik untuk kita. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *