Mawar dan Kekosongan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 June 2017

Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Kekosongan atas diri manusia. Pada dasarnya manusia itu sama saja. Sama-sama lemah dengan perasaan. Tidak ada orang yang benar-benar baik atau benar-benar jahat. Semua ini hanya tentang apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka lakukan. Namun tetap saja, untuk bisa mendapatkan apa yang mereka mau selalu ada konsekuensinya, harus ada pengorbanan. Dan sebenarnya pengorbanan terbesar adalah perasaan. Ah perasaan.

Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Iya. Kekosongan yang saat ini ada di hadapanku. Putih tanpa batas. Hanya ada aku dan setangkai mawar putih berduri tak berbau. kau mungkin bertanya-tanya. Siapa aku? Tempat apa ini? Dan mengapa aku di sini? Baiklah. Yang pertama kali harus kau tau adalah terkadang ada hal yang kau anggap mustahil namun itu nyata. buktinya? hey! aku di sini dan aku nyata.

Let me tell you something. Tentang cinta, rasa takut, dan juga, tentang kekosongan. Ini adalah kekosongan dan aku hidup di dalamnya. Aku. Aku hanya manusia biasa seperti kalian. Ya kecuali tentang kelebihan anehku, tentu saja. Aku hanya siswi sekolah biasa, dengan paras yang biasa, otak yang biasa dan kehidupan yang juga biasa. Namun beda halnya di dalam mimpi, akulah ratunya. Wah kau salah, bukan hanya di mimpiku tapi dimimpi kalian juga. Dan bagaimana dengan kekosongan ini? Ini hanya mimpi. Lalu mengapa aku di sini? Tentu saja untuk bermimpi. Baiklah. Let me show you.

Aku berada di kekosongan ini dengan setangkai mawar putih berduri di tanganku. Senyumku mulai mengembang membayangkan apa yang akan aku lakukan. Aku menutup mata dan menusukan jariku pada bunga mawar sambil membayangkan wajah seorang laki-laki dengan kulit putih, hidung mancung dan mata coklat terang. Bibirku menggumam “eyon”. Sesegera mungkin angin sejuk menerpa wajahku dengan lembut, saat aku membuka mata yang aku lihat tidak lagi putih. Aku berada di sebuah taman yang sangat indah. Aroma bunga mawar tercium hingga tenggorokan. Membuatku terlalu tergesa-gesa mencari sosoknya dan hampir terjatuh. Aku melanjutkan pencarianku namun nihil. Aku sempat berpikir jika aku salah masuk ke mimpi orang lagi, hingga aku menemukan mr. bow, kucing kesayangannya. Tak salah lagi, aku benar-benar di dalam mimpinya.

Aku menyusuri setapak demi setapak yang berwarna biru, warna kesukaannya. Samar-samar aku mendengar alunan gitar dengan senandung nada yang merdu, suara eyon. Senandung itu menuntunku bagai sihir. Senyumku merekah, pipiku memerah, jantungku berdetak lebih kencang lagi, otot mataku cekatan menangkap keberadaan eyon, iya, aku menemukannya. Sesegera mungkin aku memeluknya dari belakang, ayolah ini hanya mimpi aku bebas melakukan apa yang aku mau.

Eyon agak bingung melihatku, dia berdiri dan melihat sekeliling. Mencari sesuatu yang sedari tadi ia tunggu.
“Moly?” ia menyebut namaku dengan parasnya yang bingung “Apa kau melihat venya? Dia ke toilet dan belum kembali”
Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar nama itu. Venya adalah kekasihnya, ia cantik dan sangat baik. Aku tergugup “I..Iya. tadi aku melihatnya dengan bagas. Dia tampak seperti memegang bunga mawar. Aku kira kau sudah putus dengannya” ah tentu saja aku tak bohong. Eyon seperti kebingungan mendengar kata-kataku, dan selama dia kebingungan aku menjentikan jari, membayangkan apa yang tadi aku katakan kepadanya. Dan boom itulah yang saat ini ada di hadapan aku dan eyon. Sudah aku bilang kalo aku tak bohong. Aku seperti melihat kehancuran di diri Eyon. Aku pun sigap memeluknya dan berkata “sudahlah dia tak pantas buatmu” memang begitu kan? Eyon hanya pantas denganku.

Sedetik kemudian semuanya lenyap, aku kembali pada kekosongan. Sepertinya Eyon terbangun. Ah sudah cukup buat malam ini “kerja bagus Moly” aku tersenyum dan memuji diri sendiri. Aku kembali menusukan jariku pada duri mawar putih dan menggumam “bangun”.

Aku terbangun dari tidur nyenyakku dan melihat angka yang ditunjuk pada jarum jam, 06.00. baiklah saatnya kembali pada realita yang sangat aku benci. Aku bergegas mandi dan bersolek di hadapan cermin. Hari ini hari penting jadi aku harus terlihat cantik. Aku berangkat sekolah sesegera mungkin hingga lupa sarapan. Saat aku keluar dari pintu rumah aku melihat sahabatku Bagas, dia adalah satu-satunya orang yang tau tentang kekuatanku dan luar biasanya aku tidak pernah bilang padanya. Dia mengetahuinya begitu saja, menurutku itu sedikit aneh. Namun belakangan aku mulai berfikir jika ia bisa membaca pikiranku. Entahlah siapa peduli.

Aku berangkat sekolah bersamanya, sepanjang jalan ia hanya diam saja sebenarnya ini agak aneh. Tapi aku memilih untuk tidak bertanya karena aku tau dia tidak akan menjelaskannya padaku. Perjalanan menuju sekolah terasa sangat canggung. Tapi aku tidak terlalu peduli. Yang aku pikirkan hanya Eyon dan bagaimana cara memilikinya.

Sesampainya aku di sekolah hatiku terasa tercabik, baru saja aku melangkahkan kaki masuk gerbang dan eh, aku menemukan pemandangan yang luar biasa memuakan. Kenapa Eyon harus bergandengan tangan dengan Venya di hadapanku. Ah menyebalkan. Aku semakin tak sabar menunggu malam tiba. Aku akan membalas apa yang saat ini aku lihat. Tak tau mengapa aku jadi membenci Venya. Iya aku tau dia baik bahkan sangat baik, ah entahlah.

Detik demi detik berlalu dengan cepat, tidak terasa jam pulang sekolah telah tiba dan entah angin dari mana tiba-tiba Bagas mengajakku ke perpustakaan. Katanya ada hal yang mau ia tunjukan dan tentu saja aku jadi penasaran. Kau tak akan percaya apa yang terjadi di perpustakaan itu. Ternyata bagas sudah menyiapkan tumpukan buku tentang mimpi. Aku terkejut, sangat terkejut.

Dia menyuruhku membaca satu buah buku yang sangat tebal. Aku jamin tak ada orang yang mau membacanya. (Ya kali tertarik baca buku gituan mana gak jelas banget bahasanya, mending juga baca cerpen gua haha. Oke oke balik lagi ke ceritanya) yah aku sangat terkejut membaca bagian dimana aku bisa saja terbunuh karena bermimpi. Wow luar biasa sungguh. Aku membacanya sambil mengerutkan kening seperti tidak pecaya “di sini tertulis, jika kau kehilangan apa yang membuatmu tiba maka kau tak akan bisa kembali. Maksudnya apa sih?”
Bagas hanya mengangkat bahu “mungkin ada sesuatu yang kau gunakan sebagai alat untuk masuk ke mimpi seseorang?”
Aku bagai tersentrum teringat sesuatu yang ada di sana selain kekosongan “Mawar putih. Tentu saja. Itu yang membawaku masuk. Itu artinya jika aku kehilangannya maka aku akan terjebak di kekosongan itu selamanya”
“atau lebih tepatnya kau mati” Bagas menambahkan kata-kata yang cukup bisa membuatku merinding.

Aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri saat Bagas memegang tanganku dan bilang bahwa ada sesuatu yang ia rahasiakan. Jantungku berdegup kencang entah mengapa begitu. Dia berbisik lembut di telingaku “Lepaskan saja, percaya saja padaku”. Kemudian dia mendekat ke arahku, jantungku berdetak lebih kencang saat mata kami bertemu. Ternyata matanya lebih indah dari mata Eyon. Mata yang menggambarkan kelembutan, coklat terang, bulu mata yang tebal dan lentik, alis yang tebal, serta tatapan yang sangat hangat ah membuatku nyaman sekali. Deru napasnya lembut mngenai wajahku, jantungku semakin menggila terlebih ketika bibirnya menyentuh bibirku, sangat nyaman. Aku merasakan sensasi aneh saat itu ada yang mendesak masuk ke dalam diriku. Ah aku mengerti. Dia sedang mencoba masuk ke pikiranku, melewati kenyamanan, pikiran kami terhubung, dan bibir kami bertautan. Aku mendengar suara lembut bagas di kepalaku “Aku mencintaimu”. Aku kaget dan tanpa sengaja mendorongnya. Kenyamanan seketika berubah menjadi canggung. 60 detik tidak ada suara, hingga aku memutuskan untuk pulang. Aku berdiri dan membawa buku tebal itu, meninggalkan Bagas yang masih menunduk.

Pikiranku agak kacau mencerna apa yang sudah terjadi. Tetapi aku segera memfokuskan fikiranku kepada Eyon lagi. Sesampainya aku di rumah aku segera membaaca buku itu dan menyusun rencana untuk nanti malam. Aku memutuskan untuk membuat Venya tidak bisa bangun lagi dari tidurnya. Aku mememukan caranya di buku yang aku baca. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia menanti malam tiba. Baiklah, ini akan jadi malam yang panjang sekali.

Saat malam tiba aku menyiapkan tempat tidurku dengan posisi yang sangat nyaman. Aku berbaring di atas tempat tidur dan menutup mata. Tidak butuh waktu lama aku sudah ada di kekosongan seperti biasa dengan mawar putih di tanganku. Aku memejamkan mata, membayangkan wajah Venya. Menusukan jariku pada duri mawar sambil bergumam “Venya”. Sedetik kemudian aku sudah berada di dalam kamar serba pink dengan aroma melati. Aku mencari di mana si pemilik mimpi ini dan mememukan pintu kayu berwarna pink dengan gagang berwarna putih. Saat aku membukanya aku sangat kaget menemukan apa yang ada di depan mataku. Aku melihat Venya dan Eyon di atas ranjang serba pink sedang berciuman mesra. Ah berani-beraninya mereka. Aku sangat marah. Aku menjentikan jari dan membayangkan Eyon hendak menusuk Venya. Iya. Cara membuat seseorang tidak bisa bangun lagi dan kembali ke dunia nyata adalah dengan membunuhnya. Tetapi bukan dengan cara seperti itu, Venya harus menusukan jarinya pada mawar putih yang aku bawa.

Di hadapanku terlihat adegan yang sangat menegangkan. Venya meronta-ronta berusaha menahan serangan Eyon yang hendak menusuknya. Dan tentu saja itu percuma karena aku yang mengendalikan semuanya. 5 menit serangan itu berlangsung dan akhirnya terdengar erangan dari bibir Venya saat sebilah pisau menghujam dadanya. Aku tersenyum puas melihat itu. Ini saatnya aku beraksi. Aku menjentikan jari membayangkan Eyon tak lagi di situ. Aku melangkah mendekati Venya yang sedang kesakitan.
“Venya ada apa denganmu?” Raut wajahku menggambarkan kepedulian dan rasa iba melihatnya begitu. Ia tampak tak bisa menjawab pertanyaanku. “Venya aku akan menolongmu. Tusukan jarimu pada duri mawar ini dan kau tak akan merasakan sakit lagi”

Saat aku menyodorkan mawar itu pada Venya tiba-tiba suara Bagas muncul lagi di kepalaku “Moly berhenti sampai di situ. Jangan buat aku menyakitimu” ah rupanya Bagas sedari tadi mengetahui rencanaku. Aku tak menghiraukan peringatannya dan terus membujuk Venya untuk menusukan jarinya. Hampir saja berhasil kalau saja Bagas tak muncul di hadapanku. Bagaimana bisa? Aku kebingungan. Dan bagas kelihatan sangat marah. Belum pernah aku melihatnya begini.
“Moly hentikan. Atau aku terpaksa melakukan ini kepadamu” dia menggertakku. Aku tau Bagas mencintaiku dia tidak akan menyakitiku.

Aku tidak juga berhenti dan menarik tangan Venya yang sudah lemas dan hendak menusukannya pada duri mawar yang entah mengapa kini berubah hitam. Tiba-tiba telingaku berdenging dan terasa sakit sekali sedetik kemudian kamar yang serba pink itu berubah menjadi hutan dan Venya hilang entah ke mana. Astaga aku lengah. Bagas sudah mengendalikan pikiranku, membuat aku melihat apa yang mau ia lihat. Tempat ini sungguh menyeramkan dan Bagas berdiri memunggungiku. Seperti menangis dan berbisik pelan “Maafkan aku Moly”.

Aku merasakan tanganku panas dan setelah aku lihat Mawar yang tadinya hitam kini terbakar. Refleks aku menghempaskan mawar itu ke tanah dan menginjaknya dengan maksud agar apinya padam. Namun aku tersadar mawar itu tetap berwarna putih dan tak pernah terbakar, hanya aku yang menghancurkannya dengan kakiku. Tiba-tiba angin kencang menerpaku, hutan yang aku lihat tiba-tiba memudar digantikan kekosongan yang tak lagi putih. Aku tetap berada di kekosongan namun kali ini semuanya hitam, gelap. Dan aku tak lagi menggenggam mawar putih, tak ada apa-apa. Aku terjebak di sini, di kekosongan ini, dan selamanya.

THE END

Cerpen Karangan: Ananda Putri Ayu
Blog: likeaputri.blogspot.co.id

Cerpen Mawar dan Kekosongan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Angel From Hell

Oleh:
Cahaya mentari menusuk mataku, dengan enggan aku membuka mataku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali untuk menghilangkan perih mataku. Rambut pirangku tampak kusut berantakan. “Nia bangun!” seru ibuku dari bawah.

Kemah Akbar

Oleh:
“Jadi, kapan kemah akbar dilaksanakan?” Aku bertanya saat dia pulang dari rapat. “Jumat, tanggal 7-9 November 2014,” jawabnya seraya tersenyum aneh. Firasatku buruk. Deg! Sepertinya senyum itu isyarat bahwa

Tiba Tiba Cinta

Oleh:
Namaku Dita, aku adalah seorang gadis yang sederhana, ramah, dan pintar. Rambut panjangku sering dikuncir kuda dan memakai kacamata. Aku bersekolah di SMA HARAPAN 1 di Jakarta, yaitu salah

Rindu Dipanggil Ade

Oleh:
Gerimis baru saja turun di malam kamis itu. Malam dimana Ani sedang mengalunkan lagu kesukaannya yang terpasang di telinganya. “I Promise”, ya itulah lagu kesukaan Ani. Lagunya mengartikan sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mawar dan Kekosongan”

  1. Budi L says:

    Menajubkan, bagaimana cara menghasilkan karya sebagus ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *