Mawar Fadil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 May 2017

Suara teriakan itu menggetarkan hati, isak tangis pecah saat langkah kaki ayahku meninggalkan ibu yang sedang mengandungku di usia kehamilan 6 bulan, ayah pergi dengan mengucapkan talak cerai kepada ibu, ayah terpaksa meninggalkan kami karena alasan harus bersama dengan wanita yang juga mengaku hamil anak ayah.
2 bulan kemudian ibu merasakan sakit di perut yang luar biasa, dengan bantuan bidan dan beberapa tetangga, aku harus lahir prematur karena ibu mengalami pendarahan yang sangat hebat. Ibu memberiku nama Mawar.

Aku hidup dengan penuh kesedeerhanaan, dan ketika aku duduk di bangku SMU, aku bertemu dengan seorang cowok bernama Fadil, dia merupakan teman sekelasku yang super menyebalkan, dan selalu jail kepadaku. Kita gak pernah akur kalau ketemu, selalu ribut dan berusaha untuk saling menjatuhkan, sampai di suatu ketika aku menemukan Fadil dalam kondisi terpuruknya, di ujung jalan dan gelapnya malam, aku mendengar suara isak tangisnya, orang yang selama ini nyaris tak pernah bisa diam dengan segala perilakunya, kini tertunduk lemas dengan tangan yang mengepal. Aku mendekatinya dan mencari tahu alasan dia seperti ini. Namun dia tetap dalam diamnya dan tidak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkannya karena mungkin saat itu Fadil perlu waktu untuk sendiri.

Tangan Fadil menarikku yang hendak pergi.
“Jangan pergi” Ucap Fadil lirih, aku melihat mata Fadil yang begitu sendu seolah menjelaskan dia sedang mengalami kejadian yang sangat menyedihkan. Tanpa berpikir panjang aku memeluknya. Dan butuh waktu sekitar 2 jam setelah dia tenang dan menjelaskan semuanya.

“Ayahku mengatakan bahwa dia tidak pernah mencintai Mamaku, dia terpaksa menikahi Mamaku hanya karena paksaan dari Kakekku. Dan lebih jahatnya lagi, pernikahannya dengan Mamaku adalah pernikahan kedua dan dia sangat mencintai istri pertamanya sampai sekarang”
Cerita Fadil terhenti, aku tahu betapa sakit hatinya saat ini, aku merasakan hal yang sama dengan semua cerita Ibuku sebelum aku lahir, aku menepuk-nepuk pundak Fadil mencoba untuk menenangkan hatinya yang sedang terguncang.

Aku mencoba kembali menanyakan ke Ibuku tentang siapa Ayahku, namun Ibuku sudah membuang semua berkas foto Ayahku, aku mulai mencari tahu di mana Ayahku tinggal saat ini, bukan untuk mengemis hartanya, tapi untuk menyuruh dia meminta maaf ke Ibuku karena sudah membuat Ibuku menderita dan menggoreskan luka hati yang mungkin tidak bisa disembuhkan begitu saja.

Aku mendapatkan alamatnya, namun sayangnya dia sudah pindah 8 tahun yang lalu. Aku mulai menyerah, di tengah perjalananku, aku melihat Fadil. Entah darimana awalnya, aku dan Fadil mulai dekat, aku mencoba menyangkal perasaan ini, namun tetap hatiku tak mampu membuang perasaan ini. Aku mulai menceritakan pencarian ayahku dan Fadil juga mulai mencari siapa istri pertama Ayahnya.

“Buat apa kamu ingin mencari istri pertama Ayahmu? Apa untuk membalas dendam atas apa yang sudah terjadi selama ini?”
“Bukan, aku mencarinya untuk meminta maaf karena sudah membuat dia ditinggalkan Ayahku, walau bagaimana pun dia tetap istri dari Ayahku, aku ingin tahu bagaimana kondisinya setelah Ayah meninggalkannya selama ini, aku juga ingin tahu apa dia mempunyai seorang anak, jika iya pasti sangat menyakitkan karena anaknya tidak pernah bertemu sekalipun dengan Ayahku”

Aku melihat Fadil saat ini begitu sosok yang sangat berbeda, kedewasaannya membuatku semakin ingin dekat dengannya. Fadil pergi membeli minuman, dia meninggalkan buku memo kecil yang tadi dibawanya, aku mencoba membukanya dan membaca sebuah tulisan di halaman depan.
Rina Amalia, Jl. A. Yani No 66
Aku sangat terkejut, itu adalah nama Ibuku dan alamat rumahku yang lama. Nafasku terhenti sejenak dan mencoba memikirkan apakah itu berarti Ayah Fadil adalah Ayahku juga, dan itu berarti juga Mamanya Fadil lah yang membuat Ayahku meninggalkan Ibuku.
Aku melihat Fadil yang berjalan menuju ke arahku, aku belum siap menerima kenyataan ini jika Fadil adalah kakakku. Aku segera pergi dan berlari dan terus berlari untuk menjauh dari Fadil yang sempat mengejarku.

Aku melihat Fadil yang ke sekolah diantar Ayahnya. Aku melihat Ayahku untuk pertama kalinya, dia Ayahku yang telah meninggalkan aku dan Ibuku. Aku hanya bisa menahan tangisku.
Fadil memintaku untuk datang ke rumahnya dan makan malam bersama keluarganya untuk memperingati anniversary pernikahan orangtuanya dan juga kondisi keluarga Fadil sudah membaik. Aku menerima ajakan Fadil. Aku datang ke rumahnya, hatiku sangat sakit melihat orangtua Fadil berdiri di hadapanku, bahkan rahang ini mengeras dan hanya menampilkan senyum palsu.

Usai makan malam, Fadil menyampaikan sesuatu di depan kami.
“Ayah, Mama, Fadil sangat mencintai Mawar, Fadil sangat ingin menjalin hubungan yang serius dengan Mawar. Tapi ada yang harus kalian ketahui. Mawar adalah putri dari Ibu Rina Amalia, Istri pertama Ayah. Ayah meninggalkan Ibu Rina dan Mawar saat Mawar masih dalam kandungan. Fadil akan membuang perasaan Fadil, tapi Fadil minta, tolong kalian datang dan temui Ibu Rina dan meminta maaflah padanya. Luka hati yang kalian buat belasan tahun lalu, sampai sekarang masih sangat terasa di hati beliau. Mawar, atas nama orangtuaku, aku minta maaf atas segala kesalahan yang dibuat mereka di masa lalu. Aku sayang sama kamu, tapi setelah aku tahu kita saudara sedarah, aku hanya bisa menerima takdir ini dengan lapang dada. Kalian pasti bingung Fadil tau darimana cerita ini, sebelum kakek meninggal 5 tahun lalu, Kakek meninggalkan surat dan baru Fadil baca 1 minggu yang lalu, Kakek bilang agar Fadil membukanya saat Fadil sudah bisa dewasa menerima sebuah takdir. Dan sekarang, Fadil bisa menerima ini semua, karena Fadil ingin hidup bahagia bersama orang yang Fadil sayangi, Fadil sudah menemui Ibu Rina tanpa sepengetahuan kalian, dan Fadil bisa merasakan penderitaan yang dirasakannya selama ini”

Semua yang mendengarnya sangat terkejut, aku pun tidak bisa menahan air mataku yang perlahan keluar. Ayah mendekatiku perlahan dengan setengah tidak mempercayai ini semua, Ayah memelukku dan hanya bisa berucap maaf. Mama Fadil juga hanya bisa menangis. Selama 16 tahun akhirnya aku merasakan pelukan seorang Ayah, bukan benci yang kurasakan saat ini, Fadil merubahnya dengan sebuah pertemuan yang penuh haru. Saat itu juga, kami semua pergi ke rumahku. Ibuku terkejut melihat kami datang. Mama Fadil langsung memeluk Ibu dan mengucap maaf untuk berulang kali. Bahkan kebencian dari luka hati Ibu sudah luntur karena niat baik Fadil yang menemui Ibu beberapa hari yang lalu. Dan saat itu juga, Mama Fadil mengungkap sebuah kebenaran yang lain.
“Fadil, kamu bukanlah anak dari Ayahmu, Ayahmu tidak pernah menghamili Mama, Mama yang sudah memfitnahnya dan menyebabkan ini semua terjadi. Mama minta maaf… Ayah, Rina dan Mawar, tolong maafkan saya…”
Jantung kami kembali dibuat menerima kenyataan yang lain, dan ternyata Ayah kandung Fadil adalah sahabat Ayah yang pergi ke luar negeri karena mengetahui Mama Fadil hamil. Itu sebabnya Ayah yang difitnah untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang bukan perbuatannya.

“Sudah tidak ada gunanya menyesali dan marah atas apa yang terjadi, ini sudah takdir bukan? Yang jelas saat ini kita semua sudah mengetahui kebenarannya. Fadil dan Mawar tidak seharusnya menanggung kesalahanku di masa lalu. Mereka anak-anak titipan dari NYA, sekarang kita hanya perlu mempersiapkan masa depan mereka yang lebih baik lagi agar tidak seperti kita yang telah gagal menjadi orangtua untuk mereka” Ucap Ibu.

Ibu, Ayah dan Mama, terima kasih sudah sangat berbesar hati menerima semua ini, masa lalu kalian memanglah kejam, tapi aku dan Fadil beruntung bisa memiliki orangtua seperti kalian, meski awalnya kami tidak bisa menerima kenyataan ini.

Cerpen Karangan: Anis M
Facebook: Nder Bunder
IG: nder20lf
“teruslah berkarya lewat tulisanmu”

Cerpen Mawar Fadil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayah, Kau Yang Tak Tergantikan

Oleh:
Langit sore di pemukiman pinggiran kota Bontang kala itu cerah terbentang indah memancarkan sinar yang lembut menandakan malam mulai menjemput. Suara merdu syair sholawat memecah kesunyian sore memberi tanda

Bintang Antaris

Oleh:
Bintang itu besar atau kecil? Apakah dia berada di langit yang paling tinggi? Atau ada di angkasa sana? Apakah aku mampu untuk menggapainya? mungkin tidak. Bintang itu tidak akan

Step Mother (Part 2)

Oleh:
Tasha terjaga hingga tengah malam masih dengan posisi yang sama saat dia pulang. Dia mengeluarkan sebotol pil tidur yang dibelinya sebelum pulang setelah menemui Andre. Dia memegang dengan gemetar

Itu Bukan Milik Mu Nak

Oleh:
Suatu hari di pagi itu sekitar pukul 06.30 saat dimana anak sekolah semuanya mulai bergegas berangkat menuju ke sekolahnya. Namun tiba-tiba ada terdengar suara orang yang dipukul, dan ternyata

Tiga Puluh Tujuh

Oleh:
Hari ini aku harus bisa melupakan dia, harus bisa! Harus bisa! Aku membaca mantra rutinku sebelum memulai aktivitasku pagi ini. Aku menarik napas panjang, hari ini aku harus mengurangi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *