Mawar Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 9 September 2020

Aku mawar, aku adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah rumah sewaan yang terletak tidak jauh dari tempatku bekerja, aku bekerja di salah satu toko roti dan pergi bekerja pukul 12 siang dan pulang pukul 7 malam.

Pada suatu malam saat aku pulang bekerja, aku melihat setangkai bunga mawar putih di kursi depan rumahku, karena penasaran aku pun mengambil mawar putih itu “wah ternyata bunganya masih segar dan sangat harum” aku berkata sambil melihat di sekitar untuk memastikan bahwa mawar putih itu tidak ada pemiliknya. Setelah yakin kemudian aku masuk ke dalam rumah dengan membawa bunganya lalu meletakkan bunga itu di dalam vas yang berisi air agar tidak layu.

Keesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasa pada siang hari tapi tidak saat pulang karena rekan kerjaku malam itu minta untuk pulang terlebih dahulu karena dia terdesak oleh urusan keluarga, jadi dua jam terakhir bekerja aku sendirian di toko itu hingga jam tutup toko tiba.

Sebelum tutup ada seorang pelanggan laki-laki yang datang untuk membeli beberapa roti berselai coklat, saat dia membayar belanjaannya di kasir tercium olehku bau parfumnya yang begitu wangi lalu hatiku berkata “wah ini cowok sudah ganteng wangi lagi”, setelah membayar pelanggan itu pergi dan aku bergegas bersih-bersih lalu segera menutup toko.

Aku sampai di rumah sekitar pukul 8 malam karena harus menutup toko sendirian, sesampainya di rumah aku kembali melihat setangkai mawar putih di kursi depan rumahku “kayanya ada yang sengaja meletakkan bunga ini, kenapa setiap malam ada disini” aku berkata sambil melihat di sekeliling dan mencium bunga yang memiliki wangi yang sama seperti bunga mawar putih yang ku dapat sebelumnya, tanpa mengambil pusing karena lelah bekerja, aku masuk ke dalam rumah dan membawa setangkai mawar putih lalu meletakkan di dalam vas bersamaan dengan bunga yang kudapat kemarin malam. Aku membersihkan diri, berganti pakaian dan pergi ke kamar untuk tidur.

Pada hari sabtu aku tidak pergi bekerja karena mendapat jadwal off jadi aku berencana untuk pergi berjalan-jalan mengisi liburan kerja hari ini, pada siang hari aku pergi ke mall untuk menonton bioskop bersama Rina, ia adalah teman masa kecilku dan kami masih berteman akrab hingga sekarang. Setelah menonton bioskop aku dan Rina makan siang kemudian mengelilingi mall untuk menghabiskan waktu bersama.

Rina bertanya “way, kamu libur kerja kok jalan sama aku? Pacarmu mana? Hehe” (way adalah panggilan Rina padaku saat masih kecil), “ih nana mah nanya nya gitu, aku mana ada punya pacar” (nana adalah panggilanku buat Rina saat masih kecil) kemudian kami tertawa bersamaan, “yuk ah, jalan” aku menggandeng Rina lalu kami berjalan kembali.

Pukul 9 malam kami pulang, Rina ikut bersamaku karena ia akan menginap di rumahku malam ini, sesampainya di depan rumah lagi-lagi aku mendapat setangkai bunga mawar putih di atas kursi, masih dengan wangi yang sama, “bunga dari siapa way? Wangi banget ih. Ciee mawayyy” Rina bertanya dengan bercanda, “aku juga gak tau na, beberapa hari ini selalu ada bunga mawar putih di kursi ini setiap aku pulang kerja sama seperti hari ini” jelasku, “dari penggemarmu mungkin way, kali aja jodoh hehe” Rina kembali bercanda, sambil membawa bunga itu aku dan Rina masuk ke dalam rumah “boro-boro jodoh na, wujudnya orang yang kasih bunga aja aku gak tau?” lalu kami tertawa.

Saat Rina telah terlelap tidur, aku masih di ruang tamu untuk menonton drama kesukaanku yang tayang di tv kemudian terdengar suara benda jatuh dari luar rumah lalu aku lekas berdiri dan pergi keluar untuk melihat ada apa di luar, tapi setelah tiba di luar aku tidak melihat ada satu orang pun di sana bahkan untuk orang lalu lalang pun tidak terlihat, merasa tidak menemukan apa-apa lalu aku kembali ke dalam rumah dan menonton tv hingga tertidur.

Keesokan harinya Rina pulang pagi-pagi sekali karena ia harus pergi bekerja, aku mengantar Rina sampai ke jalan raya untuk mencari angkot, setelah ia pergi aku kembali ke rumah, saat hampir sampai di rumah aku terkejut melihat seorang laki-laki menaruh setangkai bunga di atas kursi depan rumahku. Tapi aku diam saja dan tidak menegur laki-laki itu karena aku tidak mau mengagetkannya dan membuatnya pergi, aku bergerak mundur sedikit dari tempatku berdiri dan bersembunyi di belakang pohon besar agar tidak terlihat olehnya, wajah laki-laki tidak jelas terlihat karena ia memakai topi dan selalu menundukkan kepala.

Setelah meletakkan bunga di kursi laki-laki itu pergi dengan cepat dari rumahku, aku bergegas menghampiri kursi lalu mengambil bunga itu “wanginya sama, ternyata laki-laki itu yang memberiku bunga setiap hari” kuucap dalam hati.

Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan heran “kenapa dia meletakkan bunga itu di luar pada pagi hari bukan pada malam hari seperti biasanya. Kenapa?” aku pun bertanya-tanya seorang diri.

Pada saat aku pulang bekerja di dalam perjalanan aku dihadang oleh sekumpulan anak muda yang nongkrong di depan gang kecil dengan beberapa botol minuman keras yang terlihat di sudut gang, mereka menghalangi jalanku, menggoda hingga berusaha menyentuhku, aku pun merasa terganggu dengan perbuatan mereka dan berkata “yaaaaa, jangan halangi jalanku! Minggir atau aku akan teriak?”, mereka bukannya berhenti menggangguku malah semakin menjadi-jadi. Lalu aku berusaha melawan mereka, disaat yang bersamaan datang seorang laki-laki mehampiriku lalu memegang tanganku dan berkata pada sekumpulan anak muda itu “kalian semua lawan aku, kalau kalian kalah aku akan laporkan kalian ke polisi karena sudah meresahkan warga dan mabuk-mabukan”, mendengar perkataannya anak-anak muda itu berlahan pergi sambil berkata-kata kasar dengan suara pelan tapi tidak dipedulikan oleh laki-laki yang telah menolongku itu, dia hanya tersenyum dan mengantarkanku hingga pulang ke rumah.

“Kita sudah sampai, ini rumahku dan kamu sudah bisa melepaskan tanganku sekarang” ucapku sambil tersenyum karena memang sepanjang perjalanan pulang ia terus memegang tanganku, kemudian ia melepaskan tanganku “aku permisi ya, gak usah bilang makasih”, “hah” aku heran, ia tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan rumahku, sesekali dia menoleh ke belakang melambaikan tangan ke arahku dan aku membalas melambaikan tangannya dengan rasa heran.

Saat aku berganti baju tidak sengaja tanganku mengenai wajahku “wangi ini?” lalu aku mencium kedua tanganku, ternyata dari tanganku ada wangi parfum yang sama seperti wangi bunga mawar putih yang sering kudapat di depan rumah “ah ini” aku langsung menghampiri vas bunga untuk memastikan bahwa wangi di tanganku dan di bunga mawar adalah wangi parfum yang sama dan itu benar.

Rasa curigaku pun semakin kuat, setiap hari aku mencari laki-laki yang menolongku tempo hari, aku bertanya pada setiap orang yang kutemui tapi tidak ada satu pun yang mengenalnya. Hingga pada akhirnya tidak ada bunga mawar putih di depan rumahku lagi setelah aku bertemu dengan laki-laki penolong itu.

Cerpen Karangan: Dessy Lusiana Saputri
Blog: www.dessylusiana.blogspot.com

Cerpen Mawar Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Luluh

Oleh:
“Slekk.” Fasha menatap Tami yang berjalan ke arahnya dengan sangat tajam. Hingga Tami hanya diam mematung tanpa kata. Ish! Kenapa sih nih anak ngelihatin gue begitu banget. Gumam Tami

Maafkan Aku

Oleh:
Embun pagi yang membasahi dedaunan, matahari yang menyinari dunia, dan kicauan burung yang sangat merdu. aku terpojok di sebuah ruangan kamar, yang berwarna ungu, di sebuah tirai jendela ,hanya

Seperingatan Kemarin

Oleh:
Hari-hariku mulai terasa melelahkan bersekolah di sekolahku, entahlah itu karena apa?. Di usia mudaku saat sekolah di tingkat SMA mungkin bagi orang-orang adalah hal yang terindah dan tidak bisa

Cinta Tapi Gengsi

Oleh:
“Wi, ayo nongkrong dulu!” ajak Rena menarik tanganku dan berjalan menuju warung Mbok Sri. Warung makan yang sudah menjadi langganan untuk nongkrong usai pulang sekolah. Mbok Sri pun sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Mawar Putih”

  1. zara says:

    hiks cowoknya kemana? dan kenapa ngirim bunga mawar putih terus? bagus loh ceritanya pliss lanjutinn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *