Me And Proposal Marriage

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 23 April 2013

Alkisah, hiduplah seorang pangeran yang selalu ditinggal oleh sang raja dan ratu. Karena merasa kesepiannya, Sang pangeran selalu bertindak seenaknya, berbohong, dan liar. Karena itulah, pangeran jadi tidak disukai oleh orang-orang disekitarnya. Dan demi memperbaiki tabiat pangeran yang buruk, Raja memohon pertolongan kepada gadis miskin.
“Nona, tolong ubahlah menjadi pangeran yang lebih baik. Jika kamu bisa melakukannya, maka semua permohonan dan keinganmu akan saya kabulkan”.

*****

Disebuah Café, dibagian kantor.
“Haa! Kamu akan berhenti mulai hari ini? kenapa Hikaru chan? Padahal selama ini kamu bekerja keras dan juga rajin kan?”. Tanya Hideyoshi Shiki, seorang kepala toko tempat Hikaru bekerja part-time.
“Gomennasei Hideyoshi-san, Aku telah diputuskan untuk bertunangan”
“Eehhhh! Di diumur 16..? yang bener saja?”
“Pak kepala suaramu terlalu besar!”
“Siapa calonnya!?”. Tanya Shiki penasaran
“Hebat lho, katanya dia cucu dari pemilik hotel group Ryuzaki. Kakekku yang sudah meninggal adalah sahabat baik direktur, dan mereka berdua telah berjanji”. Dengan mata yang berbinar-binar, Hikaru menceritakan siapa laki-laki yang akan menjadi tunangannya.
“Jadi, dengan begitu, kalian bertunangan?”
“Beruntunga sekali kan??”
“Yaahh… Aku tahu sih keluarga Hikaru mengalami kesulitan keuangan, tapi kalau begitu~ Wajahnya bagaimana?”
“Tampan kok, aku sudah melihat fotonya.. katanya tahun ini dia masuk usia ke 18 tahun”
“Kaya, masih muda, juga tampan, uggh ini mengesalkan”
“Pak kepala bilang apa, Usiamu kan masih 24 tahun”
“Tapi dia lebih muda dariku”
“Orang seperti itu pasti tabiatnya buruk”
“Tunggu pak kepala, jangan bilang begitu”
“Pasti jelek”
“Kalau ada apa-apa, datanglah setip saat kesini”. Hideyoshi Shiki, dengan menggunakan tangannya yang besar dan hangat, mengelus-elus lembut rambut Hikaru.

Aku, Shizuoka Hikaru, gadis remaja yang berusia 16 tahun. Aku akan bertunangan dengan laki-laki yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Jika aku bertunangan dengannya, maka aku bisa membayar semua hutang-hutang keluargaku. Selain itu, aku juga melakukan tiga kerja sambilan sekaligus, juga sangat melelahkan. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Ini adalah sebuah keberuntungan untuk gadis miskin seperti diriku. Dengan ini, semua bisa bahagia.

Saat ini aku berada di gerbang rumah calon tunanganku, rumah yang besar dan mewah, berlantai dua, dan memiliki halaman utk berkebun. Mulai hari ini, ini adalah rumah yang akan aku tinggali.
“Silahkan kesini Hikaru-sama”. Yuji Shimamura, seorang kepala rumah tangga disini. Menunjukkan kepadaku dimana laki-laki itu berada.
“Ichi-Sama sedang berada diruang tamu”
“Hai”. Bagaimana ya pendapatnya ketika melihatku ya? Jika didepan pak kepala took, aku selalu memperlihatkan sisi tegarku. Huuuu~ bagaimana ini.. aku gugup~!
“Ichi-Sama.. Hikaru-Sama telah datang”. Shimamura-san membukakan pintu untukku. Saat aku masuk, aku melihat sosoknya, rambutnya hitam panjang seperti Yuto Nakajima, Idolaku. Tatapannya dingin, selah-olah tak ada yang bisa ia percaya didunia ini. Dia sedang duduk disofa.
“Jadi kau ya gadis miskin itu?”. Ah aku mengerti, laki-laki mana mungkin mau bertunagan denganku ya.. Meski begitu aku tetap harus mencobanya kan..
“Hallo.. Watashi wa Shizuoka Hikaru. Hikaru to yonde kudasei. Hajimemashite*”. Ugh tatapan dinginnya menusukku.
“Aku akan keluar” Ryuzaki Ichi, beranjak dari singgasananya.
“Ichi-Sama…”
“Tunggu sebentar.. mau kemana?” Saat Ichi melewatiku, aku buru-buru menghentikannya. Ah.. IChi berhenti dan menepis tanganku.
“Rendah sekali kau.. bertunangan hanya demi uang”. Aku tersentak mendegar kata-katanya, aku tidak seperti itu, laki-laki menyebalkan ini sudah keterlaluan.
“Mau bagaimana lagi, karena ayahku tidak punya pekerjaan, kami jadi tidak punya uang. Tapi yang aku dengar dari Direktur kau juga begitu kan? kalau kita bertunangan, maka kau juga bisa mendapatkan warisan keluarga Ryuzaki sepenuhnya. Kalau kau menginginkannya, kau harus bertunagan. Kita saling memerlukan bukan? karena itu, bukankah lebih baik jika kita jadi lebih akur?”. Ehm.. sepertinya kata-kataku kedengarannya sok sekali.
“hmmm.. sudah hampir malam, sebelum itu, pergilah kekamarmu dan bawa semua barang-barangmu” Ichi menunjukkan jalan kepadaku. Aku hanya melihat punggunya yang lebar dari belakang dengan bingung dan heran. Apa dia tidak jadi pergi.
“Kamarmu ada dilantai 2. Dibawah situ adalah toilet dan ofuro. Ah iya dikamar dua-duanya juga ada sih”. Akhirnya kami berhenti disebuah ruangan, dan mamasukinya.
“Ini adalah kamarmu”. Kamar yang luas, terdapat tempat tidur, sofa, meja rias, dan meja belajar dan sebuh Laptop.
“Eh kamarku? Tempat tidurnya untuk dua orang?” dengan mata bersemangat aku bertanya pada Ichi.
“Haa? kenapa aku harus tidur denganmu? Sama sekali gak ngerti”
“Kalau begitu aku disini tidur sendirian saja? Biasanya aku tidur dengan adik laki-laki dan perempuan, jadinya lumayan berisik…” mencoba tempat tidur baruku ini.
“Hentikan”. Saat aku sedang asyik-asyiknya mencoba kasur ini, Ichi tiba-tiba menyerangku. Ugh.. tenaganya kuat sekali.
“Dengar yaa.. aku gak akan pernah mau menjadikan cewe seperti anjing ini menjadi istriku” Dia menyeringai. Jahat. Kenapa dengan mudahnya dia berkata seperti itu?
“Lepaskan.. bodoh!” sambil berontak.
“Haa~ bodoh.. kepada siapa kau tunjukkan kata-kata itu? kan kau yang ingin kita akur? Demi uang.. karena itu panggil aku dengan sebutan Ichi-sama (Tuan Ichi)”. Aku tidak akan melakukan apa yang kau inginkan.. tidak akan?
“Guk Guk Guk?” Eh seekor anjing?. Anjing itu menaiki tubuh Ichi. Dan sekarang Ichi sibuk dengan anjing itu, dan aku? ahaha tentu saja bebas.
“Apa yang kau lakukan anjing bodoh? Lepaskan Ugh?
Jangan-jangan.. aku membantunya melepaskan diri dari anjing.. dan saat ini anjing berada di tanganku.. dan aku mengarahkan kepada Ichi. Dia menarik dan menjauhkan diri dari anjing. Kelemahanmu aku dapatkan Ryuzaki Ichi. Aku menunjukkan senyum licik pada Ryuzaki Ichi.
“Huh.. Kau ternyata cocok dengan anjing ya” Setelah Ichi mengatakan itu, dia pergi meninggalkanku dengan si anjing yang kawaii ini. Dia tidak suka dengan anjing semanis ini. Bagaimana sih dia, tidak suka anjing tapi masih dipelihara juga. Dia orang yang menyebalkan tapi entah kenapa aku merasa bisa melakukannya. Di leher anjing ini terdapat sebuah kalung yang bertuliskan Leo. Nama yang bagus untuk anjing yang manis dan lucu seperti ini. Malam harinya, aku mendapatkan telepon dari keluargaku.
“Moshi-moshi* dengan Hikaru”
“Hikaru”. Suara seorang pria dari balik telepon ini adalah suara yang sangat aku rindukan.
“Otosan.. Aku sudah sampai dengan selamat”
“Onee-chan.. Arigatou gozaimas” Suara Taichi yang imut seperti biasanya. Adik laki-laki kebanggaanku.
“Tadi makan apa?”
“Sukiyaki* dan tempura* dagingnya enak”
“Curang~..”
“Tidak apakan.. ayah sudah mendapatkan pekerjaan, karena itu mulai hari ini tidak apa-apa kalau mau makan daging”.
“Mana ayah? Kakak mau bicara!”. Aku kaget sekaligus senang ayah mendapatkan pekerjaan.
“Ayah.. Benarkah itu?
“Ryuzaki-san yang telah mencarikan pekerjaan untuk ayah, hutang-hutang juga sudah dikembalikan. Jadi sekarang kita sudah baik-baik saja”. Syukurlah, semuanya baik-baik saja.
“Onee-Chan.. tuan rumahnya orang yang bagaimana?”
“Ah Ayumi… Orangnya sulit.. tapi dia lucu juga deh.. Soalnya masa dia takut sama anjing…” Tuuut tuuut tuuut.. eh kok teleponnya terputus. Aaargh ternyata ulah Ichi. Sejak kapan dia berada disampingku.
“Jangan pakai telephone orang untuk ngobrol lama-lama.. pakai handphone kau saja sana”.
“Aku tidak punya handphone”
“Dasar miskin”. Jahat? Ichi benar-benar orang yang jahat.

*****

“Ichi-san sudah waktunya sarapan. Bangunlah. Waktunya sarapan, sekarang sudah jam 9” Aku membangunkan Ichi yang masih tidur dengan nyenyaknya. Padahal matahari sudah tinggi.
“Kau membuatku kesal. Berisik!”. Ichi melepariku dengan bantal. Tentu saja aku menghindar. Mana mungkin aku mau untuk ditindak orang ini.
“Ichi-san dimana kamar pak Direktur. Aku ingin memberi salam padanya”
“Percuma saja. Kakek sedang dinas keluar negri. Oh iya rumahnya ada dibelakang”. Meski Ichi menjawab pertanyaanku tapi dia masih saja tetap menarik selimutnya.
“Jangan-jangan kamu hidup sendirian?”
“Memang. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih kelas 1 SMP. Aku mendengar hal itu dari kakek”
“……” Aku terdiam mendengarnya.
“kenapa kau jadi diam? kau menangis hanya karena simpati? Polos sekali”. Ichi melirik kearahku.
“Aku tidak menangis tahu.. aku merasa kesal.. Aku juga sebal kenapa selalu menagis sendiri”. Aku merasa kesal, tapi aku juga menitihkan air mata. Pokonya aku merasa sebal.
“hahaha apa-apaan wajahmu itu. Jelek”. Aku.. baru kali ini melihat Ichi tertawa lepas seperti ini. Wajah tertawanya begitu indah dan bersinar. Lagu Boku Wa Vampire dari Hey Say Jump! Mengalihkan perhatianku.
“Sudahlah.. Handphonemu bunyi tuh”. Ichi meraih Handphonenya yang terletak dimeja. Ternyata itu sms. Kira-kira dari siapa yah. Setelah membaca sms itu, wajah tawanya yang indah tadi lenyap seketika.
“Jadi begitu ya.. Kau pun juga sama saja.. Kau mata-mata kakek.. Aku jadi merasa tertipu!”. Apa maksudnya. Mata-mata apa
“Apa maksud mu? Aku tidak mengerti”
“Sudahlah.. Keluar kau dari kamarku” ichi mendorongku keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ichi juga menghiraukan panggilanku.

From : Kakek
Subject : Pertunanganmu
Pada pesta pertunangan yang diadakan besok, kakek akan mengumumkan soal pertunanganmu dengan Hikaru-san. Hari ini, pergilah bersama Hikaru-san untuk memilih baju yang cocok dan bagus untuknya. Kalau kau tidak melakukannya, aku akan mengeluarkanmu dari keluarga Ryuzaki.

*****

Aku hanya terduduk lemas didepan pintu kamar ichi. Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya. Mata-mata? Aku bukan agent mata-mata. Aku hanya gadis SMA biasa. Kebetulan sekali Shimamura-san datang. Mungkin saja aku bisa mendapatkan penjelasan darinya.
“Shimamura-san apa maksudnya dengan mata-mata? Apa Ichi-san segitu bencinya dengan kakeknya?”
“Hikaru-sama.. Selama ini Ichi-sama hanya salah paham. Karena hubungan beliau dengan orangtuanya yang telah meninggal kurang baik, selama ini Ichi-sama menganggap seluruhnya adalah kesalahan tuan besar”. Begitulah penjelasan dari Shimamura.
“jadi Begitu”
“Ini adalah permohonanku kepada Hikaru-sama, sudah beberapa tahun sejak terakhir kali aku melihat wajah bahagia Ichi-sama. Saya mohon agar Hikaru-sama terus berada disamping Ichi-sama dan membuatnya tersenyum”

*****

Aku melihat Ichi mengendarai motornya meninggalkan rumah. Aku tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Aku segera menyusulnya dengan menggunakan mobil yang ada dirumah ini. Ternyata, Ichi pergi ke taman Shiba, Tokyo, yang terletak di distrik Minato. Taman ini sangat luas, bagus, banyak terdapat pohon-pohon yang lebat dan nyaman. Sebagai warga Tokyo, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sambilanku, hingga lupa menikmati fasilitas yang telah diberikan oleh pemerintah Jepang. Angin yang berhembus menyejukkan. Aku melihat sosok Ichi yang berada didekat danau buatan.
“Ichi-san”
“kau .. sudah kuperingatkan untuk tidak datangkan… Oh iya kau pasti pakai radar GPS ya.. Kalau mata-mata kakek pasti mudah melacakku”. Inikah prasangkanya tentang aku.
“Iie*.. Tolong jangan berkata seperti itu? kakekmu hanya mencemaskan dirimu..” aku berusaha untuk menolong Ichi, Karena dia pada dasarnya orang yang baik.
“Cemas katamu!? Dia hanya mengawasiku saja kan? Supaya aku tidak melakukan hal-hal yang bodoh. Supaya aku tidak membuat malu nama besar keluarga Ryuzaki? Menyesakkan tahu.. selalu seperti itu” Emosi Ichi memuncak, nada bicaranya tinggi. Ichi melampiaskan amarahnya pada pohon-pohon yang ada disekitarnya, Ichi mengarahkan kepada pohon-pohon itu, sampai tangannya berdarah. Aku tidak tahan melihatnya terluka, Hatiku, merasa sakit. Aku takut dia melukai dirinya sendiri. Tanpa pikir panjang aku memeluknya dari belakang.

“Ichi-san.. Ichi-san.. Hentikan..” Aku berteriak padanya
“Apa sih.. Lepaskan?”
“Padahal aku takut sekali… Kalau kau memang benci dengan pertunangan ini tidak apa-apa? Tidak melakukannya pun tidak apa-apa. Akan aku lakukan apapun untuk mengembalikan hutang-hutang kami. Aku akan bekerja keras dengan keluargaku untuk melakukannya. Tidak masalah meski aku harus berhenti sekolah.. pekerjaan seberat apapun akan aku lakukan.. Apapun.. Apapun..” Semuanya meledak, juga termasuk tangisan dan kesedihanku untuknya.
“Jadi kau yang terluka? Kupikir kakek menjodohkanku untuk mencegahku melakukan hal ini. Padahal kakek pasti jauh lebih bahagia jika aku tidak ada.” Ichi mengatakannya dengan kepala yang tertunduk. Hentikan. Jangan mengatakan hal yang menyedihkan begitu. Karena aku ada bersamamu. Pelukanku semakin erat, aku ingin menyatakan padanya melalui tindakanku ini, bahwa dia tidak sendirian lagi. Ichi menumpahkan segalanya, kemarahan, kesedihan, juga rasa kesepiannya selama ini dalam dekapanku tanpa sepatah-kata apapun. Dibawah pohon yangn rindang dan lebat ini, serta angin yang sepoi-sepoi, daun-daun yang berguguran, seperti seolah-olah bahwa alam pun mendukungku.

*****

Kami telah sampai dirumah. Aku berada dikamarku. Dan Ichi-san berada dikamarnya. Melihat ichi seperti anak kecil yang tersesat, membuatku jadi ingin melindunginya, memberikan warna dalam kehidupannya, membuat dia tertawa dan bahagia, dan yang paling penting aku tidak akan membiarkannya sendirian. Jam dinding menujukkan jam 7 malam. Aku harus ke kamar Ichi, setelah sampai tadi, dia memintaku untuk datang ke kamarnya, karena ada yang ingin dia berikan padaku.

Beberapa menit kemudian aku sudah sampai dikamar ichi.
“Ada apa dengan gunungan baju ini”. Saat aku masih, aku melihat kamar Ichi penuh dengan gaun-gaun yang berserakan disetiap tempat.
“Ini.. kau pakai ini.. Saat pesta pertunangan kita malam ini” Ichi memberikanku sebuah gaun biru muda.
Pesta pertunangan diadakan dirumah. Para hadirin yang datang tentu saja merupakan orang-orang penting di group Ryuzaki. Mereka semua, bagiku terlihat seperti kaum bangsawan bagiku. Berkilau. Aku, Shizuoka Hikaru, malam ini telah resmi bertunangan dengan Ryuzaki Ichi.

*****

Keesokan paginya saat kau terbangun, aku melihat cincin dijari manisku berubah. Ini bukan cincin dalam acara pertunangan kemarin. Suara ribut di dapur memecah rasa penasaranku. Ternyata Ichi sedang memasak. Aku tak menyangka ternyata Ichi punya kemampuan ini.
“Ichi… Coba lihat.. begitu aku bangun.. Cincin pertunangannya berubah.. Ini bukan cincin dari kakek kan? Aku menunjukkan jariku pada Ichi.
“Kamu ini pagi-pagi sudah berisik.. Cincin itu dariku.. itu adalah cincin pemberian ibuku yang sangat aku jaga.. Nah serapan pagi sudah siap.. Duduklah dan makan ini” Ichi membawa makanan yang siap untuk disantap ke meja makan. Aku mencicipi masakan buatan Ichi, ini enak sekali.
“Ittadakimasu* .. Aku tak menyangka.. ternyata ichi bisa masak seenak ini”
“Diam dan cepat selesaikan makananmu.. Setelah ini kita akan pergi.. aku ingin mengajakmu kesuatu tempat”
“Kemana??”
“Rahasia”

Ting tong~.. terdengar suara bel. Siapa yang datang sepagi ini ya? .
“Biar aku saja yang bukakan pintu.. kamu siap-siap saja san” . Setelah mengatakan itu, Ichi meninggalkan meja makan. Dan aku pergi ke kemarku untuk bersiap-siap.
“Jadi.. Ada apa Direktur datang pagi-pagi kesini? “
“hahaha begitu.. kakek kesini hanya mau melihat keadaan cucu kakek dan tunangannya”
“Tidak perlu basa-basi.. langsung intinya saja”. Si kakek memasuki ruang tamu dan duduk sebelum dipersilahkan Ichi.
“Kenapa harus dia? Dari yang aku dengar, Dia adalah anak perempuan dari wanita yang dulu dicintai ayah..”
“Kau mirip sekali dengan ayahmu, ya anak itupun sampai mirip dengan ibunya, karena itulah aku pikir kalian pasti akan saling suka”
“Bagaimana dengan ibuku… ibuku selalu menunggu ayah yang selalu memikirkan wanita lain selama ini. Di rumah ia selalu kesepian, saat ia berbicara denganku sekalipun ia sering melamun seperti tidak mendengarkanku. Dan demi kau, melanjutkan keluarga Ryuzaki, kau membuat ibuku menikah biarpun mustahil. Dan aku lebih memilih Hikaru dari pada ibuku. Aku jadi merasa seperti ayahku.. membuatku muak.. aku berpikir ini menyebalkan.. bodoh.. menyebalkan sekali kau ini.. Aku kesal karena aku merasa bersyukur kau telah mempertemukanku dengan Hikaru”. Ichi menenggelamkan wajahnya dengan tangganya sendiri.
“jagalah dirinya baik-baik”. Setelah kakek mengatakan itu, dia pergi meninggalkan Ichi seorang diri, Ichi yang masih tenggelam dan terhanyut dalam pikirannya sendiri. Aku tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, aku tidak sengaja mendengarnya. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Ichi, apa masih pantas untuk berada disampignya? Aku tidak bisa berpikir tidak tahu apa-apa, perasaan ichi yang sesakit itu. Menderita. Biarpun begitu aku tidak ingin berpisah dari Ichi. Aku harus melakukan sesuatu untuknya. Aku jadi menyukai Ichi, aku yang bisa dibilang adalah musuh ibunya. Ichi kelihatan menderita sekali dan ingin menangis. Aku takut kalau suatu saat ia akan membenciku.

*****

Ternyata Ichi membawaku ketaman hiburan. Disini ada banyak wahana. Ada jett coster, tornado, komedi putar, bianglala, rumah hantu, boom-boom car, dan masih banyak wahana yang menantang.
“Dingiin~”
“Lebih dingin saat pertama kali kita bertemu ya ahaha”. Ichi tertawa
“Itu karena kamu memukul pohon gak jelas begitu”
“kau berwajah jelak sambil menangis begitu”
“soalnya aku takut sekali”
“tapi mungkin, saat kau mendekapku saat itulah aku mulai mempercayaimu”. Aku senang mendengarnya.
“Ichi kenapa tidak suka anjing?”
“Ehm.. itu karena daripada kepadaku ibuku lebih perhatian kepada anjing, makanya aku gak suka dengan anjing”
“Ibumu pasti menyayangimu kok ichi”
“kau gak akan mengerti”
“Aku mengerti kok, soalnya aku suka dengan Ichi. Baik hati, sesekali menjadi pemalu dan aku jadi merasa bahwa kamu manis. Ketika melihatmu tersenyum aku bahagia dan ingin melihatnya lagi. Tidak mungkin orang seperti itu tidak dicintaikan?”
“Aku tau.. sudah cukup.. aku malu tau.. karena itulah aku jadi lemah padamu.. selalu saja berkata dengan terus terang” Saat Ichi mengatakan itu, dengan wajah yang ingin menagis, aku memulai rencanaku. Aku melepaskan cincin dari Ichi, dam menyembunyikannya di saku rokku.
“Ichi.. Bagaimana ini? Cincinnya tidak ada?” aku pura-pura panik.
“Ayo kita cari” Ichi panik. Maafkan aku ichi. Aku hanya ingin lebih lama bersamamu, aku jadi berbohong. Kami terus mencarinya, sampai jam tutup taman ini. Saat ichi sibuk mencarinya, aku diam-diam melangkah jauh darinya
“jangan pergi terlalu jauh dariku.. kau tidak punya handphone, bagaimana aku harus mencarimu. Aku akan mencarinya lagi. Kalau kau lelah duduk saja” Aku tidak bisa berbohong terus-menerus pada orang sebaik ini.
“Maaf Ichi, Cincinnya ada kok”. Ichi selama ini selalu menderita karena aku dan kenangan tentang ibunya.
“kalau Ichi tidak suka, ku pikir sebaiknya kita berpisah saja”. Aku menyerahkan cincin itu kepada Ichi.
“Hah?” Ichi kelihatan kebingungan.
“Aku berbohong waktu kubilang cincinnya hilang. Aku hanya ingin menghabiskan waktu lebih lama bersama Ichi. Aku takut kalau kamu akan menolakku. Maaf.”
“Jadi kau begitu memikirkanku ya? kau pasti mendengar apa yang kakek bicarakan? aku tahu, kau bukanlah tipe orang yang berbohong untuk melukai orang lain. Setiap kali Hikaru merasa kebingungan, akulah yang merasa bersalah. Hikaru, aku ignin kau terus bersamaku di saat bagaimana pun juga. Banyak hal yang terjadi didalam keluargaku dan masa laluku. Aku juga tidak bisa mengatakan aku akan selalu membuatku bahagia. Tapi aku tidak bisa memikirkan masa depanku tanpa adanya dirimu bersamaku”. Ichi menggenggam tanganku dengan erat. Tangan Ichi terasa sangat hangat. Pasti inilah Ichi yang sebenarnya, ichi yang menyembunyikan kehangatan dibalik kedinginan yang dia miliki.
“ a”. Aku bisa melihat masa depan dimana ada kita berdua

Beberapa tahun kemnudian.
“Ah itu papa”. Seorang anak perempuan bersama sang ibu menyaksikan televisi. Sang reporter berkata “Di usianya yang semuda ini, sudah sukses menjadi penerus group Ryuzaki. Ryuzaki Ichi-san, selamat atas keberhasilan anda.. Ini adalah hal yang menjadi perhatian wanita diseluruh negeri ini, apakah anda sudah menikah?. dan sang nara sumber pun menjawab
“Sudah”
“Anda mengatakannya dengan sangat tegas sekali ya”
“Aku tidak mungkin tidak mengatakannya, karena mungkin aku jadi tidak bisa bersama istriku”

END

Cerpen Karangan: Kinoshita Ryuga
Facebook: Kinoshita Ryuga

Nama Asli : Listanti
Nama Pena : Haru Ryuga
TTL : Pekanbaru, 04 Mei 1994
Status : Mahasiswi
Jurusan : Management Informatika
Hobi : Membaca buku ( Biografi, Psikolog, komik, novel dan IT ) Menggambar manga dan anime,

Cerpen Me And Proposal Marriage merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Ini Menyakitkan

Oleh:
Cinta, suatu kata yang tak asing bukan? Hampir semua orang pasti tahu apa itu cinta. Kata yang paling indah bila diucapkan yang mengandung makna begitu besar dan memiliki sejuta

You’re Smile

Oleh:
Kuncup bunga sakura sudah mekar memperlihatkan mahkotanya yang indah. Angin berhembus menyapa kulitku. Sinar hangat yang selalu sukses membuatku nyaman. Musim semi pertamaku di SMA pun dimulai. Namaku Fujimoto

Hati Untuk Menyimpan

Oleh:
Manusia terlahir mempunyai hati, namun membutuhkan pikiran untuk mengendalikannya. Manusia juga terlahir mempunyai jiwa, namun membutuhkan perasaan untuk mengendalikannya. Dan meskipun hati dan jiwa itu tidak dikendalikan, tetap saja

Cinta Kita Berbeda Sayang

Oleh:
Aku menatap langit-langit di sudut kamar tidurku. Aku memikirkan betapa aku sangat menyayangimu. Ya, aku tahu kalau hubungan kita ini tidak mungkin sampai lama. Tapi bagaimana caranya, aku tetap

Kau Yang Pertama

Oleh:
“Itu dia!”, ucapku bersemangat. Aku memandanginya sebentar lalu kemudian memanggilnya. “Donnie!” Ia menoleh lalu tersenyum sambil berlari ke arahku. “Hari ini pun dia sangat tampan.” Ucapku sambil tersenyum. Dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Me And Proposal Marriage”

  1. muda says:

    Cerpen ini ceritanya nyaris sama persis dengan komik yang pernah kubaca, bahkan nama karakter nya pun sama, hanya saja ada beberapa bagian dalam komik yg tidak dituliskan didalam cerpen ini. Well,buat keseluruhannya bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *