Mega Mendung (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 April 2016

Namanya Mega Melandrani, bersekolah di SMA Pancasila. Kini dia duduk di kelas 12. Jika semua anak yang sedang gugup untuk menghadapi ujian itu sama sekali tidak dirasakan Mega. Dia santai dan bersikap biasa saja. Dia tidak mau stres karena pusing belajar yang mengakibatkan otaknya menjadi konsleting. Dia bukan anak yang cerdas atau jenius, tapi namanya sudah terkenal seantero sekolah. Bukan karena prestasi yang membanggakan tapi karena dia pernah beradu mulut dengan ketua OSIS, yang kini telah digantikan oleh anak kelas 11. Mantan ketua OSIS itu bernama Hilal Rizky. Dia adalah orang yang menyebalkan dan membuat Mega harus menahan marah kala dipermalukan di depan anggota OSIS.

Kejadian itu masih berada di ingatan Mega meski sudah berlalu, saat Hilal mengadukannya kepada guru, kalau dia membolos. Mega sering membolos saat ada jam kosong. Dia sering pulang mendahului jam pulang, dan karena Hilal mengetahui hal itu, dia mengadukannya kepada guru piket. Alhasil Mega mendapat hukuman, dia harus membersihkan gudang sekolah dan ruang kerja OSIS. Saat itu OSIS sedang rapat. Mega tidak peduli akan hal itu, dia nekat untuk tetap mengepel ruang OSIS.

“Lo anggota OSIS?” ucap Nadya, salah seorang anggota OSIS.
“Bukan.” jawab Mega singkat.
“Terus kenapa lo masuk ke ruang ini?” kata Nadya.
“Udah Nad lo jangan ngeladenin dia, dia itu cuma petugas bersih-bersih. Dia mungkin cleaning servis yang lagi tersesat.” kata Hilal, pernyataan Hilal membuat telinga Mega panas. “Masa cleaning servis? Bukannya lo Mega kan?” kata Chelsea.
“Iya, gue Mega.” kata Mega dengan mengulum senyum terpaksa.

“Dia ini kena hukuman karena hobi bolos, untung aja gue laporin. Nih anak otak gak pinter tapi gaya-gayaan pake ngebolos.” kata Hilal.
Mega menatap wajah Hilal dengan pandangan tak suka.
“Lo punya masalah sama gue ya? Kok lo nyolot begitu.” kata Mega ketus.
“Lo mending ngepel yang bener, gue males ngelihat lo. Cepet selesaiin terus pergi.” kata Hilal acuh.

Kalau tahu kejadian itu rasanya kepala Mega ingin pecah. Sudah satu tahun yang lalu namun seperti baru kemarin terjadi. “Mega, lo disuruh ke ruang TU.” kata Helen, teman sekelas Mega.
“Kenapa? Emang ada masalah administrasi?” tanya Mega.
“Gue nggak tahu, lo ke sana deh mendingan, Bu Sukma yang manggil.”
Segera saja Mega pergi ke ruang TU. Di sana ia bertemu musuh bebuyutannya. Mega berusaha menyembunyikan perasaan bencinya, ia mengacuhkan keberadaan Hilal.

“Ada apa Bu manggil saya? Ada masalah?” kata Mega santai.
“Lo kan emang bermasalah.” kata Hilal menyindir.
Mega hanya mendengus kesal. “Ini kamu isi data formulir kamu, ada yang kurang.” kata Bu Sukma.
“Ini formulir berhadiah ya Bu? kalau menang dapet apaan?” ucap Mega.
“Dasar, otaknya hadiah mulu.” sindir Hilal.
Mega kesal, karena setiap perkataannya akan dikomentari oleh Hilal.

“Ini data siswa, buat acara SNMPTN. Kamu kemarin nggak masuk kan? Karena itu isinya sekarang.” kata Bu Sukma.
“Oh cuma SNMPTN, saya kira apaan.” kata Mega santai.
“Lo itu, ini SNMPTN buat ngelanjutin kuliah, lo malah bilang cuma itu!” omel Hilal.
“Kok lo yang kesel ya? Dari tadi Bu Sukma diem dan nggak cerewet, malah kayaknya lo yang peduli sama gue. Gue dan hidup gue nggak perlu tuh lo urusin.” kata Mega.
“Dengerin gue ya Mega Mendung, lo itu harus respect sama sekolah, lo kayaknya sekolah tuh gak ada niatnya, mending lo ubah semua tingkah lo itu, ini mau ujian.” kata Hilal.
“Gue simpen nasihat lo.” kata Mega lalu mengisi data itu. Hilal juga ternyata mengisi data yang sama.

Setelah selesai, ia menyerahkan data itu kepada Bu Sukma. “Ini Bu. Saya kembali ke kelas ya Bu.” kata Mega.
Mega ke luar dari ruang TU. Hilal mengikuti Mega, dan kini mereka berjalan beriringan.
“Lo kenapa sih kayak males sekolah?” tanya Hilal.
“Karena ada lo , maybe.” kata Mega, sambil mengedikkan bahunya.
“Gue tahu lo sebel sama gue, tapi gue cuma pengen tahu kenapa lo kayak gak niat aja sekolah.” kata Hilal. Langkah Mega terhenti.
“Dengerin gue ya, Hilal. Gue tahu lo pinter, lo kaya, lo populer. Tapi yang perlu lo tahu gue gak tertarik dengan yang melekat sama lo itu. Gue nggak semudah itu nyeritain hidup gue ke orang lain.” kata Mega.

“Gue juga nggak bangga sama semua itu, tapi gue care sama lo. Karena gue nggak ingin hidup lo berantakan. Dan gue mau minta maaf soal kejadian yang mungkin masih ngebuat lo benci sama gue, tapi gue mau ngeyakinin lo, yang gue lakuin itu biar lo itu sekolah dengan bener.” tuturan panjang dari Hilal membuat Mega heran.
“Ngapain lo care sama gue? Bukannya lo itu nggak suka sama gue? Kenapa sekarang sok baik begini?” kata Mega.
“Dengerin gue Mega mendung, lo pikir gue benci sama lo, itu 180 derajat salah besar.” kata Hilal.

“Maksud lo salah besar? Gue makin nggak paham. Jangan-jangan lo mempermainkan gue ya. Lo berusaha cuci otak gue, gue tahu gue bodoh. Tapi jangan pernah ngebodohin gue.” kata Mega. “Gue nggak berusaha cuci otak lo. Yang perlu lo inget gue bakal bilang ini 143 Mega mendung.” kata Hilal, sambil pergi meninggalkan Mega.
“Apa itu 143? Dia bilang apa gue nggak paham. Bener kan dia mainin gue, ada udang di balik bakwan kayaknya.” kata Mega, setelah tiba di kelas, dia menceritakan semuanya pada Hilda, teman sebangkunya.

Hilda tampak berpikir, dia diam tak menjawab perkataan Mega. Dengan tangan yang bersedekap akhirnya Hilda tersenyum sendiri. “Hil, kok lo senyum-senyum gitu.” kata Mega.
“Lo tahu nggak makna 143?” kata Hilda, Mega hanya menggelengkan kepala.
“Dasar telmi, itu artinya I Love You. Mending lo ke Hilal nanti, coba tanya apa maksudnya bilang kayak begitu.” kata Hilda.
“Ah lo ngaco, mana mungkin Hilal bilang begitu. I Hate You mungkin, tapi kalau I Love You gak percaya gue.” kata Mega. “Ya udah kalau gak percaya.” kata Hilda.

Pulang sekolah Mega merasa kepalanya pusing sekali, setelah itu tubuhnya lemas, seakan akan semuanya pudar dari penglihatannya. “Mega, kamu kenapa sayang?” kata Mamanya sambil menolong anaknya yang mau terjatuh.
“Pusing Ma.” kata Mega lesu.
“Kita ke rumah sakit ya.” kata Mamanya.

Sesampainya di rumah sakit Mega segera mendapat perawatan intensif.
“Dok, sebenarnya anak saya itu kenapa?” tanya mamanya Mega.
“Anda kan sudah tahu kalau anak ibu itu punya kelainan pada darahnya, dan itu juga berpengaruh pada kondisi fisiknya. Sebaiknya anak Ibu harus dirawat intensif di sini.” kata dokter. “Tapi anak saya nggak mau kalau harus berlama-lama di rumah sakit dok.” kata Mamanya Mega.
“Sebaiknya Ibu harus mementingkan kondisi anak Ibu.” kata Dokter.
Sudah 3 hari Mega tidak masuk sekolah, teman temannya hanya tahu kalau Mega ada di rumah. Tidak ada yang tahu kalau Mega diopname.

“Ma, Mega bosen. Mega mau jalan-jalan.” kata Mega.
“Sayang, kamu nggak boleh kecapean.” kata Mamanya.
“Ma…” kata Mega menunjukkan wajah memohonnya.
“Oke, tapi jangan jauh-jauh. Mama mau jemput Papa kamu di bandara.” kata Mamanya Mega.
Mega berjalan-jalan sambil memegang selang infus yang kini sudah menjadi teman bagi Mega.

“Bau rumah sakit kayak obat.” oceh Mega. “Apa obat yang kayak rumah sakit?” oceh Mega lagi.
Saat Mega berjalan, tiba di suatu ruang. Hal yang membuat Mega terkejut adalah dia melihat Hilal.
“Hilal? kenapa dia di sini?” tanya Mega pada dirinya sendiri. Hilal memakai pakaian pasien dan ada jarum infus di tangannya.

“Dia sakit? kok samaan sih.” Mega semakin penasaran. Dia mencoba mendekati Hilal, yang kini tengah duduk di kursi tunggu pasien. Tapi langkah Mega terhenti saat melihat seorang perempuan, yang usianya hampir sama dengannya, wajahnya cantik. Dia memeluk Hilal.
“Pake acara peluk-peluk… Eh…kenapa aku kesel.” kata Mega, dia bingung mengapa dirinya tidak suka kalau Hilal dekat dengan perempuan itu. Mega melihat bagaimana Hilal dan perempuan itu bersenda gurau. Rasanya Mega seperti memata-matai kekasihnya yang ketahuan berselingkuh, Mega segera menghapus imajinasinya. Sekitar 10 menit perempuan itu pergi, Mega berjalan menghampiri Hilal.

“Hai.” sapa Mega.
“Kok lo di sini?” tanya Hilal dengan ekpresi terkejut.
“Lo kaget ya gue ada di sini. Gue lagi piknik aja kayak lo.” kata Mega sambil tersenyum.
“Lo ngikutin gue ya? Pake acara pura-pura jadi orang sakit.” kata Hilal, sambil melihat infus yang dibawa Mega.
“Ngikutin lo? Mana mungkin gue lakuin hal bodoh nggak bermutu kayak begitu. Lo ngapain kok bisa ada di sini.” kata Mega sambil duduk di samping Hilal.
“Gue lagi piknik kayak apa yang lo bilang barusan.” kata Hilal, sepertinya Hilal menyembunyikan sesuatu.

“Oh, lo terlalu pinter milih tempat piknik di kamar VIP rumah sakit, lo kira gue bodoh banget gitu. Lo pasti sakit?” kata Mega.
“Lo sendiri juga pasti sakit. Lo sakit apa?” kata Hilal.
“Sakit apaan ya, gue nggak tahu.” Kata Mega.
“Dasar oneng, lo itu sakit tapi nggak tahu penyakit lo.” kata Hilal.
“Gue nggak mau tahu tentang apa yang gue derita, karena itu makin buat gue menderita.” kata Mega dengan pandangan kosong. “Lo nggak menderita sendirian kok, gue bakal nemenin lo.” kata Hilal.

Bersambung

Cerpen Karangan: Almira Zahra
Facebook: Almira Zahra
Hai saya Almi, saya suka menulis dan merangkai kata.

Cerpen Mega Mendung (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia dan Dia (Part 1)

Oleh:
Mereka sama kok. Senyumnya, rambut panjangnya, gaya bicaranya, caranya berjalan. Tidak ada perbedaan sama sekali. Dia adalah dia. Dan dia membuatku tersenyum lagi. 07:03. Lena melirik jam tangannya dengan

Bulan November

Oleh:
Entah aku tak tau mengapa akhirnya bisa serumit ini, begitu sakit dan menyesakkan. Kurang kuat apa aku? diam sudah kulakukan, menjauh pun aku jalani. Merelakan apalagi, sudah kucoba meski

Karan Dan Karina

Oleh:
Seperti biasa, aku selalu ke taman dekat rumahku tiap sore. Selain untuk mencari ketenangan, ada hal lain yang membuatku tertarik untuk selalu datang ke taman ini. Alasannya karena dia.

Jendela (Part 1) Membuka Jendela

Oleh:
Kamu tahu apa filosofi hujan? Pernahkah kamu memahami apa maksud gelombang merah senja? Atau mungkinkah kamu akhirnya tahu, Tentang perwujudanmu dalam semesta.. Kamu dan langit atau sekedar kamu dan

Lagu Kita

Oleh:
Ketika cahaya bersinar, menembus celah-celah kecil jendela. Udara sejuk menyentuh hingga ke raga. Hembusan angin terdengar mendesah berirama. Bunga pagi serentak merekah merona. Ketika bunga tidur terbuyarkan oleh mata.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *