Mekar Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

Suara adzan mulai bersenandung ria. Suara anak desaku yang sangat merdu. Membangunkan mimpi indahku sore ini. Tidak terasa tidur siangku selama ini. Biasanya aku tidak pernah tidur siang. Tapi entah kenapa hari ini tubuhku lelah sekali. Tempat tidurku seperti memelukku penuh dengan kehangatan. Selimut tidurku serasa membelai lembut tubuh ringkih ini. Perasaanku akhir-akhir ini sering kacau. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Apakah diantara kesekian pria yang dekat denganku tidak ada yang cocok. Mengapa diantara mereka tidak ada yang sama sekali membuatku nyaman dan bertahan. Ada saja perilakunya yang masih kekanak-kanakan.

Aku butuh pria yang mempunyai konsekuensi setelah menjalani hubungan denganku. Aku tidak peduli dengan masa lalunya. Aku hanya ingin dia tidak mengulang kesalahan yang kedua kali atau kesekian kali dari masa lalunya. Ku ingin dia jadikan sejarah akan masa lalunya. Aku juga tidak butuh dengan kekayaannya. Yang aku butuhkan hanya kepercayaannya kepadaku serta kesetiaannya. Tidak jarang pria sekarang ini dapat dipegang omongannya. Karena dari beberapa penelitian menyatakan bahwa. Laki-laki paling mudah bosan dengan pasangannya. Bisa disebabkan karena sifat dan perilaku wanitanya yang membosankan.

“Hai sayang?” Sapa Alwan siang itu.
“Hemz”. Jawabku cuek.
“Kok gitu sich. Katanya tadi aku di suruh ke kelas”. Jawabnya heran.
“Siapa juga yang memintamu dateng ke kelas. Kan aku cuman bilang kalo mau dateng ya terserah aku nggak minta”. Elakku lagi.
“Ya udah lah aku pergi aja”.
“Ya sana terserah”.
“Alah sayang mah gitu. Tega amat sich?”.
“Apa lagi sich?”.
“Kangen”.
“Kan udah ketemu”.
“Aku hanya pengen ketemu kamu sebentar saja”.
“Ya ini udah ketemu kan. Mau berapa detik? Satu detik? Udah lewat dari tadi kan. Aku mau belajar. Setelah ini masih ada ulangan satu mata pelajaran lagi”. Jawabku tambah ketus.
“Iya iya okay. Aku akan pergi. Tapi jawab dulu. Pulang sekolah nanti kamu mau nggak aku ajak jalan?”.
“Ah ya nanti gampang”.
“Ya enggak gitu dong. Kamu kenapa sich?”.
“Aku nanti pulang sekolah ada acara sama kakak aku”.
“Ya tapi kalo kamu bisa. Ngabarin aku ya?”.
“Iya okay. Tapi ini tolong dong masuk FB kamu dulu”.

Ujian semester dua kali ini terasa beda dengan kemaren-kemaren. Entah aku hanya merasakan kehampaan dalam suasana ujian kali ini. Namun apakah mungkin ini karena yang mengikuti ujian hanya kelas sepuluh dan sebelas. Karena kelas dua belas sudah melaksanakan Ujian Nasional mendahului kami. Waktu istirahat masih lama. Sekitar setengah jam akan aku gunakan untuk melihat inbox Alwan. Benar saja aku menemukan nama yang tak asing di telingaku. Nama itu pernah disebut-sebut alwan beberapa bulan yang lalu. Nama yang pernah membuatku sedikit merasakan perasaan cemburu. Ah tidak, aku tidak boleh cemburu dengannya. Apalagi hanya karena laki-laki itu.

Kubuka percakapan Alwan dengan gadis yang pernah di hatinya itu. Lebih tepatnya itu mantan Alwan ketika masih SMP. Tidak kusangka, Alwan masih berkomunikasi dengan mantan lamanya itu. Kupikir setelah mengenalku dia tak lagi berkomunikasi dengan wanita lain. Apalagi dengan kekasihnya dulu. Oh, lebih tepatnya mantannya.

“Kamu masih mengharapkan aku?”. Tanya mantan Alwan.
“Emang kenapa?”. Jawab Alwan.
“Kenapa kamu masih mengharapkan aku?”.
“Karena aku merasa nyaman saat bersamamu”. Jawab Alwan lagi.
“Haha. Tapi aku udah nggak pantas buat kamu. Mending kamu cari yang lebih baik dari kamu”.
Aku sudah tidak melanjutkan pembicaraan mereka berdua di inbox. Sudah cukup jawaban atas keingintahuan aku tentang Alwan. Kurasa sudah cukup sampai hari itu aku mengenal Alwan. Aku sudah tak ingin dekat apalagi kenal dia lagi. Ternyata Alwan tidak hanya mengatakan hal itu padaku. Tetapi mantannya pun juga dia beri ucapan yang sama sepertiku. Bah.

Aku membaca semua tanggal yang tertera di dalam percakapan. Saat Alwan menyatakan masih mengharapkan mantannya kembali. Sebulan sebelum mengenal diriku. Berarti belum lama hati Alwan masih ada secarik nama mantannya. Pantas saja teman-temanku mengatakan Alwan hanya laki-laki playboy yang tidak tau malu. Tetapi aku masih belum percaya dengan ucapan teman-teman. Karena prinsipku laki-laki yang dianggap setia pun bisa melakukan ‘selingkuh’.

Sudah dua bulan ini aku tidak mempunya kekasih. Peristiwa yang masih hangat dalam hidupku. Liburan semester dua ketika kelas satu aku diputusin pacarku. Dia memutuskanku ketika aku baru saja sampai kediaman orangtua aku. Rasanya sakit jika mengingat kejadian itu kembali. Tetapi tidak terasa itu semua sudah enam bulan berlalu. Haha. Kenapa aku masih saja mengingat hal yang sangat menyedihkan itu.

Kini hadir Alwan laki-laki dengan badan tinggi dan memakai kacamata. Dia terlihat sangat tampan sekali ketika bibirnya menyembulkan senyum. Sangat khas sekali senyum yang dibawanya. Tetapi baru saja aku mengenalnya dia sudah membuatku tidak percaya kepadanya. Percakapannya dengan mantannya itu serasa suatu masalah besar dalam kehidupan aku. Karena aku merasa itu titik awal dimulainya kebohongan. Aku masih takut dengan kata kehilangan. Luka yang dibuat oleh mantanku masih menganga lebar belum mengering. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang kedua kali tentunya. Aku tidak ingin menjadi keledai yang jatuh di lubang yang sama.

Fatalnya setelah aku putus diriku dekat kembali dengan Henu. Dia laki-laki yang pernah menemaniku selama setahun ketika aku masih menduduki bangku SMP. Tidak ayal lagi Henu pun menjadi kekasihku kembali. Waktu begitu sangat cepat dan dunia ini begitu rumit. Seakan aku menjadi wanita bodoh yang tak dapat menentukan siapa yang pantas memiliki hati. Aku yang masih ingin memiliki dan dimiliki dengan mudah mengiyakan apa yang diucapkan pria-pria itu.

Baru beberapa bulan aku menjalani kasih dengan Henu. Datang Alwan dalam kehidupanku karena pertemuan tak sengaja. Aku mengenalnya ketika sedang olahraga basket. Kebetulan karena dia kakak kelas sudah tidak mengikuti pelajaran on time. Alwan bermain basket di lapangan yang sama denganku. Aku yang memulai perkenalan itu. Sifatku yang bawel dan sok tau menggiringku ke arah serius pertemuan tak sengaja itu. Terkadang aku menyesali pertemuanku dengan Alwan itu. Bagiku Alwan merupakan titik awal dimana hubunganku dengan Henu menjadi renggang.

Liburan Ujian Nasional membuatku harus diam di penjara. Aku sangat jenuh jika berlama-lama dalam penjara suci ini. Rasanya tubuhku remuk seperti tidak pernah makan. Jalan-jalan merupakan obat vitamin tersendiri dalam hidupku sehari-hari. Aku berencana pergi dengan Henu ke puncak. Henu yang mengajak pergi ke sana karena dia ingin tau mana itu puncak Becici. Dan kami pun sesuai rencana pergi kesana jam sembilan pagi. Aku sangat menikmati suasana hari itu.

“Kak?”. Panggilku mengawali pembicaraan.
“Ya?”.
“Udah pamit ibu kamu?”.
“Ya sudah dong”.
“Bilang gimana?”.
“Ya pamit mau pergi sama kamu”.
“Masa sih? Pake namaku?”.
“Iya pake lah. Kan aku jujur sama ibu”.
“Haha Ih nggak bo’ong nich?”
“Iya neng. Nggak percaya amat sich”.
Seketika aku diam tidak menjawabnya. Aku senang sekali sudah dikenal oleh ibunya Henu. Teringat waktu dulu putus dengan Henu. Aku masih saja kontakan dengan ibu Henu. Kadang menyesal inget waktu itu. Bah.

Sungguh indah menikmati pemandangan dari puncak Becici. Aku dan Henu naik ke rumah pohon yang ada di atas sana. Tanpa rasa takut aku naik rumah pohon dengan berpegangan tangan tangga. Kunikmati setiap langkah tangga. Kami duduk bersebelahan tanpa menatap satu sama lain. Kami hanya sesekali bercakap dan terkadang ketawa dengan pembicaraan kami. Hal yang tidak pernah aku dapat darinya yaitu tatapan matanya. Dia tidak pernah menatapku lekat. Saat berbicarapun dia suka melihat handphonenya atau ke arah lain. Terkadang aku tidak mendapatkan kehangatannya sama sekali. Tetapi aku merasa nyaman berada di dekatnya. Sikap tidak pemarahnya membuatku nyaman. Dan aku jadi tidak pernah marah padanya. Bagaimana aku bisa marah jika dia sama sekali tidak pernah marah ataupun mempermasahkan hal-hal sepele.
Terkadang sikapnya itu tidak menunjukan dirinya sudah dewasa. Bahkan, aku menganggap dia masih kekanak-kanakan. Dari cara dia memperlakukan aku sebagai kekasihnya sangat tidak menorehkan kedewasaannya. Hanya penurut dan tidak pernah menuntut. Aku jadi bingung menanggapi sikapnya. Tidak pantas juga jika aku mengaturnya berbuat hal demikian dan demikian. Itu sudah hak dia dan dia juga harus punya konsekuensi terhadap hubungannya. Yang terpenting mau bertanggungjawab dengan keputusannya.

Aku bercerita tentang Alwan kepada Henu. Sepertinya Henu menanggapi serius masalah ini. Ah mungkin dia takut terulang lagi kejadian dulu sewaktu SMP. Henu semakin sudah mengerti sifat aku tentunya. Aku yang selalu lebih memilih yang selalu ada.

“Eh Ma? Aku bingung dengan semua ini”. Keluhku kepada Hilma.
“Apa lagi? Cowok?”. Tebak Hilma.
“Iya. Aku punya pacar. Tapi aku juga lagi deket sama kakak kelas itu. Menurut kamu gimana? Kamu milih pacar apa orang yang baru dateng dalam kehidupanmu?”
“Ya pacarlah”.
Pengaduanku sama Hilma menambah masalahku. Karena aku belum menemukan jawaban yang pas di hatiku. Siang itu matahari sangat terik sekali. Sampai-sampai sepatu yag kupakai terasa panas di kaki. Bisa dikatakan asapnya sampai mengepul. Haha. Memang seperti biasa aku dan Hilma pulang sekolah bareng. Kami biasa pulang sekolah de arvite. Dalam bahasa Jepang diartikan dengan jalan kaki. Kami selalu berbincang di sepanjang jalan untuk menghilangkan rasa capek yang sudah datang.

“Ke mana aja?”.
“Di kelas aja kok”.
“Enggak usah bo’ong”.
“Dari kantin”.
“Dari kantin apa dari pasar?”.
“Dari kantin kok”.
“Kata temanmu tadi kamu ke pasar”.
“Enggak ya. Aku pergi ke kantin kok”.

Alwan sudah sering menghampiriku ke kelas. Entah apa motivasinya datang ke kelasku. Say hello sama mantanku atau apa aku juga enggak tau. Yang jelas dia sering mencariku di kelas. Apa dia suka aku atau emang lagi menggodaku. Entahlah. Aku masih kepikiran sama Henu. Walaupun Alwan sudah memanggilku dengan sebutan ‘sayang’ aku tetap saja cuek dengannya. Menurutku itu lebih norak lagi. Masak pria manggil sayang sayang gitu aja tanpa status hubungan jelas.

Hari Sabtu ini aku dan Henu berencana pergi makan siang. Karena sudah lama kami tidak bertemu rindu pun memburu. Kami makan di tempat biasa aku dan mantanku lunch. Ah perasaan itu masih ada sangat jelas. Kenapa aku masih memikirkannya sedemikian rupa. Jelas sudah datang dua pria yang menyatakan sayang padaku. Haha. Terkadang aku menertawakan alur percintaanku sendiri. Begitu sangat aneh dan kacaunya cerita cinta ini.

Tidak kusangka, Henu menjauhiku setelah kuceritakan Alwan kepadanya. Sabtu itu pertemuan terakhirku dengannya. Henu tidak mengabariku lebih dari dua bulan. Tanpa alasan yang jelas dia tidak mengabariku sama sekali. Itu mebuat hubunganku dengan Alwan tambah dekat saja. Dan beberapa kali aku berani pergi jalan berdua dengan Alwan.
Satu bulan berlalu kedekatanku dengan Alwan tidak dapat ditolak lagi. Aku juga sudah dikenalkan sama ibu Alwan juga. Sudah dua kalli aku di bawa ke rumah sama Alwan. Adik kecilnya pun juga sudah mau bermain denganku. Terkadang minta aku memangkunya. Ketika baru jumpa dengan adiknya aku memberinya cipika-cipiki juga. Tak ayal Alwan hampir ngiler liatnya haha.

Ramadhan kali ini aku pulang awal karena sakit. Iseng aku menghubungi nomor Henu kembali. Ketika aku telepon dia angkat tetapi belum sempat kami cakap telepon dia tutup. Lalu aku kirimi dia sms tetapi tidak di balasnya. Aku kirim lagi sms yang sama ke dua kali. Dia balas menanyakan namaku. Tetapi tidak aku jawab pertanyaan yang no important itu.
“Aku enggak tau. Aku nggak tau ada di posisi mana dalam hidup kamu”. Smsku tak lagi aku menahan pertanyaan itu untuknya.
“Iya tapi ini siapa dulu?”.
“Are you do not remember me?”. Jawabku lagi.
“Enggak. Emang ini siapa?”.
“Aku baru pulang dari pondok. Kupikir kepulanganku ini membuatku leluasa bisa mengabarimu”.
“Oh kamu neng. I’m so sorry”.
“It’s nothing. Maaf aku baru mengabarimu atau memang sebenarnya kamu yang nggak respond”.
“Maaf neng aku yang nggak mengabarimu. I’m so sorry”.
“Iya. Never mind. Aku udah bilang nggak papa kan”.

Percakapanku yang tidak lama itu sudah membuatku tau jawaban dari teka-teki ini. Memang benar dugaanku selama ini. Maybe, Henu mikir aku jadian sama Alwan. Therefore, Henu tidak mengabariku sebagaimana mestinya dia menjadi kekasihku. Hilang tanpa sebab dan tidak pernah mengabariku sama sekali. Aku yang curiga yang mencoba bertahan. Aku yang menunggu sedemikian tersiksa.

Alwan sudah kujauhi setelah aku sering dihantui rasa bersalahku dengan Henu. Henu sendiri juga meninggalkanku tanpa cakap apapun. Aku seperti sudah no important in his life. And my think, itu juga bukan kesalahanku semua. Setelah lama aku tak berkomunikasi dengan Henu akhirnya hubunganku dengannya sudah kembali lagi seperti dulu. Sekarang Ramadhan kali ini aku ditemani oleh Henu. Kekasih yang pernah pergi dan juga kekasih yang menghilang dariku beberapa waktu lalu. Tidak rugi juga aku berani ambil keputusan menghubungi Henu malam itu. Karena misscall malam itu membawaku kembali ke jalan jelas hubunganku dengan Henu. Sekarang burung merpati pun pergi menjelajahi cakrawala lagi. Jauh ke angkasa biru yang membentang luas. Tidak sendiri lagi melainkan ber-riang hati bersama pujaan hati.

Cerpen Karangan: Asana
Facebook: muna

Cerpen Mekar Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Tinta Biru

Oleh:
Hay gussy…!!! Nama aku Losy aku baru kelas 2 sma program SAINS. Di sekolah aku dikenal sebagai anak yang paling pintar or smart biasalah kan selalu dapat juara umum.

Separuh Jiwaku Kembali

Oleh:
Harum semerbak bunga-bunga yang bermekaran di taman depan kamarku membangunkanku dari mimpi, entah mimpi indah ataukah mimpi buruk, yang jelas aku sudah lupa dengan semua itu. Kulangkahkan kaki mendekati

Long Distance Relationship

Oleh:
09 oktober 2004, Tuhan entah berapa lama lagi hal ini akan ku alami, ku ingin membelai rambutnya, menatap wajahnya, memeluk tubuhnya. Ahh, hubungan ini terasa menyiksaku, sudah 3 tahun

Senja di Bawah Pohon Mahoni

Oleh:
Senja di sore itu. Tidak akan pernah Xiaolia Shan lupakan. Waktu dirinya dan Lyu Chen mengikat janji setia di bawah Pohon Mahoni. Saat itu mereka sama-sama berumur 10 tahun.

Pelangi Arka dan Rain (Part 3)

Oleh:
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar suara letupan. Ray menutup mata karena terkejut. Namun, ketika ia membuka mata, ia telah di hujani kertas warna warni dari konveti. Ketika ia melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *