Melanggar Sumpah Darah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 3 October 2020

Matahari pagi tidak mampu menembus kabut yang menyelimuti lereng Muria. Udara dingin seakan membekukan aliran darah. Kicauan kutilang dan prenjak serta embikan kambing bandot sedikit menghangatkan suasana pagi itu. Desa Kunir terletak di sisi utara lereng Merapi. Untuk mencapai desa ini harus melewati perbukitan perkebunan jati dan karet. Jalanan yang dilewati berbatu dan licin. Ojek motor dari Sambong Oyot telah mengantar Dion sampai di Desa Kunir. Ini adalah kunjungan Dion pertama kalinya ke Desa ini. Jauh-jauh menyeberang dari Banjarmasin untuk menjemput seorang Gadis yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

Dini seorang gadis Desa anak keluarga terpandang di desa itu. Orangtuanya seorang tokoh berpengaruh. Dini adalah lulusan sekolah Guru, berparas cantik, hidungnya mancung, di atas bibirnya sedikit tumbuh bulu halus. Kulitnya kuning, semakin memancarkan betapa cantiknya Dini.

Setelah ketemu keluarga besar Dini, Dion mengutarakan kedatangannya. Bahwa dia mendapat tugas dari Pimpinannya untuk menjemput Dini, yang akan bertugas mengajar di Banjarmasin. Dan Dion ingin Secepatnya membawa Dini ke Banjarmasin. Tapi orangtua Dini menahannya beberapa hari, dengan alasan masih ada beberapa dokumen administrasi Dini yang belum lengkap.

Pembaca yang setia, ternyata bukan sekedar alasan administrasi yang menghambat proses keberangkatan Dion dan Dini. Tanpa sepengetahuan Dion, keluarga besar Dini memutuskan Dini boleh diajak ke Banjarmasin, asal Dini sudah jadi istri sah Dion. Sesuatu keputusan yang sangat luar biasa. Bagaimana hal ini bisa terjadi, begitu cepatnya orangtua Dini memutuskan perjodohan anaknya dengan lelaki yang baru dikenalnya. Dini tidak mampu menolak keinginan orangtuanya. Ayah Dini ingin menjaga kehormatan anaknya. Naluri kelaki-lakiannya mengatakan Dion pemuda yang baik. Walapun baru sehari dikenalnya. Makan dengan keyakinan yang kuat, lebih baik Dini bersama seorang suami dengan ikatan yang sah. Dari pada melepaskan Dini seorang diri merantau jauh darinya

Malam itu di ruang tengah rumah besar Dini, semua keluarga berkumpul. Ada ayah, ibu, dan paman, serta semua saudara dekat Dini. Lampu neon bercahaya terang. Di luar sang penjaga malam bercahaya terang tanpa sehelai kabutpun.
“Nak Dion”. Ayah Dini membuka percapakan. Dion hanya menganggukan kepala, tanda dia siap mendengarkan pembicaraan yang akan disampikan kepadanya. Malam itu Dion duduk di kursi berhadapan dengan keluarga besar Dini.
“Ini mungkin tidak nak Dion duga dan akan jadi hal tersulit yang nakmas hadapi” Dion terus menyimak apa arah pembicaraan ayahnya Dini.
“Kami sekeluarga memutuskan, bahwa Nak Dion bisa membawa Dini ke Banjarmasin setelah kalian berdua sudah sah sebagai pasangan suami istri”. Kepala Dion bagai dihantam palu godam, jantungnya berdetak tidak karuan. Aliran darahnya berhenti beberapa saat, nafasnyapun tidak beraturan. Mulut Dion terkunci rapat, tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Pikirannya melayang dalam lamunan yang panjang.

Banjarmasin kota seribu sungai. Matahari menguapkan embun pagi di kawasan Sungai Kuin. Salah satu sungai kecil di Banjarmasin. Aktivitas masyarakat sekitar berhubungan dengan perairan dan kehidupan sungai sehingga banyak rumah dibangun di sepanjang sungai Kuin. Masjid Sultan Suriansyah maupun Komplek Makam Sultan Suriansyah terletak di tepi sungai Kuin, masing-masing dilengkapi dengan dermaga kecil tempat menambatkan kelotok. Ibu-ibu berkerudung mendayung sampan menawarkan dagangan sayur mayur, buah-buahan dan aneka produk hasil bumi lainnya. Para pembeli merapatkan sampannya untuk membelanjakan uangnya. Suasana di pasar apung sungguh meriah.

Tidak jauh dari hiruk pikuk pasar apung sungai Kuin. Seorang pemuda gagah berambut tebal sedang duduk bersila menemani gadis cantik berkerudung kuning yang dipadukan dengan jeans biru dan blouse lengan panjang kuning, nampak serasi sekali. Gadis itu duduk menyelonjorkan kakinya dengan memangku tas hitam. Pemuda gagah itu bernama Dion, sedang Gadis berkerudung kuning itu bernama Fatima Azzahra. Keduanya saling membisu menyelam dalam kegundahan. Dua tahun telah membina cinta kasih suci. Hari-hari tanpa dilewatkan dengan cinta. Dion besok harus menyeberang ke Pulau Jawa, untuk menjemput seseorang yang akan bertugas mengajar di Banjarmasin. Perpisahan hanya beberapa hari, tapi Gadis itu begitu berat melepas pemuda tampan nan gagah. Demikian juga Dion, tidak dapat membayangkan begitu sepi hari-harinya selama perjalanan ke Jawa.

Malam ini udara malam begitu dingin. Hembusan angin malam semakin membekukan suasana. Suara burung hantu mengiringi kelap-kelip bintang di langit. Aroma dupa serbuk cendana di depan altar sembahyang semakin mensakralkan keheningan suasana malam itu. Dion Berdiri berhadapan dengan gadis cantiknya. Memegang kedua tangan kekasihnya. Dengan tatapan penuh gelora cinta, Dion mengucapkan sumpah janji setia terhadap Fatima Ahzara gadis berkerudung yang sangat dia cintai. Janji suci bukan janji biasa. Dion menusuk jarinya dengan jarum hingga darah keluar. Darah itu ditempelkan di kening Fatima. Fatima juga melakukan hal yang sama. Janji Sumpah Darah.

“Nak Dion, silakan nakmas pikirkan. Jawaban nakmas, saya tunggu besok”. Suara ayah Dini membuyarkan lamunan Dion. Dion masih diam, tak mampu berkata.

Kasur empuk berseprei putih, udara dingin malam itu. Tak mampu melelapkan kepenatan tubuh Dion. Sepanjang malam hingga sautan kokok ayam jantan terdengar. Dion tak mampu memejamkan matanya. Seumur hidupnya ini pertama kalinya mengalami dilema bathin yang luar biasa rumit dan sulit. Janji sumpah darah belumlah mengering, masih mengiang di telinga. Satu lagi dia harus segera membawa Dini ke Kalimantan sesuai tugas pimpinannya. Kenapa tidak ada syarat yang lebih mudah bagi Dion. Dion harus memutuskan sendiri. Pada masa itu hubungan jarak jauh tidak secepat sekarang ini. Untuk menelepon pimpinan mesti ke warnet di kota kecamatan. Jaraknya luarbiasa jauh. Dion hanya bisa pasrah. Apakah ini suratan karmanya, atau apakah Dini jodohnya. Otaknya membeku tak mampu berpikir.

Pesta pernikahan dilakukan dengan persiapan yang serba cepat, penyiapan dokumen administrasi untuk pencatatan pernikahan dikebut. Karena keesokannya akan dilangsungkan pernikahan antara Dion dan Dini. Upacara pemberkatan di Vihara berlangsung hening dan sakral. Pengantin pria mengenakan setelan jas hitam, kemeja putih dengan dasi berwarna biru. Pengantin wanita mengenakan kebaya putih, untaian melati menjuntai dibalik konde. Sungguh cantik mempesona Dini dengan balutan pakaian pengantin Jawa. Pendeta Agama Buddha mempimpin upacara akad nikah. Pernikahan syah terjadi.

Guci keramik berlukiskan sepasang merak tiba-tiba pecah, hancur berkeping-keping. Ketika itu Fatima sedang duduh berselonjor di atas sofa sambil menonton Televisi yang menayangkan “Film Merpati Tak Pernah Ingkar Janji” yang diperani oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Selamet. Fatimah tersentak, begitu mendengar dentingan keramik pecah. Apakah ada kucing atau orang yang membuatnya guci itu pecah. Tapi tidak ada siapapun selain dia di ruang tengah rumahnya. Segera Fatima memberesi pecahan guci. Breet pecahan guci menggores ujung jarinya, darah segar menetes deras.

Minggu pagi yang cerah, sang surya hangat menyinari semesta alam. Pohon Akasia bermahkota merah muda. Kumbang hitam menari mengisap madunya. Fatima bergegas menyambangi rumah kekasihnya tepat 7 hari setelah meninggalkannya. Fatima datang dengan menggendong rindu. Serasa 7 abad berpisah dengan Dion sang pujaan. Hari ini Fatimah mengenakan dress hitam lengan panjang, dipadukan kerudung biru dengan bros kupu-kupu cantik berpermata merah. Sungguh Cantik sekali Fatima pagi itu.

Dion dan Dini membuka pintu ketika terdenger salam dari tamunya. Berjuta tanya di hati Fatima, begitu melihat seorang wanita cantik berdiri di samping Dion. Sebagai seorang kekasih, gelombang cemburu mengombang-ambingkan cinta sucinya.

“Kak, siapa dia?” Fatima membuka rasa penasarannya.
“Istriku” jawab Dion
“Kak, siapa dia?” Fatima ingin memastikan untuk kedua kalinya.
“Istriku, maafkan aku Fatima”

Bagaikan disambar petir, hancur lebur hati Fatima. Langit terasa gelap, segelap warna hitam gaun yang dipakainya. Lautan terasa kering. Burung-burung berhenti berkicau. Bunga akasia berguguran. Mendengarkan jerit tangis Fatima. Fatima berbalik berlari menggendong “JANJI SUMPAH DARAH”.

*Kesamaan nama tokoh dan tempat, hanya kebetulan belaka

Bagaimana kisah Fatimah selanjutnya? Nantikan episode : KERUDUNG KUNING MEMETIK BUNGA

Cerpen Karangan: Anan Sukanan
Facebook: facebook.com/skennanda

Cerpen Melanggar Sumpah Darah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Me And Proposal Marriage

Oleh:
Alkisah, hiduplah seorang pangeran yang selalu ditinggal oleh sang raja dan ratu. Karena merasa kesepiannya, Sang pangeran selalu bertindak seenaknya, berbohong, dan liar. Karena itulah, pangeran jadi tidak disukai

Salah Mencintai

Oleh:
Matahari yang begitu indah dan suara burung yang berkicau membuatku terpaksa bangun dari tidur nyenyakku. Hari ini hari senin hari dimana murid-murid malas karena mereka harus berangkat ke sekolah

Wanita Yang Terjebak Dalam Drama

Oleh:
Siang itu mendadak saja gelap menyelimuti bilik kamarnya, hanya sekilas, sebelum ia berada di dalam pendopo keagungan istana. Adalah bisa juga disebut ritual rutinitasnya. Kegelapan itu digunakannya memanggil keharmonisan

Janji Yang Terucap

Oleh:
Aku menunggu di kesunyian waktu. Tepatnya dimana kau berjanji kita akan bertemu. Detik demi menit, menit demi jam telah berlalu aku duduk di atas kursi taman yang berwarna putih.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *