Meli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 22 October 2016

Detak musik reage yang begitu kencang mengiringi alunan syahdu tangan Meli yang sembari tadi mengemas pakaiannya untuk pergi ke kota. Meli merasakan semangat yang begitu bergejolak di malam itu, cita-citanya kini akan segera tercapai, yaitu gadis remaja yang akan memikul nama mahasiswi. Sudah setahun lebih Meli merasakan santainya dalam hidup untuk bermalas malasan di dalam rumah semenjak Meli mencoret kaos putih abu-abunya bersama teman-temanya. Kini Meli bisa bernapas lega karena impian melanjutkan studinya akan segera tercapai.

Pagi itu paman Meli yang bertempat tinggal di kota mengampiri ke desa untuk menyusulnya ke kota.
“Pagi Mel, sudah siap untuk berkemas ke kota?” sapa pamanya yang baru saja turun dari mobil tua berwarna merah.
“Selalu siap paman,” Meli menenteng kedua kopernya di depan rumah sejak tadi pagi, dan tak henti-hentinya Meli bersenyum dan berjalan kesana kemari berharap pamanya segera datang, melihat pamannya turun dari mobil itu, meli menjawab lontaran pertanyaanya pamannya sembari berlari dan memeluknya.
“Hei semut, sudah semakin gede aja nih.” Paman Meli sering memanggilnya semut karena sejak kecil Meli gemar memakan permen.
“Kenapa paman masih memanggilku seperti itu, sudah lama sekali ku gak makan gulali”
“Oh ya… berarti gulali di rumah paman bakal segera habis kamu makan,” seketika Meli melepas pelukannya dan menatap wajah pamanya.
“Paman punya banyak gulali di rumah?” Meli menaikan alisnya dan mencengkram kuat bahu pamannya itu menggoyangkanya begitu cepat.
“Biar kuhabiskan ya paman, ya… ya… ya…!”
“Paman gak bakalan ngijinin kamu kalau kamu gak berhentiin cengkraman ini” mata pamanya itu sayu seperti orang kejang
“Oke paman.” Meli melepas cengkramanya itu dan meloncat dan menari-nari. Pamanya itu memegang dadanya, dan napasnya begitu sesak, namun Meli tidak menghiraukanya.
“Astaga Rudi kamu kenapa?” ibu Meli ke luar dari pintu rumah Meli yang terbuka sejak tadi.
“Gak papa, cuma kehausan saja” saut pamanya
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam rumah kecil itu yang terhimpit pohon bambu yang rindang dan sejuk, namun Meli tak mau masuk ke dalam rumah, ia ingin segera berangkat ke kota, Meli kemudian mengangkut kopernya masuk ke dalam mobil tua itu, kemudian duduk tepat di muka mobil tua itu, menyilangkan kedua tanganya di dada dan mengerutkan kedua alisnya.
“Mau berapa jam aku menunggu canda mereka?”

Hari pertama kuliah Meli mendapatkan start yang bagus untuk memulai awal semester ini, tingkahnya yang lucu dan ramah mebuat dia mudah untuk mendapatkan teman bahkan sahabat untuk menemaninya menghabiskan waktu dan berjuang bersama dalam menuntut ilmu. Di suatu hari Arya dan Rani mengajak Meli pergi ke perpustakaan daerah untuk mencari refrensi tugas kuliah yang akan segera mereka presentasikan.

“Mel bangun Mel, buruan mandi temenin gue ke pusda sekarang!” Rani berteriak sambil memukul pintu kamar Meli. Kemudaian Meli membuka pintu, dengan muka yang kusut dan mata yang sayu Meli menggaruk rambutnya yang begitu kusut.
“Kenapa harus gue sih… kan ada cowok lo yang setiap saat ada buat elo”
“Arya juga ikut, dia udah duluan ke pusda, sekarang kita berdua nyusul kesana”
“Hah… gue jadi obat nyamuk lagi nih ceritanya?” sembari menguap
“Bukan obat nyamuk, tapi bodyguard gue kalau di perjalanan ke pusda nanti”
“Gila! seberat itu tugas gue? Mendingan lu siapain gulali yang banyak deh buat jaga stamina gue”
“Udah gak usah cerewet buruan mandi sana” Rani mendorong Meli masuk ke dalam kamarnya. Namun Meli meronta-ronta menghentikan dorongan Rani.
“Tapi gue selesai mandi harus udah ada tuh gulali” Meli menunjuk muka Rani dengan tatapan yang begitu tajam. Namun Rani membalasnya dengan tendangan mendorong tepat di pinggang Meli.
“Dasar tikus imut, buruan mandi sana!”
“Aw… dasar pendekar gila!” Teriak Meli.

Jam mulai menunjukan 09.00 WIB namun mereka berdua tak kunjung datang, Arya mulai bosan menunggu Meli dan Rani yang tak kunjung datang. Begitu lamnya Arya menunggu membuat Arya memutuskan untuk segera pergi meninggalkan perpustakaan namun setelah kaki Arya melangkah ke luar mata Arya tertuju kepada gadis keci cantik berpakaian ketat menghampirinya. Seketika Arya menelan air liurnya yang kering dengan muka yang tegang.
“Hai kak, temannya Meli ya?” suara merdu ke luar dari mulut gadis itu
“i… i… iya, ke… kena…” gugup Arya
“Tolong berikan surat ini kepadanya ya” gadis itu menyodorkan amplop yang entah berisikan apa. Tanpa Arya sempat mejawabnya gadis itu menjauh darinya dan berjalan lurus dan berlenggok-lenggok indah. Seketika itu telinga Arya mendadak panas dan perih akibat tarikan Rani.
“Jadi ini hobi baru kamu, ngeliatin cewek bohay!” mata rani tajam seperti topeng leak.
“Bukan begitu sayang, aku cuma…”
“Udah gak usah alasan, faktanya kamu ngeliat cewek itu dengan serius” potong Rani.
“Bukan begitu sayang…” Arya lalu mengejar Rani masuk ke dalam pusda. Dan Meli hanya berdiam diri di depan pusda, menikmati manisnya gulali di tanganya. Memandangi kedua sahabatnya pergi bertengkar dan memandang gadis cantik misterius itu.

Di dalam pusda Arya berusaha menjelaskan kejadian itu kepada Rani, namun Rani hanya diam dan terus berjalan mencari buku yang ia cari, terkadang suara Arya mengeras ketika Rani menjauhinya dan seketika orang yang berada di sekeliling mereka memandang Arya dan menempelkan jari telunjuknya ke mulut mereka yang menandakan Arya untuk diam. Arya tak mempedulikan mereka dan bergegas mendekati Rani.
“Ran, percaya lah aku gak ada maksud buat bicara atau memandanginya, dia hanya memberikan aku amplop ini.” Arya mengeluarkan amplop di sakunya.
“Apa…? jadi kamu surat menyurat dengannya? Dasar kamu gila ya, gak ngerti perasaanku?” rani menghujat Arya dengan nada pelan namun darah Rani telah memuncak di ubun kepala hingga kepala itu ingin meluapkan rasa panas di dalamnya.
“Bukan gitu Rani sayang, ini amplop suruh ngasih ke Meli” seketika tangan Rani berhenti memilah buku dan menatap Arya dengan serius.
“Jadi itu buat rani?”
“Iya sayang, kamu sih udah berprasangka buruk”
“Salah siapa gak jelasin dari awal!”
“Kan kamu lari duluan”
“Salah siapa gak cegat aku”
“Kan kamu jalannya kecepetan”
“Jadi ini salahku” Mata rani kembali tajam dan kedua tanganya memegang pinggulnya
“Eng… enggak sayang, ini salahku yang gak cekatan jelasin ke kamu” Arya bingung memandang lantai dengan muka yang lesu. karena jika Arya tidak mengalah, masalah baru akan timbul.
“Bagus… bisa sadar diri, sekarang amplopnya?”
“Tapi kan ini buat Meli?” Arya mengerutkan alisnya
“Lalu gimana aku memastikan itu bukan surat citnta untukmu? Bawa sini lemot!” Rani menyambar amplop dari tangan Arya. Rani merasakan petir menyambar dirinya seketika itu juga, amplop itu berisi surat cinta yang tertuju kepada Meli.

“Aku tak akan berhenti memandangimu
Takkan berhenti mencium fotomu
Bermanja mesra denganmu
Di dunia khayalku
Aku ingin menyentuh tanganmu dengan nyata
Menggores luka dengan kuku panjangmu
Oh… moment yang begitu indah
Mau kah kau mewujudkan cintaku padamu
Bersamaku
Bersama cintaku
Bersama inginku menjadi pendampingmu
From: Pemujamu”

“Mel… lo harus liat ini!” Rani berteriak kecil dan melambaikan tanganya
“Kenapa, perang dunia ke empat sudah berakhirya? Dan ini apa?” Meli pun membacanya hingga gulali di tangannya jatuh ke lantai.
“Siapa yang nulis ini?” tanya heran Meli
“Aku dapat surat ini dari gadis tadi” jelas Arya
“jangan jangan gadis itu L*sbian?” teriak kencang Rani
“Apa!” teriak kencang Meli
“Haduh, kayaknya ini hari terakhir kita menginjakan kaki di pusda” keluh Arya sembari membuang napas

Mereka bertiga kembali ke kosan Meli dan Rani yang tak jauh dari kampus mereka. Hampir setiap hari Arya menghampiri kosan Rani, Arya merasa jauh lebih baik ketika setiap saat berada di dekat Rani. Di perjalanan dekat kos Meli dan Rani, mereka bertiga bertemu Rio teman satu kelasnya, Rio adalah atlit basket kampus yang terkenal, memiliki postur tubuh yang tegak dan tinggi berkulit putih dan berwajah segar, penampilanya yang maco dan tenang membuat kaum hawa selalu terpana melihatnya, namun tidak bagi Meli yang tak peduli dengan penampilan cowok trend seperti Rio.
“Dari mana yo?” tanya arya kepada Rio
“Dari kampus bro, sorry gue mau ada tandingan basket” Rio gugup dan terus berlari menjauhi mereka bertiga.
“Gak biasanya Rio gugup seperti itu” Rani rani menarik semua urat mulutnya ke kiri dengan rasa penasaran.
“Udah lah gak usah dipikirin, sekarang pikirin dulu masalah sahabat lo ini… gimana caranya jauh dari cewek l*sbian itu!” sentak Meli
“Iya… iya Mel, Makanya penampilan lo harus dirubah jadi lebih feminim, jangan tomboy kayak gini” ejek Rani sambil tertawa terbahak-bahak dan Arya mengikuti tawa pacarnya itu.

Sesampainya mereka bertiga di depan pintu kamar Meli, mereka melihat amplop yang tergeletak di bawah pintu Meli. Rani terkejut karena ia yang pertama kali melihatnya, dan menyuruh Meli membuka dan mebacanya.
“Hai Meli, mungkin kau terkejut membaca puisi fulgar yang kuberikan kepadamu. Tapi percayalah aku tak sefulgar itu, aku lebih pantas menjadi siput yang pemalu. Mengagumi tanpa kamu ketahui. Aku ingin memberi tau mu, aku sealalu memandangimu setiap harinya, bersantai ria sambil terpana dengan keanggunanmu di atas kursi ini. Namun aku selalu menikmati roda yang berputar setiap harinya. Dan berharap suatu saat aku bisa mengatakan perasaanku ini langsung kepadamu”
From: pengagummu

“Gila… pecundang banget sih orang ini, neror mulu.” Gelisah Meli. Arya dan Rani turut pusing kepala memikirkan masalah itu. Kemudian Rani berinisiatif bertanya kepada tetangga kosnya
“Def… lo ngeliat orang yang kesini gak?” tanya Rani
“Tadi kayaknya ada cowok berbadan tinggi kesitu, mungkin temen elo” Jelas Defi tetangga Meli dan Rani.
“Cowok berbadan tinggi? Gue tau siapa orangnya?” cetus Arya dengan jari telunjuk di keningnya
“Hah… siap ya, lu tau siapa orang yang neror gue?”
“Udah langsung datengin aja itu orang.” Semangat Rani.

Siang hari di pinggir lapangan basket kampus, Rio duduk bersama teman satu timnya yang cidera akibat pertandingan basket pekan lalu. Mereka berdua adalah teman kecil yang memiliki hobi yang sama dan sempat menyukai wanita yang sama, bersaing dengan sehat dan akhirnya Rio yang memenangkan persaingan itu.
“Dani, malang banget nasib elu, udah kalah saing dengan gua, sekarang kaki lu pincang.” Rio tertawa kecil kepada temannya itu.
“Hahaha… tapi kurasa masa pahitku bakal segera berakhir, dan masa pahitmu akan segera datang bro” celetus Dani.
“Tapi di kampus ini gue punya rekor penasib baik nomor satu… tapi beruntung lo dan, udah gak di kursi roda lagi”
“Iya bro, lebih enak berjalan dengan tongkat daripada kursi roda”

“Hei pecundang kemari lo!!!” teriak meli dari kejauhan. Seketika Rio dan rani menoleh terkejut melihat Meli, Rani dan Arya menghampirinya dengan cepat. Meli mencengkram kaos Rio dan mendorongnya ke atas.
“Ada apa ini?” tanya Rio panik.
“Udah ngaku aja, elo kan yang neror gue.” Meli melempar kedua amplop itu ke muka Rio.
“Maksud elo, atas dasar apa lo nuduh gue?” Dani merasa bingung dengan kejadian tersebut dan tak beranjak dari tempat duduknya.
“Maaf, gue gak bermaskud ikut campur permasalahan kalian. Tapi gue gak bisa pergi kalo gak ada yang nuntun gue.” Sela Dani.
“Jadi elo nyuruh ngelpasin temen lo ini biar elo bisa pergi, alibi yang bagus buat nyelamatin temen elo” Meli memandang Dani dan berkata dengan gigi depan bersentuhan.
“Jelasin dulu ada apa ini.” Teriak Rio
“Udah gak usah mengelak, gue tau elu tadi naruh surat itu di depan kamar kos Meli, dan tetangga mereka melihat elu. Dan kemudian surat pertama sengaja adik lu yang ngasihin itu surat ke gue.” Sahut Arya penuh dengan emosi
“Sayang kamu tau Rio punya adik dari mana?” tanya penasaran Rani
“Aku baru inget kalo temen-temenku suka ngomongin adik Rio yang cantik”
“Kamu juga ikut-ikutan?”
“iya” seketika Arya sadar dari perkataanya, dan menatap perlahan wajah Rani, dengan senyuman manis.
“Hehehe, Cuma dengerin aja sayang gak ikut-ikutan”
“Jadi kamu selama ini…” dan seketika perang dunia ke empat dimulai. Mereka berdua bertengkar dan tak mempedulikan masalah Meli dengan Rio.
“Percaya Mel, itu bukan gue” Rio berusah melepas cengkraman Meli dari kaosnya
“Gue gak percaya, penjelasan Arya sudah meyakinkan” tatapan Meli semakin tajam.
“Sekarang gini, lu samaain aja tulisan di buku gue sama tulisan di surat itu.” Meli melepaskan cengkramanya tersebut dan menarik tas Rio, membukanya dan mengacak-ngacak isi tas Rio. Lalu membuka buku tulis dan mencocokan tulisan Rio dengan surat itu. Sangat jauh dan berbeda, tulisan Rio yang berantakan dan hampir tak bisa dibaca sangat jauh dengan tulisan di surat itu yang jelas dan tertata rapih.
“Kalo bukan elu, siapa yang nulis surat ini?”

Cerpen Karangan: Faqih Fadul
Facebook: Faqih Fadul

Cerpen Meli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Berawal Dari Pertemuan Pertama

Oleh:
Pagi yang cerah, saat aku jalan-jalan mencari udara yang segar. Sewaktu di jalan aku bertemu dengan cowok yang begitu tampan, hatiku deg-degan saat lewat di depannya. Aku berkata “oh..

Rasa ini

Oleh:
Ifal duduk termenung menghadap ke barat di balkon rumahnya. Dia menatap bentang cakrawala yang mulai berwarna merah lembayung itu. Matahari mulai meninggalkan belahan bumi di mana Ifal berada dan

The Word Destiny (Part 1)

Oleh:
Aku selalu mencintaimu. Bukankah kau tahu itu? Kukira, kita bisa bersama selamanya. Namun takdir berkata lain. Hey, kau, apa kau dengar aku? Aku harap begitu. Aku ingin kau selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *