Melodi dan Memori

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 21 September 2015

“Cause I’m broken. When I’m lonesome. And I don’t feel right when you’re gone. You’ve gone away. You don’t feel me. Anymore” Alunan lagu Broken selesai dibawakan oleh duet Keysha dan Fendy secara akustik. Tepuk tangan pengunjung memenuhi ruangan Jasmine Cafe and Resto. Fendy tersenyum puas sambil menggenggam gitar dan memandang gembira pada Keysha.
“Terima kasih,” ucap Keysha kepada para pengunjung yang makan malam sekaligus menikmati penampilannya bersama Fendy. Kemudian mereka menuju ruangan manajer kafe itu. Mereka berhak menerima honor serta mendapat pujian dari sang manajer.

“Good job. Tapi kalau boleh kasih saran, kalian bisa nambah personel satu orang lagi? Supaya lebih lengkap. Ada alat musik gitar, bass dan keyboard,” kata manajer.
“Ide bagus. Kami akan pertimbangkan. Oke Kami mohon pamit dulu,” ucap Fendy undur diri. Fendy dan Keysha bersalaman dengan sang manajer. Mereka melangkah ke luar dari kafe itu. Keysha melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 9 malam. Sebenarnya ia ingin naik taksi saja, tapi Fendy memaksa untuk mengantarnya pulang.

Keysha turun dari boncengan motor Fendy. Mereka sudah sampai di depan pagar rumah Keysha. Mereka hafal betul, pasti Papa Keysha sedang menunggu kepulangannya. Mereka memasuki halaman rumah sederhana itu.
“Makasih ya, Fendy. Mestinya aku bisa pulang sendiri naik taksi. Kamu gak perlu repot anterin aku pulang.”
“Udah lama aku gak ketemu Papa kamu. Pengen menyapa beliau dan buktikan kalau aku tanggung jawab nganter putrinya ini selamat sampai di rumah,” ucap Fendy santai. Ada perasaan aneh di hati Keysha saat mendengar ucapan Fendy. Seperti orang pacaran saja. Tapi hingga saat ini hubungan mereka bersahabat. Meski Keysha menyadari, ia ingin lebih dari ini.

“Aku pulang, Pa,” ucap Keysha setelah membuka pintu. Papanya sedang membaca buku di ruang tamu.
“Selamat malam, Om,” Fendy menghampiri Papa Keysha lalu mencium tangannya.
“Tadi main di mana?” tanya Papa dengan tatapan tak beranjak dari bukunya.
“Jasmine Cafe and Resto. Papa tahu kan tempatnya? Bagus kok Pa,” jawab Keysha.
“Bagus. Ya udah cepet masuk kamar! Udah malem,” kata Papa tegas.
“kalau gitu saya pamit dulu, Om,” kata Fendy sopan. Papa Keysha hanya mengangguk dengan ekspresi dingin. Keysha benci melihat pemandangan tak menyenangkan itu. Setelah mengantarkan Fendy sampai depan pintu, Keysha kembali ke depan Papanya.

“Pa, bisa bersikap lebih baik kan sama Fendy?! Dia udah nganter aku pulang. Gak sampai melebihi jam 12. Kita juga kerja beneran. Gak macem-macem!” protes Keysha.
“Tetap saja Papa gak setuju dengan kerjaan nyanyi di kafe. Tempat seperti itu banyak yang gak bener! Pergaulan bebas, minum-minum, obat terlarang!”
“Keysha udah dewasa, Pa! Key tahu mana yang bener, mana yang salah! Key bisa jaga diri sendiri! Fendy juga orang baik-baik. Papa gak perlu khawatir. Papa cukup percaya sama Keysha!” bentak Keysha.
Bbrrraakkk!! Keysha masuk ke kamar dengan membanting pintunya. Ia belum memahami perasaan Papa yang teramat menyayangi putrinya.

“Jadi kita nambah personel satu orang lagi buat pegang bass?” tanya Keysha pada Fendy. Sore itu, Keysha ke rumah Fendy. Cowok itu tinggal sendirian terpisah dari orangtuanya. Setelah lulus sekolah, Fendy hidup mandiri di sebuah rumah kontrakan. Rumah itu pula yang dijadikan basecamp sekaligus studio sederhana untuk mereka latihan band.
“He-em Kamu pegang gitar dan lead vokal. Aku keyboard. Personel baru main bass-nya. Bentar lagi dia dateng. Dia teman SMA-ku. Tapi udah lama gak ketemu, hampir tiga tahun. Kemarin aku hubungi dia,” Fendy menjelaskan. Beberapa saat kemudian, datanglah seseorang yang mereka tunggu.

“Hay, Bro. Hay, Sist. Wah, seru nih Kenalin, aku Yovi,” ucap orang yang baru datang itu dengan antusias. Ia berangkulan dengan Fendy karena sekian lama tak berjumpa. Ia juga menyalami Keysha dengan senyum mengembang. Yovi terdiam menatap Keysha.
“Aku Keysha. Kenapa lihatin aku? Ada yang aneh?” tanya Keysha heran.
“Oh, nggak Sorry Pacarnya ya?” Yovi melirik Fendy.
“Bukan!!” jawab Fendy dan Keysha bersamaan. Yovi tertawa.
“Hehehe. Oke, oke Ayo, kita mulai!” Lalu mereka latihan bersama.

Keysha, Fendy, dan Yovi selesai perform di sebuah kafe. Seperti biasa, penampilan band akustik mereka mendapat apresiasi yang bagus dari para pengunjung. Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Keysha sudah bersiap untuk pulang.

“Baru jam segini. Nongkrong dulu, yuk!” ajak Yovi tanpa beban.
“Sorry, aku gak bisa. Aku harus langsung pulang,” jawab Keysha tegas.
“Kenapa? Wah, gak seru banget dong. Tenang aja deh, kita senang-senang dulu.”
“Ehm, gini Bro. Peraturan di band kita, Keysha gak bisa nongkrong terlalu malam. Papanya melarang,” Fendy menjelaskan dengan hati-hati, “Bahkan sebenarnya dia dilarang main band, tapi nekat.”
Yovi hanya menjawab, “Oh” Keysha terdiam. Perasaannya bad mood.

“No problem kalau gitu, kita anter Keysha pulang aja,” Yovi tersenyum. Dua cowok itu mengambil motornya masing-masing di tempat parkir. Keysha dibonceng Yovi. Gadis itu tidak menyadari, perasaan Yovi sangat gugup memboncengnya.
“Diem aja sih dari tadi, Key. Maaf ya, aku gak tahu kalau ternyata kamu dilarang nge-band sama Papa kamu,” Yovi bersuara di perjalanan.
“Iya, gak apa-apa kok,” jawab Keysha pelan.
“Boleh tanya sesuatu gak?”
“Tanya apa, Yov?”
“Kamu beneran gak pacaran sama Fendy? Kelihatannya kalian deket banget.”
“Nggak, Yov. Sama seperti aku dan kamu. Kita bersahabat.”
“Oh Kalian kenal di mana?”
“Aku sama dia ketemu di sebuah kafe, waktu sama-sama ngelamar kerja jadi pemain musik. Akhirnya kita berdua gabung jadi pasangan duet.”

Sampai di depan rumah Keysha.
“Kita langsung cabut aja ya,” pamit Yovi setelah Keysha turun dari boncengannya.
“Salam buat Papa ya, Key,” ucap Fendy. Keysha mengangguk. Ia menatap kedua motor kawannya yang makin menjauh.

Beberapa bulan kemudian.
Band akustik yang digawangi oleh Keysha, Fendy dan Yovi semakin banyak mendapat job. Hampir tiap hari mereka main musik di kafe, restoran, acara pernikahan, dan event lainnya. Mereka bisa dibilang cukup sukses. Terkadang ada beberapa penggemar setia yang minta tanda tangan atau berfoto bersama. Banyak perubahan yang mereka alami. Satu perubahan yang mengganggu Keysha adalah sikap Fendy. Ia semakin sering ikut nongkrong dengan Yovi. Sebenarnya Keysha tidak keberatan, meski ia tidak selalu bisa ikut. Tapi ia merasa ada yang aneh dari sikap Fendy.

Dulu Fendy berpenampilan rapi. Sekarang ia lebih berantakan seperti Yovi. Awalnya Keysha mengira, sifat Yovi memang cuek dan tidak peduli pada kerapian. Ternyata kini Fendy juga ikutan seperti Yovi. Mereka berdua semakin mirip dengan rambut panjang sebahu. Keysha mengakui, wajah Yovi lebih menarik. Tapi baginya, Fendy tetap yang terbaik. Dan perubahan sikap Fendy ini membuatnya curiga. Fendy yang dulu selalu perhatian, kini tidak lagi. Tidak pernah lagi Fendy atau Yovi mengantarkan Keysha pulang seusai perform. Bukan berarti Keysha ingin selalu diantar pulang. Tapi kedua sahabatnya itu menjadi acuh. Keysha merasa mereka semakin menjauh. Mereka seperti memiliki dunia sendiri yang tak dipahami Keysha. Apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka berdua?

Suatu malam, Keysha tidak mampu lagi membendung rasa penasarannya. Ia ingin menyelidiki Fendy dan Yovi saat nongkrong berdua. Apa saja yang mereka lakukan? Keysha mengambil handphone-nya. Ia menelepon Fendy. Tak diangkat. Ia memang jarang menghubungi Fendy dan Yovi, kecuali urusan nge-band. Apalagi malam-malam seperti ini, Papanya pasti mengomel jika tahu ia mengobrol gak jelas di telepon. Keysha beralih menelepon Yovi. Sama, juga tidak diangkat.

Lalu Keysha mengetik SMS pada Fendy.
“Fen, aku butuh bantuanmu. Sekarang!”
Beberapa menit, Fendy membalas.
“Ada apa Key?”
“Aku mau ketemu kamu sekarang. Penting!”
“Harus sekarang? Aku ada urusan.”
“Urusan apa? Sama siapa? Bukannya kamu sama Yovi?”
“Iya.”

Kening Keysha mengerut. Gak jelas banget nih Fendy! Seperti ada yang ditutupi oleh Fendy saat nongkrong dengan Yovi seperti ini. Mereka pikir, Keysha gak mungkin menemui mereka karena dilarang keluar malam oleh Papanya. Tapi kali ini, Keysha nekat! Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Keysha mengendap-endap ke luar untuk pergi ke rumah Fendy. Perasaannya tidak enak. Ia harus bertemu Fendy sekarang juga!

Keysha mengeluarkan motor barunya. Ia sudah mampu membeli sebuah motor dari hasil kerjanya. Hal ini juga yang membuat personel band-nya pulang sendiri-sendiri dan terasa semakin menjauh. Keysha mengira, ia sudah cukup mengenal Fendy. Tapi kini, ia pun tidak mengerti apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Ia secepatnya meluncur ke rumah Fendy. Ia bahkan tidak peduli lagi jika Papanya mengamuk saat mengetahui ia pergi dari rumah tanpa izin. Apapun ia terjang demi mengetahui keadaan Fendy.

Sampai di depan rumah Fendy.

Keysha mengetuk pintu. Sepi. Keysha meraih engsel pintu. Jeglekkk! Pintu terbuka karena tidak dikunci. Keysha masuk ke rumah kecil itu. Hanya ada satu kamar di sana. Ketika ia melihat pemandangan di kamar yang pintunya tidak ditutup itu, mata Keysha membelalak. Ia ngeri menatap Fendy tergeletak dengan jarum suntik menancap di lengannya. Sedangkan Yovi terduduk di pojok dengan bubuk putih berhamburan di sekitarnya.

“Fendy!!! Yovi!!!” Keysha berlutut ke hadapan dua sahabatnya.
Yovi membuka matanya lalu tertawa-tawa. Keysha semakin ketakutan. Apalagi Fendy tak kunjung bangun padahal berulang kali ia memanggil namanya.
“Fendy! Fendy!! Bangun!! Fendy!! Ya Tuhan!!! Apa yang kalian lakukan??!!” Keysha histeris, “Yovi!! Apa semua ini??”
Yovi menghampiri Keysha tapi justru mendapat serangan bertubi-tubi dari gadis itu, “Hey, santai Keysha! Tenang!!”

Keysha masih memukuli, menjambak, dan menampar Yovi, “Kurang ajar!! Kamu apain Fendy, hah??!!”
Yovi yang masih setengah sadar menatap Fendy. Busa putih ke luar dari mulut kawannya. Yovi mulai takut. Fendy over dosis! Keysha semakin panik. Jeritannya terdengar nyaring, “Fendy!!”

“Apa kau melihat dan mendengar tangis kehilangan dariku. Baru saja ku ingin kau tahu perasaanku. Padamu” Lagu Bunga Citra Lestari terngiang di telinga Keysha. Fendy meninggal karena over dosis narkoba. Fendy telah terkubur bersama perasaan yang ia pendam selama ini. Yovi tertunduk dengan wajah pucat di sebelah Keysha. Sesungguhnya Yovi tak sanggup, tapi ia harus menjelaskan semuanya. Meski Keysha tak mau lagi melihat wajah Yovi. Bagi Keysha, Yovi adalah pembunuh Fendy.

“Aku memang salah, Key. Semua ini salahku. Sebelum aku meringkuk di penjara, aku katakan segalanya. Aku ngajak Fendy make barang haram itu, bahkan aku juga berniat ngajak kamu. Tapi Fendy melarang. Dia gak mau kamu ikutan rusak. Karena dia sayang sama kamu! Tapi dia sadar, Papa kamu pasti gak suka sama dia. Karena profesinya yang anak band. Dia memilih untuk menjauhimu demi kebaikanmu. Dan kamu harus tahu! Aku juga sayang sama kamu sejak pertama kita ketemu! Aku memang gak sebaik Fendy, bahkan aku buat nyawanya melayang. Aku gak pantas untukmu, Key. Tolong maafin aku”

Tangis Keysha meledak saat mendengar penuturan Yovi di kantor polisi. Keysha diperiksa sebagai saksi atas kematian Fendy. Ia tak menyangka jadi begini. Kini ia tahu perasaan Fendy, tapi setelah orang yang dicintainya telah tiada. Keysha terus menangis. Yovi merangkulnya. Ia tahu itu tak pantas dilakukannya. Tapi mungkin ini terakhir kalinya ia bertemu Keysha, sebelum polisi memasukkannya ke dalam jeruji besi. Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

“I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone But though you’re still with me. I’ve been alone all along.”
Lagu My Immortal dari Evanescence semakin menambah kepedihan hati Keysha. Sejak hari pemakaman Fendy, ia tak ke luar dari kamar. Sudah satu minggu lamanya ia masih tenggelam dalam kesedihan. Bayangan Fendy terus menghantuinya. Ia tak sanggup untuk bernyanyi lagi karena hal itu membuatnya selalu teringat pada Fendy.

Papa Keysha ikut bersedih dengan kejadian ini. Ada perasaan kehilangan karena sebenarnya Fendy adalah orang yang baik. Papa berusaha menghibur Keysha.
“Maafkan Papa juga, Key. Harusnya Papa tidak mengacuhkan Fendy. Harusnya Papa juga perhatian padanya, seperti Papa memperhatikan anak Papa sendiri. Semestinya Papa ikut mengawasi, membimbing, dan menasihati dia sehingga tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. Mungkin ini takdir yang terbaik untuknya. Apa yang terjadi pada Fendy menjadi pelajaran untuk kita semua. Kita doakan saja dia agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Beberapa tahun kemudian.
Keysha berusaha melawan rasa sedihnya. Ia menjadi guru les vokal anak-anak di sebuah tempat kursus musik. Ia mulai bangkit dan menikmati profesi menjadi pengajar anak-anak. Melihat tingkah lucu anak-anak merupakan hiburan tersendiri baginya. Sedikit demi sedikit ia bisa melupakan kesedihannya atas kepergian Fendy. Papanya pun menyetujui dan mendukung profesi barunya ini. Hingga suatu hari, datanglah seseorang dari masa lalunya yang kelam.

“Keysha, aku mau nambah pengajar di tempat kursus ini. Kemarin ada yang ngelamar kerja ke sini. Tapi, dia mantan narapidana,” Mas Erwin, pemilik tempat kursus itu bercerita pada Keysha.
Keysha tersentak mendengarnya. Namun ia berusaha positive thinking. Ia bertanya, “Oh ya? Mas Erwin yakin memperkerjakan mantan napi? Ehm. Bukannya aku mendiskriminasi, tapi tempat kita kan banyak anak-anak.”
“Nah, makanya aku minta dia datang ke sini sebentar lagi. Aku mau lihat keseriusan dia. Kita juga gak boleh pesimis. Mantan napi juga berhak dapat kerja kan?” ucap Mas Erwin yang sebenarnya disetujui Keysha. Tapi masih dalam keraguannya, tiba-tiba seseorang datang ke tempat kursus itu. Keysha terpaku melihat wajah di hadapannya.

Yovi!!! Penampilan Yovi berubah lebih segar, serta potongan rambut yang rapi. Tapi Keysha tak bisa melupakan wajah itu. Begitu juga dengan Yovi yang terdiam menatap wajah Keysha. Beberapa detik keheningan itu akhirnya terpecah oleh suara Mas Erwin.
“Selamat datang. Yovi yang kemarin ya? Silakan masuk. Seperti kesepakatan, kita adakan tes dulu ya?”
“Ehm. Iya,” jawab Yovi canggung. Sedangkan Keysha pergi begitu saja dari tempat itu.

Keysha duduk terdiam di kamarnya. Ia tak sanggup berlama-lama di tempat kerjanya sebab Yovi ada di sana. Ia tak tahu, apakah ia sanggup bertemu lagi dengan Yovi. Ia belum bisa berdamai dengan masa lalunya. Namun tak disangka, setelah pulang dari tempat kursus, Yovi pun mendatangi rumah Keysha malam itu. Keysha mendengar suara ketukan pintu. Ia membukakan pintu namun segera menutupnya lagi. Yovi mencegahnya. Tangannya bergerak cepat meraih Keysha dan segera bicara.

“Keysha, please Aku mohon, kita harus bicara!”
“Pergi!!! Gak ada yang perlu diomongin lagi!” Keysha berontak dari genggaman Yovi.
“Lihat mataku, Key. Aku sungguh-sungguh Aku nyesel. Aku ingin minta maaf. Tolong, maafin aku,” rintihan Yovi dengan air mata mulai jatuh di pipinya.
Keysha terdiam. Ia pun merasakan kesedihan yang luar biasa. Teringat lagi kenangannya ketika Fendy masih ada. Namun ia tahu, ia sangat kejam jika tak memaafkan Yovi. Sedangkan Tuhan saja Maha Pengampun.

Papa Keysha ke luar dari rumah karena mendengar kegaduhan itu. Ia segera merangkul Yovi dan berujar, “Yovi!! Ya Tuhan Apa kabar, Nak??”
Papa Keysha menyuruh mereka duduk dan menenangkan diri. Mama Keysha membawakan air dan mempersilakan mereka minum. Setelah kondisi tenang, Papa mulai bicara.
“Syukurlah, Yovi sudah bebas. Yang penting, berusaha jadi orang lebih baik. Jangan ulangi kesalahan di masa lalu. Dan Keysha, maafkanlah Yovi. Kita sama-sama memperbaiki diri.”

Di tempat kursus.
Keysha berdiri di balik jendela studio. Di dalam, Yovi dan beberapa anak sedang belajar alat musik drum. Mereka sangat antusias. Sesekali terdengar tawa dan terlihat senyum Yovi mengembang. Keysha ikut tersenyum melihatnya. Kini Yovi jadi rekan kerjanya sebagai pengajar di tempat kursus ini. Ia senang melihat Yovi menjadi lebih baik. Bahkan Yovi sangat disukai oleh murid-murid di sana. Mas Erwin juga telah mengetahui masa lalunya dan Yovi. Mereka menemukan kebahagiaan baru di sini.

Tiba-tiba seorang anak mendekati jendela dan menggodanya.
“Wah, Kak Keysha ngelihatin Kak Yovi nih!! Ciiieee.” Suara anak-anak riuh menggoda Keysha dan Yovi. Mereka tersenyum ceria.

Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: riskidiannita.blogspot.com
Terus menghasilkan karya yang lebih baik.

Cerpen Melodi dan Memori merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan yang Membuatnya Berubah

Oleh:
Skenario kehidupan tidak ada yang tahu. Semua yang terjadi dalam hidup ini adalah kehendak Tuhan. Seperti cerita kehidupan seorang gadis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas

Indah Namun Sesaat

Oleh:
Malam itu, saat bulan bersinar terang memancarkan sinarnya ke bumi, aku memandanginya dengan senyuman, terlintas dalam pikiranku, “Seandainya ada kau di sini.” Aku Gita Aryani, orang-orang terbiasa memanggilku Gita.

Menjadi Yang Lebih Baik

Oleh:
Perkenalkan namaku, Lala Prisicilia. Sekarang aku duduk di kelas dua SMP. Menurutku dan menurut orang di sekitarku sikap dan perilakuku sudah jauh lebih baik dari dua tahun yang lalu.

Semua Tentang Kita (Part 1)

Oleh:
Erma, Fikri dan Feny sedang asik menikmati makanannya di kantin. Namun kenikmatan itu berakhir ketika seisi kantin yang mayoritas perempuan teriak histeris. “Woy, apaan sih?” Erma menggebrak meja karena

Kecantol Mak Comblang (Part 1)

Oleh:
“Shuttt shuiiitttt”, siulan dari laki-laki tinggi 165 cm dengan berat badan 63 Kg, berambut tipis model potongan polisi yang membuatnya semakin terlihat tampan, degan seragam SMA yang dikenakan, dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *