Membuang Lembar Kelabu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 July 2013

Dicky
“… dia… gadis yang baik” tertatih, “aku yakin dia yang terbaik, dan… dapat menjadikanmu lebih baik…” itulah kata-kata terakhir dari Syira untukku.
“Tit……….”
“sayang…” bisikku dengan mengelus rambutnya. “bangun, buka matamu!” ucapku yang mulai terisak.
Kesedihan mendalam terurai dari lantunan ayat-ayat suci yang kukirimkan padamu Syira. Walau hanya sebentar, walau kamu hanya singgah untuk sementara di hatiku tapi kamu telah merubah hidupku. Syira kurelakan dirimu karena ku tau kamu telah membawa cinta kita ke dalam keabadian.

Luna
Bip..bip…
“Hallo… Syafira, kamu kenapa nangis?” tanyaku ketika mendengar suara Syafira menangis tersedu. “nggak mungkin, kenapa kamu baru ngabari” suaraku mulai terisak-isak. “baiklah aku segera pulang”.
Butuh satu hari perjalanan dari Lombok ke jember. Aku memang tidak langsung ke rumah Syira karena aku baru sampai di jember jam 3 pagi.

Esok paginya aku segera bergegas pergi ke rumah Syira, tak lupa aku membeli serangkaian bunga untuk ku bawa ke makam. Sesampainya aku disana, mataku tertuju kepada isakan seorang ibu yang sedih karena anak satu-satunya yang ia cintai dalam hidupnya telah tiada. Perlahan kulangkahkan kakiku mendekatinya, kupaksakan senyuman kecil untuk menghiburnya. Ibu yang tak lain adalah Bunda Syira hanya dapat menggeleng dan memelukku erat.
Berusaha terlihat tegar Bunda melepaskan pelukannya dariku dan bertanya “kamu sudah ke makamnya?” sambil menghapus butiran air mata yang mengalir deras dipipinya.

Aku berjalan dengan mengumpulkan ketegaran. Rasanya lenganku tak kuat memimpin setir mobilku, tapi aku harus tetap menahanya. Akhirnya aku sampai di depan nisan bertuliskan nama sahabatku ini. Serasa tak kuat lagi menunjang tubuhku sendiri aku terkulai lemas di depan nisan sahabatku. “Syira, aku dateng, aku bawa karangan bunga lili.. bunga yang selalu ingin kau miliki utuh, sekarang kamu akan memilikinya dengan utuh.. Syira aku minta maaf jika aku punya salah” kata-kata itu terhenti karena, aku tak dapat menahan tangisanku lagi. Aku segera berlari meninggalkan tempat itu.
Sepulang dari makam, aku tak langsung pulang. Aku mampir ke cafe kesukaan Syira, rasanya baru kemarin dia mengatakan bahwa cafe ini adalah cafe favoritnya, ya baru ketika dia pulang dari belanda untuk belajar arsip kejaksaan disana. Dia memang baru pulang dari belanda, kira-kira 2 tahun yang lalu ia baru pulang tapi langsung menggenggam tanganku dan menariku kesini.
“hahaha… iya benar, memang dia cantik tapi tak secantik kalian sayang”, suara itu sangat aku kenal.
‘Dicky, hah, gak salah liat aku nih, setahuku Dicky beneran cinta sama Syira, tapi kenapa dia bisa tertawa riang dengan wanita-wanita itu’ pikirku ketika melihat Dicky merangkul beberapa wanita di tempat ia duduk. Aku tidak dapat menahan emosiku lagi.
Aku menghampirinya dan menarik bahunya sehingga ia berputar melihatku dan aku berkata “tanah kuburan pacar kamu aja belum kering, enak-enaknya kamu tertawa riang disini” teriakku kearahnya.

Adicka
Seorang gadis menghampiriku dan menarik bahuku. saat aku menatapnya ia berkata “tanah kuburan pacar kamu aja belum kering, enak-enaknya kamu tertawa riang disini” teriaknya, membuat telingaku seakan-akan berdengung. dasar cewek aneh… awas saja sampai telingaku tuli, tapi, kuakui dia memang cantik dan manis.
“maksudmu aku?… siapa yang kamu maksud cantik?” jawabku. “mungkin yang kamu maksud orang lain” lanjutku. Tanpa menjawab, namun dia menarik nafas dalam-dalam dan berpaling pergi.

Dicky
Ini hari ke-7 sepeninggalannya Syira. Aku ikut datang untuk membantu proses disana. ‘Itu bukannya Luna, sahabatnya Syira kan’. Aku mendekatinya untuk menyapanya, tapi aku keburu di panggil Bundanya Syira, aduh gak jadi deh nyapa dia.
setelah aku di panggil bunda, aku langsung beranjak ke Luna untuk menyapanya “Luna,.. Luna kapan kamu pulang?” sapaku pada gadis berkulit sawo matang dan berjilbab itu.
“apa-apaan sih…” jawabnya sambil menekuk mukanya ketika aku menyapanya. Kusut amat mukanya lagi kedatangan tamu kali ya. “oh ya, jangan sekali-sekali memanggilku dengan kata-kata tidak sopan seperti…” kata-katanya terhenti ketika Adicka merangkul bahuku, “dia?” tanyanya heran ketika melihat kami.
“aku belum pernah menceritakan kepadamu kalau aku kembar ya, apa Syira juga tidak cerita, pasti dia lupa” jelasku.
“wah… ada cewek rese’ disini, loe kenal bang?” tanya Adicka. Aku tidak segera memperkenalkan mereka, karena sepertinya mereka sudah pernah ketemu. Yang pasti dalam suasana yang ndak enak.

Adicka
sekali lagi, aku bertemu dengan cewek yang kemarin berteriak di depanku. dan dalam pertemuanku “dia?” tanyanya heran ketika melihat aku merangkul bahu Bang Dicky.
“aku belum pernah menceritakan kepadamu kalau aku kembar ya, apa Syira juga tidak cerita, pasti dia lupa” jelas Bang Dicky.
“wah… ada cewek rese’ nih disini, loe kenal bang?” tanyaku. Sepertinya cewek itu malu berat deh, dia gak jawab apa-apa malah langsung lari dengan wajah merah padam. hahahaha pemandangan yang lumayan indah. 😀
“bang, loe kenal cewek tadi?” tanyaku.
“dia sahabatnya almarhumah Syira, jangan berfikir untuk mempermainkan hatinya!” jawab Bang Dicky.
“yeey… sapa juga yang mau gitu, bukan tipe gue kali bang” jawabku meyakinkan Bang Dicky.

Luna
hah, mereka kembar? berarti yang kemarin aku bentak itu… astaga. kembarannya Dicky. huh pasti tu cowok ngira aku gila deh.. :/
Sebenarnya aku malu banget sekaligus merasa bersalah, minggu lalu aku udah bentak-bentak cowok itu tanpa denger penjelasannya. Oke… oke… aku bakalan minta maaf ke cowok itu. Nyebelin sih, liat kenyataan kalo aku yang salah tapi, mau gimana lagi.

Dicky
Setelah keributan itu aku merasa ada yang ganjal, tapi… aaarrrkkhhh masa’ hal sepele ini aku pikirin. Udahlah.
“bang aku cabut dulu ya!” sapa adikku yang nakal banget.
“mau kemana loe, nanti sore mama papa pulang, kita harus jemput mereka” jawabku.
“udahlah bang, mama papa tau kalau gue ni gak suka nunggu-nunggu kayak gitu. Abang sendirian aja ya… plis!” jawabnya ringan.
Belum aku menjawab itu semua dia udah berangkat pake jaguar birunya. Adikku yang satu ini selalu saja, sejak kembali dari belanda dia berubah jadi anak yang tidak nurut lagi ke aku abangnya.

Luna
Heem… kuhembuskan nafas dalam-dalam. Aku harus tahan amarahku kalo di depan cowok itu.
“tingtong…” belnya sudah kupencet, tinggal tatap matanya dan ucapkan permohonan maaf. Dan… aku memasang muka bertanya dengan alis terangkat sebelah.
“Luna? Ngapain kesini? Mau ketemu aku atau…” sapa Dicky.
“aa… kembaranmu” jawabku.
“Adicka lagi nongkrong di cafe” jawab Dicky. tanpa menatapnya aku segera berpaling dan pergi begitu saja.
Aku tak melihat ekspresi Dicky tapi aku merasa gak enak juga, datang gak di suruh, pulang gak pamit.
Tak butuh waktu yang lama untuk sampai di cafe. Aku masuk dan lansung melontarkan pandanganku ke setiap pengunjung yang ada. Dia ada di sudut dekat jendela bersama teman wanitanya, tanpa menunggu lama aku menghampirinya.
“heh, aku minta maaf soal waktu itu!” kataku namun dengan suara kecil. Aku yakin dia tidak tuli, dia pasti mendengarnya tapi sok gak denger.
Sabar Lun, “aku minta maaf” ucapku dengan menarik jumpernya. Dia hanya menoleh dan tersenyum.
Aku sedikit lega berarti dia memaafkanku. Aku tak perlu menjawabnya, aku langsung menuju pintu keluar. Baru satu langkah tanganku ditarik cowok itu sehingga aku terseret dalam pelukannya. Aku menoleh dan memasang muka heran. Lalu dia berkata “tak masalah jika yang membentakku gadis secantik kamu” sambil menyunggingkan senyum manisnya. Malas untuk kuakui senyumanya memang manis.
“iiih… apa-apan sih, aku kesini mau minta maaf bukan jadi bahan ledekanmu” jawabku. Tanpa menunggu detik selanjutnya aku langsung berlari kecil ke arah pintu keluar dan merogoh ke tas berwarna biruku. Aku mengambil kunci mobil dan segera pulang.

Adicka
“heh, aku minta maaf soal waktu itu!” kata gadis yang bernama Luna itu dengan suara kecil. Aku memang mendengarnya, tapi aku ingin dia menarik perhatianku lagi.
“aku minta maaf” ucapnya dengan menarik jumperku. Aku hanya menoleh dan tersenyum. Aku agak kaget ketika melihat dia akan beranjak pergi tanpa berpikir panjang aku segera menariknya. tak aku sangka tarikanku itu membuatnya jatuh ke pelukanku. 😉
Aku berharap dengan begini dia tak akan marah. “tak masalah jika yang membentakku gadis secantik kamu” ucapku sambil menyunggingkan senyum andalanku. senyum 1000 watt.
“iiih… apa-apan sih, aku kesini mau minta maaf bukan jadi bahan ledekanmu” jawabnya. Tanpa menunggu detik selanjutnya dia langsung berlari kecil ke arah pintu keluar. Haduuh dia marah lagi.

Luna
Memikirkan kejadian itu aja aku udah jijik banget. Apa-apaan sih dia itu, tiba-tiba memelukku seperti itu. Sejak kejadian itu aku gak mau lagi ketemu sama dia.

Sudah sebulan lebih dari sepeninggalannya Syira, dan besok adalah hari sepeninggalannya Syira yang ke-40. Jangan-jangan Dicky sama adiknya itu datang lagi. Malas banget, tapi Syira itu sahabatku aku gak enak sendiri kalau gak dateng. Ya sudahlah aku tahanin amarahku.

Keesokan harinya aku datang ke rumah Syira sekitar jam 8 pagi bersama Syafira dan Agung, kulihat disana sudah ramai orang yang akan membantu mempersiapkan acara tahlilannya itu. Aku mulai melihat sesosok laki-laki yang mirip pacarnya Syira itu. Awalnya aku bingung untuk membedakanya tapi setelah melihat sikapnya yang gak mau bantu orang-orang disana aku yakin dia cowok kurang ajar itu. Aku juga melihat Dicky menggunakan peci kecil di kepalanya. Tampak serasi dengan baju koko yang ia kenakan.
“wah ada gadis cantik nih…” ucap seorang pemuda dengan merangkul bahuku.
Tanpa kusadari cowok kurang ajar itu sudah ada disampingku. Secara refleks aku menghindar dari rangkulannya tapi dibelakangku ada seorang ibu yang lagi bawa wajan gede. Kakiku kubelokan ke arah lain. Mungkin cowok itu refleks dan langsung menggenggamku erat dan perlahan ia menarikku.
“apa-apaan kamu, kamu kira disini cafe sepi sembarangan menghindar aja, ceroboh! hampir saja kamu jatuh mengenai ibu tadi… DASAR” ujar cowok itu lantang.
Aku hanya terpaku mendengar perkataan kasar itu. Entah kenapa, aku sangat tidak suka dengan orang yang berkata kasar. Karena bagiku orang yang berkata kasar itu orangnya pasti bersikap dingin tapi, aku merasakan kehangatan yang begitu mendalam yang tersirat dari ucapan cowok itu.
Sejak hari itu aku selalu memikirkan cowok itu. Dan setiap wajahnya muncul dibenakku aku selalu deg-degan, apa ini pertanda ya.
“tunggu, rasanya aku tidak pernah melihatnya lagi” ucapku seraya bangun dari kasur empukku. “masa’ nunggu hari tahlilannya Syira lagi?” lanjutku. “aaarrrkkkhhh… lama” ujarku lagi dengan membanting tubuhku ke kasur.
“ah… apa kusamperin ke cafe aja, mungkin ya” ujarku. Tanpa berfikir lagi aku bangun dan mengganti baju dan mengambil jas panjang berwarna hitam. Aku segera memakai sepatu yang serasi dengan bajuku dan langsung menuju garasi.
Aku melempar pandanganku dari sudut ke sudut. Tak sebatang hidungpun kutemukan dia. Aku merasa kesal tapi, terlanjur ku disini kenapa tidak makan dulu lagi pula aku juga belum sarapan. Aku mengambil tempat duduk yang dekat jendela, matahari pagi bagus untuk kulitku.
“saya pesan vanila cake dan ice cream vanila,” ucapku pada seorang pelayan.
“bawakan 2 ya” sambung seorang cowok yang sangat aku kenal.

Adicka
Saat aku memasuki cafe, aku tak biasanya lihat-lihat pengunjung dulu. Tapi hari ini beda, kulemparkan pandanganku dan mendapati sesosok gadis cantik yang sedang menghadap jendela. sinar matahari menyinari tepat diwajahnya, sehingga terlihat kombinasi yang begitu indah dan cantik. “saya pesan vanila cake dan ice cream vanila,” ucap gadis sahabat Syira itu.
“bawakan 2 ya” sambungku, aku yakin suaraku cukup familiar ditelinganya.
“ngapain kamu disini, sembarangan duduk lagi, emangnya aku udah ngijinin kamu duduk disini?” katanya.
“bangku lainnya sudah penuh, lagi pula aku yakin kamu nggak akan keberatan aku disini” jawabku. “namamu siapa, dari kemarin kita ngobrol belum sempat kenalan” tanyaku.
“Luna, Luna Kirana namaku, sedangkan kamu?” tanyanya padaku.
“Adicka, Adicka Ajuna Putra, bagaimana dengan novel-novelmu, ada yang baru?” tanyaku, tapi aku sadar seharusnya aku tidak bertanya soal itu.
“darimana kamu tahu tentang novelku?” tanyanya heran melihat kearahku dengan mata disipitkan.
“a… aku tahu dari… aah Dicky, abangku itu suka bercerita tentang kamu dan pacarnya itu” jawabku. Dan dia sepertinya mulai mempercayainya. Walau itu sebenernya bohong, hehehe… Karena aku tahu itu semua dari Syira.
‘Entah sampai kapan harus begini, mungkin dengan menyusulmu kita dapat bersatu lagi.

Dicky
Hari ini ultahku dengan Adicka, aku akan mengajak Luna untuk membantuku memilihkan kado apa yang cocok untuk Adicka. Kami sudah janjian sebelumnya.
Luna menyarankanku untuk membelikan syal berwarna abu-abu bercorak polkadot untuk Adicka. Kenapa selama bersama Luna aku merasakan Syira juga bersamaku. Apa…? apa Luna memiliki sebagian dari Syira?.
“Lun, aku boleh tanya sesuatu?” tanyaku.
“silahkan aja, kenapa enggak, dicky… dicky… masih aja canggung, padahal kita sudah saling mengenal selama 3 tahun” jawabnya sambil menyenggolku dengan bahunya yang tegap terasa tegas untukku.
“jika…, Syira menitipkan amanat untukmu apakah kamu akan melakukannya?” tanyaku, setlah aku bertanya itu suasana terasa menjadi hening seketika, suasananya terasa enggak enak banget.
“kalau itu dari Syira apa salahnya” jawabnya polos. Apakah aku berani menanyakannya.
“Lun, sebenarnya…” kata-kataku terhenti. aku tau ini bukan saatnya ia tau.
dia tak menanyakan kelanjutannya. mungkin karena melihat wajah murungku.
Setelah perbincangan tadi kami tidak mengobrol lagi.

Luna
Aku gak tahu apa yang terlintas difikiranku. tiba-tiba… aku teringat kejadian tempo dulu. Tanggal 08 April tepatnya tahun 2010, hari itu hujan deras, Aku, Syira, Syafira, Ciko, dan Agung sedang berkeliling untuk mencari objek foto yang indah. Saat itu Syira belum mengenal Dicky, saat itu dia selalu membuka e-mailnya dan menunggu jawaban dari seseorang. Aku pernah melihat fotonya, sepintas dia terlihat seperti Dicky. Awalnya aku pikir tak ada yang spesial dari itu semua. Selang beberapa bulan Dicky datang dalam kehidupan kami, saat Dicky datang Syira seperti sudah mengenalnya, tapi seketika raut wajahnya berubah ketika ia tahu namanya Dicky. Entah apa yang ia pikirkan.
Dan disaat Dicky menyatakan CINTA kepada Syira, Syira seakan harus menimbangkan suatu resiko besar yang akan ia hadapi. Tak butuh waktu lama untuk Syira menjawab, karena keesokan harinya Syira langsung menjawab IYA kepada Dicky. Tapi ia berlinang air mata, kupikir itu air mata bahagia.
Aaarkh… apa yang merasukiku ini. Aku tidak boleh buruk sangka kepada sahabatku ini. Kan hari ini ultah Dicky dan Adicka bagaimana kalau aku memberikan hadiah jas model terbaruku. Hehe sebenarnya yang ngedesign bukan aku, tapi berhubung mamaku bisa menjahit jadi yang membuat adalah mamaku. Syiralah designer semua gaun yang ada dirumahku. Syira memang pintar dalam hal seperti ini.
“tingtong…” kubunyikan bel rumah Dicky.
“non cari siapa ya?” tanya seorang pembantu membukakan pintu untukku.
“saya datang untuk Dicky dan Adicka, mereka ada?” tanyaku padanya.
“den Dicky sama den Adicka didalam lagi tengkar, ndak papa non nemuin mereka saat gini?” tanya bibi itu padaku.
“ndak papa kok bi, mereka lucu kok kalo bertengkar kayak gitu” jawabku.
“tapi non, ini lain, ini nyangkut pacarnya den Adicka” kata bibi itu.
“masalah sepele kok, saya bisa tangani itu” jawabku meyakinkan bibi itu.
‘Adicka punya pacar? Terus apa masalahnya? Kenapa sampai bertengkar dengan Dicky?. Perlahan aku membuka pintu kamar Dicky. Aku mendapati Dicky sedang berada di sudut kamar dengan membanting semua barang yang berada di meja.
“Dicky, ada apa? Emangnya kenapa dengan pacarnya Adicka?” tanyaku perlahan membangunkannya dari keputusasaaan.
“Adicka… pacarnya Syira?” jawabnya yang mulai terisak.
“jangan bercanda! Mana mungkin Syira mendua, setahuku Syira sangat mencintaimu, pasti ada kesalahan” jawabku yang tak mungkin bisa menerima semua ini.

Dicky
Kenapa? Sebenarnya ada hubungan apa antara Adicka dan Syira? Foto apa ini? Kenapa banyak Foto Syira dan Adicka?.
“Dicky, ada apa? Emangnya kenapa dengan pacarnya Adicka?” tanya Luna perlahan membangunkanku dari keputusasaaan. aku serasa ingin mati karena putus asa ini… apa yang sebenarnya terjadi?
“Adicka… pacarnya Syira?” jawabku yang mulai terisak.
“jangan bercanda! Mana mungkin Syira mendua, setahuku Syira sangat mencintaimu, pasti ada kesalahan” jawabnya yang juga tak mungkin bisa menerima semua ini.
Kami berjalan perlahan menuju kamar Adicka. Aku membuka pintunya dan mendapati Adicka terkapar di lantai dengan beberapa obat yang berserakan. Aku dan Luna begitu kaget dan segera membawa Adicka ke rumah sakit.
‘Ya tuhan aku masih menyayangi adikku, kumohon sembuhkan dia! Setelah ia sembuh aku akan menerima semua kenyataan, walau itu nantinya menyakitkan. Aku tidak mau kehilangan lagi tuhan!’ doaku dalam batin. Rasanya kini batinku tercabik, namun aku sangat menyayangi adikku ini.
Kuhembuskan nafasku dalam-dalam, aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa aku bisa berdiri dan bertahan untuk adikku.
“bagaimana dokter, ada apa dengan adik saya? Obat apa yang dia minum? Dia tidak Over Dosis kan dok?” tanyaku khawatir ketika dokter keluar dari ruang IGD. Dokter tak segera menjawab membuat kekhawatiranku memuncak, dokter hanya menggelengkan kepala dan langsung berpaling.
“maaf anda keluarga pasien?” tanya seorang perawat.
“iya saya kakaknya”.
“silahkan anda urus administrasinya dan setelah itu keruangan dokter Hilman, ruangannya ada di ujung lorong ini sebelah kanan” suruh perawat itu. Aku menyuruh Luna untuk mengurus administrasinya sedangkan, aku segera menemui dokter tadi.

Luna
Setelah aku mengurusi administrasi aku segera menyusul Dicky. Baru aku sampai di lorong aku melihat Dicky terkulai lemas berjalan dituntun dinding yang tak akan tergerak.
“bagaimana? Ada apa dengan keadaan Adicka?” tanyaku yang mulai khawatir.
Seakan dunia akan runtuh dia berpegangan pada bahuku dan berkata “Adicka Lun… Adicka terkena kanker darah, dan itu sudah stadium lanjut” ujarnya dan dia mulai terisak menahan air mata.
Mungkin karena aku lemah, aku tak dapat menahan air mataku lagi. Bendungan ini terasa perih jika kutahan lagi, kenapa ketika aku dapat merasakan cinta lagi dia akan pergi?. Ini tak adil untukku.
Terlepas dari itu semua aku dan Dicky menunggui Adicka di ruang perawatan. Kami menunggu ia sadar menanyakan semua yang harus kami ketahui. Tampak menyedihkan melihat Adicka terbaring dengan beberapa kabel yang tertancap ditubuhnya. Tapi, apa daya kami.
“Dicky kamu kan abangnya, kenapa kamu tidak tahu kalau adikmu sakit parah?” tanyaku kepada Dicky yang mulai berhenti terisak karena kesedihan.
“aku gak tahu karena sejak ia kelas 1 SMA dia tinggal di belanda dan kami jarang berkomunikasi” jelasnya.
Aku melihat tangan Adicka tergerak, aku sepontan maju dan melihat Adicka berusaha membuka matanya.
“abang…” panggilnya lirih.
“aku disini..” jawab Dicky seraya menggenggam tangan adiknya.

Adicka
Kubuka mataku walau terasa berat.
“abang…” panggilku lirih.
“aku disini..” jawab Dicky seraya menggenggam tanganku.
“ayo kita pulang bang!” pintaku lirih.
“kamu ini lagi sakit mana mungkin kamu pulang” jawab Luna yang juga berada disampingku.
“aku ingin pulang, aku akan baik-baik saja, apa kalian tak mau tahu yang sebenarnya?” pintaku lagi.
“tapi, bisakan kamu cerita disini aja!” suruh Luna padaku.
“tidak bisa… aku hanya bisa bercerita jika kita sudah di rumah… kumohon!” jawabku.
“aku akan minta keringanan kepada dokter” sambung Dicky.
Setelah kami semua berada di rumah dan kabel-kabel kembali di pasang ketubuhku oleh seorang perawat yang disewa untuk merawatku. Bang Dicky dan Luna duduk disampingku. Aku menunjuk ke arah sebuah kotak kayu yang berukiran nama A&S. Luna mengambilnya namun tak bisa membukanya.
“kalian tahu… nama siapakah yang ku ukir di kotak ini?” tanyaku pada mereka. Mereka tak dapat menjawab dan hanya bisa menggeleng. “Adicka & Syira…” lanjutku. Mereka tercengang mendengar itu. “sekitar 5 tahun yang lalu, aku mengenal Syira lewat e-mail, kami selalu berhubungan dengan asyik lewat via e-mail, semuanya berubah, berubah ketika Syira bilang bertemu denganku namun namanya bang Dicky. Hari itu adalah hari dimana loe pertama ketemu Syira bang, Syira cerita ke gue kalau loe nembak dia bang, sedangkan waktu itu gue dan Syira udah pacaran selama 1 ½ tahun. Tapi, dihari itu juga gue tahu kalau hidup gue tinggal bentar lagi. Gue yang nyuruh Syira nerima loe bang, gue pingin loe yang ngebahagiain Syira. Sampai suatu hari, Syira datang ke belanda Syira bilang ke gue kalau hidupnya udah di ujung tanduk, saat itu Syira tengah di ujung maut dan akan berakhir saat itu juga. Sakit rasanya bang kalau ngeliat elu yang ngedampingin Syira di saat terakhirnya. Gue juga pingin genggam tangannya, membelai rambutnya di saat-saat terakhirnya. Ini kunci buat buka kotak ini, di dalam kotak ini adalah bukti CINTA gue dan Syira, gue harap loe gak marah atau sampai benci ke Syira” kataku.
Tit…
“Adicka…” panggil Luna tapi, kini kutelah tiada.

Dicky
Aku dan Luna mulai membuka kotak itu dan menemukan bertumpuk-tumpuk foto kemesraan mereka. Di saat mereka berjauhan dan disaat mereka berdua berada di Belanda. Dada ini serasa seketika membeku. Aku melihat laptop dalam kondisi terbuka. Aku menghidupkannya dan ternyata Adicka belum menutup e-mailnya saat aku bertengkar dengannya tadi pagi.
Aku mulai membuka e-mail itu dan membacanya…

Dear Syira

Syira, apa kabar? Lama sekali balas e-mailku. Tumben, punya pacar baru ya? Kalau benar jangan lupain ak dong! 🙂

Dear Adicka

Sorry sayang, aku tidak punya teman baru koq, tetep yang dulu-dulu. Yang baru Cuma abang kamu aja si Dicky.
Adicka, bagaimana dengan kelanjutan hubungan kita?

Dear Cintaku

Kok masih tanya gitu sih, setahuku aku cinta kamu dan kamu cinta aku. Tak ada yang perlu dipertanyakan.

Dear Kasihku

Adicka, abangmu nyatain cinta ke aku. Aku harus bagaimana? Kamu nggak mau abangmu tahu kalu kita pacaran. Aku nggak tahu harus jawab apa?.

Dear Syira

Syira sayang, terimalah ungkapan CINTA dari abangku. Aku tak apa jika kau duakan aku. Tolong kau bahagiakan dia. Karena mungkin aku tak mungkin bisa bahagiakanmu.
Syira sayang aku mengidap penyakit kanker darah stadium 4, dokter memberitahuku hidupku hanya tinggal beberapa tahun lagi. Jadi, hidup berbahagialah bersama abangku.

1 tahun kemudian Syira menghubungiku bahwa dia akan mengambil S2 di Belanda.
Kami bertemu di bandara. Kami menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih yang bahagia. Tapi, ketika saat ia akan pulang dia memberi tahuku sesuatu yang tak pernah aku sangka…

Syira mengalami komplikasi ginjal dan tidak dapat diobati oleh peralatan tercanggihpun…
Kasihku…
Aku harus apa tanpamu…
Hari itu adalah hari yang sangat menyedihkan untukku. Aku harus melihat kasihku dari kejauhan… yang paling menyakitkannya lagi ketika aku harus melihat dan menerima kenyataan kalau aku tak dapat menemaninya disaat-saat terakhirnya…

Aku menemukan sepucuk surat yang terlipat rapi di bawah laptop dan aku membacanya.

Untuk Abang Dicky yang paling kusayang

Bang, aku tahu kalau kau sedang baca ini pasti aku udah kagak ada ya. Pertama-tama gue mau minta maaf tentang kebohonganku dan Syira.
Bang gue mau ngomong ke elu gue sayang banget sama Syira, gua sama Syira udah pacaran selama 5 tahun.
Maafin gue kalu gue nyakitin hati elu. Gue tahu pesen Syira di saat ajalnya mendekat.
Gadis yang Syira maksud…
Adalah Luna sahabatnya…
Syira berharap banget ke Luna agar Luna dapat njagain elu bang.
Walau Syira gak CINTA ke elu tapi Syira selalu peduli ke elu… Syira kepingin Luna jaga elu sebagai kekasih..
Udahan dulu ya bang..
Gue mau nyusulin Syira dulu… DI KEABADIAN

Setelah pemakaman Adicka. Aku dan Luna duduk di tengah kuburannya Syira dan Adicka.
Kuraih tangan Luna dan berkata “aku akan memenuhi amanahmu Syira akan kujadikan Luna sebagai pemilik hatiku seutuhnya, bagaimana denganmu Luna?”.
“begitupun aku, aku akan memenuhi apa yang kamu mau Syira, akan kutitipkan hatiku kepada Dicky” jawabnya.

Luna
“… akan kujadikan Luna sebagai pemilik hatiku seutuhnya, bagaimana denganmu Luna?” pertanyaan itu bagaikan sayatan pisau yang membelah dadaku.
“begitupun aku, aku akan memenuhi apa yang kamu mau Syira, akan kutitipkan hatiku kepada Dicky” jawabku. ‘ Kenapa ini semua terjadi disaat aku mulai belajar mencintaimu? Beri aku jawaban yang bisa meyakinkan hatiku Adicka!’ jerit batinku.

‘disaat ku mulai merasakan cinta kepada hati yang lain. Kau pergi tanpa pesan. Kau ikut melangkah pergi jauh mengikuti cinta sejatimu. Maafkan aku, yang pernah berfikir untuk mencintaimu. Jagalah Syira disana Adicka… Aku akan belajar mencintai dan menjaga abangmu disini. Abang yang selalu kau sayangi… Dicky’.

THE END

Cerpen Karangan: Nia Trisnawati
Facebook: nindra bofther jec

Cerpen Membuang Lembar Kelabu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari Ini, Esok dan Seterusnya

Oleh:
Aku bersembunyi di semak semak, ingin memata matai 2 insan yang telah menyakiti hatiku. Kulihat mereka tengah bercanda tawa dengan gembiranya, wanita yang kucintai bersama pria yang ku benci.

Selamat Jalan

Oleh:
Pada hari ada wanita yang pendiam dan ekspresi wajah jutek. Saat suatu ketika dia main ke rumah teman SMPnya, di sana dia melihat temannya yang sedang kumpul dengan teman

Sepuluh Juta Rupiah

Oleh:
“Nilai Sepuluh juta rupiah pernah ku ingat dari acara Televisi, talkshow, yang dibawakan Helmy Yahya pakai janggut dan memberi uang sebanyak itu pada orang miskin di jalan yang ditemuinya.

Ketika Cinta Tak Kutunggu

Oleh:
Memori masa lalu 2 tahun silam itu masih terbayang setelah berlari menapak meninggalkan jejak. Aku terpaku diam membungkam setelah semua memori indah itu berubah. Hatiku kosong, setelah semua tak

Rasa ini Abadi

Oleh:
Rasa ini tak akan akan pernah memilih, kamu datang di saat dirinya telah di sampingku. Hayalku untuk kamu dan aku menjadi satu tanpa ada yang disakiti seakan menjadi sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *