Memoir of Naya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 3 March 2016

Saat itu kebahagiaan sedang terpampang di hadapanku, tidak ada keinginanku menatap ke arah lain. Seperti seekor kuda yang dipakaikan kacamata, arah yang bisa dilihatnya hanya arah di depannya. Tapi, takdir itu memaksaku menatap ke arah lain. Melemparkanku dalam kesadaran bahwa dunia ini tidak hanya dipenuhi dengan kebahagiaan, keceriaan, dan kenyamanan. Sebuah kesadaran usang mengingat keburukan dan bencana banyak berserakan di sekitar kehidupan manusia.

Waktu kehidupanku seketika berhenti. Semua harapan, cita-cita, dan mimpi tidak lagi memiliki arti. Aku bahkan rela menukarkan semua itu asalkan ini hanyalah sebuah mimpi. Sayangnya ini bukanlah mimpi. Aku lumpuh, aku tidak berdaya. Seperti sebuah bendungan yang jebol, air mata ini tidak kuasa ku tahan. Melunturkan warna-warni keceriaan dalam hidupku, melumerkan bongkahan kebahagiaan di kehidupanku, menenggelamkanku dari pelampung kenyamanan yang selama ini membuaiku.

“Kenapa harus dia, Tuhan. Kenapa?”
“Memangnya siapa kamu?! Berani-beraninya mempertanyakan keputusan Tuhanmu!” hati nuraniku memarahiku.
“Aku mencintainya!” aku berteriak lantang.
“Sebesar apa? Sebesar cinta Tuhannya kepadanya?”
Aku tersungkur, aku menangis. “Aku hanya ingin membahagiakannya.”
“Berapa lama kamu sanggup membahagiakannya? 50 tahun? 100 tahun? Tuhannya sanggup memberinya kebahagiaan selama-lamanya.” Tangisku semakin keras. “Kamu tahu ini pasti akan terjadi. Semua manusia tahu ini pasti akan terjadi. Lalu apa sebenarnya yang sedang kamu tangisi? Dirinya atau dirimu?”

Ya Tuhan, Izinkan aku tetap mencintainya. Izinkan aku tetap menyimpan kenangan bersamanya, Izinkan aku. Dari titik ini, aku tahu hidupku akan berubah. Semua hal dalam hidupku akan memiliki arti dan definisi baru. Orang barat menyebut ini sebagai The Power of Lost. Aku lebih suka menyebutnya, Kesadaran Diri.

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya, Kampus lama. Baru tiga semester aku habiskan di sini. Aku sebut kampus lama, karena memang ada satu kampus lagi yang lebih baru, letak keduanya berjarak lumayan jauh. Namun jika aku harus memilih, aku lebih suka kampus yang lama ini. Ketenangan, ada di sini. Keteduhan juga banyak pilihan, pohon-pohon dengan batang lebih besar dari pelukan orang dewasa banyak bertebaran di sini. Dan, ya mau tidak mau aku harus mengakuinya juga, di sinilah aku mengenalnya. Naya, begitu aku dan teman-temannya biasa memanggilnya.

Sebenarnya aku sudah lebih dulu mengenalnya. Tidak ada yang istimewa, perasaan yang ku miliki kurang lebih sama dengan teman-temanku yang lain. Kami memang tidak terlalu akrab, namun saling sapa atau mengobrol singkat pasti akan terjadi saat kami bertemu. Apa dia cantik? Ya, dia cantik. Tapi, temanku yang cantik bukan hanya dia. Tampilan fisik memang akan selalu menjadi pemicu pertama, tapi bukan yang utama. Cinta urusan hati, untuk bisa mengerti tentangnya harus hati juga yang melakukannya. Heart to heart, begitu orang kulon bilang.

Setelah tampilan fisiknya, aku mendapatkan pemicu kedua. Saat itu untuk pertama kalinya aku merasa duniaku bergoncang. Bukan karena gempa bumi, tapi karena tawanya. Entah bagaimana sebuah tawa mampu melakukannya. Goncangan di duniaku saat itu membuatku seperti kehilangan kesadaran, yang bisa ku ingat aku hanya duduk terpaku di sana bersama tatapan yang tidak mampu ku alihkan dari tawanya. Aku tahu dia akhirnya menyadarinya saat tawanya tiba-tiba berhenti. Jika aku pikir kembali, momen itu seharusnya membuatku merasa malu, namun entah bagaimana perasaan itu tidak sedikit pun ku miliki. Mungkin perasaan malu itu ikut hancur bersama goncangan di duniaku sebelumnya.

Setelahnya, duniaku terasa aneh. Tiba-tiba saja semua hal dalam hidupku selalu terhubung padanya. Apa ini yang disebut cinta? Aku tidak tahu, bahkan tidak mau tahu. Yang aku ingin tahu adalah bagaimana caranya mengembalikkan duniaku kembali normal. Tapi itu sangat tidak mudah, bahkan mustahil. Sekeras apa pun aku berusaha menyingkirkan bayangannya, sekeras itu pula bayangannya mendesakku. Pada satu titik akhirnya aku menyerah, aku tidak mampu lagi menolaknya. Sialnya, aku belum memiliki keberanian untuk melangkah maju. Entah bagaimana tiba-tiba saja dia berubah menjadi seorang putri yang berada jauh di luar jangkauanku. Aku bahkan harus mendongakkan wajah hanya untuk sekedar menatapnya.

Ya Tuhan, jika memang dia yang Engkau siapkan untukku, maka jagalah dia hingga aku sanggup meraihnya. Untuk saat ini hanya doa itu yang sanggup aku lakukan. “Wellcome to my world!” Bukan sok Inggris, Rudi? temanku yang satu ini memang jago bahasa inggris. Hanya cengirannya saat mengatakannya saja yang membuat gigiku gemeretak. “Tapi, aku bahagia untukmu. Teman.” Kata terakhir dia ucapkan sambil mencengkram bahuku dengan kuat. “Setidaknya sekarang aku yakin temanku sepenuhnya normal.”

Aku mendelik protes padanya. “Sekali lagi kamu bilang aku tidak normal, sepatu ini akan mampir ke mukamu,” ancamku. Tidak lupa sepatuku sudah ada di tanganku? semakin meyakinkan kebenaran ancamanku. “Hahaha…” Dia tertawa. Tentu saja. Ancaman dari seorang teman pada temannya memang tidak pernah berarti serius. Tapi kali ini aku serius, sepatu ini akan benar-benar mampir ke mukanya jika dia berani mengulanginya lagi karena, I’m totally normal. Tidak ada keraguan di sana. “Kamu mau saran dariku?”

Aku menjawabnya dengan helaan napas kerasku. Tidak ada keraguan bahwa temanku ini memang punya banyak pengalaman soal yang satu ini. Welcome to my world adalah cibiran balasan untukku karena sebelumnya aku sering mentertawakan kisah cintanya. Tapi, aku tidak tertarik meminta saran dari siapa pun. “Kamu tidak mungkin bisa berhenti di sini. Kalau kamu memaksa, kamu hanya menyiksa diri sendiri.” Ternyata aku memang tidak butuh saran. Apa yang dikatakannya sudah terlalu sering aku dengar atau ku baca dalam novel-novel roman picisan yang lebih sering membuatku jengah daripada kagum. Aku sudah sepenuhnya menyadarinya, aku memang tidak akan bisa berhenti di sini, aku sudah berusaha mencobanya, tapi gagal. Pilihan yang kini ada hanya terus maju.

Dulu aku memang selalu mencibir bahwa perasaan seperti ini tidak lebih dari sekedar dramatisasi berlebihan dari sebuah skenario film yang katanya romantis. Karma atau bukan, cibiran itu sepertinya kini sedang berbalik menyerangku. Aku tidak tahu apakah ada yang salah denganku, semua cerita tentang perasaan itu yang aku lihat atau aku dengar selalu menggambarkan tentang kebahagiaan. Tapi, itu tidak terjadi padaku. Jauh dari namanya bahagia, apa yang aku rasakan justru sebaliknya. Duniaku terasa sempit, terkepung dari segala arah oleh penampakan wajahnya. Keceriaan hari-hariku juga bergantung padanya, bergantung apakah hari itu aku bisa melihat wajahnya atau tidak. Duniaku sungguh menyesakkan.

Kebiasaan kami ketika bertemu masih belum berubah, saling sapa dan mengobrol singkat masih kami lakukan. Yang berbeda adalah rasanya. Entah bagaimana caraku menggambarkannya. Semua hal tentang dirinya kini memiliki rasa yang jauh berbeda. Wajahnya lebih dari sekedar cantik, begitu besar kelebihannya hingga aku hanya sanggup menatapnya sesaat saja. Suaranya adalah suara termerdu yang pernah aku dengar, begitu merdunya hingga membuat suara lain di sekitarnya seakan langsung terdiam, ikut menikmati kemerduan suaranya. Matanya adalah bias keagungan yang selalu membuatku merinding saat mata kami bertemu. Senyumnya adalah gambaran keceriaan penuh warna yang selalu ku harapkan menceriakan duniaku. Dan tawanya, tawanya tidak pernah gagal mengguncang duniaku pada setiap momennya.

Aku tidak bisa terus seperti ini, aku sangat sadar itu. Tapi kesadaran saja ternyata masih belum cukup untuk membuatku melakukan sesuatu. Entah ke mana perginya keberanianku selama ini, entah ke mana perginya rasa percaya diriku yang selama ini tidak pernah mengecewakanku. Pada titik ini aku jatuh pada keterasingan akan diriku sendiri. Aku yang dulu merasa sangat mengenal diriku sendiri, kini tidak lagi. Aku selalu merasa sedang menatap orang asing setiap kali berdiri di depan cermin. Siapa kamu? Kamu bukan aku. Aku tidak pernah selemah ini! Aku tidak pernah sepengecut ini! Siapa kamu?!

Ya Tuhan, inikah cara-Mu menunjukkan padaku bahwa Engkau sungguh Maha Kuasa. Engkau tidak perlu lagi membelah lautan hanya untuk menunjukkan kekuasaan-Mu, Engkau tidak perlu lagi menghidupkan orang mati hanya untuk menunjukkan bahwa Engkau bisa melakukan apa pun yang Engkau kehendaki. Yang Engkau lakukan hanya menyentuh hatiku. Sungguh besar kekuasaan-Mu, menunjukkan betapa lemahnya diriku di hadapan-Mu, betapa tergantungnya diriku pada-Mu. Betapa aku bukan siapa-siapa tanpa-Mu. Aku memohon pertolongan-Mu ya Tuhanku. Aku mohon… aku mohon… aku memohon.

Cerpen Karangan: Yudha Nafiri
Saya tidak tahu ini bisa disebut cerpen atau tidak. Karakter yang akan muncul selanjutnya tidak banyak, cerita ini lebih menceritakan diri dari orang pertama saja. Jika menurut anda ini tidak layak disebut cerpen, saya akan menerimanya. terima kasih.

Cerpen Memoir of Naya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta itu Logika

Oleh:
Akhirnya kini aku belajar mencintai Nandha. Wanita yang tak kuhiraukan cintanya. Mungkin dia yang bisa menerimaku apa adanya. Dulu aku percaya cinta itu tak ada logika. Kebodohan memang jika

Operasi Outlone (Part 2)

Oleh:
Satu penjaga masuk. Tasim berjalan pelan ke belakang penjaga yang masih diam berdiri. Dengan stun gun, ia arahkan ke lehernya. Dia gemetar lalu pingsan. Ia seret badannya ke semak-semak.

Apalah Arti Menunggu

Oleh:
Ini adalah kisahku, kisah dimana semua menjadi serba salah kisah yang membuatku menjadi bodoh, kisah yang membuatku tau apa itu cinta yang sesungguhnya bukan cinta yang semu. Waktu terus

Kebetulan

Oleh:
Hidup penuh teka-teki yang sulit ditebak. Kenyataan yang kadang tak masuk akal. Semuanya sering disebut sebagai “kebetulan”. Waktu yang tak kutahui dan mungkin ia pun tak tahu, kadang menyatukan

Masa Kelam

Oleh:
Aku terlahir dari keluarga yang ekonomi nya sedang tidak stabil, kebetulan aku anak pertama dari 3 bersaudara, saat itu di sekolah banyak biaya yang belum terlunasi, Bapak dan Ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *