Memories

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 November 2012

Gadis itu masih terus menatapi layar ponselnya,berharap layar itu akan menampilkan sebuah pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang saat ini sedang ditunggunya.Gadis itu Tiffany,masih setia duduk di salah satu bangku taman dipusat kota.Sesekali dia melihat jam tangan putih dipergelangan tangannya.Helaan nafas kecewanya terasa saat dia kembali melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore dan itu berarti dia sudah menunggu hampir tiga jam ditaman itu.Tiffany menundukkan kepalanya lesu,tangannya menggenggam iphone miliknya dengan cukup erat.Perasaan kecewa kini menghampirinya.Kekasihnya yang sejak tadi dia tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya sampai sekarang.
“apa mungkin dia lupa???” Tiffany menghembuskan nafas gusarnya.Tak terasa air mata keluar dari pelupuk matanya.Ini bukan yang pertama kalinya kekasihnya itu terlambat datang di acara kencan mereka. “apa mungkin dia sudah tidak mencintaiku lagi?”Ucapnya lirih.Pikiran negative pun kini mulai terngingang diotaknya.
BRESSSSSSS…………,,tiba-tiba saja gemericik air hujan langsung turun membasahi dirinya.Tiffany tetap menunduk dan tidak perduli terhadap orang-orang yang sibuk berlari mencari tempat untuk berteduh.Tiffany semakin mengeratkan pegangannya pada iphone miliknya.Dia sudah tidak perduli kalaupun iphone miliknya itu akan rusak karena terkena air hujan.Air matanya semakin mengalir seiringan dengan air hujan yang juga turun dengan derasnya.Dia merasakan sesak didadanya.Hatinya sakit mengetahui kekasihnya itu belum datang juga.Jika ini yang pertama kalinya mungkin Tiffany akan memaafkan kekasihnya itu tapi yang membuat Tiffany benar-benar merasa marah dan sedih adalah karena ini sudah kesekian kalinya kekasihnya itu datang terlambat,bahkan Tiffany pernah menunggu lebih lama dari pada sekarang.
“Tif….,” Tiffany mendongakan kepalanya saat sebuah suara yang sangat dihafalnya diluar kepala itu memanggilnya.Dilihatnya seorang pria dengan payung ditangannya kini berdiri dihadapannya.Pria itu menatap sendu Tiffany lalu mendekati Tiffany dan memayungi Tiffany dengan payung yang dibawanya tadi. “maaf………” Ucapnya yang membuat Tiffany kembali mengalirkan air matanya.Tiffany menatap mata pria yang dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
“kamu…..” Tiffany bangun dari duduknya dan mensejajarkan dirinya dengan pria itu. “kamu jahat Dit….,kamu….Tidak tahukah kamu berapa lama aku menunggumu disini?kalau kamu memang tidak ingin bertemu denganku seharusnya kamu bilang saja sehingga aku tidak perlu menunggu lama disini” Ucap Tiffany yang membuat Adit,nama pria itu kini hanya bisa menundukkan kepalanya.Merasa bersalah dengan gadisnya itu.
“maaf…”
“semudah itu kah??????ini bukan yang pertama kalinya kamu melakukan ini dan kamu hanya bisa mengucapkan kata maaf dit..?tidak tahukah kamu betapa sakitnya aku diperlakukan seperti ini olehmu?” Ucap Tiffany dengan suara bergetar.
“aku minta maaf Tif,,,tadi saat aku akan berangkat kesini tiba-tiba saja Ayah memintaku untuk memimpin rapat dengan relasi-relasinya dan aku……”
“dan kamu tidak bisa menolak????kenapa kamu tidak menghubungiku dan memberiku kabar kalau kamu akan datang telat sehingga aku tidak harus menunggu kamu seorang diri disini?”
“maaf aku tidak sempat…aku……”
“kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” Sebuah pertanyaan dari Tiffany sukses membuat Adit kini memandang lekat Tiffany.
“apa maksudmu??demi Tuhan Tiffany….,,aku memang salah,aku telat datang dan membuatmu menunggu berjam-jam disini tapi itu semua bukan berarti aku sudah tidak mencintaimu lagi”
“tapi aku berpikir seperti itu.Kamu berubah…….”Ucap Tiffany lalu beranjak pergi,tapi belum sempat dia melangkah lebih jauh sebuah tangan mencengkram lengannya.
“kita bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik kan???”Ucap Adit memandang lekat Tiffany.
“tidak ada yang perlu diselesaikan lagi Dit…….,Aku rasa kita cukup sampai disini saja”Ucap Tiffany lalu menyentak tangan Adit dengan kasar sehingga cengkraman Adit di lengannya terlepas begitu saja.
“TIFFANY……” Teriak Adit saat dilihatnya Tiffany berlari menjauhinya.Dibuangnya payung yang dia pegang tadi kesembarang arah dan dia pun kini berlari mengejar Tiffany menuju jalan raya. “Tif….” Adit menahan pergelangan tangan Tiffany saat dia akan menyebrang jalan.
“lepaskan aku Dit….”Ucap Tiffany dengan nada cukup tinggi.
“aku tidak akan melepaskanmu.Demi Tuhan Tiffany,kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik..kita…..”
“tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi bukan?semuanya sudah jelas…,hubungan kita sudah berakhir dit”Ucap Tiffany lalu menyentak tangan Adit dengan kasar.Tiffany melanjutkan langkahnya menyeberangi jalan tapi baru empat langkah dia berjalan,Tiffany mendengar sebuah teriakan sangat kencang dan tiba-tiba saja……….BRUKKKKKK….,Tiffany merasakan ada yang mendorong tubuhnya dan dia jatuh tersungkur ke aspal seiringan dengan sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan penuh.Tiffany mendongakan kepalanya dan berusaha untuk bangun dari posisinya tapi rasa sakit di tangan dan lututnya membuatnya sulit untuk menggerakan tubuhnya.Tiffany menoleh kebelakang dan seketika kakinya melemas saat melihat beberapa orang yang membawa payung sedang mengerumuni seorang pria yang terkapar tak berdaya di aspal dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.Lidah Tiffany keluh dan tubuhnya seakan kaku menyaksikan pemandangan miris di hadapannya.
“A……Adit….”Ucapnya lirih dan berusaha untuk bangun.Tiffany berjalan perlahan menuju kerumunan itu dan seketika dia langsung jatuh terduduk dihadapan tubuh Adit. “Adit….,,plissss bangun”Tiffany mengguncang tubuh Adit yang saat itu sudah tak merespon panggilannya.Matanya tertutup rapat dan Tiffany bisa melihat darah yang keluar dari pelipis pria itu. “Aku mohon bangun Dit…”Air mata Tiffany keluar tak terkendali, dia masih tetap mengguncang tubuh Adit,menyuruh pria itu untuk bangun dan berharap kejadian yang ada dihadapannya saat ini adalah sebuah lelucon yang akan segera berakhir. “aku mohon jangan bercanda dit..,,Adit bangun…..ADIT………”Teriak Tiffany dan setelah itu hanya kegelapan yang dapat dia rasakan.

Gadis itu terbangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.Jantungnya berdetak dengan sangat cepat dan titik-titik keringat terpancar jelas dari keningnya.Gadis itu,Tiffany mencoba untuk menetralisir perasaannya,kembali mengontrol nafasnya yang tak beraturan saat dia bangun dari tidurnya tadi.Tangannya terulur menyeka keringat dan air mata yang entah sejak kapan keluar di wajah cantiknya itu.Tiffany terdiam sejenak lalu memejamkan matanya,berusaha untuk melupakan sebuah mimpi buruk yang masih sangat teringat jelas di memori otaknya itu.Perlahan dia kembali membuka matanya dan air mata kembali mengalir dari pelupuk matanya.
“ Adit….” Ucap Tiffany lirih.

Gadis itu masih setia berdiri dengan payung berwarna biru yang menutupi dirinya dari hujan deras yang turun pagi itu.Mata teduhnya kini memandang intens sebuah nama yang tertulis di depannya.Sebuah nama yang kembali mengingatkannya pada mimpi buruknya semalam dan sebuah kejadian menyedihkan satu tahun silam yang masih sulit untuk dia lupakan.
ADITYA RIZKY
LAHIR : JAKARTA,18 FEBRUARI 1987
MENINGGAL DUNIA : JAKARTA,10 OKTOBER 2011
Gadis itu,Tiffany kini terduduk di depan makam yang ada dihadapannya saat ini.Dia terduduk dengan pandangan yang tak lepas dari sebuah nisan di hadapannya.Tiffany sudah tidak perduli jika jeans hitam yang dia kenakan akan kotor karena tanah yang dia duduki sedang basah karena hujan,dan dia juga sudah tidak perduli dengan tubuhnya yang nantinya akan kedinginan karena hujan yang masih setia turun dengan derasnya itu.Perlahan Tiffany mengusap nisan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat dirindukannya itu lalu dia meletakkan bunga Lily putih di makam itu.Meletakkan bunga yang melambangkan sebuah cinta sejati namun diselimuti dengan rasa duka.
“hai…..apa kabar Dit?” Ucap Tiffany lirih.Tiffany menundukkan kepalanya sejenak dan air mata yang sejak tadi tertahan dipelupuk matanya kini sudah tak kuat lagi dibendungnya. “satu tahun berlalu,apakah kamu sudah bahagia disana Dit?” Ucap Tiffany dengan suara bergetar.Sekuat tenaga menahan air matanya tapi kini air matanya justru mengalir membasahi pipi mulusnya itu. “aku berharap kamu bahagia disana Dit….,,hmmm sepertinya kamu masih sangat menyukai hujan ya?sampai-sampai saat aku datang kesini hujan ini belum reda juga” Ucap Tiffany lalu tersenyum kecil. “kamu tahu sekarang tanggal berapa Dit?hmm sekarang tanggal 10 oktober..,,ini hari special kita kan?Happy 3rd Anniversary Dit….” Tiffany terdiam sejenak sambil melihat sebuah cincin cantik yang melingkar di jari manisnya. “by the way terimakasih untuk hadiah cincinnya tapi aku lebih bahagia lagi jika kamu sendiri yang memberikannya kepadaku Dit…” Ucap Tiffany lirih dan kini memori otaknya kembali teringat dengan sesuatu yang kembali membuatnya merasakan penyesalan dan rasa bersalah.

*******
“Tuan muda sudah mempersiapkan sesuatu yang sangat special untuk anda hari itu” Ucap supir sekaligus orang kepercayaan Adit kepada Tiffany yang duduk di dekat ranjangnya.Dengan kedua lutut yang dia tekuk dan sebuah pigura foto yang sejak tadi dia dekap,Tiffany sama sekali tidak ingin beranjak dari posisinya itu.Air matanya tak henti-hentinya mengalir saat dia kembali mengingat kejadian yang membuatnya merasa bersalah kembali berputar di memori otaknya.Setelah pulang dari pemakamn Adit,Tiffany lebih memilih untuk mengurung dirinya dikamar sambil mendekap pigura yang berisikan foto Adit.
“dan Tuan rencananya akan memberikan ini kepada nona Tiffany” Ucap orang kepercayaan Adit yang sengaja menemui Tiffany untuk memberikan sebuah benda yang belum sempat diberikan oleh majikannya kepada gadis yang dicintai oleh majikannya itu.Tiffany menolehkan kepalanya kearah seorang pria berusia sekitar 40 tahunan itu.Dengan perlahan tangan Tiffany terulur untuk mengambil sebuah kotak kecil berbentuk persegi yang diberikan kepadanya. Tiffany kembali terisak saat membuka kotak itu yang berisikan sebuah cincin putih bertatahkan berlian yang sangat cantik.
“asal nona tahu,malam sebelum kejadian itu tuan muda sudah mempersiapkan kejutan untuk nona,tuan bilang dia akan merayakan hari anniversarynya dengan nona dan tuan ingin memberikan kejutan yang sangat istimewa untuk nona.Malam itu tuan mengajak saya ke sebuah tempat yang akan menjadi tempat kejutan untuk nona,tidak perduli dengan kondisi tubuhnya yang lelah karena habis pulang kantor,tuan muda bersemangat sekali merancang sebuah tempat makan malam yang sangat cantik”Ucap supirnya Adit yang membuat Tiffany lebih terisak dan semakin mendekap foto Adit dengan erat. “sebenarnya hari itu tuan sudah akan berangkat untuk menemui nona ditaman tapi Ayahnya memaksanya untuk memimpin sebuah rapat penting.Tuan muda sangat menghormati ayahnya,akhirnya dia mau untuk memimpin rapat itu.Setelah selesai tuan muda langsung mengajak saya untuk menemui nona di taman bahkan tuan muda sampai menyetir mobil dengan kecepatan penuh katanya dia tidak ingin membuat gadisnya menunggu terlalu lama jadi dia memilih untuk meyetir mobilnya sendiri.Saya yang saat itu melihat tuan hanya bisa tersenyum ikut merasakan perasaan bahagia yang saat itu dirasakannya.Berulang kali dia bilang kalau dia sudah tidak sabar untuk memberikan kejutannya itu untuk nona,tapi ternyata suatu kendala menghampirinya saat itu.Kita terjebak macet yang sangat parah dan akhirnya membuat tuan muda datang terlambat saat itu” Pria yang sudah menjadi supir Adit dan orang kepercayaan Adit selama 7 tahun itu memandang Tiffany yang sudah beruraikan air mata itu. “sebenarnya hari itu tuan muda akan…..akan melamar nona” Ucap supirnya Adit yang membuat Tiffany menundukkan kepalanya dan semakin terisak.
“maaf………” Ucap Tiffany lirih.
********

Tiffany mengusap air matanya “aku bodoh kan????seharusnya waktu itu aku tidak perlu marah-marah kepadamu dan seharusnya saat itu aku tidak bilang jika hubungan kita sudah berakhir.Dan kamu juga bodoh Dit,seharusnya kamu tidak usah menolongku,seharusnya kamu membiarkan aku tertabrak mobil itu sehingga…..sehingga bukan kamu yang pergi”Ucap Tiffany lirih,air mata yang barusan diusapnya kini mengalir lagi membasahi pipinya. “aku….aku merindukan kamu dit…,,aku…..rindu saat kamu memelukku,aku rindu saat kamu menghiburku disaat aku sedih,aku rindu saat kamu membelai rambutku,aku rindu senyumanmu,aku….aku” Suara Tiffany tercekat,dia merasakan sakit yang teramat dalam saat dia mengungkapkan semua perasaan rindunya. “aku merindukan semua yang ada pada dirimu Dit” Ucap Tiffany lirih lalu mengeratkan pegangannya pada payung yang masih melindunginya dari hujan yang belum juga reda. “Aku mencintaimu Dit….dan semoga kita bisa dipertemukan kembali dikehidupan yang akan datang suatu saat nanti” Ucap Tiffany lalu perlahan tangannya terulur untuk mengusap batu nisan dihadapannya.Tiffany memejamkan matanya,mulai memanjatkan sebaris doa untuk orang yang sangat dicintainya itu.Tak lama mata indah itu terbuka perlahan,Tiffany mengusap sisa-sisa air mata diwajahnya dan sebuah senyum indah terlukis diwajahnya. “aku pulang dulu ya?lain kali aku akan mengunjungi kamu lagi…..,Bye” Ucap Tiffany lalu dia beranjak dari duduknya.Perlahan Tiffany mulai melangkah pergi menjauhi makam itu,tapi dilangkahnya yang kelima Tiffany berhenti dan menolehkan kepalanya kebelakang,memandang makam Adit dengan lekat. “I Love You” Ucap Tiffany meneteskan air mata lalu kembali melanjutkan jalannya yang membawanya menjauh dari makam itu.

“ Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang.”
~ Kahlil Gibran ~

Cerpen Karangan: Apri Dwi Jayanti
Facebook: Apri Dwii Jayanti

Cerpen Memories merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilanganya

Oleh:
Aku memcoba membukakan mata ku, yang terbangun dari mimpi indah ku, sorotan sinar mentari memantul ke arah jendela kamar “ya ampun sudah siang” gumam ku dalam hati segera ku

A Reason

Oleh:
Dilla terus menulis dengan berusaha mengacuhkan sekitarnya. Dia berusaha mengendalikan diri, rapat sekbid ini memang terasa menyiksa karena ada Ray. Dia merasa jadi kurang terkendali kalau di dekat Ray.

Mine (Part 1)

Oleh:
Mentari pagi merekah membawa semburat senyum kemerahan dari peraduannya. Seakan mampu menepis awan gemerlap yang berwarna hitam keabu-abuan. Berarak perlahan-lahan ingin menutupi senyum mentari itu dengan bantuan angin yang

Antara Sahabat dan Cinta

Oleh:
Namaku Hanifah umurku 16 tahun, Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara kakakku bernama Ray dia berumur 18 tahun dia adalah orang yang tidak pernah sedih dalam hal apapun,

Melbourne University

Oleh:
Melbourne University merupakan salah satu universitas yang paling ternama di Negeri Kanguru. Aku kurang tahu banyak sih, cuman setauku major yang ditawarkan sangatlah beragam, mulai dari yang berbau bisnis,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Memories”

  1. Satria says:

    bgus sih crtanya,tpi klau crta dtnggal mati itu dah bysa kaleeee

    • Apri Dwi Jayanti says:

      Makasih udah mau baca dan makasih juga buat komen’nya….,
      ini cerpen pertama aku yang aku kirim ke sini jadi maaf klw misalnya ceritanya itu udah biasa bgt…,
      Sekali lagi maksih ya..,??

  2. mitha says:

    Bagus kok ceritanya, tetap semangat ya dan terus berkarya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *