Menatap Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 16 December 2017

Kembali hujan di sore hari mengguyur bumi ini. Di sini intensitas hujan memang cukup tinggi, tidak heran banyak yang bilang kota ini kota hujan. Yap, benar Bogor. Tanah kelahiranku.
Di sinilah aku dilahirkan, dibesarkan dengan baik oleh kedua orangtuaku. Meskipun sekarang aku tinggal di kota kelahiranku hanya sendirian, karena kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan 5 tahun yang lalu. Rasanya tidak ingin meninggalkan kota ini, karena begitu banyak kenangan yang tersimpan. Begitu banyak memori yang terukir di tanah bogor ini.

Tak ingin meninggalkan hujan di sore ini, aku pun menghentikan kendaraanku. Dan menatap hujan. Entah kenapa aku sangat suka sekali dengan hujan. Hadirnya hujan selalu menenangkan jiwa dan sanubariku. Aroma gemericik air yang jatuh ke permukaan tanah membuatku seolah terhipnotis dengan keindahan hujan di kota ini. Mungkin ini juga salah satu alasan aku yang enggan meninggalkan kota ini. Kota Bogor.

Aku terdiam sejenak. Menikmati hujan di sore itu. Memandang sekeliling orang yang berteduh, karena hujan. Aku melihat ekspresi wajah mereka yang setengah kesal karena hujan di sore ini mungkin saja menghambat aktivitas mereka. Aku juga melihat sepasang muda mudi tertawa bersama dan menikmati hujan sore ini. Hah. Aku tersenyum. Entah tersenyum untuk apa.
Kualihkan pandanganku ke tepian halte. Di sana terdapat juga orang berteduh, mereka saling diam. Menatap hujan di sore ini.

Nampaknya awan mendung di langit enggan pergi dari kota ini. Membuat hujan tidak kunjung reda. Orang orang yang berteduh pun akhirnya terpaksa menerobos hujan. Ini tidak lagi sore, jam telah menujukan pukul 19:05. Aku masih saja terdiam, di dalam mobil. Masih menatap hujan yang belum juga reda.
Aku masih enggan meninggalkan pemandangan indah ini, tapi harus bagaimana malam semakin larut. Akan sangat bahaya kalo aku tetap di sini bersama hujan.
Dan akhirnya kuputuskan untuk melajukan mobilku ke sebuah cafe favoritku.

“Selamat datang di Cafe Dissanova, selamat menikmati Malammu” teriak semua pegawai di Cafe dissanova.
Aku tersenyum.

Cafe ini adalah salah satu cafe terfavorit di kota bogor. Tak heran kalo di sini suasananya ramai, ceria dan penuh kehangatan.
Aku berjalan menuju tempat favoritku di cafe ini.

“Ada yang bisa di bantu mbak?” Tanya pegawai cafe dissanova. Yang memecah lamunanku.
Kemudian ia memberiku daftar menu makanan yang ada di cafe tersebut.

Aku membolak-balik buku daftar menu, beberapa kali aku bolak balik. Tidak ada yang menarik menurutku. Aku bingung.

“Bentar ya mas..” ucapku.
Pelayan itu hanya tersenyum sambil menunggu.

Aku buka kembali daftar menu itu lagi, dan akhirnya aku putuskan memesan Capucino ice dan roti bakar coklat.
Aku menghela nafas. Entahlah setiap kali aku ke cafe ini selalu saja memesan menu yang sama. Terkadang aku juga bingung kenapa aku tidak bisa memilih menu yang lain. Ataukah aku masih terikat bayang bayang di masa lalu?

2 tahun yang lalu…
“Sayaaanggg… Tunggu aku…” Teriak seseorang yang sangat kukenali suaranya itu. Aku berhenti sejenak.
“Aduhhh… Hoshhh… Kamu kok gitu sih cepet banget jalannya” ucapnya
Aku tersenyum.
“Mankanya kalo jalan jangan lelet sih” ledekku. Kami pun tertawa.
Dia Ashga Ruliano. Dia adalah teman, sahabat, keluarga, musuh, dan pacarku. Dia aneh, dia lucu, dia baik, dia egois, dia segalanya. Aku merasa beruntung bisa selalu bersamanya. Aku bersyukur bisa mengenal sosok seperti Ashga.

Ashga adalah salah satu murid populer di sekolah. Walaupun dia populer, dia tidak sombong dan angkuh seperti yang lainnya. Dia tetep supel, dia baik, dan care ke semua orang. Sekali lagi, aku sangat sangat bersyukur bisa mengenal dirinya lebih dalam.

Aku dan ashga menjalin hubungan, membuat komitmen untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Mengupayakan agar hubungan kami tetap baik-baik saja, walaupun terkadang sikapku dan tingkahnya membuat kami bosan dan jengkel satu sama lainnya.
Bersama Ashga aku tau apa itu arti kerinduan, bersama ashga juga aku tau bagaimana rasa khawatir ketika melihat seseorang yang kita cintai dalam keadaan yang tidak baik.
Ashga banyak memberiku pengalaman hidup yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya.

Ashga sama sepertiku, dia juga anak yatim piatu namun bedanya dia ditinggalkan kedua orangtuanya sejak ia masih kecil, dan Ashga tumbuh di panti asuhan.
Ashga anak yang pintar, dia selalu berprestasi di bidang akademik. Jadi dari Sekolah dasar sampai sekolah menengah atas dia selalu mendapatkan beasiswa. Menurutnya pendidikan itu penting dari segala hal yang ada di dunia ini, dia sadar bahwa dia tidak mempunyai siapa-siapa. Maka dari itu dia harus bangkit dan menunjukkan kepada dunia bahwa dia bisa untuk meraih kesuksesan.

Karena motivasi dan prinsip itulah yang membuat aku harus berpisah dari Ashga. Setelah hari kelulusan SMA kemarin aku dan Ashga harus mengakhiri hubungan ini, mengingkari janji yang telah kami buat bersama. Namun tak ada pilihan, Ashga mendapatkan beasiswa di Universitas yang cukup terkenal di Singapura. Entah aku harus sedih atau bangga saat menerima kabar itu dari Ashga. Rasanya sangat terpukul mendengar kabar itu, bukankah berarti kami tidak akan pernah bertemu lagi? Tidak akan pernah menghabiskan waktu bersama lagi? Aku terhenyak, ingin meneteskan air mata. Namun itu sangat aku tahan, aku takut Ashga akan merasa sedih dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke singapura.

“Citraa.. Kamu gak papa kan kalo kita gak sama-sama lagi?” Tanyanya malam itu.
Aku menunduk, mengatur nafas dan emosiku. Aku tidak ingin terlihat sedih di depan Ashga.
“Gak papa gaa, aku malahan bangga kok sama kamu. Kamu harus semangat ya di sana, rajin belajarnya, dan jangan lupa ibadah.” Ucapku meyakinkan Ashga.
Ashga memelukku erat, dia terisak di dalam pelukku. Aku tidak dapat lagi membendung tangisku, maka tumpahlah air mataku bersama air matanya di cafe favorit kami ini.
Cafe ini menjadi saksi bisu kebersamaan kami, kekonyolan kami, tingkah aneh kami.

“Tungguin aku ya cit, aku bakalan pulang nemuin kamu kalo aku udah sukses. Kalo aku udah sukses aku janji aku akan nikahin kamu cit.” ucapnya memegang tanganku.

Aku hanya menganggukan kepala. Bergumam dalam hati, semoga janjimu itu dapat kamu tepati ya Ga, aku masih percaya sama kamu. Aku akan selalu menunggumu di sini ga.

Tepat hari ini 2 tahun yang lalu aku dan Ashga harus berpisah demi cita-cita Ashga. Aku tidak pernah menyesali itu semua, karena aku percaya Ashga akan kembali pulang bersamaku, dan menepati semua janjinya kepadaku.

Ashga sayang, kejarlah cita-citamu hingga kau sukses. Aku akan tetap menantimu walaupun aku tau penantian ini akan panjang, tidak akan aku biarkan seseorang menggantikan posisimu di hatiku.
Di manapun kamu sayang, aku akan selalu di sini. Di kota bogor, tempat favorit kita di cafe Dissanova.

“Saat yang lain menunggumu dipuncak, aku akan menggandeng tanganmu, mengiringi langkahmu hingga sampai ke puncak.”

“The End”

Cerpen Karangan: Bella Lestari
Facebook: Bella Lestari
Gadis pak aman yang berseragam security, mencoba menulis lagi.

Cerpen Menatap Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Bertanya dan Sedikti Menjawab

Oleh:
Ketika satu detik waktu terpakai, lalu satu pikiran teruarai. Titik dimana satu harapan itu dipertanyaan, apakah itu akan bertahan yang artinya tetap menjadi sebuat harapan. Ataukah itu akan tercapai

Puzzle Cinta

Oleh:
Kenalkan namaku Shasa. Aku anak pertama dari satu saudara (maksudnya anak tunggal). Aku duduk di kelas XII SMA. Dan saat ini statusku JONES (JOmblo ngeNES) itu predikat yang diberikan

Mata Terindah

Oleh:
Dia datang dan menghampiriku. Lalu ia memberikan setangkai bunga mawar merah yang sangat cantik, seraya berkata, “Terimalah bunga ini. Bunga yang cantik seperti parasmu. Aku akan selalu hadir di

Believe It

Oleh:
“Mampus, aku kesiangan” kulihat jam beker’ku 06.35. padahal hari ini adalah hari pertama MOS untuk siswa baru di SMK Cahaya Bintang. Duh aku bisa kena hukuman karena telat, apalagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *