Mencintaimu Dalam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 November 2017

“Maaa! Mamaaa! Adiiiik! Huuufft, sunyi lagi deh nih rumah,” ucap Rara, kesal.
Ia lalu melangkah ke kamar, mengganti seragam sekolah, lalu segera meluncur ke dapur.

‘Bawalah pergi cintaku, ajak ke mana kau mau. Jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta’
“Halo… Iya, iya, belum Ma… Kapan pulang? Ishh lama amat sih… Oke, kalau sayurnya datang, ntar aku langsung masak. Iya, iya… Dahh….”
Wajah Rara semakin cemberut, mama dan adiknya bakal pulang menjelang malam. Jika ia tahu mereka akan berkunjung ke rumah paman, Rara pasti akan meminta izin buat nggak masuk sekolah dulu hari ini.

‘Ting tong! Ting tong!’
Bel rumah membangunkan Rara dari mimpi indahnya. Dengan raut wajah khas bangun tidur, ia segera membuka pintu, menyapa tamu yang tak sabaran menekan bel sedari tadi.
“Jangan jadiin aku alat yaa, buat latihan kamu nembak cewek!” ucap Rara, kesal.
Di depan pintu rumah, Hendrik dengan sikap ala-ala cowok romantis, menggenggam sayur kangkung lalu memberikannya pada Rara.
“Hahahaha… Sory, Ra. Ini, sayur pesanan mama kamu,” jawab Hendrik, dengan cengiran khasnya yang membuat Rara kesal.
“Masuk! Taruh di kulkas, tapi jangan comot cemilan aku,” ucap Rara, memperingatkan.
“Hihihihi… Iya deh, Tuan Putri,” jawab Hendrik, lalu segera melangkah menuju dapur.

Rara sedang memotong-motong sayur kangkung, sedang Hendrik membantunya mengupas dan mengiris bawang.
“Hiks, Ra. Tega yaa, kamu sama aku,” ucap Hendrik.
“Tega gimana maksud kamu?” tanya Rara dengan raut wajah bingung.
“Kamu sengaja yaa ngiris bawang, supaya buat aku nangis,” jawab Hendrik dengan intonasi menuduh.
“Iya,” ucap Rara, tersenyum penuh kemenangan.

‘Ting tong!’
“Eh, ada tamu, tolong bukain pintunya,” ucap Rara, lalu Hendrik segera menuju ruang depan.

Beberapa menit kemudian, Hendrik kembali ke dapur dengan raut wajah dilipat.
“Siapa Hen?” tanya Rara, penasaran.
“Rio, tapi aku sudah suruh pulang kok,” jawab Hendrik, kembali mengiris-iris bawang.
“Loh, kenapa kamu suruh pulang? Kita berdua tuh rencananya mau ngerjain tugas, tahu,” jawab Rara, berlari meninggalkan dapur.

Sepeninggal Rara, wajah Hendrik makin kusut. Diambilnya buku dan selembar surat cinta, yang disembunyikan di balik kaos.
“Dasar Culun, nggak ada yang boleh menjalin hubungan yang lebih dari teman, kecuali aku, Hendrik,” ucap Hendrik.
Ia lalu lekas menaruh buku di atas meja dapur, sedang surat yang di dalam lembaran buku, ia lipat dan simpan di dalam saku celana.

Raut wajah Rara cemberut, beberapa jam yang lalu ia mendiamkan Hendrik. Tak ingin berdebat atau mengucap satu kata pun pada Hendrik. Rencana belajar berdua bareng Rio, batal sebab sikap Hendrik yang mengambil keputusan sepihak. Jika ia tahu, kalau tamu yang datang adalah Rio, pasti ia takkan menyuruh cowok nyebelin itu membukakan pintu.

“Masih kesal? Yuk, kita belajar bareng aja. Aku nggak kalah cerdas tuh dari si culun itu,” ucap Hendrik, lembut dan tulus.

Sepanjang sore hingga menjelang malam, Rara hanya mendiami Hendrik. Namun Hendrik tak acuh, baginya, ia sudah merasa lega karena telah menggagalkan cowok culun itu untuk mengungkapkan cinta pada Rara.

Cerpen Karangan: Itin Lessy
Facebook: Yosphina Cl

Cerpen Mencintaimu Dalam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secret Revealed

Oleh:
Akhirnya rahasia itu terungkapkan sekian lama aku menunggu jawaban dari lelaki misterius itu. Rahasia yang terungkapkan selama 6 bulan aku menunggunya. Oh tidak, aku sangat sayang padamu. Siapapun dirimu,

Perjalanan Cintaku

Oleh:
Aku sebenarnya sudah lama mengenal ‘CINTA’. Tepatnya sejak kelas 7 MTs. Mengawali cinta pertama yang sudah kandas, aku pun kembali berlayar mencari hati yang bisa untuk ku singgahi, dan

Sedikit Nyesek dan Baper

Oleh:
Senangnya hari ini bisa nyantai nonton TV sambil chattingan sama gebetan. Yeah, dia masih gebetan bukan pacar karena aku itu sulit banget untuk mengutarakan perasaan. Sore nanti ada acara

Bukan Lelaki Pecundang

Oleh:
Pecundang… pecundang… pecundang, berkali-kali kata-kata itu teriang-iang di telingaku, entah dari mana asalnya, melintas saja bak kereta api listrik yang membelah pulau jawa. Aku terduduk disebuah pantai, sendirian, sembari

Menunggu Cinta Sampai Di Batas Waktu

Oleh:
Adelia Hinata itu Namaku, Aku terkenal sebagai Primadona di sekolahku. Namun aku tak bangga dengan kepopuleranku yang membuat aku dikejar-kejar cowok satu sekolah dan termasuk cowok Idola di sekolah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *