Mendengar Bisikan Alam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

Dinding yang terbuat dari kayu yang bolong-bolong itu terkena sinar matahari sehingga membentuk pola bunga-bunga di lantainya. Meja-mejanya yang terbuat dari pohon jati. Aroma kopi dan kesegaran udara dari tanaman-tanaman yang dari tadi menjamuku ketika aku masuk. Tidak ada asap rokok sama sekali, ruangan yang selalu bersih sampai ada pemilahan sampah organik dan anorganik. Lingkungan yang biasa dikatakan oleh orang-orang ‘hijau banget’ dan teduh itu memang benar nyatanya. Semua suasana yang sering aku jumpai di Cafe ini seharusnya biasa saja. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya suasana yang aku rasakan ini ternodai dengan sedikit ketegangan yang sedang aku alami.

Aku goyang-goyangkan terlebih dahulu gelas plastik yang berada di depanku seolah mengaduk isinya. Dengan satu tarikan nafas, aku lontarkan kalimat yang sudah menjadi rutinitas itu kepada lawan bicaraku.

“Aku ingin kita putus.”

Wajah gadis yang berada di depanku itu mulai berlinangan air mata. Menanyakan kenapa kita bisa putus dan berbagai pembelaan lainnya agar hubungan kami bisa terus berlanjut. Tetapi aku hanya menggeleng mendengar kata-katanya. Aku jelaskan kepadanya bahwa aku sudah tidak ada hasrat untuk melanjutkan hubungan ini. Kami berdebat hampir tiga puluh menit, syukurlah cafe ini sedang sepi tidak ada pengunjung selain kami berdua.

Di penghujung perdebatan kami, lawan bicaraku berdiri mengambil tasnya dan pergi meninggalkanku. Padahal dalam benakku, aku sudah menebak dan bersiap-siap untuk menerima penutupan dari ‘upacara’ ini. Tapi syukurlah, kali ini sepertinya itu tidak terjadi.

Satu dua langkah gadis itu meninggalkanku. Gadis itu tiba-tiba membalikan badannya, dia menatap wajahku, dan menghampiriku lagi.

“Kamu pantas menerima ini, Jivan!”

Melihat raut wajah dan ancang-ancangnya, aku menelan ludah.

‘Plak.’

Ternyata penutupan upacara terjadi juga —sebuah tamparan gadis sukses mendarat di pipiku. Gadis itu lalu pergi keluar dari Cafe ini. Suasana seketika hening, aku mengusap-usap pipiku yang barusan dibuatkan tattoo secara primitif oleh gadis itu. Tapi aku tahu, suasana hening ini tidak akan bertahan lama.

“Kahmp…” Seseorang terdegar jelas menahan ketawanya.
“Iya iya, tidak usah ditahan, Pak tua.”
“Kahahaha, ya ampun. Kamu melakukannya lagi, Jivan.”

Logat ketawa yang dimiliki oleh pria yang seharusnya sudah andropause itu seolah menohok gendang telingaku. Bapak ini benar-benar menikmati pertunjukan yang dilihatnya.

“Itu gadis ke berapa yang sudah kamu putusin?”
“Entahlah, tidak aku hitung.” Aku menyeruput sisa minuman yang berada di depanku hingga habis. “Pak, pesan coffee frappuccino-nya satu.”

Bapak itu meracik minuman yang aku pesan barusan. Bapak Pata namanya, Bapak yang memiliki Cafe ini seorang diri. Hampir setiap sore aku datang ke Cafe ini, mungkin karena aku malas mancari Cafe lain di kota ini. Bisa dibilang aku pelanggan setianya. Walau aku membenci kenyataan ini, hubungan kami juga bisa dikatakan cukup dekat.

“Seharusnya kamu bisa lebih baik lagi menjalin hubungan dengan gadis, Jivan. Sayang saja, di umurmu yang sekarang, 24 tahun, dan pekerjaan yang kamu embani, menurut saya kamu sudah siap untuk menikah, bukan?” Sambil meracik minuman, Pak Pata mengeluarkan wejangannya.
“Yaa, walaupun Bapak mengatakan demikian, mau gimana lagi?” tanggapku seadanya sambil memain-mainkan es batu yang berada di gelas plastik.

Yang dikatakan Bapak tua ini benar adanya, aku sudah hampir dua tahun tinggal di kota ini menjalani pekerjaanku di suatu perusahaan. Aku merasa diriku sudah mapan untuk menikah dari segi mental dan finansial. Hanya saja, aku masih belum menemukan pasangan yang membuatku benar-benar jatuh cinta.

“Belum menemukan pasangan yang benar-benar membuatku jatuh cinta, Pak,” ejek Pak Pata berusaha meniru gaya bicaraku seolah sudah bosan dengan alasanku itu. “Hei, bocah. Biar saya beritahu, tidak ada gadis yang sempurna di dunia ini. Percayalah, saya hidup lebih lama daripada kamu, dan kita bukan sedang berada di surga.”
“Ya tapi, bagaimana aku ingin menikah jika aku tidak mencintai pasanganku, Pak?” Balasku.

Aku membuang gelas plastik ke tempat sampah yang berada di sebelahku. Di saat itu juga pesananku sudah jadi, Bapak Pata mengantarkannya kepadaku.

“Satu coffe frappuccino, silahkan dinikmati.”

Setelah itu, Pak Pata menepuk pundaku dengan nampan.

“Sudah membawa minuman dari luar, salah buang pula. Gelas plastik bukan sampah organik. Saya yakin kamu sudah tahu itu.”
“I-iya.” Aku pun bergegas membenarkan pilahan sampahku.

Pak Pata sembari melihatku memilah, ikut duduk di mejaku.

“Setidaknya tumbuhkanlah rasa peduli pada sekitarmu. Bagaimana bisa cinta jika kamu tidak peduli, Jivan?”

Benarkah begitu? Tapi keadaanku lah yang mengharuskan aku untuk sedikit mengabaikan sekitar, Pak tua.

Setelah selesai membenarkan pilahanku, aku kembali duduk bersama Pak tua itu. Dia menyodorkan sebuah koran sembari menunjuk salah satu berita yang di dalamnya berjudul, 1000 Surat Petisi Untuk Hutan Kota.

“Lihatlah, Jivan. Hutan yang berada di kota ini akan ditebang oleh pemerintah. Kita harus ikut membantu membuat surat petisi ini agar hutan tidak jadi ditebang.”

Tetapi bukan hal ini juga aku harus peduli.

“Untuk apa, Pak?” Aku menolak ajakannya. “Tidak ada untung dan ruginya jika kita membiarkan hutan itu ada atau tidak ada.”
“Kita harus melindunginya, Jivan. Hutan di kota ini sudah sedikit.”
“Justru alam itu ada untuk kebutuhan manusia, Pak. Aku yakin pemerintah menebang hutan itu untuk kebutuhan kita-kita juga.”

Begitulah kebiasaanku berada di Cafe ini, bercengkerama. Lebih tepatnya berdebat dengan seorang maniak lingkungan alam ini.

Aku berjalan menelusuri kota, sebagai refreshing pada hari minggu menghilangkan penat rutinitas kantor. Sempat terngiang perkataan pak tua itu tentang hutan kota. Bahkan selama aku hidup di kota ini, aku belum pernah ke hutan tersebut. Percakapan beberapa hari yang lalu yang terlalu menggebu-gebu itu membuatku jadi penasaran, seperti apa sih hutan kota yang ingin ditebang oleh pemerintah?

Aku memutuskan untuk pergi ke hutan itu, hutan Ritumu namanya. Kota ini memiliki empat hutan yaitu, Ritumu, Guusu, Ariwa, dan Wetan. Hutan Wetan sudah lama ditebang sekitar 20 tahun yang lalu untuk kebutuhan lahan penduduk. Sekarang yang tersisa hanya hutan Guusu, Ariwa dan Ritumu. Dengan modal bertanya ke orang-orang, akhirnya aku sampai di hutan Ritumu.

Apanya yang hutan kota? Ini mah hutan rimba—sangat luas sekali hutan ini. Aku sekilas membayangkan hutan Guusu, Ariwa dan hutan Wetan jangan-jangan seluas hutan Ritumu yang aku lihat ini. Aku langkahkan kakiku masuk ke dalam, menelusuri jalan setapak yang ada, mungkin jalan setapak ini akan menuntunku mengelilingi hutan.

Suara burung, gemerisik daun, tonggeret berdendang di gendang telingaku. Aku berjalan menelusuri jalan setapak sambil melihat pohon-pohon sekitar. Di tengah jalan, aku melirik seorang gadis yang sedang duduk, tangannya dihinggapi kupu-kupu. Gadis itu mengangkat tangannya membiarkan kupu-kupu itu terbang dari tangannya. Kupu-kupu pun terbang menjauhi tangan gadis itu.

Aku segera menggeleng-gelengkan kepala. Berusaha untuk mengabaikannya. Tidak mungkin ada gadis seorang diri di tengah hutan seperti ini. Aku tetap melangkah mengikuti jalan setapak. Aku percepat langkahku, dan malah tersandung jatuh.

Celana robek di lutut, darah mengucur dari lututku. Aduh, bisa-bisanya aku malah terjatuh. Aku usap-usap luka itu dengan kain celana. Tiba-tiba dari samping gadis itu menyodorkan beberapa daun ke arahku.

“Ini daun senduduk, pakailah.”
“Kamu siapa?” tanyaku bingung, kenapa ada gadis seorang diri di hutan ‘rimba’ ini.
“Aku Delia, penjaga hutan ini.”

Gadis yang hanya memakai dress berwarna putih, tanpa alas kaki. Rambut hitam panjangnya yang tergerai sampai punggung. Tatapanku terhanyut melihat wajahnya yang cantik jelita ditambah matanya yang besar, seperti gadis yang berada di dongeng-dongeng. Tetapi ada tumbuhan yang tumbuh di pundak gadis itu.

Okey, ini sudah tidak masuk akal. Aku menggelengkan kepala dan segera berdiri, menjaga keseimbanganku, tetapi aku goyah. Gadis itu memegang tanganku menahan aku terjatuh.

“Kamu harus duduk dulu sampai pendarahannya berhenti.”

Aku pun terpaksa duduk menuruti perkataannya.

“Pakailah.” Lagi-lagi dia menawarkan daun itu

Aku menerimanya. aku tatap dalam-dalam daun ini. Maksudnya, jika daun ini aku tempel di lukaku langsung sembuh, gitu?

Di tengah kebingunganku, gadis itu berkata lagi, “Kunyah daun itu hingga lumat. Setelah itu tempelkan di lukamu. Percayalah, itu bukan racun dan pendarahanmu akan cepat berhenti.”

Melihat senyum yang tersungging di wajahnya, sepertinya perkataan gadis ini dapat dipercaya. Aku pun melakukan apa yang dikatakannya.

Dalam waktu beberapa menit saja, pendarahanku benar-benar berhenti, luar biasa! Ternyata tidak kalah juga daun ini dengan obat merah yang biasa dipakai untuk luka luar.

“Aku Jivan.” Aku menyodorkan tangan kananku ke arahnya, “Terimakasih sudah menolongku. Maaf, siapa tadi namamu?”
“Delia, iya sama-sama,” balasnya.
“Aku baru tahu ada tumbuhan yang bisa mengeringkan luka.” Aku membuka pembicaraan. “Daun serdadu?”
“Hihihi.” Delia menahan ketawa dengan tangannya, “Itu daun senduduk.”

Angin berhembus menimbulkan suara gemerisik di hutan Ritumu. Delia menarik nafasnya, menengadahkan kepala ke atas sambil memejamkan matanya.

“Suasana ini, bunyi gemerisik daun, serangga, burung-burung yang berkicau. Seolah-olah Alam ini sedang berkomunikasi.” Delia diam sejenak merasakan suasana. “’Bisikan alam’, itulah namanya. Tidak harus tahu, cukup dirasakan.”

Aku tertegun menatap Delia, seperti tersihir untuk terus memandanginya. Aku seolah bisa merasakan apa yang Delia rasakan, tetapi nyatanya tidak bisa, aku tidak mengerti. Di samping itu, gadis ini benar-benar terlihat anggun. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi siapa sebenarnya ‘orang’ yang berada di depanku ini.

Beberapa hari setelahnya, aku jadi sering mengunjungi hutan Ritumu. Bahkan Cafe Pak Pata terlupakan olehku. Banyak momen yang aku habiskan bersamanya.

Seperti di saat Delia menjelaskan kepadaku tentang kehidupan berbagai makhluk hidup di hutan itu.

“Jivan, apakah kamu pernah melihat gerombolan burung walet dan merpati bertengger bersama? Atau melihat burung dan tupai berada di dahan yang sama?” tanyanya.

Di saat itu aku dan Delia sedang melihat gerombolang burung walet bertengger di suatu pohon.

“Memangnya mereka tidak bisa bersama? Kenapa?” Tanyaku balik karena tidak tahu apa-apa.
“Karena semua makhluk hidup memiliki daerah kekuasaannya masing-masing, Jivan.” Delia menjelaskan sambil tersenyum ke arahku.

Senyumnya benar-benar seketika membuat nafasku terhenti, hatiku terasa sejuk. Siap mendengarkan penjelasan selanjutanya dengan lapang dada. Berbeda sekali dengan Pak tua maniak lingkungan itu jika menjelaskan sesuatu, aku malah jadi gondok, hatiku berkobar. Bahkan entah kenapa setiap intonasi kata-katanya otomatis membuatku bertentangan pendapat dengannya.

“Tetapi, tidak selamanya seperti itu. Makhluk hidup juga terkadang membutuhkan satu sama lain, bahkan saling bekerja sama.” Delia melanjutkan penjelasannya, “Di saat itu, mereka tetap menghormati daerah kekuasaan makhluk hidup yang lain. Tetapi ada juga saat-saat mereka saling berkompetisi bahkan menjadi parasit bagi makhluk hidup lain.

“Sebagai contoh makhluk hidup yang membutuhkan bantuan yaitu, seperti yang sedang kita lihat ini, burung dan pohon, burung membutuhkan dahan pohon untuk bertengger. Lebah dan bunga juga, lebah mendapatkan madu, bunga dibantu proses penyerbukannya oleh lebah. Tapi, tumbuhan benalu dan pohon agak berbeda, Ranting pohon yang ditumpangi oleh tumbuhan benalu lama-kelamaan akan menjadi kering. Tumbuhan benalu menjadi parasit bagi pohon yang ditumpanginya.”

Penjelasan Delia ini mengingatkanku dengan masa kecilku dulu pas SD kelas enam, guru IPA pernah menjelaskan tentang interaksi antara makhluk hidup. Ah, tapi aku lupa istilahnya apa.

Atau disaat Delia mengajarkanku memberi makan burung. sulit sekali memberi makan burung liar. Jangankan ingin memakan biji yang berada di tanganku, aku dekati saja malah pada kabur. Tetapi tidak dengan Delia, burung-burung itu menghampiri tangannya yang dipenuhi oleh biji-bijian, bahkan ada yang bertengger di kepala dan di pundaknya yang ada tumbuhannya itu.

Delia membujukku, melihat aku gagal terus-menerus, “Jivan, tenanglah, rasakan bisikan burung pipit itu.”

Aku yang sedang berusaha menyodorkan biji-bijian ke beberapa burung pipit itu tidak kunjung dihampiri. Lagi-lagi, burung itu malah kabur ketika aku sodorkan tanganku. Bisikan apa, sih? Kicauannya?

Delia mengambil biji-bijian yang ada di tanganku dan mencontohkannya lagi.

“Seperti ini, Jivan.” Burung-burung itu menghampiri Delia.
“Ya, itu bagaimana?!” protesku kesal, dari tadi juga aku melakukan itu.
“Hihihi.” Delia malah tertawa di tengah-tengah keseriusanku.

Atau di saat Delia mengajakku ke suatu tanah lapang. Di tengah-tengah hutan Ritumu ada lapangan, lumayan luas. Lapangan itu ditumbuhi bunga-bunga dandelion. Sama seperti halaman di tempat kerjaku, ditumbuhi bunga dandelion.

“Aku menyukai bunga randa tapak.” Delia memetik salah satu bunga itu, lalu meniupnya, biji-biji randa tapak pun bertebaran. “Jivan, menurutmu apa yang sedang kamu lihat?”
“Penyebaran,” jawabku singkat.
“Hihihi, maksudku apa yang sedang kamu lihat?” Tanyanya lagi dengan sedikit penekanan.

Aku benar-benar tidak tahu apa yang dimaksud, yang aku lihat hanya biji-biji dandelion yang bertebaran di udara.

“Ya penyebaran, Delia. Apa lagi?” tanyaku bingung apa yang sebenarnya dibicarakan.
“Lihatlah biji-biji randa tapak itu,” Delia mulai menjelaskan, “Dia mengikuti arah mata angin. Dia tidak pernah mengeluh kepada angin yang membawanya terbang entah kemana. Dia tahu, seliku-liku apapun angin membawanya, dia pasti akan kembali lagi ke bumi. Begitu pula dengan hidup, Jivan. Syukuri apa yang ada. Jangan menyalahkan keadaan. Karena hal baik pasti akan terjadi.

“Alam ada memang untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tetapi di sisi lain juga, keberadaan alam banyak memberikan kepada kita makna kehidupan. Alam benar-benar mengagumkan.”

Mendengarnya aku tertegun, mencerna kata-katanya. Aku sedikit menoleh ke arah Delia, tatapannya masih lurus memandangi biji-biji dandelion yang bertebaran teterpa oleh angin.

Kali ini, aku memberi makan hewan di hutan Ritumu lagi, mencoba memberi makan tupai. Ketika aku sodorkan tanganku ke arahnya, aku tatap dalam-dalam mata tupai itu, batinku mengatakan ‘kemarilah, aku tidak akan menyakitimu’. Lama-kelamaan mataku menjadi teduh, detak jantungku melambat menjadi teratur. Seolah aku melakukan kontak batin dengan tupai itu. Sedikit demi sedikit tupai itu menghampiriku, mengambil makanan dari tanganku, dan memakannya. Aku menatap Delia sambil tersenyum senang. Delia membalasku, memberi selamat kepadaku. Akhirnya aku bisa dekat dengan hewan-hewan di hutan ini.

Angin tiba-tiba berhembus, menimbulkan gemerisik dedaunan. Aku refleks memejamkan mataku. Merasakan suasana di sekitarku. Seolah-olah alam ini dekat dengan diriku dan batinku. Seketika aku bahagia, suasana ini menenangkan.

“Inikah yang kamu sebut dengan bisikan alam, Delia?” Aku menengadahkan kepalaku, menarik nafas dalam-dalam.
“Iya, indah, kan?”

Saking indahnya, aku sampai terdiam —tidak membalas Delia.

Delia telah mengajarkanku banyak hal, kepekaan, perasaan, makna dari setiap kejadian. Hatiku tersentil ketika memikirkan perkataan Pak Pata tentang penebangan hutan oleh pemerintah. Aku tidak menyangka aku sepeduli ini dengan hutan Ritumu. Tapi jika aku pikir-pikir kembali, aku lebih memikirkan dirimu, Delia. Apa yang terjadi denganmu jika hutan ini ditebang? Apakah kamu akan menghilang?

Kamu harus tanggung jawab, membuatku sekarang sebegitu pedulinya denganmu. Seharusnya dari awal aku tetap mengabaikanmu saja. Aku benar-benar sudah gila. Padahal dari awal aku sudah tau, tidak ada manusia apalagi gadis yang sendirian di hutan ini memakai dress dan tidak mengenakan alas kaki. Tidak ada seorang pun yang pundaknya ditumbuhi tanaman. Aku tahu, kamu itu cuma khayalanku saja. Aku kira aku sudah sembuh, tetapi sepertinya penyakit skizofreniaku kambuh lagi.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Mendengar Bisikan Alam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan Termanis

Oleh:
“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Rona memulai pembicaraan. “Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan sekolah di sana?” tanya kekasihnya. Rona hanya mengangguk perlahan. Matanya menerawang jauh ke arah

Si Anak Baru

Oleh:
Di sekolah Merli ada anak baru, lalu Merli menceritakan hal itu pada kakaknya. Topik yang sama Merli ungkapkan lagi di sekolah bersama dengan teman-temannya, semacam gunjingan ibu-ibu arisan. “hari

Ku Pilih Sahabat di Banding Dia

Oleh:
Pagi yang cerah menyapa. Burung yang indah kian bersiul, layaknya sedang membisikkan suatu kiasan kata. Geby, seorang gadis penghuni kota ‘Bandung’ terbangun karena sang mentari begitu menyorotnya. “Huaah… Ngantuk

Cinta Dan Tujuan

Oleh:
Cinta? kata yang tidak asing lagi tapi tidak sedikit orang yang tahu arti dari cinta itu. Banyak bertanya cinta itu apa? apakah cinta itu rumit? ya, cinta itu rumit

Aku Merindukannya

Oleh:
Silih berganti, datang dan pergi. Hari demi hari, ada saja yang datang dan pergi. Namun mereka tak berarti apapun, semuanya tetap sama walau ada yang datang dan pergi. Mereka

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *