Mendengar Bisikan Alam (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Lingkungan
Lolos moderasi pada: 3 April 2018

“Sudah lama sekali kamu tidak datang ke sini, Jivan,” ucap Pak Pata sambil membuat segelas coffe frappucino yang dipesan olehku.
“Iya, biasa, lagi mencari suasana baru,” jawabku sekenanya.

Sebetulnya aku datang ke Cafe ini ingin meminta sesuatu kepada Pak tua ini. Pak Pata mengantarkan pesananku ke mejaku.

“Coffe frappucino-nya satu, silahkan dinikmati.”
“Hei Pak tua,” panggilku.
“Apa, bocah? Tidak bisakah kamu sedikit lebih sopan kepada saya?”
“Tolong diam dulu, aku sedang serius.”
“Saya juga,” protesnya.

Aku diam sejenak, sedikit gengsi untuk mengungkapkannya kepada maniak lingkungan ini.

“Apakah surat petisi untuk hutan kota itu masih ada?”
“Apa kamu bilang, Jivan?” Pak Pata sedikit tidak percaya.
“Surat petisi itu bagaimana cara membuatnya? Aku ingin ikut menolak penebangan hutan juga.”
“Tunggu sebentar.” Pak pata sedikit kikuk, tetapi segera bergegas mengambil sesuatu di suatu ruangan di cafe ini.

“Ini dia.” Pak pata sudah mengambilnya, dan sekarang duduk di hadapanku. “Isi formulir ini dan tanda tangan, lampirkan juga fotocopy kartu identitas dirimu.”
“Aku belum punya fotocopy-nya.”
“Di-fotocopy saja dulu, tidak usah terburu-buru, batas pengumpulan masih seminggu lagi. Nanti fotocopynya berikan kepada saya, lalu formulirnya akan saya berikan ke pihak yang berwenang.”

Aku melihat kertas formulir yang penuh tulisan itu, dan ada satu kalimat yang tertera di lembarnya, ‘Dengan ini saya menolak penebangan hutan Ritumu’. Aku pun mulai mengisi formulir itu seadanya.

“Kh, kahahaha. Ya ampun, Jivan. Ngomong-ngomong apa yang membuatmu jadi begini?”

Sial, ini dia. Tidak suka melihat Pak tua ini seolah-olah mengatakan, ‘Yes, akhirnya Jivan ikut juga’. Tapi dengan berat hati aku mengakuinya.

“Aku melakukan hal ini karena keegoisanku.”
“Maksudmu?”
“Mungkin aku terdengar gila, tetapi kenapa aku lama tidak ke Cafe dan mau mengisi formulir ini karena aku bertemu dengan seorang gadis di hutan Ritumu. Dia mengajarkanku banyak hal. Aku takut, jika hutan Ritumu ditebang, aku tidak bisa bertemu lagi dengannya. Tapi aku pikir gadis itu cuma khayalanku. “Seketika aku sedikit menyesal telah menceritakan alasan yang sangat tidak penting ke Pak tua ini. “Silahkan tertawa, Pak tua.”

Aku kira Pak Pata akan tertawa karena aku gila atau semacamnya, tetapi dia malah bertanya balik.

“Gadis yang kamu temui, apakah pundaknya ditumbuhi tanaman?”
“Iya! Dan dia mengenakan baju dress dan tanpa alas kaki,” lanjutku dan penasaran, kenapa Pak tua ini bisa tahu?
“Berarti kamu telah melihat Ailya, penjaga hutan.”

Mendengarnya aku tercengang, aku kira aku gila. Di lain sisi aku sedikit lega, ternyata Delia bukan khayalan yang aku buat-buat.

“Ailya? Bapak juga pernah bertemu dengannya?” tanyaku.
“Tidak, tapi ini merupakan kisah dari para pecinta alam.”
“Pak, ceritakan semuanya, aku benar-benar ingin tahu.”

Pak Pata membenarkan posisi duduknya. Aku menyeruput minumanku sambil menatap Pak pata seakan-akan sedang menonton film bioskop yang sangat seru.

“Baiklah,” Pak Pata berdeham lalu memulai ceritanya. “Di kisahnya mengatakan, seluruh kehidupan hutan di muka bumi ini ada karena, Ashara. Ashara diutus untuk membentuk keseimbangan alam di hutan-hutan. Apakah kamu tahu rantai makanan, Jivan?”
“Maksud Bapak, produsen, konsumen primer, dan lain sebagainya itu?” Aku pernah dijelaskan tentang ini oleh Delia.
“Iya, dan itu baru merupakan salah satu bagian kecil dari keseimbangan alam yang dibentuk oleh Ashara. Masih banyak lagi hal-hal yang dibentuk oleh Ashara untuk mencapai keseimbangan alam ini, seperti dalam bahasa kita, simbiosis, habitat, pembiakan, wilayah kekuasaan, dan lain sebagainya. Akhirnya setelah sekian lama, keseimbangan alam di seluruh hutan terwujud, itulah yang sekarang kita sebut sebagai ekosistem.

“Setelah keseimbangan alam terwujud, Ashara merasa tugasnya telah selesai, dan harus kembali ke tempat asalnya. Popohonan, hewan-hewan, seluruh alam hutan ini merasa khawatir ketika Ashara hendak pergi, siapa yang akan menjaga kehidupan hutan-hutan ini nantinya? Tetapi, Ashara berpesan bahwa akan muncul di setiap hutan penjaganya masing-masing. Dia akan lahir dari suatu bunga yang mekar. Dia tidak mengerti bahasa hewan dan tumbuhan, tetapi suatu saat dia akan membaca kisah tentang Ashara yang telah terukir pada suatu tempat di hutan-hutan yang ditinggalinya.

“Pada akhirnya Ailya lahir di hutan demi hutan. Alam hutan begitu senang ada yang menjaganya setelah kepergian Ashara yang begitu lama. Seiring berjalannya waktu, Ailya mengerti akan tugasnya untuk menjaga hutan sampai waktu yang ditentukan.”
“Sampai waktu yang ditentukan?” tanyaku.
“Iya, sampai hutan yang dijaganya itu mati atau tiada. Seperti dugaanmu itu, ada yang bilang bahwa Ailya merupakan wujud dari hutan itu sendiri, sehingga jika hutan mati. Ailya juga akan ikut mati. Ada yang bilang juga ketika hutan lenyap, dia akan pergi ke tempatnya Ashara. Banyak spekulasi dari apa yang terjadi terhadap Ailya ketika hutan mati atau ditebang. Tetapi yang pasti, ketika hutan telah tiada, Ailya tidak akan terlihat lagi.

“Saya belum pernah melihat Ailya sekalipun, Jivan. Bukannya itu bertanda baik jika kamu bisa melihatnya? Ailya menunjukan dirinya kepadamu dan mengajarkanmu berbagai hal.”

Aku mengangguk atas ucapan Pak Pata. Di lain sisi aku juga merenung, aku benar-benar memikirkan nasib Delia ketika hutan Ritumu ditebang oleh pemerintah. Delia akan hilang jika itu sampai terjadi. Tidak terasa coffe frappucino yang berada di depanku sudah habis.

Lima hari berlalu, aku sudah punya fotocopy kartu identitasku. Aku memutuskan untuk memberikannya besok kepada Pak Pata. Sekarang aku berkunjung ke hutan Ritumu lagi untuk bertemu Delia. Di saat aku ingin bertanya tentang hubungan Delia dengan hutan ini, Delia mengajakku ke suatu tempat. Di sana aku dan Delia melihat suatu batu yang besar, depannya lempeng dan terdapat ukiran seperti tulisan yang tidak aku mengerti, entah itu bahasa apa.

Delia maju memegang batu itu.

“Jivan, Apakah kamu tahu kenapa kehidupan di hutan ini ada?”

Aku sudah mendengarnya dari Pak Pata, tetapi aku ingin mendengar kisah itu lagi dari penjaga hutan itu sendiri.

“Memangnya kenapa bisa ada?” tanyaku.

Delia mulai menceritakannya. Cerita Delia sama seperti yang diceritakan oleh Pak Pata. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kisah dari pecinta alam itu memang didapat dari Ailya secara langsung. Aku terus mendengar kisahnya sampai Delia mengatakan sebuah kalimat kepadaku.

“Tugasku menjaga hutan ini sampai hutan ini mati atau tiada.”

Mendengar itu aku langsung menimpalinya, karena aku tahu kisahnya, karena kisahnya persis seperti yang Pak Pata ceritakan kepadaku.

“Dan di saat itu juga kamu akan lenyap,” tukasku.

Agak pahit kedengarannya, memang begitulah kisahnya. Aku menukas perkataan Delia walaupun sebetulnya enggan. Tidak terima dengan jalan ceritanya walaupun itu yang paling masuk akal. Tetapi Delia menggeleng, seolah ada koreksi dari pernyataanku itu.

“Di saat itu aku akan terlahir kembali sebagai manusia, Jivan.”

Aku bergeming. Perkataan Delia sesaat membuatku bungkam. Pikiran dan perasaanku berkecamuk tidak menentu.

“Delia,” ucapku lirih, “Kenapa kamu tidak menjadi manusia saja?”
Tawaran gila itu terlontar begitu saja dari mulutku.

Delia menggelengkan kepalanya lagi dan berucap, “Aku saat ini adalah penjaga hutan, aku tidak bisa bertindak semaunya untuk terlahir kembali sebagai manusia.”
“Jadi, sesungguhnya kamu mau menjadi manusia?”

Iya, kamu bisa menjadi manusia dengan mudah tanpa harus mencoreng statusmu sebagai penjaga hutan, Delia. Biarkan pemerintah kota ini menebang hutan Ritumu.

“Tidak, Jivan. Kenapa kamu seperti ingin sekali aku menjadi manusia?”

Karena aku mencintaimu. Aku ingin benar-benar bisa memilikimu. Aku tahu ini gila, kemungkinannya sangat kecil. Tetapi entahlah, aku rela menunggumu walaupun memakan waktu belasan tahun untuk bisa bertemu lagi denganmu.

“Tidak, tidak ada apa-apa,” tetapi malah kata itu yang keluar dari mulutku. Aku seperti seorang yang pengecut.
“Hihihi. Aku sudah jatuh cinta dengan hutan ini,” ujar Delia. “Aku takut, ketika aku terlahir kembali, aku akan melupakan semuanya, melupakan ingatan-ingatanku selama aku menjadi penjaga hutan. Lebih lagi, aku takut aku akan melupakan dirinya.”
“Siapa itu, Delia?”
“Ashara.”

Mendengarnya aku sedikit tidak terima, hati kecilku seperti menolak Ashara sebagai alasan bagi Delia.

“Kenapa kamu takut melupakan Ashara?”
“Karena aku mencintainya.”

Mendengarnya hatiku seperti diremas sangat kencang. Tidak percaya. Aku yang sudah sedekat ini dengan Delia seolah tidak ada artinya, Delia malah mencintai orang lain yang entah itu siapa.

“Kenapa kamu bisa mencintainya, Delia?”

Iya, aku tidak terima, berikan aku alasan yang masuk akal.

“Karena dialah yang membentuk keseimbangan hutan ini. Semakin aku takjub dengan alam ini, semakin aku berterimakasih kepadanya. Setiap makna yang aku dapatkan dari alam ini, membuatku semakin memikirkan dirinya, seolah mereka adalah pesan-pesan yang disampaikan oleh Ashara. Jasanya begitu besar, sampai bisa membuat alam menjadi seperti ini. Oleh karena itu, aku mencintainya sebagaimana aku mencintai alam ini.”
“Tapi kamu hanya tahu Ashara dari tulisan yang ada di batu itu,” tukasku.

Delia mengangguk.

“Bahkan kamu belum melihat Ashara.”
“Iya, tetapi aku mencintainya, Jivan.”

Tidak, seharusnya akulah orangnya, di depan matamu. Kita sudah melakukan berbagai hal bersama-sama, membentuk banyak kenangan yang tersimpan abadi di pikiran kita. Akulah yang seharusnya kamu cintai.

“Kenapa, Delia?” Aku masih belum terima. Ini benar-benar tidak masuk akal.

Delia menggerakan tangan kanannya ke arahku, menyentuh dadaku dengan telunjuknya.
”Karena cinta itu ada di sini, dirasakan, sama seperti kamu merasakan bisikan alam, Jivan.”

Lagi-lagi, kata-kata Delia membuatku bungkam, bungkam seribu bahasa. Tetapi setidaknya aku sadar, cinta Delia benar-benar kokoh. Aku selamanya tidak akan bisa menang, Delia mencintai seseorang yang belum pernah dia lihat, yang selamanya tidak bisa aku bandingkan dengan apapun.

Sepulangnya dari hutan, aku berbaring di kasur sambil menerawang kertas fotocopy itu, menerka-nerka apakah kertas ini besok akan aku kasih ke Pak Pata atau tidak. Kejadian tadi sore bersama Delia membuat pikiranku terbuka. Makna cinta itu begitu luas. Cinta yang dimiliki oleh Delia tulus tanpa pamrih. Berbeda sekali denganku, aku masih egois. Memang seharusnya aku memberikan kertas ini kepada Pak Pata besok. Tetapi tetap saja, tetap saja aku tidak bisa memungkiri bahwa aku ingin bisa bertemu Delia dalam wujud manusia. Aku benar-benar mencintainya.

Aku teringat kata-katamu ketika kamu meniupkan bunga dandelion, ‘Hal baik pasti akan terjadi.’ Haruskah aku percaya dengan kata-katamu itu, Delia?

Keesokan harinya aku memberikan fotocopy kartu identitasku ke Pak Pata. Aku harus menerimanya dengan lapang dada, tidak boleh ada penyesalan. Iya, yang aku lakukan sudah benar. Ini untuk kebaikan kita semua, kebaikan hutan, hewan-hewan, penduduk, kota, dan kamu, Delia.

Dua minggu kemudian pemerintah mengumumkan bahwa hutan Ritumu tidak jadi ditebang, surat petisi memenuhi persyaratan. Kata Pak Pata, percaya atau tidak surat-surat petisi yang dikirimkan kepada pemerintah tepat mencapai angka 1000, tidak lebih. Mendengarnya aku sedikit terkejut. Andaikan di kala itu aku tidak menyerahkan kertas fotocopy itu kepada Pak Pata, Hutan Ritumu benar-benar akan menjadi rata.

Aku menatap hutan Ritumu dari kejauhan, besar, indah, dan megah. Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat kejadian di saat aku gundah. Waktu itu aku benar-benar gila, ingin hutan sebesar ini ditebang demi menjadikan kamu manusia. Tapi sekarang, benar yang dikatakan olehmu, Delia, semakin aku memikirkan hutan ini semakin aku mencintaimu, bukan mencintai ingin memilikimu, hanya saja sulit untuk dideskripsikan. Terimakasih selama ini telah menjaga Hutan Ritumu. Teruslah menjadi Ailya, agar alam tetap bisa memberikan makna kehidupan untuk manusia.

“Perkenalkan, Namaku Sheila. Peserta magang di divisi Sumber Daya Anggota. Mohon bimbingannya.”

Sheila, peserta magang yang sedivisi denganku. Hidungnya yang mancung, jarak antar kedua mata yang dekat, dan rambutnya yang sepundak bewarna coklat itu sukses mencuri perhatianku lagi, setelah Delia.

Tetapi aku tidak ada rasa ketertarikan terhadapnya, sampai aku melihatnya pada jam istirahat. Di saat itu aku jalan menuju gerbang kantor untuk keluar mencari makan, aku melihat Sheila duduk di bangku halaman. Jarang sekali aku melihat orang yang duduk-duduk di bangku halaman itu, apalagi sendirian. Sebagai senior sedivisi, aku menghampirinya untuk mengajak Sheila makan.

Ketika aku menghampirinya, sesaat aku bergeming. Ternyata dia sedang meniup bunga dandelion. Cara dia memegang bunga, bahkan tatapannya mengingatkanku kepada Delia, persis sekali.

“Apakah kamu suka bunga dandelion?” tanyaku seolah-olah kehadiranku sedikit mengagetkannya.
“Eh, kakak. I-iya aku suka. Ada apa kakak kemari?”
“Tidak aku hanya ingin mengajak kamu makan, melihat kamu sendirian berada di sini. Mau?”
“Boleh.”

Di tempat makan aku berbincang-bincang dengan Sheila, menanyakan asal-usulnya, kuliah di mana, dan lain sebagainya. Tiba-tiba Sheila menanyakanku sesuatu tentang bunga dandelion.

“Kak, aku suka sama bunga dandelion. Setiap aku melihatnya, sepertinya dia mempunyai suatu arti. Kalo menurut kakak, bunga dandelion mempunyai arti apa?”

Aku yang ditanya terdiam sejenak.

“Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa dandelion itu mengajarkan kita untuk mensyukuri hidup, hal baik pasti akan terjadi. Tetapi, kalo menurutku bunga dandelion itu mengajarkan kita tentang merelakan.

“Kenapa biji dandelion suatu saat akan lepas dari tangkainya? Padahal tangkai dan biji dandelion sudah saling bergandengan sekian lama, kenapa harus berpisah? Mungkin banyak yang mengatakan karena keadaan yang mengharuskan mereka untuk berpisah, angin yang berhembus memisahkan keduanya. Tetapi kalau menurutku, tidak. Perpisahan keduanya lebih karena tangkai dandelion percaya bahwa merelakan biji dandelion merupakan hal yang terbaik untuk mereka berdua.”

Iya, sama seperti aku dan Delia, merelakannya merupakan hal yang terbaik untuk kami berdua.

Mendengar itu Sheila merasa takjub dengan penjelasanku.

“Wah, bagaimana kakak bisa tahu perasaan tangkai dandelion?”
“Tidak harus tahu, aku hanya merasakannya,” jawabku.
“Merasakan apa?”
“Bisikan alam, bisikan tangkai dandelion.”

Aku kira Sheila akan tertawa, tetapi Sheila malah tertegun. Di titik itu juga yang membuat hubungan kami semakin lama semakin dekat. Kami jadi sering menghabiskan waktu bersama-sama.

Untuk Delia,
Akhir-akhir ini aku bertemu dengan seseorang yang bernama Sheila. Dia menyukai bunga randa tapak. Aku pernah melihat dia memberi makan burung-burung di halaman depan kantorku, hewan-hewan tidak sungkan mendekati dirinya. Dia baik kepada hewan maupun tumbuhan yang dijumpainya, memandangnya seolah-olah dia bisa berkomunikasi dengannya. Dia selalu menemukan makna dari apa yang dilihatnya. Melihat dirinya selalu membuatku ingat kepada dirimu, dia begitu persis seperti dirimu, Delia. Sekali lagi aku berterimakasih, benar yang dikatakan olehmu, ‘hal baik pasti akan terjadi.’

Aku sempat berpikir, jangan-jangan Sheila merupakan reinkarnasi Ailya dari hutan Wetan. Hutan yang telah ditebang 20 tahun yang lalu.

Siapa tahu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Pradipta Alamsah Reksaputra
Blog: pradiptaar.wordpress.com

Cerpen Mendengar Bisikan Alam (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Khitbahlah Aku!

Oleh:
Brukk…!!! Tubuhku terpental jauh kepinggiran jalan dan serasa tubuhku kesakitan karena tubrukan tubuhnya. namun lelaki di depanku ini hanya mengulum senyum sambil menggaruk-garuk kepalanya. “kamu siapa sih?” tanyaku padanya

Because Of You

Oleh:
Malam itu, Dinda termenung di sebuah bangku taman di sudut rumah sakit yang memang sering ia kunjungi. Tanpa ia sadar seseorang sedang memperhatikan gadis cantik itu sambil perlahan-lahan mendekatinya.

Lentera Bintang (Part 2)

Oleh:
Mentari menyapa dengan pendaran cahayanya melalui jendela kamar. Embun tertetes dengan kesegaran. Langit penuh dengan coretan pigmen. Lembayung angin menerpa sedertan bunga kesayangan mama di taman. Meniup air mancur

Pesawat Kertas

Oleh:
Sahabat Pesawat Kertas Senja telah tiba Siang telah berlalu… Gelap malam telah menanti dengan senyum beribu bintang…. Yang setia menemani bulan…. Seperti Kyky Larasasti yang setia mendengar cerita Andika

I Am Strong

Oleh:
Tahun ajaran baru, dimana anak-anak kembali ke tempat yang membosankan dan menakutkan ya tentu saja Sekolah. Sekolah ini dikenal dengan siswa-siswanya yang berprestasi dalam bidang bela diri yaitu karate.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mendengar Bisikan Alam (Part 2)”

  1. ruhase says:

    keren ceritanya terus lanjutkan karya2x

  2. Dinbel says:

    Bagus banget cerita nya, good jobs deh untuk pengarang, di tunggu karya selanjutnya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *