Menebus Janji

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 14 April 2016

Aku tak mungkin menyalahkan langit, karena di senja sore ini langit kelabu. Aku pun tak mungkin menyalahkan awan, sebab di penjuru langit itu ia hentakkan gundala, hingga satu per satu rintikan air jatuh menghujam daratan yang aku pijak. Atau haruskah aku menyalahkan waktu? Kenapa harus senja ini aku menjemput janjiku? Ataukah harus ku nodai janji itu karena hujaman air ini? Tepat di dalam sebuah halte tempat pemberhentian Angkutan Umum itu aku terperangkap. Hujan tak kunjung reda, sementara tubuhku sudah menggigil tak tertahan. Sebenarnya ingin sekali ku tembus deraian air hujan ini, namun rasanya tubuhku serasa membeku, kakiku kaku dan terasa sangat berat untuk melangkah, seolah tertanam di emperan halte tempatku berteduh.

Aku menatap langit, berharap rinai-rinai air itu akan sedikit melembut. Sementara sepedaku, terparkir depan pandanganku sedang basah terguyur hujan. “Ah, bagaimana ini?” pekikku pelan bernada kesal nan kecewa. Aku tak bisa memberi kabar apa pun pada seseorang yang mungkin telah menantiku di ujung jalan sana. Tak ada satu barang pun yang aku bawa selain sepeda di depanku. Semuanya terkikis habis karena diambil oleh seorang pencopet yang dengan lihainya mengambil tas yang tersimpan di belakang tubuhku dalam halte itu tanpa ku sadari. Meskipun bisa saja nanti aku berkilah karena hujan dan pencopet itu, namun tetap saja aku tak mau disebut sebagai seorang wanita munafik yang menciderai janjinya. Menciderai sebuah janji yang berisi bahwa aku akan menemuinya. Sebuah janji yang akan mempertemukan Sekar dan Ranu di ujung jalan sana. Tapi, aku adalah seorang wanita. Wanita yang tidak terlalu kuat menembus rinaian hujan ini. Wanita yang sudah tidak sanggup untuk mengayuhkan sepedanya lebih jauh lagi.

Sementara dengan tubuh yang masih menggigil, aku teringat akan perkataan Laras sahabatku pagi tadi. Dalam untaian kalimatnya, ia berucap, “Sekar, mungkin tak seharusnya sore nanti kau menemui laki-laki itu. Sepertinya sore ini akan hujan, seharusnya dia yang menemuimu. Kau adalah wanita, dan dia seorang laki-laki. Meski mungkin dia bukan seorang lelaki gagah yang sore nanti mampu melawan petir dan menembus hujan, tapi dia tetap laki-laki yang harus sedia untuk berkorban, terlebih untukmu. Wanita yang telah lama menjaga hati untuknya,” Ah, mungkin Laras benar. Dan dengan waktu yang singkat, aku termakan oleh kata-katanya.

Rasanya sesak, kecewa, juga kesal. Aku mencibir dalam hati. Seharusnya aku tak usah menemui laki-laki itu senja ini. Apa yang aku harapkan darinya? Kekhawatiran yang berujung pada kekecewaanku lagi? Dia belum tentu bisa menghadirkan pelangi seperti yang aku pinta. Dari dulu dia selalu mengacuhkanku. Tak pernah peduli bahwa susah payah aku menjaga hatiku untuknya. Dia tak pernah peduli dengan rasa sakitku atas harapan kosong yang selalu diberikannya. Dan senja ini, dia ingin aku menemuinya di ujung jalan itu. Tega sekali laki-laki itu.

Dengan sesal dan amarah, aku berdiri. Aku berkata dalam hati, “Laras benar, aku tak harus menemuinya di ujung jalan sana. Bisa saja dia hanya memberikan harapan yang berujung kekecewaan lagi untukku. Aku tak ingin rasa sesak dan sakit melanda hatiku lagi karena harapan yang kosong,” Aku tumpangi dan mulai ku kayuh sepedaku dengan kuat dan cepat. Sungguh sesak sekali kala itu. Memori dalam pikiranku mulai terisi penuh oleh pemikiran buruk tentang laki-laki yang tak mungkin bersanding denganku itu. “Salahmu Sekar, sering ku ingatkan bahwa kau jangan berharap banyak. Kau hanya wanita malang yang senja ini terkutuk dengan kekecewaan,” Batinku mengernyit berucap kata yang amat membuat dadaku tercekat.

Bulir-bulir hujan rasanya telah merabunkan mata dan pikiranku. Bahkan tak ku hiraukan puluhan orang yang mencibir karena melihatku terseok-seok mengayuh sepeda di tengah derasnya hujan dan angin kencang. Yang aku tahu, saat itu hatiku sakit teramat sakit. Miliaran jarum serasa menusuk-nusuk relung hatiku dengan ganasnya. Tak ku pedulikan kemunafikan yang menyergapku. Tak akan ku pedulikan penilaian apa pun yang aku dapat setelah aku menodai janjiku sendiri. “Sungguh, aku tak mengerti, ini sangat sakit. Biarlah senja kelabu ini menjadi saksi, bahwa aku, Sekar, adalah wanita malang yang begitu munafik. Mengagungkan janji, namun tak sanggup menggapainya. Tapi apa daya, aku hanya tak ingin kecewa lagi atas harapan yang kosong dan tak pasti,” Aku berteriak di derasnya hujan, menangis, menembus hujan, mengalahkan badai. Hingga aku berlalu dari senja yang kelabu.

19 Desember, tepat satu bulan setelah kejadian senja kelabu itu. Telah lama ku hanyutkan duka yang bergeming pada tetesan air pengharapan di pelupuk mata. Telah lelah ku bercerita pada lembar demi lembar catatan kesedihanku tentang senja kelabu dan laki-laki itu. Telah ku simpan dengan rapi ingatan menyesakkan itu dalam sebuah sejarah masa lalu yang tak perlu aku ambil sakitnya. Namun tetap saja, sampai langit mulai menua, hati kecilku tetap menantinya. Meski akal dan pikiranku menentang itu semua. Terlebih Laras yang selalu saja menganjurkanku untuk menimbun dan membuang perasaan tulusku pada laki-laki itu.

“Kar, jangan melamun!” ucap seorang wanita yang sangat aku kenali suaranya itu membuyarkan semua pikiranku.
“Eh kamu Ras, apa sih ngagetin aja. Aku gak ngelamun kok,”
“Sudahlah Kar, aku tahu. Tak seharusnya kamu terus-terusan seperti ini. Kamu tahu kan kalau bulan dan matahari itu tak mungkin bekerja berdampingan dalam waktu yang sama? Lupakan Ranu-mu itu. Lihat, apa sampai saat ini dia memberimu kabar atau menemuimu ke sini? Tidak bukan? Laki-laki bukan hanya satu, meskipun laki-laki yang kamu cintai itu hanya satu dan laki-laki tersebut adalah Ranu, tapi kamu pantas bahagia. Bahagia bersama orang yang kau sayangi, tapi dia juga menyayangimu,”

“Hmm, aku mengerti Ras. Sudahlah, biar saja. Aku yang merasakannya,”
“Sekar, kamu itu adalah wanita yang baik. Dan suatu saat kamu akan mendapat yang baik juga. Jadi kamu jangan lagi berharap pada Ranu. Siapa dia? Seenaknya mempermainkan perasaan kamu. Sudah cukup kamu jaga hati kamu hanya untuk dia yang belum tentu jodoh kamu. Lupakan Ranu, jika memang dia berniat membalas apa yang kau rasakan untuknya, tentu saja dia akan menemuimu,”
“Iya Ras,” Mataku sedikit terasa panas dan perih. Sudah tak sanggup rasanya untuk terus aku tahan air yang tertampung di ujung pelupuk mataku ini.

Ingin rasanya ku hamburkan air ini sampai mataku kering. Hingga tak akan ada lagi tangis yang ke luar. Ingin rasanya aku ambil hati ini. Hingga tak akan ada lagi virus kesakitan yang bersarang dalam relung hati. Aku menangis sejadi-jadinya. aku tumpahkan semua kesakitan yang aku rasakan lewat buncahan air mata. Sangat deras, ku rasakan hangatnya air mataku membasahi seluruh permukaan pipiku yang tertutup oleh lenganku sendiri. Aku terisak sangat dalam. Laras sahabatku pun, hanya diam tertegun menyaksikan aku menangis terisak.

Isakkanku menjadi terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu. Pelan, terbias oleh suara hujan di luar rumah. Laras beranjak untuk membuka dan melihat siapa orang yang berada di balik pintu saat hujan sedang deras-derasnya di musim penghujan ini. “Biar aku saja Ras, di sini kan kamu sedang menjadi tamuku,” Aku berkata pada Laras yang hampir setengah jalan menuju pintu. Entah karena angin apa, sangat ingin aku membuka pintu dan melihat siapa yang datang ke rumahku. Bahkan aku tak peduli dengan mataku yang sembab sehabis menangis. Aku cepat-cepat bergegas membuka pintu.

“Kreeeuk,” Suara pintu terbuka, ku lihat sosok laki-laki berkemeja biru berdiri dengan sebuah tongkat membelakangi pintu. Aku membuka suara, “Maaf Mas, mau ke siapa dan ada perlu apa ya?”

Tak ada jawaban dari laki-laki itu. Bahkan untuk menoleh dan melihatku pun tak ia lakukan. Beberapa detik dari itu, ia berlalu dan pergi meninggalkanku. Ia berjalan dengan bantuan tongkatnya tanpa sedikitpun menoleh atau melihatkan rupanya. Rasa kesal mulai mendera batinku. Aku merasa dipermainkan oleh laki-laki itu. Namun aneh, ada penasaran yang menyeru hati dan pikiranku. Rasa penasaran yang membuatku ingin tahu siapa sosok laki-laki itu.

“Tunggu Mas!” teriakku menghentikan langkah kaki laki-laki itu. Sejenak ia hanya terdiam, begitu pun aku. aku dengannya sama-sama diam tertegun di tengah rintikan hujan yang semakin menderas. 2 menit berlalu, ia berbalik. Ia menatapku, dan ia berlutut di depanku. “Apa ini? pemandangan apa lagi yang aku saksikan di depan pandanganku ini? laki-laki itu? Ah tidak, ini khayalanku saja. Tidak mungkin, aku masih terbawa suasana akan perasaanku atas laki-laki itu. Ya, ini hanya khayalanku tentang Ranu,” Aku bergumam dalam hati. Sesekali ku tampar pipiku, terasa sakit. Namun sakitnya tak bisa mengalahkan rasa kaget dan rasa sesak yang tiba-tiba menyerang batinku. Mataku kembali memanas.

Dengan lirih laki-laki itu berkata, “Sekar, ini aku. Ranu. Ini nyata, aku berada di depanmu. Tepat dalam pandanganmu. Maafkan aku. Ada apa denganmu Sekar? Aku menunggumu kala itu, aku menantimu di ujung jalan itu. Mengapa kau tak datang? Apakah kau sakit kala itu? Atau karena hujan kau tak menemuiku? Atau karena kau lupa akan janji yang harus kamu sambut? Atau mungkin kamu tak ingin bertemu denganku? Kenapa Sekar?”
“Kamu harus tahu, kala itu aku ingin memperlihatkan sesuatu. Aku ingin kau tahu sesuatu. Maafkan aku karena aku yang menyuruhmu datang menemuiku, bukan aku yang menemuimu. Bukan aku tak cukup gagah berani menemuimu, tapi aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu,”

Ranu bertarik napas, “Aku telah menyiapkan kejutan kecil untukmu di ujung jalan itu. Tepat di depan rumahku. Aku telah meminta orangtuaku untuk menemaniku menunggumu. Namun kau tak datang. Kau tahu Sekar? Kala itu, aku ingin memperkenalkanmu pada orangtuaku, namun salahku yang kala itu tak sanggup untuk sekadar berjalan menjemputmu. Kau tahu? Kala itu aku ingin orangtuaku tahu bahwa kau adalah wanita terbaik yang aku pilih. Wanita setia yang telah lama menjaga hatinya hanya untuk orang yang benar-benar kau cintai. Aku ingin memperkenalkanmu bahwa aku ingin kamu yang menjadi istri dan Ibu dari anak-anakku kelak,”

Deg. Sakit rasanya hatiku mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Aku tak sanggup melontarkan sepatah kata apa pun. Mataku lebih dulu merespon perkataannya dengan deraian air mata. Ranu kembali meneruskan perkataannya, “Maafkan aku Sekar, mungkin caraku salah. Aku menghantuimu dengan sebuah perasaan yang menggantung. Aku menghantuimu dengan sebuah harapan yang kau takuti berujung kekecewaan. Sementara kau, tetap setia menjaga hati dan cinta untukku yang bahkan kau tak pernah tahu balasan apa yang akan kau dapat. Tapi Sekar, dengarkanlah, dulu, saat ini, dan nanti aku mempunyai perasaan yang sama.”

“Aku sama seperti kau, menjaga hati dan cinta hanya untuk wanita terbaik sepertimu. Dulu tak ku sampaikan, karena aku sadar siapa diriku. Aku belum siap untuk membuatmu bahagia secara utuh. Aku tak ingin perasaan kita menjadi sia-sia tanpa makna. Aku ingin kita merasakan bahagia yang utuh. Saat ini, ku rasa aku telah siap untuk melakukannya. Aku telah sanggup dan siap untuk membahagiakanmu secara utuh. Aku ingin kau menikah denganku. Membangun sebuah kebahagiaan yang utuh. Membangun harapan tanpa takut akan dikecewakan. Membangun sebuah cerita tanpa ada akhir kata putus. Aku ingin kau menjadi wanitaku yang sah. Yang pantas mendengar dan merasakan setiap kasih, sayang, juga cinta yang aku punya. Maafkan aku telah membuatmu menunggu. Maafkan aku telah membuatmu meragu. Tapi sungguh, aku mempunyai perasaan yang sama. Dan aku, sama seperti kau, sekian lama aku hanya menjaga hati dan cintaku untuk kamu. Ku mohon, esok penuhi janjimu padaku. Temui aku. Temui aku di ujung jalan itu. Dan katakan bahwa kau mau menikah denganku.”

Cerpen Karangan: Silvi Novitasari
Blog: silvinovitasari30.blogspot.com
Facebook: https://www.facebook.com/Novitasarisilvi

Cerpen Menebus Janji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Bersemi di Warung Mie Ayam

Oleh:
Aku mengenal Daniel sejak satu bulan yang lalu, ketika aku hampir tertabrak motor saat hendak menyeberang menuju warung mie ayam. Daniel pun menyelamatkanku. Setelah itu dia meminta nomor handphone-ku

Awal Dari Kebiasaan

Oleh:
Kebiasan adalah sesuatu yang bisa membuat saya bisa melawan segalanya. Iya kebiasaan yang selalu menghantarkan perasaan ini pada wanita berkulit sawo matang, berambut lurus, berbadan mungil dan cantik hatinya.

Selamat Pagi

Oleh:
Selamat pagi. Do’aku, semoga kehendak-Nya tak merubah perasaan itu menjadi benci. Dan di sini, biarkan aku sendiri, menyaksikan kisah-kisah lain yang biasa aku lalui bersamamu, wahai pujaan hati. Persilahkan

One By One

Oleh:
Yang bisa bertahan hidup dialah yang akan menjadi penguasa. Begitulah hukum rimba yang berlaku. Kita hanya bisa mensyukuri betapa nikmatnya hidup walau terkadang kita juga harus hati-hati dengan kematian.

Cinta Jarak Jauh

Oleh:
Aku melangkahkan kakiku ke ruang makan. Seperti biasanya setelah selesai mandi kami harus berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Aku terdiri dari dua orang, aku -Raina- dan kakak laki-lakiku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *