Mengagumi Dalam Diam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 May 2014

“Itu orang yang kusuka, Rin”
“Yang mana sih?”
“Itu loh, di kursi nomor tiga pakai jaket biru tua”
“Adek kelas?!”
“Iya emang adek kelas, kan gue udah bilang”
“Kirain bercanda. Seriusan?”
“Iya serius”
“Bentar deh Din, dia kan cowoknya Lita X IPS 1 kan? Gue sering lihat mereka jalan berdua”
“Iya” jawabku lirih
“Ya ampun Dina, kesambet apaan sih? Dia kan udah punya cewek. Kok lo masih nunggu sih” Tanya Rinda dengan heran
“Cinta kan gak harus memiliki, Rin”
“Udah berapa lama suka dia? Dia tau gak?”
“Yaaa semenjak gue ngeospekin dia. Enggak”
“Ospek siswa baru? Kenapa gak ungkapin?”
“Iya. Gak punya nyali. Harga diri bray” jawabku dengan ragu
“Justru lo bakalan lebih kehilangan harga diri kalau gak ngungkapin”
Aku hanya diam. Rinda bener juga. Sesaat kemudian Rinda kembali berucap.
“Din, lo nyaman jadi secret admirer? Gak nyesek?”
“Gue nyaman. Lihat dia senyum aja udah bikin gue seneng”
“Duh Dina, kenapa lo jadi pengecut gini sih?”
Aku menanggapi omongan itu dengan menaikkan bahuku. Aku sendiri nggak tau kenapa aku kehilangan jati diriku.
Aku terus menerus merefleksikan hal ini, “Rinda bener, ya, aku harus ungkapin. Emm tapi kan dia udah punya pacar. Ntar disangka akunya perusak hubungan” ucapku dalam hati sambil meletakkan novel yang dari tadi kupegang tanpa aku baca.
“Dek, gue suka sama lo. Tsah apaan sih” aku kembali berucap dalam hati.

Paginya aku terbangun karena bunyi jam wekerku “Ini kan hari minggu, libur deh” aku berbicara sendiri. Lalu aku baru ingat kalau aku berencana pergi ke tempat Saka latihan futsal. Ya, Saka, adik kelas yang selama ini kukagumi dalam diam.

Sesampainya di tempat latihan futsal, aku lihat Saka sama Lita, ceweknya. Dia kelihatan seneng, aku ikut seneng walaupun sebenernya aku ingin aku yang ada di situ, aku yang bikin dia seneng. Tsah aku makin ngaco, mana mungkin lah, memangnya aku ini siapa. Tiba tiba ada yang menepuk bahuku, ternyata Tama, sahabatku waktu SMP.
“Din? Ngapain di sini? Nungguin pacar lo ya?”
“Eh Tama, enggak. Tadi lewat terus mampir deh, sejak kapan lo jadi anak futsal?”
“Serius? Gue tau lo ngelihatin siapa loh. Baru sekitar 1 tahun”
“Ohh, siapa emang? Jangan sok tau deh”
“Iya tau gue, tuh yang di kursi samping sama ceweknya itu kan?”
“Ih kan sok tau lo”
“Udah deh gak usah boong. Gue tau lo seniornya dia, dia masuk SMA lo kan? Lo naksir?”
“Apaan sih, ngaco deh. Iya emang gue seniornya dia, tapi gue gak naksir sama dia. Masa gue naksir brondong”
“Udah deh Din, gue kenal banget siapa lo. Hahahaha” jawab Tama sambil meledek
“Sini deh Din, ikut gue, biar lebih enak gak sambil berdiri gini. Capek tau” Tama menarik tanganku dan membawaku ke tempat duduk.

“Udah sekarang lo cerita sama gue” Tama ngepoin aku
“Iya gue naksir dia, udah kan?” jawabku kesal
“Hahahaha, dia tau gak?”
“Enggak”
“Kasih tau dong”
“Gak mau, harga diri”
“Harga diri, gaya lo. Ntar nyesel loh. Gak sakit lihat dia sama cewek lain?”
“Kenapa harus sakit? Selama dia bahagia, gue juga bahagia”
“Omongan lu. Eh lihat tuh dianya ngelihat ke sini”
“Terus kenapa? Mungkin aja dia ngelihat objek lain yang lurus sama kita”
“Ah serah lo Din”

Malamnya, hpku bunyi tanda messenger masuk, ternyata dari Tama. Setelah kubuka ternyata isinya tentang Saka.
“Din, Saka tadi ngepoin lo ke gue”
“Udah deh gak usah nyenengin gue, gue udah seneng kok”
“Serius, dia tadi tanya gue kenal lo darimana, lo itu orangnya gimana”
“Cuma gitu kan? Kaya penting aja deh”
“Hahahaha, lusa dia ada pertandingan di GOR deket sekolah lo”
“Oh, thanks”

Paginya aku ngajak Rinda buat nonton Saka di pertandingan itu. Tapi Rinda nggak bisa karena dia ada jadwal check up di rumah sakit.
“Rin, besok Saka tanding nih, likat yok”
“Duh sorry Din, besok gue check up di rumah sakit. Lo sendiri gak papa kan?”
“Yahhh. Ya udah deh”

Akhirnya aku berangkat sendirian, tapi di jalan aku kena macet. Aku takut pertandingannya keburu main, mana jarak dari rumah ke GOR lumayan jauh.

Sesampainya disana, GOR udah sepi. Aku kecewa, aku ngelewatin pertandingan itu. Aku duduk di sebuah bangku di depan tribun berwarna merah. Aku menunduk sambil nangis. Tiba tiba ada orang yang menghampiriku dan duduk di sebelahku, tapi aku nggak noleh ke arahnya aku masih fokus sama kesedihanku.

“Kok sendirian sih? Nungguin siapa?” Tanya orang itu
“Orang yang aku sayang. Tapi sekarang dia udah pergi, aku terlambat”
“Dia nggak pergi, dia masih disini”
“Sok tau, kamu nggak kenal dia”
“Aku kenal dia.”
“Enggak, kamu nggak kenal dia”
“Aku kenal dia, orang yang sering kamu perhatikan secara diam diam kan?”
“Kamu tau dari mana?”
“Udah kubilang aku kenal dia”
“Enggak, mungkin kebetulan tebakanmu benar”
“Aku sering lihat kamu memperhatikan dia”
Aku menoleh, ternyata dia Saka.
“Saka? Jadi dari tadi?”
“Iya dari tadi kakak ngobrol sama aku. Aku juga diam diam suka memperhatikan kakak”
“Jadi kamu tau kalau aku selama ini perhatiin kamu?”
“Tau sih, tapi pura pura nggak tau. Kak, jujur ya sejak ospekku itu aku udah suka kakak”
“Kok sama-sama sejak ospek?”
“Hah? Apa kak? Kakak juga suka aku sejak ospek? Kakak kan waktu itu yang ngeospekin aku”
“Hah? Eh? Apa sih? Enggak aku gak ngomong gitu”
“Kakak mau gak jadi pacarku?”
“Lita gimana?”
“Lita? Hahahah Lita itu sahabatku sejak SD kak, jadi aku deket sama dia”
“Gak pacaran?”
“Enggak. Aku maunya sama Kak Dina”
“Ih kamu apaan sih”
“Gimana mau gak?”
“Iya mau”

Cerpen Karangan: Secundina Frida Hoki Harlanda
Blog: secundinafrd.wordpress.com

Cerpen Mengagumi Dalam Diam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


See You Again

Oleh:
Hari ini cerah, ya cerah tak kelabu seperti kemarin. Sekarang musim hujan jadi menemukan pagi cerah dan hangat seperti ini rasanya sangat sulit. kebetulan kuliah libur karena baru selesai

Senyum Kecil Gadis Berkacamata

Oleh:
Langit Genuk sedang tak bersahabat akhir-akhir ini, mendung yang mengundang hujan dan badai hampir rutin menyambangi di setiap malamnya. Tak banyak yang bisa kulakukan disaat saat seperti ini, hanya

Sahabat

Oleh:
Kicauan burung pun mulai terdengar dan cahaya matahari pun mulai bersinar, aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Aku segera bergegas untuk mandi dan memulai sarapan bersama keluarga. Kemudian aku

Senja Terindah

Oleh:
Iron itulah nama panggilanku di sekolah, aku sendiri merasa tidak terlalu pintar dan tidak bodoh juga, aku bersekolah di Smk negeri di jogja. Pertemuanku dengan dia memang saat pendaftaran

Pacaran Sama Seleb

Oleh:
Jakarta di situ tempat aku dan kakakku tinggal bersama hanya berdua untuk mencari pendidikan yang lebih baik. Orangtua kami tinggal di amerika untuk satu tahun karena ada pekerjaan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mengagumi Dalam Diam”

  1. aku sering baca cerpen di sini
    aku suka
    semoga aku bisa ngepost karya ku di sini 🙂

  2. Na says:

    Nama nya sama , ceritanya juga hampir sama dengan aku .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *