Mengapa Cintamu Bersyarat?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 November 2017

Satu persatu murid memasuki ruang kelas, namun aku tak menyadari bahwa bel masuk telah berbunyi. Hingga seseorang menyadarkanku dari lamunan indahku.
“Heh! Kenapa kau senyum senyum sendiri,” tanya Kelvin, temanku baikku. Lalu ia duduk di sampingku. “Sepertinya seorang Ahsana Prayoga sedang fall in love haha,” timpal Megan, yang juga teman baikku, ia duduk di belakangku. Ahsana Prayoga, ya itulah aku. Siswa terpintar yang selalu mendapat peringkat 1 umum paralel di SMA N 1 Brebes ini. Aku tak mempedulikan kedua temanku yang absurd itu. Namun, seperti biasa, kami selalu bergurau jika tak ada guru di kelas kami.

Sepulang sekolah, aku langsung menuju tempat bimbelku. Setiap saat, aku selalu bersemangat untuk bimbel. Bukan hanya karena guru bimbelnya, tetapi juga karena seorang gadis yang selalu hadir di mimpiku. Ah! aku tak sabar untuk bertemu dengannya lagi.

“Sudah jam tiga, mengapa dia belum datang?” aku bertanya dalam hatiku sambil sesekali melihat jam di tanganku. Ini sudah setengah jam sejak bimbel dimulai, tapi dia belum datang juga. Huh aku jadi tidak semangat. Persetan dengan penjelasan guruku, aku tidak menghiraukannya. Lagipula aku kan sudah pintar. Kenapa harus mengikuti bimbel?

Esoknya, seperti biasa aku berangkat menuju sekolah dengan sepeda motorku. Hanya saja perbedaannya, kali ini aku benar benar tidak bersemangat untuk sekolah.
Sesampainya di kelas, aku langsung duduk dan menundukkan wajahku yang kusut. Arghh! kenapa di ruang ini berisik sekali!! Ke mana gurunya? Apa tidak ada yang mengajar hari ini? Menyebalkan!

“Ekhem! Bisa kalian diam!?” Oh Astaga! Akhirnya ada juga guru yang masuk. Kenapa tidak dari tadi sih! Tapi aku masih menundukkan kepalaku, sebenarnya aku tak ingin ada guru yang masuk hari ini. Tapi dibandingkan dengan teriakkan teman-temanku yang akan berlanjut dan membuatku lebih tidak bergairah lagi. Jadi lebih baik jika ada guru seperti ini.
“Kalian kedatangan teman baru. Ia pindahan dari SMA N 2 Brebes. Silahkan perkenalkan diri,” ucap guru itu. Lalu siswi baru itu memperkenalkan diri. “Hai! Namaku Eka Apriliana…” Tunggu! Apa dia bilang? Eka Apriliana? sepertinya aku mengenal nama itu. Aku tak mendengar lagi apa yang ia katakan dan langsung menegakkan kepalaku, melihat siswi baru itu. Oh Astaga! Itu Eka! teman bimbelku. Gadis yang selalu datang mengganggu fikiranku. Tapi aku heran, mengapa ia pindah ke sekolahku? bukankah sekolahnya adalah sekolah favorit di Brebes?

Awalnya aku sangat senang mengetahui kepindahan Eka ke sekolahku, apalagi satu kelas denganku. Namun setelah aku mengetahui banyak hal tentangnya, terutama bahwa dia adalah murid terpintar di sekolahnya dulu, aku menjadi sangat khawatir. Bagaimana jika ia menggeser posisiku dan menjadikanku orang ke-2 terpintar setelahnya? Ini tidak bisa dibiarkan. Mulai dari sekarang aku harus rajin belajar! yak harus. Tapi…, bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah terlanjur menyukainya. Aku yang keras kepala dan baru kali ini merasakan jatuh cinta, mana mungkin bisa melupakannya begitu saja. Tapi aku juga tak ingin kehilangan prestasiku hanya karena aku tidak fokus pada pelajaran dan lebih fokus pada Eka. Arggh! ini sangat membingungkan.

2 Minggu sejak kepindahannya ke sekolahku, aku menjadi lebih akrab dengannya. Dan kini aku benar benar menyukainya. Aku adalah orang yang ambisius. Jika aku menginginkan sesuatu, maka wajib hukumnya bagiku untuk mendapatkan apa yang aku mau. Dan kini dia harus menjadi milikku!

Ketika istirahat tiba, aku melihat Eka melangkahkan kakinya ke luar kelas dan berjalan ke arah barat. “Dia mau ke mana?” Dengan sangat penasaran aku mengikutinya dari Belakang. Rupanya ia menuju perpustakaan. Eka duduk di bangku dekat rak buku lalu membuka buku dan membacanya. Dengan memberanikan diri, aku melangkah mendekati Eka. Tanpa ragu dan bertanya sebelumnya, aku pun langsung duduk di sampingnya.

“Eka? kau sedang membaca buku apa?” tanyaku sembari berpura pura memilih milih buku. “Eh Yoga? Aku sedang membaca buku Biografi One Direction,” jawabnya santai sambil membenarkan kacamata yang dipakainya lalu melempar senyum tipisnya padaku. Kurasa senyumnya tidak terpaksa.
“Ohya, mengapa kau sendiri?” tanyaku lagi. “Iya, teman temanku yang lain pergi ke kantin, tapi aku tidak lapar. Jadi kurasa akan lebih baik jika aku ke perpustakaan.” Aku mengangguk. “Ini juga tempat favoritku, bisa membaca buku apa saja, terutama buku biografi One Direction ini.” Oh jadi itu alasannya. Pantas saja akhir-akhir ini aku jarang melihatnya di kantin. Tak heran jika dia memang pintar. Argh! Aku semakin mengaguminya.

Ketika aku memandangi wajahnya yang sedang membaca buku dengan teliti, terbesit di pikiranku untuk segera menyatakan perasaanku padanya yang selama ini aku pendam. Ini kesempatan yang bagus! Aku harus mengungkapkan perasaanku padanya sebelum terlambat. Aku yakin ini akan berhasil.

“Emm. Eka.. aku ingin bicara sesuatu padamu.” Aku tergugup, seolah ragu untuk menyatakannya. Padahal aku sudah sangat yakin untuk bisa mengungkapkan ini sejak lama. “Ya?” Ia masih pada posisi seperti tadi, memperhatikan bukunya. “Akuu…. emm, akuu.. eh sebenarnya aku…” Entah mengapa tiba-tiba keringatku bercucuran, seperti pendingin ruangan di sini sudah tak berfungsi, padahal kuyakin masih berfungsi dengan sangat baik. Detak jantungku tak teratur. Sangat sulit untuk mengungkapkannya. Argh! “Hmm?” Kini dia menghadapku dan menaikkan satu alisnya pertanda ia menunggu kelanjutan ucapanku. “Sebenarnya selama ini aku menyukaimu.” Dengan sekali nafas aku mengucapkan itu, mungkin hampir tidak terdengar dengan jelas sanking cepatnya. Tapi kurasa telinga Eka masih dapat mendengarnya dengan jelas. “Apa kau mau menjadi kekasihku?” aku tersenyum dan menperlihatkan puppy eyes-ku

KKRRRIIIINNGGG!!!
“Sudah bel, aku akan ke kelas,” jawabnya dan melangkah menjauhiku. Apakah ini tandanya dia menolakku? Jika iya, aku tidak boleh menyerah. Bagaimanapun juga dia harus menjadi milikku!

Di tengah pelajaran, Kelvin memanggilku. Biasanya dia akan menanyakan yang dia belum paham. Tapi kali ini bukan, dia memberiku gulungan kertas. Aku tak bertanya apa dan dari siapa kertas ini, melainkan langsung membukanya. Seketika aku membulatkan mataku, kertas ini merupakan surat dari Eka. Aku terkejut ketika mengetahui tulisan yang ada di kertas ini.

Bel pulang telah berdering, satu persatu siswa meninggalkan ruang ini. Hingga tersisa aku seorang. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju tempat yang dikatakan Eka dalam surat tadi. Ia menyuruhku menemuinya di perpustakaan, tempat favoritnya. Dengan cepat dan gugup aku memasuki perpustakaan. Kulihat Eka telah berada di sini, tepatnya di pojok ruang perpustakaan ini. Aku mendekatinya dan menanyakan apa tujuannya menyuruhku ke sini.

“Aku akan menerima cintamu, asal kau dapat memenuhi satu syarat dariku,” ujarnya seraya mengangkat jari telunjuknya. Hatiku terketuk tak percaya. Apa ini tandanya Eka juga menyukaiku? “Apapun syaratnya akan kupenuhi,” jawabku semangat. Eka tampak berpikir sebentar, dan sedikit bermain dengan kacamatanya, kemudian ia mulai bicara lagi “UAS nanti kau harus mengalah padaku.” Aku sedikit berpikir, mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tapi aku gagal memahaminya. Lantas aku bertanya “Apa maksudmu?” Eka terlihat memutar bola matanya sekali. “UAS nanti, kau harus mengalah padaku, kau harus menghentikan gelar siswa terpintarmu dengan cara menyerahkan peringkat satu padaku.” APA!? Aku membulatkan mataku. Terkejut? Tentu aku sangat terkejut. Apa aku tidak salah dengar? Mana mungkin aku menyerahkan gelarku begitu saja, meski untuk orang yang kucintai. “Tapi bagaimana caranya?” Aku tetap berusaha terlihat tidak mengerti. Karena aku sama sekali tak ingin kehilangan gelarku ini. “Kau tidak perlu belajar untuk UAS. Gampang kan?” Ia memutar bola matanya lagi. Eka terlihat sangat kesal. Kasihan juga dia, tapi aku tetap tidak rela. “Tapi selama ini aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri. Bagaimana bisa aku memberikannya padamu begitu saja. Aku mohon, ubah syaratmu.” Eka tak menjawab, ia hanya merapikan buku-bukunya. Aku menghalanginya ketika ia baru saja melangkah. “Eka kumohon! Kau harus mengerti. Ini tak semudah yang kau pikir!” Kali ini aku sedikit membentak namun masih terdengar halus. “Jika kau tak mau ya sudah!” Hanya itu jawaban yang kudapat. Sekarang ia keluar dari perpustakaan dan mungkin saja pulang.

Satu minggu kulalui tanpa komunikasi dengan Eka. Bahkan sekedar saling menyapa pun tidak. Aku tak tahu harus meng-iyakan syaratnya atau tidak. Aku tak ingin kehilangan prestasiku yang kudapat dengan susah payah. Tapi aku juga tak ingin kehilangan kesempatanku untuk menjadi kekasihnya.
Aku mengikat tali sepatuku asal. Kurasa cuaca pagi ini seperti suasana hatiku yang sangat kacau. Selama satu minggu ini aku belum bisa memberi kesanggupan terhadap syaratnya. Tapi hari ini, aku yakin dengan pilihanku. Aku akan mengambil keputusan, karena tak lama lagi UAS akan dilaksanakan. Semoga keputusan yang kuambil adalah yang terbaik.

Aku tak melihat Eka di kelas pagi ini. Biasanya dia selalu datang lebih awal dariku. Aku pun mencoba untuk mencarinya ke perpustakaan. Ternyata benar, ia berada di perpustakaan. Aku segera menghampirinya. “Eka!” Aku memberi senyum simpulku. Ia hanya menoleh sebentar, lalu tatapannya kembali ke bukunya. Tak ingin berlama-lama aku pun langsung memulai bicara. “Baiklah, aku akan mengambil keputusan tentang syaratmu itu.” Ia menoleh dengan cepat, tatapan matanya yang tajam bagai elang, meskipun sedikit terhalang oleh benda yang ia kenakan di matanya, membuatku lebih yakin akan keputusanku. “Jadi bagaimana?” Ia menutup bukunya dan menunggu kelanjutan ucapanku. “Aku menyetujui syaratmu. Demi cintaku, aku rela tidak belajar sama sekali untuk UAS,” aku mengucapkannya dengan lantang. Untungnya tak ada seorangpun selain kami di sini, termasuk penjaga perpustakaan yang sepertinya belum datang. “Su-sungguh?” Eka melebarkan matanya, lalu tersenyum. Ia nampak tak percaya dengan keputusanku. “Ya aku sungguh. Tapi kau juga harus menepati janjimu untuk menerima cintaku.” Kini aku yang menantangnya. “Oke oke. Kau tak perlu khawatir. Aku akan menepati janjiku setelah pembagian rapor. Setuju?” Ia mengulurkan tangannya. Oh rupanya dia menantangku lagi. “Baiklah.” Aku menerima uluran tangannya. Setelah itu aku segera kembali ke kelasku dengan senyum yang merekah di wajahku, begitupun Eka.

UAS kulalui tanpa belajar, bahkan aku mengerjakan soal-soal itu hanya dengan menggunakan logikaku. kini hanya tinggal menunggu hasilnya. Kuyakin, nilaiku akan sangat buruk. Tapi tak apa, ini semua demi membuktikan rasa sayangku pada Eka. Aku sudah tidak sabar untuk menjadi kekasih Eka yang resmi. Ya meski sekarang pun kami sudah sangat dekat, bahkan tak jarang teman-teman menganggap kami sudah berpacaran. Aku lega. Tapi aku masih belum cukup puas, karena aku belum resmi menjadi kekasihnya.
Hari ini, hari terakhir sebelum pembagian raport besok. Kuharap hari ini cepat selesai.

Aku datang dengan Ibuku. Aku segera mengantarnya ke tempat duduk yang telah disediakan. Selepas itu, aku mencari di mana keberadaan Eka. Aku sudah tak sabar untuk mengenalkannya pada Ibuku.
“Eka!” Itu dia. Gadis berkacamata yang sangat kusukai, baru saja menginjakkan kakinya di sekolah. Aku mendekat dengan segera.
“Kau kenapa? sepertinya senang sekali,” tanyanya. Aku menyeimbangkan langkah kakiku dengannya yang sedikit terlambat. “Tentu saja. Karena hari ini, kau akan resmi menjadi pacarku.” Aku tersenyum dengan penuh kebanggaan di wajahku. Ia terlihat memutar bola matanya sekali, lalu sedikit berlari untuk menjauhkan tubuhnya dariku. Tapi langkahku lebih gesit, sehingga kami tetap sejajar.

Dua Jam kami menunggu, kini tiba saatnya pengumuman. Aku yakin kali ini aku berada di posisi ke-dua atau bahkan lebih bawah. Mungkin saja Ibu akan memarahiku. Tapi aku yakin setelah aku mengenalkan Eka padanya nanti, pasti dia sangat senang. Karena putra satu-satunya ini akhirnya memiliki pacar.
“Peringkat satu umum kelas dua belas kali ini diraih oleh…,” Aku bertepuk tangan untuk itu. Sementara semua siswa kini menatapku. Ada apa? Yang peringkat satu kan Eka, mengapa mereka menatapku? Sepertinya ada yang aneh. “Bisa kau beritahu padaku siapa yang mendapat peringkat satu? Aku tak mendengarnya,” tanyaku pada siswa perempuan di sampingku, karena tadi aku tak mendengarnya dengan jelas. “Bukankah kau Ahsana Prayoga? kau yang meraihnya. Cepat maju dan temui kepala sekolah.” Aku mematung mendengar apa yang dikatakan siswi itu. Aku maju dan menemui kepala sekolah dengan wajah yang masih bingung. Samar-samar aku mendengar seseorang mengucapkan ‘selamat’. Terdengar seperti suara Eka.

Setelah pengumuman itu selesai, aku segera menghampiri Eka. Tapi, ia seperti menghindar dariku. Dia pasti mengira jika aku berbohong dan tidak mengalah. “Eka kumohon, dengarkan penjelasanku dulu!” Ia berhenti dan berbalik. “Penjelasan apa? Jelas-jelas kau yang mendapat peringkat satu. Kau tidak mengalah padaku! Sudahlah! Kau tak perlu mengejarku lagi. Aku kecewa padamu.” Ia terlihat sangat marah. Benar dugaanku, dia mengira aku telah membohonginya. Tapi mengapa ini bisa terjadi? “Eka kau juga tahu kan? saat malam, aku tak belajar. Bahkan kau yang menemaniku chat setiap malam,” tegasku membela diri.
“Sudahlah! mungkin aku memang tidak ditakdirkan untukmu. Lagi pula, selama ini aku tak pernah menyukaimu.” BAM! Aku mematung. Rasanya seperti dihantam ribuan jarum besi. Dia tak pernah menyukaiku. Lalu apa yang kemarin itu? Apa ia hanya memanfaatkanku? Aku sudah berkorban agar dia yang mendapat peringkat satu. Tapi.. mengapa ini terjadi? Mengapa dia membohongiku?

“Sudahlah Yoga, kau masih bisa cari gadis lain,” ucap Kelvin yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. “Kau benar, aku menyesal sudah mengalah untuknya. Terimakasih.” Aku memeluk Kelvin dan Megan. “Tapi mengapa aku tetap meraih peringkat satu? Jujur aku sama sekali tidak belajar selama UAS,” tanyaku dan menyudahi pelukan kami. “Itu artinya kau memang sudah terlahir cerdas.” Kami bertiga tersenyum.

Meski aku tidak berhasil mendapatkan gadis yang kucintai, setidaknya aku masih memiliki kedua temanku yang selalu ada untukku.

Cerpen Karangan: Almass N.I
Facebook: Almass Mallete

Cerpen Mengapa Cintamu Bersyarat? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Penghuni Bangku Sebelah

Oleh:
Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik pada gadis itu. Gadis yang duduk di bangku sebelahku. Ia tidak istimewa, ia tidak memiliki wajah seperti malaikat, ia tidak berpakaian

MyCerpen 7: Alien Banci Tulen

Oleh:
“Serius kau tidak akan ikut Jang?” “Tidak Ji. Aku sudah harus pulang!” “Wah! Padahal ini terakhir lo!” “Tenang aja. Masih ada Reunian kan?” “Ya udah. Hati-hati aja Jang!” Aku

Aku Memilih Bersahabat

Oleh:
“Oke, ke depan, jalan terus.. Kamu jangan buka mata ya!” “Kita mau ke mana sih Rick?” “Sekarang buka mata kamu!” Feni membuka matanya. “Selamat ulang tahun Fen!” ucapku sambil

Untuk Mu Cinta

Oleh:
Pagi memang selalu menyuguhkan kehangatan di tengah embun meski matahari masih bersembunyi di peraduannya. Di sebuah ruangan bercat kuning dan hijau itu tubuh malasnya tampak enggan untuk bergerak. Bahkan

Kota Kedua

Oleh:
Sore itu angin bertiup cukup kencang dari utara. Langit mendung namun tanpa hujan. Tamara berjalan lunglai melewati jembatan layang dari gedung perpustakaan menuju gedung fakultasnya. Memang kedua gedung itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mengapa Cintamu Bersyarat?”

  1. Anisah Rahmadani says:

    Keren cerpennya!!

  2. Liana Cahyani says:

    Bagus:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *