Mengejar Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 2 January 2018

‘teruslah berlari hingga garis finish. Karena tidak ada yang tahu apa yang ada di akhir. Percayalah, akhir lebih baik daripada berhenti dan menyerah di tengah-tengah.’

Rambutnya terjatuh menutupi sisi kepalanya, isakannya kian nyaring tapi tidak ada satu pun yang peduli. Dia juga tidak peduli apakah dia akan kesakitan setelah menguras habis air matanya hingga kelenjar air matanya tidak lagi bekerja atau dia tetap merasa nyeri yang masuk di hatinya.

“Kamu benar-benar akan membuat kelenjar air matamu berhenti berfungsi kalau terus-menerus menangis.”

Gadis itu menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya yang basah guna menoleh pada sesosok wanita bersahaja yang duduk di sampingnya. Wanita itu kemungkinan masih berumur 20 tahunan dilihat dari wajahnya yang tidak menunjukkan kerutan-kerutan yang berarti.

“Cuaca kian dingin sekarang, di Korea. Apakah sakit yang kau rasa itu membuat kamu lupa dengan dingin ini?”
Gadis itu tak kunjung menjawab. Dia malah mengusap wajahnya sendiri dengan kedua punggung tangannya secara kasar.

“Nama saya Rion Kanjani. Mahasiswi psikologi yang sedang mengusir jenuh dengan menonton indahnya sungai Han. Saya lihat, kamu mengerti bahasa saya ya?”
Gadis itu mengangguk sungkan sebagai jawaban. Suasana hatinya masih belum membaik.

“Jadi… apa yang membuat kamu kian sedih di musim dingin ini? Rindu dengan keluarga?”
Gadis itu menjawabnya dengan gelengan. Sesaat kemudian dia merasa sesak lagi dan ingin menangis. Jika saja dia tidak berusaha menahannya mati-matian.

“Mungkin kamu butuh ini,” Rion menyodorkan sekotak susu strawberry padanya yang sudah berembun. “Rasanya enak untuk melengkapi dingin.”
Dia mengambilnya dan minum dalam diam. Merasakan tiap jengkal kerongkongannya terselimuti dingin. Dia lalu membuang nafas berat.

“Saya Sena. Masena Gibriel.”
Rion menatap Sena sambil tersenyum tipis. “Senang bertemu kamu, Sena. Walau disaat hatimu sedang gundah.”
Sena balik tersenyum seraya memutar-mutar kotak susu yang hampir habis.
“Lagi-lagi… saya harus bertanya, kenapa kamu sebegitu sedihnya di musim dingin ini?”
Sena menatap Rion dengan curiga karena Rion sebegitu keponya.
“Maksud saya, anggaplah ini sebagai konsultasi gratis.” Lanjut Rion.
Helaan nafas terdengar dari Sena yang diikuti anggukan.
“Ya memang seharusnya saya menceritakan ini pada orang lain. Saya pun tidak tahan menyimpannya sendiri.”
“Kalau begitu, kamu bisa memulainya.”

Sena diam cukup lama. Dia menyiapkan seluruh organ di tubuhnya agar tidak lagi menangis. Untungnya, Rion adalah sosok yang sabar.
“Saya…” Sena membuang nafas. “Saya disakiti. Tepatnya, pacar saya ternyata menyukai sahabat saya sendiri.”
Tidak ada yang berbicara saat Sena ternyata tidak cukup kuat untuk menahan tangisnya.
“Dari mana kamu tahu?” Tanya Rion pelan.
Sena menjawab diselingi isakan. “Dia sepertinya memang menyukai sahabat saya karena mereka begitu dekat. Mereka fikir saya terlalu buta untuk sadar, padahal saya dengan jelas sadar akan semua yang mereka sembunyikan.”
Isakan tangis lagi. Rion menatap Sena yang begitu rapuh. Layaknya porselen antik yang sekali tersenggol akan hancur berkeping-keping.
Rion merogoh tasnya lalu memberikan sehelai tisu pada Sena.

“Sena,” Panggil Rion.
“Ya…?”
“Apakah tidak apa kalau kamu mendengarkan selama kurang lebih 1 jam? Karena saya akan mulai berkisah.”
Sena menatap sisi kepala Rion yang begitu tenang. Sena tahu kalau Rion kini ingin membawa fikirannya terbang jauh.

“Kamu tahu, lari bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi kamu tidak tahu kalau kamu harus berlari jika ingin mencapai akhir.”

Tidak ada tanggapan.

“mungkin, banyak orang yang takut dengan akhir. Seperti halnya kamu dan saya. Karena sekarang, akhir selalu diartikan dengan sedih. Padahal mereka lupa, akhir juga punya indah dan bahagia. Banyak yang tidak lagi memiliki harap akan akhir bahagia dan memutuskan memilih akhir mereka sendiri. Dan berfikir kalau akhir yang mereka buat lebih baik daripada akhir yang sudah ditentukan Tuhan. Padahal semua itu adalah takdir. Tuhan selalu punya rencana terbaik untuk setiap umatnya. Mereka takut akan akhir yang direncanakan Tuhan. Tapi kenapa harus takut? Jadi saya mulai berfikir untuk berhenti mempertahankan ego saya sendiri dan membiarkan Tuhan menuntun saya.”

Sena tidak pernah sedikitpun menyela. Karena memang perkataan Rion sebenar itu.

“Saya pernah merasakan hal yang kamu rasakan sekarang. Saat itu saya masih duduk di sekolah menengah dan bertemu dia dengan suatu kebetulan yang meyakinkan. Sekiranya ada waktu satu bulan sampai kami sadar kalau rasa suka sudah ada. Dan apakah kamu fikir saat kami memutuskan untuk berpacaran? Kalau begitu kamu salah.”
Sena mengernyit. “Lalu? Kalian hanya diam saja?”
Rion menjawabnua dengan gelengan kemudian tersenyum lucu.
“kami tetap berteman dengan diselingi rasa suka.”
Perasaan heran berkecamuk dalam diri Sena yang membuat Rion mengeluarkan tawa.
“Ya, kami berteman. Tidak ada ikatan khusus, hanya suatu kesadaran kalau kami terhubung secara istimewa. Tapi tetap saja, banyak yang mengira hubungan kami lebih dari sekadar teman. Kami tidak peduli.
“Apakah kamu fikir enak disaat kami tidak punya ikatan khusus? Jawabannya adalah tidak. Malah, kami selalu diselingi dengan bingung yang berkecamuk. Mau sampai kapan kami begini? Apakah dia sudah capai dan memutuskan untuk pergi? Bagaimana jika kami ternyata harus terus seperti ini? Dan banyak hal yang tidak pernah berhenti kami tanyakan pada diri masing-masing.
Untung saja kami tercipta dengan berbagai kesamaan, tapi tidak semua kesamaan menguntungkan. Contohnya, kami sama-sama bersifat insecure. Kami tidak pernah sepercaya diri itu untuk menebak perasaan masing-masing. Bagaimana saya untuk dia dan sebaliknya. Tapi kami terus-menerus menyimpan prasangka buruk itu dan selalu bersikap selayaknya biasa dan tak terjadi apa-apa.
Sampai kami diuji, beberapa orang masuk ke dalam jalur cerita kami dan salah satunya adalah sahabat saya sendiri. Seperti cerita kamu, Sena.
Saya begitu takut, Sena. Saya selalu berfikir saya tidak sekuat para raja dalam mempertahankan tahta mereka. Tidak sekuat presiden dalam menjaga jabatan mereka. Saya begitu lemah. Bahkan saya sempat mencoba untuk membuat akhir sendiri dibanding menunggu akhir Tuhan. Tapi kemudian, saya tersadar. Saya harusnya tidak boleh egois, karena pemeran di sini bukan hanya saya, tapi juga dia.
Lalu dengan berat saya mencoba berjuang. Dan meyakinkan diri kalau dia juga ikut berjuang bersama saya. Kamu tahu, Sena? Kalau digambarkan… saat itu saya seperti berjalan di atas tali tipis untuk melewati tebing yang jaraknya nun jauh. Kamu tahu kenapa saya seberani itu? Karena saya fikir, sudah saatnya saya mempertahankan posisi saya. Saya yakin Tuhan tidak akan menyia-nyiakan usaha hambanya yang sungguh-sungguh.
Dan akhirnya, saya berhasil mempertahankan posisi saya.”

Sena menatap Rion bagai seorang anak sedang antusias saat mendengarkan suatu kisah dongeng. Sena tidak percaya seseorang seperti Rion memiliki perasaan yang begitu rumit.
“kalau boleh tahu, memangnya dia seperti apa sampai kamu sangat ingin mempertahankannya?” tanya Sena.
Rion tersenyum manis lalu membenarkan letak syal yang melingkar di lehernya. “Sederhana, nona Masena Gibriel. Setiap orang tentunya ingin dipertahankan. Walau seperti apapun kekurangan mereka. Karena kalau mereka sudah dipertahankan, itu artinya mereka istimewa. Seperti saya yang ingin dipertahankan olehnya, makanya saya mempertahankan dia.
Kalau ditanya seperti apa dia sehingga saya pertahankan… saya harus menekankan, di antara mereka yang memiliki hubungan dengan saya, hanya dia yang berbeda. Tidak pernah sekalipun dia menahan atau mengekang saya, dia selalu berusaha menerima segala pendapat dan persepsi saya, dia selalu mencoba menerima saya bagaimanapun adanya saya, dan intinya saya nyaman bersama dia.”

Sena membalasnya dengan anggukan samar. Pasti senang jika memiliki pasangan yang sangat diharapkan. Sena yakin kalau mereka dalah arti dari pasangan yang ideal.
Rion berdeham lalu merapikan jilbab yang dia kenakan. Warnanya merah muda yang sangat cantik. “Tapi itu adalah kisah yang sudah lama sekali.” Rion tertawa.

“Rion….”
Rion menoleh pada Sena. “Iya?”
“Apakah saya boleh tahu bagaimana akhir cerita kalian?”
Rion memberikan senyumnya yang tenang pada Sena. Menyiratkan kelegaan dibanding kegembiraan.
“Kami pada akhirnya juga bertemu akhir.”
Sena mengerutkan dahi. “Akhir seperti apa? Bukankah tadi kamu bilang akhir bermacam-macam.”
“Ya, kamu benar.” Rion tersenyum dan kini tersirat rasa bahagia. “Kita akan menikah 4 bulan lagi, Sena.”
Kalau dibilang, Sena mungkin akan berjingkrak senang saat ini juga. Rasanya lebih besar kekaguman dibanding ketidakpercayaan.
“Bagaimana bisa…” Sena kehabisan kata-kata. Dia kini lupa sepenuhnya kalau tadi dia menangis sampai matanya sakit.
“Kami tidak pernah pacaran, Sena. Ada satu dan dua hal yang kami khawatirkan sehingga kami tetap keukeuh untuk berteman dengan istimewa. Selama kurang lebih 3 tahun di masa sekolah menengah itu.”
“Saya masih tidak mengerti, bagaimana kalian bisa memutuskan untuk menikah?”
Rion tertawa kecil lalu mengingat-ingat masa-masa itu.
“Tepat sehari sebelum keberangkatan saya ke sini —kuliah di Korea— dia melamar saya di hadapan keluarga kami berdua. Saya saat itu kaget bukan main karena tidak ada satupun pemberitahuan.”
“Apakah kalian tidak takut dengan LDR?”
“kenapa juga harus takut?” Rion tertawa kecil. “kami dahulu selalu diiringi rasa takut, jadi sekarang kami sudah kebal.”
Sena mengangguk mengerti. Kemudian dia menghela nafasnya. “Seandainya kisah saya semanis kisah kalian….”

“Hei, Sena.”
Sena menoleh.
“saya menceritakan itu semua sebagai motivasi untuk kamu. Kisah kamu belum selesai, bukankah tidak ada bukti kuat kalau pacarmu itu menyukai sahabatmu sendiri? Pertahankan posisi kamu, Sena. Dan percaya kalau akhir dari Tuhan adalah yang terbaik.” Rion menasihati lalu menggenggam tangan Sena dengan bersahabat.
Sena mengalihkan pandangannya ke arah sungai Han yang tenang tanpa riak di musim dingin ini.
Begitu juga dengan hatinya yang ikut mendingin dibanding rasa panas seperti terbakar yang dia rasakan tadi.

Kalau Rion saja mendapat hasil setelah usahanya mati-matian, berarti Sena juga harus bisa berusaha.

“Ya…” Sena berkata pelan tapi tegas. “Saya akan berusaha seperti kamu.”
Rion kini tersenyum lega lalu memeluk Sena singkat untuk meyakinkan Sena sendiri.
Rion kemudian melepaskan pelukannya dan melirik ke arah jam di tangannya.
“Sena, senang bisa berbincang dengan kamu. Terima kasih sudah mendengarkan kisah saya yang panjang itu. Tapi saya harus pergi sekarang, masih ada tugas kuliah dan juga saya akan pergi ke studi MBC.”
Rion berkata sambil merapihkan mantelnya dari salju yang turun. “Kamu kan tahu, tidak klop rasanya kalau datang ke Korea tanpa sedikitpun menjadi fan girl nyata.” Lanjut Rion sambil tertawa. Sena juga ikut tertawa.
“Apakah kamu fans EXO? Mereka kan yang sekarang sedang comeback.”
“Yap, betul sekali. Saya harus bertemu Suho oppa sebelum menjadi istri orang.”
Mereka berdua tertawa. Rion sudah bersiap pergi sebelum memberi satu undangan dan sekotak lagi susus strawberry.
“Datang ya, kalau kamu pulang ke Indonesia. Saya sangat mengharapkannya loh.”
Sena menerima kedua benda tersebut seraya tersenyum. “Saya berjanji.”
Rion balik tersenyum. “Oh iya, Sena. Tetaplah berlari sampai akhir. Kejarlah kita dan percaya akhir Tuhan akan selalu yang terbaik.”

Cerpen Karangan: Nasyrah
Wattpad: @aestheitics
All i do is write, write and write. Make my excistency is precious with always
producing creation.

Cerpen Mengejar Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Naksir Cewek Ditaksir Bencong

Oleh:
Dunia puber memang sangat menyenangkan. Rasa ingin tahu akan sesuatu yang baru juga sangat begitu besar. Coba ini, coba itu semuanya dijabanin. Kadang kalanya ada di posisi yang benar

Tak Sebatas Patok Tenda

Oleh:
Berawal dari sebuah kegiatan perkemahan pramuka di sekolah. Andhin yang merupakan siswi yang cerdas dan aktif serta salah satu peserta perkemahan. Dia saat ini sedang kebingungan karena mendapat informasi

Pasti Ada Jalan

Oleh:
Biaya pendidikan di Negara kita sangatlah mahal. Apalagi biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak pemuda pemuda yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi setelah tamat dari SMA ataupun yang

Kupu Kupu Kertas

Oleh:
Aku buatkan kau dari kertas. Aku harap kau seperti kupu-kupu sungguhan, terbang sesuka hati, mengepakkan sayap mengitari langit. Tak lupa kau hinggap di bunga-bunga nan elok berwarna-warni, berayun-ayun di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *