Mengerti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 April 2013

“Dari dulu aku selalu penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan seperti… kenapa kita gak bisa terbang kayak burung, atau kenapa bulan berubah-ubah bentuknya, atau yang paling pingin kutanyain itu kenapa bumi berputar,” ujar Nada antusias, berusaha memancing ‘mood’ Yuda.
Yuda bergeming. Hanya tangannya saja yang ia gerakkan untuk dijadikan bantal dalam menonton pergerakan awan di atas mereka.

Melihat Yuda masih diam dan menatap langit tanpa membalas satu pun ucapannya, Nada belum mau kalah.
Nada mencoba lagi. “Kamu tahu gak kenapa bumi berputar?”
Yuda masih diam.

“Yud?”

Masih hening.

Nada menghela napas. “Oke, aku pernah tanyain ini ke Bu Gita, dan ternyata jawaban kenapa bumi berputar itu…”
“Awan itu… kok mirip Sarah ya?” ujar Yuda..

Ana yang tadinya baru ingin menjelaskan kenapa bumi berputar, langsung terdiam. Ia memutar bola matanya dan menghela napas panjang.
Lagi-lagi Yuda membahas Sarah.

Ana mengubah posisinya. Ia biarkan badannya menghadap Yuda, walaupun Yuda sama sekali tidak berniat untuk ‘kabur’ dari langit.

Ana menatap mata Yuda yang hitam gelap, lalu menyentuh tangan Yuda sekilas sebelum Yuda sempat menyadarinya.
Ana bergumam, “Kapan sih Yud, kamu bisa ngelupain Sarah?”

Di luar dugaannya, ternyata Yuda mendengar gumamannya. Ana sendiri yang akhirnya kaget.

Yuda melirik Ana sekilas. “…kenapa?”
Ana, yang merasa sudah kepalang basah untuk berbohong, akhirnya menanyakan pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan sejak dulu. “Kapan sih kamu bisa ngelupain Sarah?”

Yuda hanya balas menatap mata Ana tanpa sempat mengucapkan apa pun.

“Yud?” panggil Ana.

Yuda kembali menatap langit. “Aku nggak tahu An.”

“Tapi aku pacar kamu,” ujar Ana. Entah kenapa ketika mengucapkan pernyataan ini, tenggorokannya terasa kering. “Pacar kamu itu Ana Nugroho, bukan Sarah Putridira.”

“Iya,” kata Yuda. “Tapi kamu sendiri yang mau bantuin aku untuk ngelupain Sarah.”

“Aku gak bisa bantu apa-apa, Yud,” ujar Ana. “Kalau kamu gak pernah mencoba sedikit pun lepas dari Sarah.”

“Luka yang kurasain terlalu berat,” kata Yuda sambil menutup matanya. “Sarah emang udah pergi. Enam tahun aku pacaran sama dia, An. Tapi dia pergi hanya dalam waktu satu detik.”

Ana hanya diam, dan berpikir. “Apa luka yang kurasain gak seberat kamu, Yud? Menurut kamu… emangnya setiap hari ngeliat kamu, pacar aku, yang selalu keinget dengan Sarah, itu gak nyakitin?”

Ana berusaha membela diri. “Kalau begitu, kenapa kamu gak pernah nyoba anggap aku pacar kamu?”

Yuda hanya diam.

“Jawab, Yud…” Ana berkata lirih.

“Aku gak berani jatuh cinta lagi, An,” kata Yuda.

“Kamu harus berani,” kata Ana berusaha menguatkan. “Takut patah hati bukan alasan untuk berhenti jatuh cinta….”
“Tapi aku gak bisa lagi,” ujar Yuda pelan.

“Di sini ada aku,” kata Ana.

“Biarin waktu yang jawab semuanya, Ana.” Yuda langsung membalikkan badannya, membelakangi Ana.

Ana tidak bisa untuk tidak menangis. Air matanya turun, semakin lama semakin deras.

Sampai kapan dia harus mencoba mengerti Yuda? Yang tak pernah bisa mengerti dirinya?

Cerpen Karangan: Nur Azizah Maharani
Nur Azizah Maharani. 24 Februari. Umur dirahasiakan. Cerpen keempat. Email: nurazizahmaharani[-at-]rocketmail.com

Cerpen Mengerti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


She Is, Who Left Behind (Part 3)

Oleh:
Chenxiao memahami kebingungan dan keresahan Yanxi. Tapi bagaimanapun semua ini akan menyakitkan, tetap saja Yanxi perlu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan setelah berjalan melewati beberapa barisan batu

Dentingan Bersayap

Oleh:
Dunia telah bersaksi, tiada yang abadi. Rambut indah juga akan rontok, pakaian mahal tak juga dibawa mati. Perbuatanku yang akan menentukan, Surga atau Neraka? Jika harus memilih, pastilah aku

Sabtu Terakhir Bersama Ayah

Oleh:
Sabtu, 08 Oktober 2016 22:35 Malam ini aku tak bisa tidur, teringat padamu. Jadi kuputusan untuk membuat cerpen ini, untuk mengenangmu. Ditemani dinginnya malam disertai gerimis ini. Hari ini

Hujan yang Kurindukan

Oleh:
Hujan di awal masuk sekolah di sma di semarang, pagi itu setelah sarapan aku berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Aku menuju sekolah menggunakan payung berwarna abu-abu dan jaket hitam.

Si Telon

Oleh:
“Itu…” teriak Rusdi sambil menunjukkan ke semak-semak yang ada di depan mereka. “Mana?” Rusdi berjalan membungkukkan badannya. “Itu, aku melihat ekornya!” “Ya, betul itu ekor si telon. Pelan-pelan, jangan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *