Menggenggam Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 20 January 2018

Kata sederhana, tetapi mampu menghadirkan berjuta luka.
Cinta.

Tik tok tik tok tik tok

Alya masih setia dengan posisinya, tidur terlentang sambil menatap detik jarum jam yang selalu berputar. Menjajaki setiap angka yang ada di sana, mengabsennya satu persatu. Karena kata banyak orang setiap detik sangatlah berarti maka dari itu ia selalu melihat jam.

Sebenarnya bukan itu alasan utamanya selalu setia melihat jarum jam yang selalu berputar pada porosnya. Alasan sebenarnya adalah karena ia ingin tahu sampai kapan ia bertahan bersama rasa yang tak kunjung berkurang, tapi terus bertambah.

Detik demi detik berlalu bahkan jarum panjang yang tadinya berada di angka 4 perlahan mulai bergeser ke angka 5. Alya memejamkan mata cukup lama, lelah juga menatap jam seharian. Tapi kenapa perasaan ini tak pernah lelah? Bahkan ia seolah selalu berputar seperti jarum jam dan setiap menitnya selalu bertambah.

Alya mengambil handphone yang terletak di meja samping tempat tidur. Mengetik kata kunci kemudian membuka aplikasi chating. Tidak ada yang istimewa hanya berisi broadcast yang selalu memenuhi chat. Tak lama Ratna, kawan SMPnya dulu mengirim gambar.

Degh…

Mungkin ini yang dinamakan berpacu dalam jantung. Berdetak melewati batas wajar, sebisa mungkin ia mengatur napas berusaha menetralkan detak jantungnya kembali. Gadis itu masih terpaku menatap sosok tampan yang tertera di layar handphonenya. Seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya, mungkin sampai detik ini.

Lagi, temannya mengirim sebuah gambar. Masih dengan orang yang sama kali ini ia mengenakan seragam paskibra khas sekolahnya. Dan yang Alya dengar dia adalah ketua paskibra. Tidak heran jika ia terpilih menjadi ketua, karena disamping tubuhnya yang mendukung ia termasuk orang yang tegas dan berwibawa.

Senyum di bibir Alya langsung memudar begitu saja saat melihat foto ketiga yang dikirim oleh temannya. Foto dimana dia sedang merangkul mesra pundak seorang cewek. Di sini ia harus bisa menerima kenyataan bahwa dia bukanlah siapa-siapa.

Alya melangkah gontai memasuki ruang kelas, malas. Mungkin kata itu yang bisa menggambarkan keadaannya saat ini, setelah kemarin mendapat kiriman yang sama sekali tak ia inginkan.

“pagi Al” gadis itu hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Cinta, teman sebangkunya.
Alya meletakkan tas di atas meja kemudian mengambil novel yang sedang booming saat ini ‘dear nathan’ bahkan novel itu sudah difilmkan sekarang.

Alya tak membaca novelnya dengan benar, hanya membolak-baliknya saja.

“kenapa? Ada masalah?” tanya Cinta.

Alya memasukkan novelnya ke dalam tas membenarkan posisi duduk, kemudian menatap Cinta yang sedari tadi juga menatapnya.

“tidak, aku baik-baik saja” ucapnya, lalu mengambil buku tulis dan paket matematika dari dalam tas.
“kau yakin Al?” tanya Dera yang duduk dibelakang Alya.
Alya hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Dera.

“selamat pagi semua” Cinta mengurungkan niatnya untuk berbicara kepada Alya, karena bu Mira sudah masuk ke dalam kelas.

“Al tunggu….”
Alya melangkah sedikit berlari berusaha menghindari Cinta dan Dera yang kini sedang mengejarnya di belakang. Kedua gadis itu pasti akan bertanya hal yang sama saat di dalam kelas tadi.

“kau kenapa Al?” benar bukan mereka pasti menanyakan hal yang sama.

Alya melangkah menuju bangku yang terletak tak jauh dari tempat ia berdiri saat ini. Sekarang mereka berdua berada di taman belakang sekolah. Tanpa mengindahkan pertanyaannya, Alya mengambil handphone dari saku seragamnya kemudian memasangkan headset ke telinga.

“Alya kau dengar apa yang kukatakan bukan? Jawab Al” Cinta terlihat kesal menatap Alya yang sama sekali tak menggubris pertanyaannya.

Cinta melangkah mendekati Alya, kemudian mencabut headset yang terpasang dengannya dengan kasar.
Alya menoleh ke belakang, ia menatap gadis yang sudah merusak ketentramannya itu dengan malas.

“ada apa cinta?” tanya Alya malas.

Cinta memutari bangku taman kemudian duduk di sebelah Alya diikuti oleh Dera.

“kita tahu kamu ada masalah, ceritalah” ucap Dera yang kini sedang menatap Alya, sedangkan yang ditatap hanya memandang lurus kedepan.

“oke, aku tahu kita baru kenal setahun belakangan ini. Tapi apa kamu akan menyimpan semua masalahmu itu sendiri. Tak baik membawa beban berat itu sendiri Alya” ucap Cinta yang kini mengelus pundak Alya.
“jika kamu belum siap untuk cerita, oke kami terima. Tapi berjanjilah pada kami saat kau sudah siap. Ceritakan lah semuanya pada kami. Kami akan selalu siap menerima salah satu dari bebanmu itu” ucap Cinta seraya tersenyum tulus ke arah Alya.

Saat Cinta akan pergi dari sana, tangan Alya dengan sigap memeganya.
“jika kau ingin tahu semuanya, pergilah ke rumahku nanti setelah pulang sekolah”
“begitupun denganmu Dera” ucap Alya, ia menolehkan wajahnya ke arah Dera yang masih duduk di sampingnya
Cinta dan Dera mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia melangkah meninggalkan Alya sendirian di taman.

Alya memasuki kamarnya yang bernuansa biru laut. Di sana sudah ada Cinta yang menunggunya sambil melihat album foto Alya sewaktu ia masih kecil. Dan Dera, ia hanya duduk di samping Cinta sambil sesekali memainkan jarinya.

Alya berjalan menuju meja yang terletak di samping jendela kamarnya. Kemudian ia meletakkan baki berisi orange jus di sana.

“aku mencintainya, tapi mengapa ia tak juga sadar” Alya melangkah mendekati Cinta dan Dera yang kini sedang duduk di atas kasurnya.

Cinta menutup album foto Alya kemudian ia menoleh ke arah gadis yang kini sudah duduk di sampingnya. Begitupun dengan Dera.
“maksudmu? Aku tidak paham” tanya Cinta.

Alya mengambil handphonenya yang tergeletak di belakangnya.
“ini, aku mencintai lelaki ini. Semenjak aku duduk di bangku SMP bahkan sampai detik ini” ucap Alya, ia menunjukkan foto lelaki tampan, dengan badan tinggi tegap, dan senyum yang manis.

“dia siapa?” tanya Dera setelah melihat foto itu.
“dia Bayu, Bayu Firdaus. Lelaki yang kucintai sejak lama” ucap Alya, ia meletakkan handphonenya sembarangan.

“apa dia tahu jika kamu mencintainya?” tanya Dera.
Alya menggeleng lemah
“sayangnya tidak. Aku terlalu takut untuk mengatakan yang sejujurnya”

“untuk apa kau takut? Tak ada salahnya bukan kau mencoba. Ehm maksudku bukan menembak, tapi menyatakan perasaanmu kepadanya selama ini” ucap Cinta.
Alya menghembuskan nafas panjang, kemudian ia merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar.
“sayangnya aku tidak tahu di mana ia sekolah sekarang”

Biarlah ia terus mengalir
Menyusuri jalannya, sampai ia tiba pada tujuannya,
Dermaga.

Alya melipat kertas bergaris menjadi sebuah perahu mainan, sebelumnya ia sudah mengisi kertas itu dengan tulisan. Bukan tulisan istimewa hanya isi hati yang sudah menumpuk di dalam.

Kini Alya menaruh kapal mainan itu di atas air sungai yang keruh, dengan sedikit dorongan dari jari telunjuk. Kapal itu berjalan mengikuti arus sungai, menyusuri jalannya. Gadis itu berharap kapal mainanya sampai di dermaganya. Menyanpaikan isi hatinya selama ini.

“izinkan aku menggeggam hatimu, walau kutahu kau tak pernah menginginkannya” lirih Alya

Cerpen Karangan: Nur
Facebook: Nur

Cerpen Menggenggam Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemenang

Oleh:
“Brukkk!” Suara hempasan pintu terdengar nyaring dari sebuah kamar anak laki-laki yang kala selalu terjadi ketika orangtua Rendy datang dan pergi dari bisnis mereka. Dan bukan hanya menghempaskan pintu

Sleeping Beauty (Part 3)

Oleh:
“Alfi… kamu ngapain lagi kesini?” Tanyaku mulai emosi. “Aku nemuin partner spesial aku” Jawabnya yang mulai membuat darahku mengalir cepat. “Maksud kamu apa sih?” Tanyaku, tak mau berharap banyak

You And My Umbrella

Oleh:
Tiga Puluh. Tiga puluh menit sudah aku menunggu teman-temanku di gang depan desaku. Rencananya kami mau bolang ke Surabaya. Sebenarnya yang paling berkepentingan dalam perjalanan kami hari ini adalah

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Pagi pagi sekali, Cindy sudah bangun dari tidurnya. Ia siap siap ke sekolah. Berganti baju,dan segalanya. Sampai di sekolah,… “Hai Ndy.” kata kata itu terdengar oleh telinga Cindy. “Hai

Saat Nathan Tak Ada

Oleh:
Namaku Melfa. Melfa Kirana. Aku punya teman bernama Nathan. Gabriel Nathaniel. Dia adalah musuhku. Dia menjadi musuhku sejak 1 SMP. Sekarang aku 2 SMA. Sangking kami sangat bermusuhan, aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *