Menghapus Benci

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 May 2016

Hari masih pagi kala itu. Matahari sudah terbit namun sinarnya masih belum terlalu menyengat. Langit sangat cerah dan udara sejuk, sehingga cukup banyak orang bersantai di sekitar taman. Mulai dari orangtua dan anaknya hingga sepasang kekasih. Mereka terlihat senang dan berbagi kasih sayang satu sama lain. Sekeliling taman banyak terdapat pohon rindang dan bunga-bunga. Air mancur di tengah taman menambah keindahan sore itu. Di sekitar taman yang cukup luas tersebut ada beberapa toko dan restoran. Salah satunya adalah sebuah cafe. Cafe tersebut tidak terlalu besar. Bangku dan meja tersusun sangat rapi di dalam maupun di bagian luarnya, sehingga terlihat sangat elegan. Pengunjung di cafe tersebut tidaklah terlalu ramai, dan kebanyakan dari mereka berpasangan.

Namun terlihat seorang wanita duduk sendirian di salah satu bangku bagian luar cafe tersebut seperti sedang menunggu seseorang. Secangkir cokelat panas di mejanya masih mengeluarkan uap, menandakan wanita tersebut belum menunggu lama. Wanita itu memiliki rambut panjang berwarna hitam pekat. Sebagian dari wajahnya yang bercahaya tertutupi oleh rambut hitamnya, membuat ia terlihat menawan. Tak lama kemudian seorang pria menghampiri wanita tersebut dari belakang. Pria itu membawa setangkai mawar merah yang indah.

“Hai Vien, maaf aku terlambat ya?”
Mereka kemudian duduk berhadapan.
“Tak apa Rei, aku juga baru saja datang,”
“Oh syukurlah. Hey ini ku bawakan bunga untukmu, terimalah,”
“Terima kasih.”

Vien tersenyum sambil mencium aroma harum bunga tersebut, kemudian menaruhnya di samping cangkir cokelat panas miliknya. Mereka berdua kemudian terdiam. Tak lama kemudian seorang pelayan wanita datang. “Permisi, mau pesan apa?” kata pelayan sambil menyodorkan daftar menu. Vien tak menoleh, sehingga Rei yang menjawab.
“Emm.. secangkir cokelat panas, 1 porsi sandwich, dan 1 porsi salad buah untuk wanita ini. Tapi tolong saladnya tidak usah pakai jelly dan mayonaisenya sedikit saja, karena wanita ini sangat suka yang seperti itu,”
“Wah sepertinya anda sangat hafal, romantis sekali. Baik, harap ditunggu ya,” kata pelayan dengan sangat sopan.
Pelayan tersebut kemudian pergi untuk mengambil pesanan. Vien dan Rei pun kembali terdiam lagi beberapa saat seperti canggung. Kemudian Rei memulai perbincangan.

“Sudah 2 bulan lebih kita tidak bertemu seperti ini, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja Rei, kamu?”
“Hmm.. ya ada beberapa pekerjaanku yang semakin berat. Tapi selain itu, aku baik-baik saja,”
“Oh begitu.. Lalu kabar si Dena bagimana? Tumben kamu tidak bersama dia,”
“Aku putus dengannya, Vi,”
Vien terdiam sejenak saat mendengarnya.

“Mengapa kamu putus dengannya?”
“Ia memutuskanku seminggu lalu,”
“Apa karena kehadiranku selama ini?”
“Tidak juga, memang kita banyak memiliki perbedaan pendapat belakangan ini,”
“Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?”
“Seharusnya bulan depan genap dua tahun,”
“Maafkan aku Rei,”
“Tak usah minta maaf, kamu tidak salah apa pun. Kamu tahu justru akulah yang masih harus minta maaf padamu,”
Mereka berdua kembali terdiam beberapa saat. Kemudian Rei memulai perbincangan lagi.

“Apa kamu masih mengingat bagaimana kita pertama kali bertemu?”
“Kamu sudah tahu aku tidak ingin membahas itu lagi Rei,”
“Ya kamu benar,” kata Rei dengan sigap. “Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Tentu, silahkan,” Kata Vien dengan santai.
“Sebenernya.. Emm.. Sebenarnya mengapa kamu tidak melaporkan ke polisi waktu itu?” tanya Rei sambil ragu-ragu.
Wajah Vien terlihat kurang suka mendengar pertanyaan itu.

“Mengapa? Bukannya memang itu yang kamu inginkan?”
“Bukan itu maksudku,”
“Lalu?”
“Tak apa, lupakan saja,” kata Rei dengan wajah seperti menyesal.
“Begini Rei, menurutku waktu itu masalah sudah cukup beres meskipun tidak akan sempurna. Memang betul aku tahu kejadian sebenarnya. Aku juga sangat kesal dan putus asa waktu itu. Tapi apa alasannya aku harus melapor? Untuk balas dendam?” kata Vien dengan seriusnya.
“Aku tidah tahu.. Mungkin saja..”
“Lalu menurutmu apa aku akan merasa lebih baik jika melakukannya?”
“Kamu bukan orang yang seperti itu,”
“Lagi pula..”

Perkataan Vien terhenti oleh datangnya pelayan yang membawa pesanan mereka. Pelayan menaruh pesanan sambil tersenyum ramah. Rei dan Vien juga tersenyum, namun lagi-lagi Vien tidak menoleh. Setelah pelayan pergi, mereka terdiam sebentar. Kemudian Vien mengambil bunga mawar di samping cangkir cokelat panas miliknya dan menaruhnya di samping cangkir cokelat panas milik Rei. Lalu ia melanjutkan perkataannya tadi. “Kamu memang lelaki yang sangat baik Rei. Tapi bukannya sudah ku bilang bahwa kamu tidak perlu mengasihani aku lagi.”

Rei terdiam sambil memandang wajah Vien yang tertutup sebagian oleh rambutnya yang indah. Kemudian tangan Rei dengan lembutnya menggantungkan rambut Vien yang menutupi wajah ke atas telinganya, sehingga seluruh wajah Vien terlihat. Tak terkejut Rei melihat sebagian wajah Vien yang tadi tertutupi rambut. Dari dahi ke bawah hingga pipi kirinya, terlihat kulitnya memiliki bekas luka parah seperti luka bakar dan beberapa bekas jahitan. Mata kirinya bahkan sudah tidak bisa terbuka lebar. Vien hanya diam tanpa kata melihat Rei menggantungkan rambutnya. Ia hanya menolehkan sedikit kepalanya. Mimik wajahnya terlihat agak sedih seperti sedang mengingat suatu kejadian yang pahit.

“Sungguh, kamu terlihat lebih cantik hari ini,”
“Aku harap begitu,”
“Kamu benar-benar wanita yang sangat tegar dan baik hati Vien,”
“Aku bersyukur Tuhan selalu bersamaku,” kata Vien sambil berusaha menunjukkan bahwa ia tidak sedih.
“Andai saja waktu itu kamu selamat sampai di rumah dan jadi memberikan kabar gembiramu ke Ibumu.”
“Aku pasti tidak di sini, dan sudah sibuk dengan pekerjaanku sebagai model kecantikan. Aku yakin kamu sudah tahu itu.” kata Vien dengan tegas.
“Kamu pasti sangat..”
Belum selesai Rei berkata, Vien memotongnya.

“Ya. Aku memang sangat kecewa waktu itu. Mungkin tak bisa kamu bayangkan kesedihanku yang begitu mendalam. Jika seandainya dulu aku berpikir bahwa kecantikan adalah segalanya, duniaku pasti sudah hancur. Aku tahu kecantikan pasti suatu saat akan sirna, hanya saja aku tidak menyangka akan sangat cepat. Tapi untungnya aku masih punya hati, yang akan bertahan selamanya. Ibukulah yang selalu mengajarkan kepadaku. Karena itu aku bisa bertahan hingga saat ini,”
“Ya Tuhan, kamu benar-benar wanita yang luar biasa. Aku belajar banyak hal semenjak bertemu denganmu Vien,”
“Berhentilah seperti itu Rei, dan lupakan sajalah semuanya. Aku baik-baik saja,” terdengar nada bicara Vien mulai menunjukkan emosi.

“Tapi aku tidak melihat bahwa kamu baik-baik saja. Aku merasa aku harus terus melakukan apa yang seharusnya aku lakukan,”
“Tidak Rei. Kamu tidak perlu. Semua sudah cukup. Aku dengar kamu masih mentransfer sejumlah uang ke Ibuku untuk memenuhi kebutuhanku,”
“Iya benar,”
“Mulai sekarang hentikanlah. Sudah terlalu banyak yang kamu keluarkan hingga kamu kesulitan. Aku sudah bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Percayalah, aku bukan orang yang lemah Rei!”

“Dengan pekerjaanmu yang sekarang ini? Karir dan impianmu sudah hancur Vien,”
“Apa yang kamu tahu dari pekerjaanku sekarang? Apa kamu berusaha menghinaku?”
“Aku selalu tahu semua tentangmu Vien, dan tidak pernah sedikit pun aku ingin menghinamu,”
“Seberapa sering kamu mengikuti dan memperhatikanku?”
“Sesering yang aku inginkan,”
“Sudah cukup.. Perbincangan kita ini tak ada tujuannya. Aku lelah mendengar perkataan-perkataan menyebalkanmu. Mulai sekarang tinggalkanlah aku Rei, kehadiranmu hanya akan menyakitiku.” kata Vien dengan cukup kesal sambil bergegas ingin pergi.

Melihat Vien ingin pergi, Rei menggenggam pergelangan tangan Vien seolah ingin mencegah ia untuk pergi. Vien pun terhenti. Mata Vien memandang mata Rei dengan begitu dalam, begitu pun sebaliknya. “Ku mohon tunggu dulu Vien, aku akan pastikan perbincangan kita ini ada tujuannya.” kata Rei dengan sangat hati-hati. Mendengar itu Vien mulai menenangkan diri dengan menarik napas dan menghembuskannya perlahan.

“Baiklah, teruskan,”
“Sudah 5 bulan sejak kita pertama kali bertemu. Pertemuan tersebut adalah pertemuan yang sangat buruk. Tapi semenjak saat itu pula, semakin hari aku semakin mengenalmu lebih jauh. Aku yakin kamu pun demikian. Namun sayangnya kita mengenal satu sama lain tidak dengan cara pandang pada umumnya,” kata Rei dengan sangat serius.
“Ya memang begitulah adanya. Itu semua yang terjadi,”
“Kemudian kamu sering mengatakan bahwa semua kejadian itu harus dilupakan saja, tapi aku lihat kamu tidak pernah bisa melupakannya. Setiap aku bertanya tentang kejadian itu, emosimu pasti tak terkendali. Kamu belum bisa memaafkan, meskipun kamu bilang sudah,”

Mendengar kata-kata Rei barusan, Vien mulai menitikkan air mata.
“Tentu saja Rei, bagaimana tidak. Kecelakaan itu telah mengacaukan hidupku. Seharusnya kamu tahu itu. Lagi pula bagaimana aku bisa melupakan jika kamu terus membahasnya?” kata Vien sambil berusaha mengontrol emosinya.
“Aku tahu dengan jelas Vien. Karena itu aku mengajakmu bertemu hari ini, itulah tujuanku,”
“Apa maksudmu? Apa sebenarnya maumu?”

“Aku ceritakan kepadamu Vien. Saat pertama kali aku membawamu ke rumah sakit, yang aku rasakan hanyalah penyesalan. Kemudian aku berusaha bertanggung jawab semampuku. Selama aku menebus kesalahanku, aku jadi melihat bagaimana kehidupanmu yang tidak mungkin bisa seperti semula. Hingga akhirnya aku menjadi kasihan dan iba padamu, namun kamu berulang kali menyuruhku untuk berhenti mengasihanimu karena kamu adalah wanita yang kuat. Aku lega mendengarnya, dan mulai menghilangkan rasa kasihanku kepadamu. Tapi ternyata hal itu tidak membuatku untuk berhenti memperhatikan dan menjagamu. Aku merasa seperti ingin selalu ada untukmu, hingga akhirnya aku menyadari bahwa aku melakukan itu karena aku.. Karena aku mencintaimu Vien.” kata Rei dengan sangat tulus hati. Vien terdiam bingung. Matanya terus memandang Rei tanpa berkedip, seperti merasakan keseriusan perkataan Rei.

“A.. Apa? Tidak, kamu seharusnya tidak..”
“Aku tahu selama ini pasti kamu mengira aku terus peduli kepadamu karena aku sangat menyesal dan kasihan padamu. Tapi sekarang kamu tahu bahwa bukan itu perasaanku sebenarnya,”
“Bagaimana mungkin? Lalu apa tujuanmu mengatakan itu semua?”
“Tentu saja aku berharap kamu juga mencintaiku sebagaimana aku mencintaimu Vien..”
“Beraninya kamu.. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku juga akan mencintaimu? Kamu tahu bahwa kamu adalah penyebab hidupku menjadi kacau,” kata Vien dengan agak kesal, yang tanpa disadari air matanya mulai berjatuhan.

“Aku hanya berharap.. Dan aku tidak berpikir bahwa kamu akan mencintaiku juga. Tapi aku yakin bahwa kamu tidak ingin terus menerus menyimpan kebencian di hatimu. Kamu pasti ingin menghilangkannya. Yang aku tahu kebencian bisa dihilangkan dengan cinta dan kasih sayang. Karena itu aku berharap kamu juga akan bisa mencintaiku. Aku tahu itu pasti hal yang sangat sulit bagimu, tapi itu bukan hal yang mustahil kan?” Vien menarik napas dan menghembuskannya. Kemudian terdiam sejenak sambil menutup matanya, seolah menghentikan tangis.

“Begitukah Rei? Terdengar seperti paksaan bahwa aku harus mencintaimu,”
“Tidak.. aku mohon Vien, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu,” Kata Rei yang terlihat putus asa karena kata-katanya yang selalu salah.
“Jadi tentang inikah semuanya? Kamu terus membahas kejadian itu, karena kamu mencintaiku?”
“Lebih tepatnya, aku berharap kamu bisa menerima kejadian itu dan memaafkan aku sepenuhnya. Sehingga aku punya kesempatan untuk bisa terus bersamamu,”
“Aku membecimu Rei. Sungguh aku benci padamu,”
“Aku tahu. Aku memang pantas menerimanya,” kata Rei dengan perasaan kecewa.
“Tapi.. Menurutmu mengapa aku menyuruhmu berhenti mempedulikan dan mengurus hidupku?”
Rei berpikir sejenak.

“Tentu saja karena kamu berpegang teguh pada pendirianmu. Kamu tidak ingin ku anggap lemah. Dan kehadiranku di hidup mu mungkin hanya akan membuatmu terus mengingat kejadian itu,”
“Benar Rei, tapi hanya sebagian,”
“Maksudmu Vien?”
“Semakin aku mengenalmu selama ini, aku melihat sosok seorang laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab Rei, sehingga aku kagum padamu. Aku tidak ingin melihatmu terus kesulitan karena… karena aku,” Rei terdiam tanpa kata, berusaha memahami kata-kata dari Vien.

“Se..sepeduli itukah kamu padaku?”
“Tidak.. tidak hanya itu. Aku juga menyukaimu. Aku membanting rasa benciku karena itu,”
Rei terdiam seperti tak tahu harus berkata apa. “Aku sudah menyimpan perasaan lebih dulu dari kamu Rei. Hanya saja aku tidak bisa menerima bahwa aku menyukai orang yang sangat aku benci dan aku berpikir bahwa lagi pula tidak mungkin ada kesempatan kita bisa bersama. Namun sepertinya mungkin aku salah.”

Rei tersenyum haru sambil menggenggam tangan Vien. “Terdengar seperti sebuah harapan untukku,”
“Mungkin saja semua yang kamu katakan itu benar Rei,” kata Vien tersenyum sambil menggenggam balik tangan Rei.
“Kita bisa mulai semua dari awal. Mengenal satu sama lain dengan cara pandang yang berbeda. Lalu kita buat kenangan-kenangan baru yang indah, untuk menutupi yang buruk.” kata Rei dengan senyuman bahagia.
Vien hanya tersenyum manis. Sinar matahari yang semakin terang seolah menyinari senyuman bahagia mereka berdua.

The End

Cerpen Karangan: Satria Akbar Difa
Facebook: Satria Akbar Difa
Line: satriaakbardifa
Just a loner and a dreamer.

Cerpen Menghapus Benci merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan yang Kurindukan

Oleh:
Hujan di awal masuk sekolah di sma di semarang, pagi itu setelah sarapan aku berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Aku menuju sekolah menggunakan payung berwarna abu-abu dan jaket hitam.

Endorfin

Oleh:
“Sebenarnya Kebahagiaan yang indah itu berasal dari kesedihan yang tulus” Malam ini aku tengah bersandar di atas kursi berwarna biru susu. Pemandangan ingar bingar kota terlihat jelas dari balik

Kisah Sederhana

Oleh:
Manusia dengan manusia menikah, kemudian hidup bersama. Tapi kau adalah wanita yang menikahi hujan, maksudnya, kau seperti suami istri dengan hujan, saking dekatnya. –pagi itu cuaca sedang tidak menjadi

Aku Harus Pulang

Oleh:
Sepasang kaki mungil itu berjalan mendekatiku. Aku merentangkan tanganku lebar, bersiap menangkap bocah yang menyambutku dengan senyuman, menghadirkan lesung pipit di wajah polosnya. Aku berjongkok mensejajarkan tinggiku dengan tubuhnya.

I Love U My Haters

Oleh:
Siang merangkak mengusir pagi. matahari sudah ada di puncaknya, aku tidur nyenyak di atas ranjangku yang empuk. “resa bangun, kamu kesiangan!”. mama menarik tanganku untuk bangun, tapi kuacuhkan saja.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *